
"Han, buat pelindung suara antara kita dan wuzi"
Ucap lili berbisik pelan ditelinga han.
Han mengadahkan tangannya keatas dan membuat sebuah kubus yang mengurung mereka didalamya seperti pelindung.
Pelindung yang dibuat ini sangat tahan dengan apapun, dan juga suara dari dalam tidak akan terdengar walaupun pelindung ini terlihat tembus pandang.
"Chen, darimana kita harus mulai?"
Tanya lili mengetes kemampuan chen sekaligus menanyakan pendapatnya walaupun lili sudah tau rencana yang akan dilakukannya nanti.
"Kita harus mengincar prasa terlebih dahulu.
Aku dan nana akan mengikat prasa dulu, tetapi tidak bisa memiliki waktu yang lama.
Jo, kau alihkan perhatian prasa. Vivi, leo dan jun kalian berusahalah sekuat mungkin melilit prasa. Xiao,xia, ye dan gong kalian memiliki kemampuan bertarung jarak dekat. Oleh karena itu kalian harus melawannya sekuat mungkin"
Ucap chen sambil memberikan tugas setiap masing-masing orang.
Lili hanya mengangguk-angguk lalu menepuk pelan kepala chen.
"Kerja bagus. Baiklah, aku dan han akan mengurus binsa. Vena, kau bisa mengurus si ******** itu?"
Tanya lili kepada vena yang menggenggam erat pedangnya sambil mengangguk.
"Tuan, apakah vena dapat dipercaya?"
Tanya xiao Dengan wajahnya yang sedikit tak percaya menatap han.
"Rohnya berada digenggamanku, apapun yang dilakukannya adalah perintah dari ku dan dia harus melakukannya. Jika tidak akan kubuat roh dan kekuatannya akan melebur hilang dari dunia ini"
Ucap han menatap lili dengan tenang, vena yang mendengar perkataan han hanya bisa pasrah dan tetap ingin membalaskan dendamnya kepada wuzi.
"Mulaikan dari sekarang, ingat kerjasama!"
Pelindung yang dibuat han terbuka lebar mengeluarkan mereka yang sudah pergi menjalankan tugas masing-masing.
Axe, cloud dan tan terbang mengelilingi binsa sedangkan gu nin mengaktifkan sayapnya dan menunduk karena mendengar sesuatu dari lili.
"Kita lihat apa kau bisa menahan ini"
Lili mengeluarkan api hitamnya lalu melemparkan apinya kearah langit, mata ungu lili bergerak seakan-akan matanya sedang mengendalikan api tersebut.
Tepat mata lili menatap mata binsa api hitam tadi mengarah ke mata naga merah besar ini.
Han mengambil tombaknya dan menancapkannya di kepala binsa.
Api putih milik han membakar sebagian tubuh binsa membuatnya mengamuk kesakitan.
Lili mengeluarkan kekuatan petirnya dan kekuatan alamnya.
Petir-petir itu menbentuk rantai yang besar ditambah kekuatan alam lili menyelimuti rantai petir itu.
Lili memutar-mutar rantai itu seperti koboy dan berlari cepat menarik lalu melilit leher binsa menggunakan rantai hingga ke tanah.
"Cloud! Axe!"
Teriak lili memberikan perintah, axe dan cloud turn menggigit tubuh binsa mengeluarkan sedikit api neraka milik mereka agar didalam perut binsa merasakan panas yang tak terhingga.
"Tan!"
Tan mengeluarkan es nya dan membekukan tubuh binsa yang terbaring ditanah.
Kepala binsa menggeliat ingin melepaskan rantai dikepalanya, lili merasa tak kuat lagi menahan rantai di kepala binsa sendirian.
Han yang melihat lili kelelahan membantu menarik binsa lagi agar terdiam ditanah.
__ADS_1
Lili memejamkan matanya mengaktifkan kekuatan petir di rantainya agar menyambar binsa.
Lalu lili mengaktifkan inti api neraka yang ada didalam perut naga itu dan menambah dinginnya es tan.
Binsa sangat tersiksa saat ini, dimulai dari kepalanya yang terkena sengatan listrik yang tekanannya sangat tinggi lalu dirinya yang merasakan panas dan dingin secara bersamaan membuat tulangnya ditubuhnya hampir retak.
Binsa mengamuk dan mengeluarkan api diseluruh tubuhnya.
Rantai dan es yang menahan tubuh binsa terlepas dan pecah, lili menatap naga besar itu yang melayang di atas langit.
Api hitam menjalar di tangan kanannya.
Tangan lili mengadah keatas membentuk gumpalan-gumpalan api hitam yang sangat besar.
Tangan kirinya juga mengumpulkan api merah yang kini membentuk lingkaran yang besar.
Han mengangkat jari nya menunjuk kearah binsa dan mengeluarkan api yang lebih putih dari biasanya.
Api putih milik han ini sangat kecil dan hanya terdapat 3 buah.
Han pergi secepat kilat kearah atas kepala binsa, dirinya mengarahkan jarinya tepat di atas kepala binsa dan menembakkan 3 api itu.
Binsa menggila tidak karuan diatas langit saat dirinya terkena api putih han yang sudah masuk kedalam tubuhnya.
Axe dan cloud menganga lebar mengeluarkan apinya yang menggumpal dan mengarahkan kearah binsa dari bawah.
Tan terbang keatas langit dan menembakkan gumpalan es yang besar di tubuh binsa.
Saat binsa sudah terkurung sepenuhnya lili melompat naik keatas melempar bola api hitam besarnya ke belakang binsa, lalu melempar bola api merahnya tepat di wajah binsa.
Lili kembali melirik bola api hitamnya menggunakan mata ungu miliknya.
Lili yang mengendalikan api hitam miliknya mengarahkan api itu ke arah bola api merah yang barusan dilemparnya.
Bola api merah dan bola api hitam bertabrakan tepat di tubuh binsa yang membuat ledakan sangat besar.
Ledakan api yang besar diatas langit membuat semua orang terkejut hingga kerajaan tetangga dapat melihat ledakan itu.
Wuzi yang melihat binsa hancur menggeretakkan giginya marah karena hewan ganas dan besar seperti binsa pun tidak dapat mengalahkan lili.
Ditambah lagi sekarang dirinya agak kewalahan karena melawan vena.
"Kau tidak apa-apa?"
Tanya han dengan wajahnya yang sangat khawatir, lili mengangguk menatap han dengan senyumannya saat melihat tubuh binsa sdah hancur tidak beraturan.
"Kerja bagus, istirahatlah".
Han membopong lili dan membawa lili pergi ketempat gu nin yang masih menjaga wei dan chun.
Sedangkan disisi lain,dimana tempat kelompok pembunuh bayaran istana qi kini sedang berjuang melawan prasa.
Mereka sangat kagum tadi saat melihat lili dan han yang dengan cepat mengalahkan binsa.
Jo dengan elang emasnya terbang mengelilingi tubuh prasa membuat naga berkepala dua itu sedikit bingung mengikuti gerakan jo yang cepat.
Chen mengikat bagian bawah tubuh prasa menggunakan jaring laba-labanya yang sudah diperkuat nana dan diletakkan racun.
Nana mengendalikan 5 hewan spirit tadi untuk mengunci tubuh prasa membantu chen.
Naga vivi melilit bagian kanan kepala prasa dengan erat sedangkan jun melilitkan naga nya di kepala bagian kanan prasa.
Prasa mengamuk mengeluarkan api-apinya yang kini sudah membakar pohon disekitarnya.
Naga leo melayang diudara dan menggigit bagian tengah pembatas kepala kanan dan kiri prasa.
Teriakan prasa menggelegar hebat membuat rakyat dan kerajaan tetangga sedikit takut dan was-was.
__ADS_1
Xiao dan xia mengeluarkan kekuatan anginnya agar tebasan pedangnya lebih tajam karena bantuan angin.
Xiao dan xia menebas kepala kanan prasa secepat kilat hingga tak terlihat.
68 tebasan dari xiao dan 68 tebasan dari xia dikepala prasa dengan secepat kilat membuat kepala bagian kanan naga itu terbelah-belah dan menyemprotkan darah yang berwarna hijau.
Naga vivi dan leo kini melilit leher kepala prasa dibagian kiri dengan kuat.
Karena kepala kanannya sudah hancur, nana dan chen lebih gampang mengetatkan pertahanan dibagian bawah.
Ye melompat tepat diatas puncuk kepala prasa dan memukul bagian vitalnya.
Kekuatan yang sudah dikumpulkan ye selama 15 menit tadi mengeluarkan efek yang sangat besar.
Bisa dipastikan tulang bagian belakang tubuh prasa sudah patah karena pukulan ye.
Gong menapakkan tangannya ditubuh prasa dan menutup matanya.
Saat membuka matanya lagi, mata milik gong berubah menjadi kuning dan bercahaya.
"Kalian menjauhlah"
Ucap gong membuat vivi,jun, leo, nana dan chen menjauh dan menghampiri xiao, xia dan jo yang sudah berada ditempat han.
Gong mengangkat tangannya dan menapakkan lagi tangannya ditubuh prasa.
Patung besar budha berwarna kuning bercahaya menghadap prasa dibelakang gong.
Seperti terkena angin yang sangat dasyat prasa terpental jauh karena pukulan terakhir dari gong.
Naga yang sudah kehilangan satu kepalanya itu terkapar lemah di tanah, ukurannya sangat besar dan panjang.
Han mengangkat tombaknya dan merapalkan sesuatu.
Cahaya berwarna biru keputihan itu menyinari tubuh prasa, tongkat han menyerap seluruh kekuatan prasa dan membunuh tubuh sekaligus roh naga itu menggunakan tombaknya dengan sekali tebas.
" apa ini sudah berakhir?"
Tanya nana menatap sekeliling yang sudah berantakan dan hancur.
Sedangkan lili kini masih terbaring lemah ditubuh gu nin dengan rambut dan matanya yang sudah kembali normal menjadi merah.
Wei menggenggam tangan lili dan menatap sendu lili yang sedang terbaring lemah dihadapannya.
Han menunduk memeluk wei dan tersenyum tenang seakan sedang mengucapkan 'tidak apa-apa'.
"Belum, vena belum selesai"
Ucap han sambil menggendong wei menatap vena yang masih bertarung melawan wuzi.
Yang lain juga sudah terduduk lelah karena melawan naga tadi dan melihat vena dan wuzi yang bertarung dengan cepat yang hampir tidak terlihat sama sekali.
Dhuarr.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.