
"Burung apanya heh".
Ucap lili memotong perkataan chen barusan.
"Ini namanya pesawat,haihh banyak yang harus kalian pelajari. Kalian juga baru sampai 5 hari dan belum memahami semua yang ada dimasa ini".
Sambungnya menghela nafas pelan memikirkan bagaimana nanti dirinya akan menjelaskan dan mengajari semua hal yang ada didunia ini.
"Baiklahh!! Mulai dari hari ini hingga minggu depan kalian akan kuajari sampai mampus! Cepatlah paham atau kalian tidak akan pergi berjalan keluar seperti chen kemarin!"
Teriak lili dengan semangat membuat anak muridnya menganga tak percaya.
Yang benar saja, mereka sudah 5 hari berada didalam rumah dan tidak ada keluar sama sekali karena larangan lili.
"Yang benar sajaa. Seminggu lagiii".
Keluh xiao dengan muka pasrahnya dan berbaring di lantai memelas karena tak bisa keluar.
Padahal mereka juga ingin pergi keluar rumah dan bermain permainan seperti chen, tetapi mereka malah dikurung dan harus menunggu seminggu lagi dengan materi-materi perkembangan jaman manusia. Bagi mereka mendengarkan hal yang baru itu sangat menyenangkan. Tapi walaupun begitu mereka harus menunggu seminggu lagi agar bisa keluar.
"Ikut aku".
Ucap lili lalu berjalan menuju kearah belakang rumahnya.
Tepat saat melewati pintu belakang mereka kini sudah berada dihalaman belakang yang penuh bunga serta rumput hijau yang segar.
"Inilah kehidupan".
Ucap xiao mendramatis menutup matanya menghirup udara sejuk dipagi hari.
Lili yang tetap berjalan itu kini mengarah kesebuah bangunan besar lalu membuka pintu bangunan tersebut.
Baru saja mereka masuk kedalam ruangan itu anak murid lili sudah berisik kagum melihat deretan buku diseluruh ruangan. Bahkan hingga terdapat lantai dua yang Terdapat lebih banyak buku.
"Gila,gila,gila. Ini harta karun".
Ucap gong berkeliling melihat deretan buku yang tidak ada habisnya.
"Ini perpustakaanku. Belajarlah disini,aku juga akan mengawasi jadi jika ada yang ingin ditanyakan panggil saja aku. Baiklah,aku tau kalian semua ini maniak buku jadi bacalah sepuasnya. Aku akan kembali kerumah".
Ucap lili lalu pergi mengarah kepintu. Saat dirinya memegang gagang pintu langkahnya kembali terhenti dan membalikkan badannya melihat anak muridnya yang sibuk melihat buku.
"Ehem, chen dan gong. Karena sikap kalian dewasa dan dapat dipercaya jaga teman kalian jangan sampai berkeliaran diluar! Lalu nana, energi mu masih lemah kau jangan terlalu banyak bergerak. Aku pergi dulu".
Sambungnya lalu pergi kembali kerumah membiarkan anak muridnya belajar sendiri.
"Belajarlah sendiri,aku sangat lelah untuk mengajari anak -anak nakal".
Batin lili merasa sedikit lega karena bebannya berkurang.
Lili yang baru keluar dari perpustakaannya kini pergi kembali mengarah ke rumahnya karena juga masih memiliki tanggung jawab pada apa yang ada dimasa lalu.
"Sudah datang?"
Tanya lili kepada han yang sedari tadi menunggunya dipintu belakang.
"Hei, aku tidak suka lelaki itu. Kau tak boleh dekat-dekat dengannya".
Ucap han lalu pergi begitu saja dengan raut wajahnya yang muram.
Tentu saja han merasa cemburu bahkan dirinya marah karena ada seorang lelaki yang seenak jidatnya datang kerumah lili.
"Hei kau ini kenapa?"
Tanya lili menarik lengan han membuat langkah kaki suaminya itu terhenti.
"Entahlah. Aku lelah ingin tidur".
Jawabnya lalu pergi naik ke lantai dua dan masuk kekamar menutup pintu.
"Yaampun anak ini".
Lili menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa peka dengan apa yang han rasakan. Sebenarnya dirinya juga tak ingin melihat wajah lelaki ini tetapi lili benar-benar terpaksa.
Lili menutup matanya dan sedetik kemudian dirinya sudah berubah wujud menjadi lilia christiana. Wujud lamanya, dia bahkan merindukan tubuh kuatnya ini.
"Yoo baby"
Panggil lelaki itu saat melihat lili datang menghampirinya di ruang tamu.
"Aku jijik melihat tampangmu itu"
Jawab lili datar lalu memutar bola matanya merasa malas melihat orang yang ada dihadapannya ini.
"Aku kira kau benar-benar sudah tiada di dunia ini. Kau menghilang selama 3 tahun dan sekarang tiba-tiba kembali dan menghubungiku benar-benar membuatku kaget. Syukurlah kau baik-baik saja".
Ucapnya lalu kembali menatap lili dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi? Apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
Tanyanya karena memang saat dirinya dipanggil oleh lilia pasti gadis ini membutuhkan bantuannya.
"Aku akan kembali ke perusahaan dan membawa beberapa remaja".
Jawab lili menatap lelaki dihadapannya.
"Haish,kau langsung datang ke perusahaan saja tidak apa-apa. Baiklah, mulai kapan kau akan kembali masuk?"
Tanyanya lagi.
"Minggu depan, maaf merepotkan tapi kurasa aku membutuhkan satu ruangan khusus nantinya".
"Hei,ruangan khusus yang kuberikan padamu saja tidak kau pakai".
Keluh lelaki didepannya lalu berdiri menatap lili dengan senyum hangatnya.
"Baiklah, aku akan mengurusnya. Haihh, menjadi pemilik perusahaan itu sangat melelahkan. Aku akan menghadiri rapat dan membahas tentang kembalinya dirimu. Pembunuh bayaran terhebat disini, perusahaan menantimu".
Sambungnya lalu pergi mengarah ke pintu utama meninggalkan rumah besar milik kakek lilia ini.
"Haishh, ekspresi wajahnya itu tak pernah berubah. Setiap melihatnya rasa ingin membanting tubuh lelaki itu naik".
Ucapnya lalu kembali merubah wujudnya menjadi lili.
Dirinya benar-benar merasa lelah.
Apalagi kandungan yang ada diperutnya sudah mencapai 1 bulan lebih.
Mungkin dari sekarang dirinya akan sangat sibuk dan jika perutnya sudah membesar mungkin itu adalah waktu istirahatnya.
"Hannn!"
Teriak lili sedikit merengek memancing han agar turun meghampirinya.
Pasalnya sebelum han masuk kekamar wajahnya nampak muram lili juga paham mengapa dirinya menjadi seperti itu yang dipikirkan lili saat ini han sedang cemburu dan marah karena ada lelaki yang datang kerumahnya.
"Ish, ngeselin banget"
Ucap lili lagi karena yang dipanggilnya sedari tadi tak kunjung datang. Karena lili adalah orang yang licik dirinya kembali tersenyum lalu berpura-pura terbaring disofa sambil memegang perutnya dan berteriak.
"Hann!! Perutkuu!"
Teriak lili histeris seraya berakting mengekspresikan wajah kesakitannya.
Han yang mendengar jelas teriakan lili langsung berlari dan melompat dri lantai dua untuk melihat keadaan istrinya.
Ucap han lalu lari tergesa-gesa mengambil air putih hangat berniat untuk menenangkan lili.
"Minumlah dulu".
Han menyodorkan gelas yang berisi air hangat tersebut kepada lili.
Terlihat jelas wajah panik han saat ini. Bahkan han menenangkan lili yang sedang berpura-pura sakit.
"Hann peluk"
Ucap lili membentangkan kedua tangannya menghadap kearah han yang langsung memeluk lili dengan erat.
Tepat saat han memeluk lili, lili mengunci leher han menggunakan tangannya dan mengunci perut han menggunakan kakinya sehingga han tak dapat lari darinya.
"Aku berbohong. Perut ku tidak sakit hehe"
Sambung lili tertawa pelan menampakkan deretan giginya.
Han yang berusaha kembali kekamar karena merasa kesal tak bisa pergi karena lili yang benar-benar menempel padanya saat ini.
Bahkan jika han tetap berdiri mungkin saja tubuh lili tetap menempel padanya seperti monyet.
"Kau ini, jangan seperti itu lagi".
Ucap han menatap lili tajam
"Aku takut jika kau benar-benar merasakan sakit. Aku takut jika kau kenapa-kenapa. Jangan seperti itu lagi walaupun hanya candaan".
Sambungnya lalu pasrah dan diam kembali memeluk istrinya.
Sedangkan leo,jun dan yang lainnya terdiam belakang menampilkan wajah datar mereka.
"Yang benar saja? Kupikir perut kak lili beneran sakit".
Ucap nana kesal menatap datar han dan lili yang tengah berpelukan membelakangi mereka.
"Kupikir kak lili beneran akan melahirkan".
Sahut xiao mengangkat bagian sebelah bagian atasnya dan menatap datar kearah lili dan han.
Saat ini mereka semua tengah berada dilantai satu ruang tamu dimana han dan lili tengah berpelukan sedangkan anak murid lili hanya menatap datar kesal kearah keduanya.
Bagaimana mereka tidak kesal, karena pendengaran mereka tajam mereka dapat mendengar jelas teriakan lili barusan Dan langsung kembali kerumah karena merasa khawatir dengan lili.
__ADS_1
Padahal jika dikira-kira jarak dari rumah nya hingga ke perpustakaan agak sedikit jauh.
"Hentikan perbucinan ini,aku tak sanggup melihatnya karena aku jomblo".
Ucap leo mendramatis.
Krik krik krik
Tepat saat leo berbicara keadaan menjadi sunyi. Lili dan han juga langsung menatap kearah leo dengan bingung.
"Hahh bahkan kalian sampai terdiam mendengar kata-kata gaulku"
Sambungnya memainkan rambutnya dan melipat tangannya di dada merada bangga.
"Heh bocah. Darimana kau belajar yang begituan?"
Tanya lili menahan tawanya menatap leo yang tengah bergaya saat ini.
"Perpustakaan kak lili begitu hebat, itu benar-benar harta karun. Dan aku menemukan buku gaul ini, itu sangat hebat".
Jawab leo kembali mendramatis.
"Hah entah mengapa itu terdengar lucu hahahaha".
Ucap lili lalu tertawa keras menatap leo yang bingung apakah dia salah berbicara bahasa gaul.
Sedangkan yang lain hanya menggarukkan kepalanya yang tak gatal bingung dengan keadaan saat ini.
"Ganormal semua. Eh sepertinya aku juga"
Ucap xiao lalu ikut tertawa pelan menertawai dirinya yang bodoh.
"Kau memang bodoh akhirnya kau sadar".
Ucap xia menepuk pundak xiao pelan dengan wajahnya yang sok bijak.
"Ah yuto! Kita kembali ke perpustakaan yuk!"
Ucap nana menarik tangan yuto kembali pergi ke perpustakaan.
"Yaampun benih-benih cinta mulai timbul".
Ucap gong melototkan matanya melihat tangan yuto dan nana saling bergenggaman.
"Ah yang benar saja! Bahkan aku yang seperti ini belum mendapatkan seorang gadis!"
Ucap jun iri melihat nana dan yuto yang baru saja pergi berduaan.
"Oh? Hei jun kau mau janda?"
Tawar xiao lalu tertawa keras karena jun langsung menganggukkan kepalanya.
Mungkin itu karena dia tak mengetahui artinya.
Sedangkan han sibuk menenangkan lili agar diam dan berhenti tertawa.
Karena sedari tadi lili terus tertawa karena melihat anak-anak muridnya.
"Heh kau sudah terlihat seperti orang gila".
Ucap han menatap kesal kearah lili.
"Oh? Aku emang gila tuh"
Sahut lili tersenyum menahan tawa melihat kearah han yang makin kesal.
"Hah?"
"Tergila-gila padamu. Ahahahah"
Ucap lili lalu kembali tertawa terbahak-bahak merasa geli dengan dirinya sendirim
Sedangkan han kembali sibuk membuat lili tenang agar berhenti tertawa.
Sama dengan yang lain masih sibuk dengan lawakan mereka sendiri.
Lili bersyukur karena rumah besar ini bukan lagi rumah kosong seperti dulu.
Dan juga dirinya sekarang dapat merasakan apa itu Yang dinamakan bahagia.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1