
Sudah terlewat beberapa jam setelah anak murid lili pergi menjalankan misi yang diberikannya.
Lili juga sudah mendapat kabar bahwa masih ada beberapa belas pasukan iblis lagi yang berada disini.
Lili saat ini benar-benar cemas memikirkan keadaan muridnya.
Han yang menemani lili sedari tadi pun kini sudah tertidur lelap berbantalkan paha lili.
Tepat saat hari menjelang subuh anak-anak murid lili pulang dengan selamat, walaupun tubuh mereka juga terdapat cakaran sudah membuat lili senang karena mereka masih hidup.
Langkah kaki mereka menjadi pelan karena terlalu lelah melawan iblis-iblis yang bisa dibilang terlalu kuat.
Baru saja lili ingin berdiri menyambut anak muridnya tapi chen dan yang lainnya sudah terkapar dihalaman karena tak kuat untuk berjalan lagi.
"Selamat datang. Kalian sudah bekerja keras".
Ucap lili menatap semua anak muridnya yang tengah terbaring di rumput depan halaman.
" han".
Panggil lili seraya mencubit pipi orang yang dipanggilnya.
"Sakit ********!".
Bentak han marah karena masih belum tahu siapa yang mencubit pipinya dengan keras.
Setelah itu han malah pergi kearah kamarnya untuk kembali tidur tanpa melihat siapa yang mencubitnya barusan dan mengira itu adalah gu nin.
" oh, yasudah tidur saja sana".
Usir lili karena tersinggung dengan bentakan han barusan.
Lili berniat membangunkan han karena ingin meminta tolong mengangkat anak muridnya kedalam.
Tapi dirinya malah dibentak dengan kata '********' yang tak pernah dikatakan han padanya.
***
Pagi hari sudah tiba. Namun, disaat melly, ye dan wei sudah bermain di halaman mereka tak melihat yang lainnya.
Itu terasa aneh, karena biasanya mereka selalu bangun pagi dan membuat kerusuhan yang sudah menjadi keseharian pada hidup wei.
"Kak, yang lain mana sih? Tadi juga pas dikamar mama gak ada. Terus cuma ada papa disana".
Tanya wei seraya memakan sarapannya yang baru saja dibuat melly untuknya dan ye.
" loh? Bukannya tadi malam mereka masih disini bareng-bareng kita? Yaudah gini aja deh, kalian makan dulu. Nanti kalau udah selesai makannya kita cek kamar mereka oke?"
Tanya melly memberikan saran menatap ye dan wei secara bergantian.
Wei dan ye yang merasa rencana melly adalah tindakan yang bagus hanya mengangguk cepat dan melanjutkan makanannya dengan cepat.
"Anu, aku sudah selesai".
Ujar ye memberikan piringnya yang sudah bersih kepada melly.
Melly saat ini seperti membatu ditempat karena tak percaya dengan ye yang mencuci piringnya dengan bersih setelah makan.
" wahh, anak pintar. Kau mencucinya dengan bersih".
Puji melly lalu mengambil piring yang dicuci ye untuk diletakkan di rak piring.
Wei yang melihat ye mendapat pujian dari melly menjadi sedikit iri.
Wei berlari memegang piring kotornya dan mencuci piring itu dengan bersih lalu memberikan piringnya kepada melly bersiap-siap menerima pujian seperti ye.
"Kau mencucinya juga? Wahh kalian ini pintar ya".
Puji melly mengelus-elus kepala wei dan ye secara bersamaan.
Setelah itu mereka langsung berkeliling untuk mengecek kamar yang lain.
Walaupun melly merasa ini tidak sopan, namun dirinya tetap pergi karena tak bisa mengingkari perkataannya pada anak-anak polos seperti wei dan ye.
Dan saat beberapa waktu berlalu mereka bertiga kembali bermain di halaman karena melihat semua orang yang tengah tidur nyenyak seperti tak ingin dibangunkan.
Tengah hari sudah tiba dan suasana di penginapan masih sepi karena mereka semua tengah tertidur nyenyak.
Tentu saja mereka tak membangunkan mereka karena menurut wei jika ada xiao, jun,leo dan yang lainnya mungkin keadaan yang sepi dan adem seperti ini tak akan bisa terjadi.
" kak, tapi tadi wei gak lihat mama".
Ucap wei yang bingung mengapa mamanya tidak ada dikamar papanya.
Dan disaat wei berencana untuk mengecek kamar kosong lainnya dia terlalu takut dan tidak jadi pergi mengecek kamar kosong untuk mencari lili.
"Kakak juga tidak tahu. Tapi biasanya, nona itu memang suka berkeliaran bebas. Bahkan kakak pernah hampir mati saat mengira nona lili menghilang dari pagi hingga sore. Dan disaat malam hari, nona lili pulang dengan wajah tak berdosanya karena sudah membuat kakak khawatir".
Jelas melly tak berdaya mengingat kejadian waktu itu.
" wah, mama keren nih. Kayak singa dong suka keliaran".
Sahut wei dengan matanya yang berbinar memikirkan lili berubah menjadi singa dan berkeliaran bebas membunuh hewan jahat seperti yang ada dibuku dongengnya.
"Heh, tidak boleh seperti itu oke? Nanti jika nona mendengar itu mungkin kakak akan dihabisi karena mengajarkan hal-hal tak berguna seperti ini".
Ujar melly memberhentikan perkataan wei agar tidak terdengar ditelinga lili.
Saat ini melly benar-benar melihat wei seperti lili.
Selalu berkata terang-terangan dan selalu tak mau mengalah dari orang lain.
Tetapi sikap terang-terangan akan menjadi tak baik jika melly tak membantu mereka menghentikan sikap terang-terangan seperti itu.
"Ah, kami mengantuk".
Ucap wei saat melihat ye yang menutup matanya dan berusaha untuk tetap duduk.
" baiklah, ayo tidur siang".
Ajak melly lalu pergi mengambil bantal dan alas tempat tidur karena wei yang meminta membawakannya.
__ADS_1
Melly bingung sebenarnya apa yang ingin dilakukan wei karena menyuruhnya melakukan hal seperti ini.
"Baiklah, kita tidur disini!"
Ucap wei saat sudah selesai meletakkan bantal dan alas tidur di teras depan halaman.
"Tidur? Disini?".
Tanya melly tak percaya.
"Iya dong! Karena penginapan ini pohonnya besar-besar jadi kan gak panas kalau diluar. Malahan bakal dingin disini".
Jelas wei yang langsung berbaring di lantai yang beralaskan kain lembut dan bantal empuk membuatnya cepat tertidur karena merasakan sejuknya angin disiang hari yang sangat pas untuk orang-orang tidur siang.
Ye yang mengantuk sedari tadi juga membawa bantalnya dan langsung tidur diteras halaman bersama wei .
" sikapmu ini benar-benar mirip dengan nona. Aku jadi tak bisa jika tidak memberikan apa yang kau minta. Wei dan ye, kalian anak baik. Selamat tidur".
Ucap melly lalu bergabung bersama wei dan ye untuk tidur diteras halaman merasakan apa yang ada dipikiran nona kecilnya.
***
"Selamat pagi semua".
Ucap xiao menyapa semua teman-temannya yang tengah makan di meja makan.
" sudah siang bodoh! Pagi dari mana".
Jawab chen membuat teman-temannya kembali tertawa karena sikap xiao yang selalu terlihat bodoh.
"Eh, siapa yang tidur diteras?"
Tanya xiao saat melihat kaki seseorang yang tengah tertidur.
Karena penasaran xiao pun menghampiri orang itu diikuti teman-temannya karena juga penasaran.
"Wah adem juga sih tidur disini".
Ucap xiao saat melihat ye,melly dan wei tengah tertidur di teras.
" iyatuh, jadi pengen ikutan tidur nih".
Sahut nana yang tiba-tiba datany merasakan angin disiang hari.
"Makan dulu woi!"
Teriak xia dari meja makan saat melihat teman-temannya mengumpul di pintu.
Xiao yang mendengar xia berteriak langsung berlari mengampiri adiknya karena takut jika xia berubah menjadi ganas seperti tadi malam.
"Heh, ayo makan. Nanti kepala kalian diinjaki xia loh".
Mendengar perkataan nana, chen dan yang lainnya juga ikut berlari kearah meja makan karena takut jika nantinya xia akan menginjaki kepala mereka.
" lili!"
Panggil han dari tangga karena sedari tadi belum menemukan istrinya.
"Wah, guru han. Kau ya yang mindahin kami kedalam kamar?"
Tanya leo saat melihat han yang mengarah ke mereka.
"Loh? Nggak kok".
Jawab han lalu kembali pergi berkeliling saat tidak melihat lili bersama mereka.
" padahal kami inget banget. Saat kami sampai disini.. Oh ya! Pasti kak lili! Hanya dia semalam yang menunggu dihalaman gerbang. Kalau guru han malahan cuma tidur".
Jelas jun menyelesaikan masalahnya dalam mencari tahu siapa yang memindahkan mereka kedalam kamar.
Setelah itu jun dengan cepat menyelesaikan makannya dan berjalan kearah teras dengan hati yang senang karena dirinya sudah terlalu rindu dengan wajah melly.
"Emangnya bisa? Kak lili mindahin kita gantian gitu?".
Tanya yuto tak percaya menatap teman-temannya.
" kau itu jangan remehin kak lili. Bagi kami, apapun yang dilakukan kak lili tak ada yang mustahil. Dan itu memang benar, kak lili selalu melakukan hal yang tak terduga membuat kami benar-benar mengagumi dirinya".
Jawab nana lalu mengingat-ngingat dimana lili yang selalu melakukan hal yang tak terduga dihadapan mereka.
"Hei kalian. Lihat lili gak sih?"
Tanya han frustasi karena tak menemukan lili sedari tadi.
"Kak lili gak ada dikamar?"
Tanya chen yang juga sudah khawatir karena tak melihat lili sedari tadi.
"Aku juga tak melihat axe,cloud,tan dan putih sedari tadi".
Sambung han lalu melihat sekeliling. Tatapannya berhenti saat melihat wei tengah tertidur di teras.
Hampir saja han akan berlari memeluk melly disanaa karena mengira itu adalah lili.
" baiklah, ayo berpencar saja. Kita cari lili".
Perintah han lalu pergi mencari lili diikuti yang lain dan meninggalkan jun diteras karena han yang menyuruhnya untuk menjaga wei.
Tentu saja jun akan melakukan itu dengan senang hati karena dirinya bisa lebih lama melihat wajah melly yang tengah tertidur.
"Kak lili!"
Itulah teriakan semuanya disetiap ruangan menunggu tanda-tanda lili akan menjawab panggilan mereka.
Sudah berkeliling namun lili juga belum ketemu. Han saat ini rasanya ingin menangis karena lili yang tiba-tiba hilang dari penginapan.
"Kalian semua! Kak lili disini!"
Panggil gong dari lantai atas.
Han yang mendengar itu berlari dengan cepat melihat dimana lili berada.
__ADS_1
"Loh, kok kak lili pindah kamar? Kalian beramtem?"
Tanya xiao saat melihat lili yang masih tertidur di kamar lain ditemani gu nin dan 3 burung phoenix nya.
"Hei kalian sedang apa?"
Tanya han menggubris perkataan xiao dan malah bertanya kepada gu nin yang tengah menatap lili sedari tadi.
"Tenanglah. Kami hanya memulihkan tubuhnya. Tulang dibagian lengannya patah. Pagi tadi jantungnya hampir meledak karena terlalu memaksakan diri membuat pil tingkat dewa".
Jelas gu nin membuat semua orang terkejut didepan pintu saat mendengar jantung lili yang hampir meledak.
Han yang sudah tak tahan ingin meneteskan air matanya kini menangis memeluk tubuh lili yang terbaring lemah di kasur.
" sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanya han menatap gu nin meminta penjelasan.
"Iblis itu bukanlah suatu mahkluk yang gampang dilawan. Disaat mereka pulang kemari tubuh anak murid lili sudah dipenuhi cakaran iblis. Kalian pingsan tepat dihalaman rumah itu karena sudah terkena efek yang akan membuat kalian menjadi iblis. Iblis yang kalian lawan memiliki kekuatan yang hampir persis seperti orang tangan kanannya raja iblis. Cakarannya dapat membuat tubuh kalian menjadi iblis, subuh tadi lili langsung mencari penawar dan membuat pil tingkat dewa yang hanya pernah dilakukan 1 orang didunia ini. Lili berhasil melakukan itu dengan memaksakan tubuhnya. Aku sudah katakan bahwa ini adalah resiko, tapi dirinya sangat keras kepala. Dasar".
Jelas gunin sedikit marah karena lili yang terlalu keras kepala.
Penjelasan gunin barusan membuat kaki nana melemas.
Yuto bahkan melototkan matanya terdiam karena tak percaya dengan usaha lili yang sampai segitunya untuk menyelamatkan mereka.
"Kenapa kau malah menyelamatkan kami walaupun kau tahu bahwa itu adalah resiko terbesar".
Ujar chen menundukkan kepalanya kelantai membiarkan air matanya turun.
" kau tak boleh berkata seperti itu. Lili sudah berjuang sekuat tenaga, harusnya kalian saat ini menyemangatinya. Jangan jadi pesimis seperti itu. Lili tak pernah mengajari kalian menjadi orang yang akan menyalahkan dirinya sendiri karena putus asa seperti itu".
Jawab gu nin membuat mereka kembali sadar betapa lemahnya mereka saat ini.
Mereka juga sadar akan selalu bersama lili menghadapi apapun itu masalah yang ada karena mereka sudah membuat janji seperti itu.
"Kau harus bangun kak lili! Apapun yang terjadi kau harus bangun!"
Tangis xiao pecah disana menatap lili yang terbaring lemah di kasurnya.
Xiao yang biasanya selalu tersenyum dan jarang menunjukkan kelemahannya kini menangis karena melihat lili yang sedang kritis seperti ini.
Tangisan xiao juga membuat teman-temannya yang lain menangis karena tak tahan menahan air mata lagi.
"Ma-mama?"
Panggil wei didepan pintu dengan tatapan kosongnya saat melihat lili yang terbaring lemah didalam kamar.
Wei berlari kearah han dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada mamanya.
Melly, ye dan jun yang menyusul keatas juga terkejut dan juga menangis saat mendengar semua penjelasan teman-teman yang lain.
"Ayo kita semangati mama oke?"
Ajak han berusaha tersenyum dengan wajahnya yang seperti ingin mati karena melihat lili seperti ini.
"Mama, ayo bangun".
Ucap wei menangis memegang erat tangan lili berusaha memberikan lili kekuatan agar mamanya dapat bangun dari kondisinya yang kritis ini.
" lili, semangatlah. Kami semua bersamamu".
Batin han menatap lili penuh harap agar istrinya dapat bangun dan kembali ceria seperti sebelumnya.
"Bangunlah bodoh! Kalau saja kau tak bangun, aku tak akan pernah memaafkan dirimu".
Ucap axe yang sedari tadi masih berusaha memulihkan tubuh lili sedari tadi pagi.
***
" lilia"
Panggil seseorang membuat lili terbangun menatap sekelilingnya yang berwarna putih tanpa ada seseorang pun disana.
"Ah, apakah ini adalah tempatku disaat aku akan mati?"
Tanya lili pada dirinya sendiri dan terduduk bingung diruangan kosong itu sendirian.
"Lilia, bangunlah.".
Sambung orang itu lagi. Tepat saat lili menghadap kedepan dirinya ingin menangis karena melihat kakeknya yang tersenyum kearahnya.
" ka-kek?".
"Bangunlah. Banyak yang menunggumu, ingat kata kakek kan? Tidak peduli seberapa sakitnya dirimu disaat melawan penjahat. Kau harus tetap bangkit, karena ada yang harus kau lindungi".
" anak laki-laki yang menjadi suamimu itu sangat mengkhawatirkanmu. Anak angkatmu, anak muridmu dan semuanya sangat mengunginkan kau bangun. Bangunlah, lawan rasa sakitmu dan berusalah untuk bangun. Kau memiliki sesuatu untuk dilindungi".
Sambung kakeknya tersenyum kearah lili dengan tulus.
Lili saat ini masih terdiam mendengarkan perkataan kakeknya dan mengingat bagaimana keadaan wei dan han disana.
"Kakek selalu bersamamu. Bangunlah"
Suruh kakeknya lagi lalu mengelus pucuk kepala lili dengan lembut.
Air mata lili tercucur deras dengan mata yang terbuka lebar menatap kakeknya yang sudah lama tak ia lihat.
Namun, apa yang dikatakan kakeknya memang benar.
Lili harus bangun dan akan melindungi semuanya dengan seluruh kekuatannya.
"Nah, ayo bangun. Lilia".
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.