
"lili".
Panggil seorang perempuan yang tengah duduk diatas batu besar.
" siapa kau?"
Tanya lili bingung menatap perempuan cantik dihadapannya.
Perempuan itu terlihat sangat kuat, bahkan saat dirinya berada diatas batu besar itu lili seperti semut yang tidak ada apa-apanya.
"Aku? Aku adalah kau dimasa lalu".
Jawab perempuan itu lalu menatap kearah langit.
" maksudmu?"
Lili kembali bertanya dengan kepala yang sudah sangat pusing memikirkan apa yang dikatakan perempuan ini.
"Bisa dibilang kau si lilia dan lili adalah reinkarnasiku. Kalian itu sama, aku sudah mengikuti beberapa reinkarnasiku. Sudah ada 47 reinkarnasiku namun mereka tak mempunyai tubuh yang kuat untuk mengikat kekuatanku. Dan kau adalah yang terakhir, lilia christiana. Aku tau semuanya mengapa kau ada disini dan mengapa kau memiliki kekuatan yang sangat besar. Aku memilihmu untuk melanjutkan harapanku, hanya kaulah reinkarnasi ku yang memiliki tubuh kuat serta kepintaran otak yang melebihi manusia. Kau benar-benar mirip denganku. Sebenarnya lili yang tubuhnya sedang kau pakai itu juga sangat pintar, dia adalah reinkarnasi ku yang kedua,namun dia tidak memiliki tubuh dan mental yang kuat.
Dan kau adalah reinkarnasi ke 48 yang sudah datang jauh-jauh dari masa depan".
Ujar perempuan itu lalu melompat turun dari batu besar itu dan mendarat tepat dihadapan lili.
"Maksudmu aku reinkarnasimu?"
"Tentu saja. Kau adalah penerus dewi kegelapan".
" dewi kegelapan? Apa maksudnya?"
Tanya lili semakin bingung memikirkan perkataan perempuan dihadapannya.
"Pergi, dan temuilah ratu medusa. Bangunlah,suamimu menunggu".
Setelah mengatakan itu perempuan tadi menghilang meninggalkan lili yang masih syok dan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
***
Lili terbangun membuka matanya lalu termenung menatap langit-langit kamar memikirkan mimpinya barusan.
" kau sudah bangun?"
Tanya han membawa semangkuk bubur lalu meletakkannya di meja dan duduk disamping kasur lili.
"Oh, itu untukku?"
Tanya lili balik yang hanya dibalas anggukan ringan dari han.
"Dimana anak-anak?"
Tanya lili lagi lalu duduk membiarkan han menyuapinya bubur hangat yang dibuat melly.
"Sedang memutari gunung dengan batu 10kg dipunggung mereka masing-masing".
Jelas han lalu kembali menyuapi lili lagi.
" apa kau tak curiga mereka akan menggunakan kekuatan?"
Tanya lili.
"Sudah ada gunin dan 3 burungmu yang mengawasi. Setelah kau selesai makan aku akan pergi kegunung melihat mereka".
" aku ikut".
Sahut lili lalu memakan buburnya sendiri dengan cepat lalu meminum air putih dan memberikan mangkuk yang sudah kosong.
"Haha kau ini, tunggu sebentar. Aku letakkan mangkuknya dibawah dulu, kau bersiap-siaplah".
Ucap han menepuk-nepuk pelan kepala lili lalu pergi keluar menuju dapur untuk meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong tadi.
" apa aku harus memberi tahu han tentang mimpiku tadi?"
Batin lili bingung memegang erat selimutnya lalu pergi berganti pakaian untuk mengikuti han ke gunung karena sudah merasa bahwa tubuhnya baik-baik saja.
"Kurasa jangan sekarang".
Sambung lili dan kembali memikirkan tentang mimpinya.
__ADS_1
***
" capek banget!".
Protes leo yang tengah merangkul jun disebelahnya agar dapat mengurangi beban yang dirasakan.
"Ayolah, sedikit lagi kita sampai!"
Semangat xiao yang juga merangkul yuto.
Mereka naik berjalan keatas gunung bersama-sama dengan membagi-bagi batu serta merangkul yang lain agar dapat mengurangi beban.
"Hari sudah sore. Tahanlah sebentar lagi, ayo kita pergi bersama-sama".
Ujar chen merangkul xiao dan dirangkul oleh leo.
Semuanya saling merangkul dan dirangkul agar tetap bertahan naik keatas gunung dengan membawa batu di punggung mereka.
" lambat!"
Teriak han melipat tangannya didada saat melihat anak-anak muridnya naik berangkulan.
Han tetap memasang wajah garang walaupun hatinya merasa bangga saat melihat mereka dapat bertahan bersama-sama seperti itu.
"Kami berhasil!"
Xiao senang bukan main berteriak diatas gunung melepas kepenatannya.
Begitu juga yang lain kini sudah terbaring tersenyum bangga menatap langit sore.
"Kalian gak menyapa ku?"
Tanya lili tiba-tiba diatas pohon.
"Kak lili!"
Panggil xia senang saat melihat lili yang terlihat baik-baik saja diatas pohon.
"Minumlah ini, biarkan tubuh kalian pulih dahulu".
"Aku bertemu vivi,ye dan jo di alam bawah sadarku".
Sahut lili kembali memakan apelnya dan melihat wajah anak-anak muridnya yang langsung melongo.
" kenapa? Wajah kalian seperti ingin dipukuli".
Sambung lili saat melihat wajah mereka yang seperti orang dungu. Apalagi yuto yang tak tahu menahu hanya menoleh kanan kiri bingung tentang apa yang dibicarakan lili.
"Naga yang ada ditubuhmu. Milik vivi bukan?"
Tanya jun yang memang ingin menanyakan ini kepada lili.
"Iya,vivi memberikannya kepadaku. Dia juga ingin meminta maaf karena perkataannya waktu itu. Dia bilang, tubuhnya saat itu sedang dikendalikan dan dirinya tak bisa melawan. Jo ingin kalian terus hidup dan bahagia karena melihat kalian baik-baik saja. Gong, ye mengatakan padaku bahwa dia sangat menyayangi kakaknya. Dia ingin kau terus hidup, karena dia selalu bersamamu".
Mendadak suasana menjadi hening saat lili kembali menjelaskan tentang ye,jo dan vivi.
Han saat ini sangat ingin meludahi anak muridnya karena terlalu lemah.
Hanya karena mendengar itu bahkan mereka sudah menjadi hening dan menunduk terdiam.
Inilah yang han benci dari mereka, mereka selalu berpikir negatif dan menyalahkan diri sendiri karena tak bisa menyelamatkan teman-temannya. Mereka juga belum tahu bahwa sesuatu yang lebih besar juga akan memperburuk mentalnya.
" tersenyumlah bodoh!kalian pikir dengan wajah yang murung dan kisut seperti itu bisa membuat kalian terlihat kuat? Orang yang kuat itu adalah orang yang selalu berusaha tersenyum sebagaimanapun penderitaan mereka. Hanya dengan senyuman, orang-orang disekelilingmu menjadi nyaman dan merasa aman terlindungi. Jika kalian memakai wajah seperti itu lebih baik pulang dan tidur saja memeluk bonekamu!"
Bentak han marah membuat mereka semua kaget dan melongo menatap han.
Disaat han mengajar dan disaat han bermain bersama seperti hari-hari biasanya sangat berbeda jauh.
Disaat han mengajar dia senang sekali memarahi mereka tanpa henti.
Tapi jika disaat tidak mengajar tingkah han sama seperti anak kecil yang bisa membuat orang-orang disekitarnya kesal bukan main.
"Besok aku tak bisa ikut ke kaisaran untuk melihat pertandingan kalian. Aku ada sedikit urusan"
Ujar lili tiba-tiba mengingat dirinya yang masih penasaran dengan mimpinya dan bersiap-siap untuk mencari ratu medusa.
"Kenapa?"
__ADS_1
Tanya han yang juga kaget karena tiba-tiba mendengar hal penting yang belum lili katakan padanya sedari tadi.
"Aku ingin mencari ratu medusa bersama axe besok. Jadi, tolonglah untuk bersikap lebih bagus saat berada di kekaisaran. Jika kalian melakukan hal yang tak berguna akan kuhabisi kalian!"
Ancam lili seraya menghancur-hancurkan apel yang ada digenggamannya membuat seluruh anak muridnya menjadi takut.
Yah, walaupun han yang mengajari mereka sangat suka marah mereka malah tak takut pada han. Sedangkan disaat lili mengajar dan menampilkan aura kekejaman yang kuat itu pasti akan berhasil membuat mereka semua tertunduk takut.
"Me-medusa?"
Tanya han hampir gelagapan mendengar lili yang menyebut nama medusa.
Nama seorang wanita yang ditakuti banyak orang. Bahkan, han saja takut kepada wanita itu karena kekuatannya yang besar.
"Baiklah, tidak ada pertanyaan. Jika kalian bertanya tidak akan aku jawab".
Sahut lili tiba-tiba karena sangat malas untuk menjelaskan lebih detail kepada yang lain.
" ratu medusa? Si ular itu? Yaampun, itu siapa? Aku lupa?!"
Teriak xiao berjongkok memegang kepalanya frustasi.
"Kau radang otak ya?"
Sindir xia kepada abangnya karena merasa sangat jijik melihat tingkah saudaranya. Rasanya xia ingin melempar xiao dari atas gunung karena terlalu gemas dengan sikap xiao yang begitu idiot.
"Haih kepalanya bocor. Udah disebutin tapi malah bilang gatau".
Sambung xia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan karena sudah tak paham dengan sikap saudaranya.
"Latihan hari ini kalian berhasil. Ingatlah, sebagai tim kalian harus lebih mempercayai satu sama lain dan juga lebih terbuka. Sering-seringlah bersama-sama. Karena jika kalian benar-benar berpisah aku tak segan-segan mencari kalian kemana-mana dan mengumpulkan mayat kalian agar dapat kembali".
Ancam han lalu mengusir pergi anak-anak muridnya yang sudah diantar pergi okeh cloud dan tan.
" lili, apa maksudmu dengan bertemu ratu medusa?"
Tanya han saat melihat anak-anak muridnya yang sudah berjarak jauh dari mereka.
"Ada sesuatu yang masih belum bisa ku jelaskan. Tolong percayakan dulu hal ini padaku".
Jawab lili tersenyum lembut menandakan dirinya sedang tak ingin ditanya-tanya.
Han yang sudah mengerti sifat lili hanya terdiam menatap lili yang masih berada diatas pohon.
" yah, kalaupun aku melarangmu mungkin kau akan tetap pergi. Tapi, ingatlah untuk berhati-hati dan tolong jagalah bayi kita. Kalau kau kembali dengan tubuh yang luka aku tak akan memaafkan dirimu".
Ucap han lalu tiba-tiba sudah berada diatas pohon bersama lili.
"Astaga!".
Pekik lili terkejut hampir jatuh karena han yang tiba-tiba berada disampingnya.
" ayo pulang".
Ajak han tanpa memedulikan lili yang sedang kesal setengah mati.
"Dasar cabe ijo!"
Ejek lili lalu naik ketubuh axe menyusul anak-anakmuridnya ke penginapan.
"Hahaa, panggilan sayangmu sudah ganti kah?"
Goda han mengikuti lili menaiki tubuh axe lalu kembali tersenyum dan tertawa karena melihat ekspresi lili yang seperti ingin di ena-enain. Eh, seperti tomat yang sudah memerah karena kesal.
"Idiot!"
Teriak lili kesal kembali membuat han tertawa ditengah perjalanan. Sedangkan gunin dan axe hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan suara berisik seperti tungku yang pecah.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1