
"GAWAT! YANG MULIA! POPULASI IBLIS YANG BERADA DIPEGUNUNGAN MULAI DATANG KE KOTA! SUDAH ADA BEBERAPA GADIS YANG DIMAKAN OLEH PARA IBLIS".
Ujar salah satu pengawal yang tiba-tiba masuk keruangan peristirahatan lili dan yang lainnya.
Lili yang mendengar hal itu tentu saja sangat senang karena musuhnya tak perlu lagi dipancing.
" kaisar ato, bisakah aku meminta sebuah permintaan?"
Tanya lili yang langsung dianggukkan ato dan bersedia mendengarkan permintaan lili.
***
"Ah, yuto. Tunjukkan dimana tempat tetua kalian menginap. Sekalian saja, karena nanti malam kalian akan sibuk".
Ucap lili yang sudah keluar dari istana kaisar dan bersiap untuk pulang.
Axe,tan dan cloud merubah bentuknya menjadi yang asli.
Ato yang mengantarkan mereka ke gerbang sampai kaget saat melihat 3 burung phoenix langka dengan tingkat kekuatan yang tinggi.
Lili memang tidak boleh diremehkan walau hanya sedikitpun menurut ato.
Setelah berpamitan dengan ato lili dan yang lainnya langsung beranjak pergi ke tempat tetua perguruan bebas utara untuk meminta izin membawa yuto.
3 burung phoenix tingkat tinggi yang berkeliaran dikota itu menjadi pusat perhatian. Apalagi saat masyarakat melihat para burung phoenix itu mengangkut anak-anak murid dari perguruan qi.
Banyak orang-orang yang mengenal mereka karena saat di pertandingan seleksi tadi perguruan qi lah yang paling mencolok untuk diamati.
"Sebelah sana".
Ucap yuto menunjuk salah satu tempat penginapan yang bisa dibilang mewah walaupun tak semewah milik han yang dibeli disini.
Tanpa menunggu waktu yang lama mereka sudah mendarat di depan halaman penginapan walaupun harus bergantian karena terlalu sempit.
Setelah murid-murid lili sudah turun, axe dan yang lain kembali merubah wujud mereka menjadi kecil.
Baru saja ingin masuk lili dan yang lainnya sudah bertemu dengan tetua yang tengah duduk bersama murid-muridnya.
Yuto dengan cepat berlari menuju tetuanya dan menjelaskan bahwa ada seseorang yang ingin menemuinya.
Walaupun yuto sempat marah karena diejek tak berguna oleh yang lain dia tetap sabar dan langsung berlari kembali kearah lili dan teman-temannya.
"Kalian tunggu disini saja. Han ikut denganku".
Ucap lili lalu pergi bersama han menghampiri tetua yang menatap mereka tanpa minat.
" permisi, kami dari perguruan qi".
Ujar lili memperkenalkan diri dan memberi salam sesopan mungkin agar tidak menimbulkan kekacauan.
"Kenapa? Heehhh, padahal sudah hilang beratus-ratus tahun dan tiba-tiba saja mengikuti pertandingan dengan membawa anak-anak hebat. Apa kalian menyembah iblis?"
Tanya tetua itu yang tidak tau bahwa dia sedang berbicara pada sang ratu.
Lili yang amarahnya sudah naik masih berusaha sekuat mungkin agar dirinya tersenyum dan menahan diri agar tidak memukul wajah tetua didepannya.
"Han, karena disini ramai. Bisakah kau butakan pandangan mereka semua? Kecuali kakek tua ini".
Ucap lili yang mulai tidak sopan karena merasa kesal dengan ucapan pak tua dihadapannya.
"Dengan senang hati".
Jawab han lalu sedetik kemudian terdengar suara para murid bebas utara yang resah dan takut karena tak dapat melihat.
Sedangkan tetua yang sedang menatap lili sekarang dirinya seakan-akan ingin pingsan karena melihat wujud menyeramkan lili.
Rambut merah dan mata biru disebelah kanan, rambut hitam dan mata ungu disebelah kiri serta api hitam dan merah yang menjalar ditubuh lili membuat tetua itu ketakutan karena tekanan kuat dari lili.
" kau sudah berkata tak sopan pada seorang ratu dan raja".
Sahut han tiba-tiba menatap tajam pak tua dihadapannya yang seakan-akan ingin menangis seperti anak bayi.
"Kau lihat wujudku bukan? Coba lihat anak muridmu yang sedang kehilangan penglihatannya itu. Sungguh menyedihkan".
Cibir lili yang kembali mengeluarkan hawa membunuh nya yang kuat.
" wanita ini! Sekuat apa dirinya. Kakiku lemas hanya karena melihat tatapan matanya".
Batin si tetua itu dan langsung terduduk dirumput karena sudah tak tahan mengendalikan rasa takutnya pada lili.
"Yang mulia. Katakan apa maumu".
Ucap tetua itu yang masih bergetar terduduk ditanah.
Setelah mendengarkan ucapan itu han langsung mengembalikan penglihatan anak-anak murid bebas utara dan lili juga sudah kembali ke wujud aslinya karena sudah tak perlu berdebat lagi.
"Bolehkan aku membawa yuto bersama kami?".
Tanya lili yang kembali tersenyum saat anak-anak murid tengah mendengarnya.
" hei kau! Yuto itu tak berguna. Dan dia juga dari perguruan kami. Jika kau menginginkannya, kau harus bayar dong!"
Ucap salah satu murid yang dikenal sebagai ketua geng yang ditakuti murid-murid bebas utara.
"Cih".
Lili dengan cepat melemparkan sekantong uang dengan tatapan jijik melihat anak-anak kurang ajar seperti mereka.
"Berani sekali kau menatapku seperti itu!"
__ADS_1
Teriak murid tadi saat melihat tatapan jijik lili yang mengarah kepadanya.
"CUKUP!! SORA!! BERANI SEKALI KAU BERBICARA SEPERTI ITU PADA SEORANG RATU! TUNGGU SELESAI INI KAU TAKKAN KUAMPUNI"
bentak tetua seraya menampar pipi anak laki-laki tadi dengan keras karena memang sudah keterlaluan.
"R-ratu?"
Tanya anak-anak murid itu berbarengan dan langsung menunduk tak berani ikut campur dengan urusan sora.
"Maafkan aku yang mulia. Silahkan, bawa saja yuto. Aku ikhlas jika kau membawanya. Dan kami kembalikan uangmu, ini sangat banyak. Kami tidak berhak mendapatkan ini".
Ucap tetua itu dengan suara yang gemetar saat kembali menatap mata lili.
Setelah mendengar perkataan itu, lili langsung pergi berjalan mengarah ke tempat anak-anak muridnya yang tercengang saat melihat anak bernama sora tadi dipukul dengan keras seperti itu.
" Uangnya khusus untukmu. Buat anak-anak muridmu tau apa itu sopan santun".
Ujar lili kepada tetua yang mengangguk patuh kepalanya dan membiarkan lili pergi keluar dari perkarangan halaman penginapan.
"Kita jalan kaki saja. Penginapan kita tidak terlalu jauh dari sini, oh ya yuto. Selamat datang".
Ucap lili yang langsung diikuti anak-anak muridnya yang memberikan salam kepada yuto.
Berjalan kaki bersama orang-orang yang disayangi lili dibawah sinar matahari sore ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggunya.
Setiap harinya disini bersama han,wei dan anak muridnya membuat lili tidak ingin kehilangan.
Lili sangat menyayangi orang-orang yang bersamanya dikehidupan barunya ini.
" han".
Panggil lili menatap semuanya dari belakang karena memang saat ini han dan lili tengah berjalan di barisan belakang.
"Hmm?"
Sahut han berdehem menampilkan wajah lembutnya yang sedang menatap lili.
"Aku menyayangimu".
Ucapan lili membuat jantung han berdegup kencang karena bahagia saat mendengar lili yang jarang berbicara seperti itu.
hal itu membuat han disepanjang jalan menempel pada lili dan menggenggam erat tangan lili agar tidak lepas dan tidak terpisah oleh lili yang saat ini menjadi hal yang paling disukai han didunia.
Sedangkan di halaman penginapan bebas utara. Ketua benar-benar memberikan hukuman kepada sora tanpa henti karena hampir membuat nyawanya melayang.
***
Malam hari sudah tiba. Penginapan yang ditempati lili dan ank muridnya kini masih ramai karena ada sesuatu misi yang akan lili beri tahu.
" ini misi kalian. Aku susah mendapatkan izin dari kaisar ato agar hanya kalian yang menangani iblisnya".
"Kalian harus ingat".
Belum selesai bicara, ucapan lili sudah terpotong oleh xiao yang kini sedang bersemangat.
"Ya! Kami akan mengingatnya!"
Teriak xiao lantang memotong perkataan lili membuat semua orang terkejut dan langsung menatap horror xiao.
"Kak lili belum selesai bicara. Dasar"
Cibir chen membuat xiao menjadi malu dan menundukkan kepalanya.
"Ingatlah agar tidak membiarkan para iblis itu lolos. Dan kau nana, aku sangat mengharapkanmu disini karena kau bisa melihat masa lalu lawan seperti ku. Jika iblis itu sudah mati lihatlah masa lalunya dan koreklah informasi sebanyak-banyaknya".
Ucap lili memberikan tugas penting kepada nana.
" chen! Seperti biasa. Kau yang memimpin teman-temanmu. Aku akan menyambungkan pikiran kita agar bisa bertelepati, katakan padaku bagaimana situasinya nanti".
Sambung lili yang dibalas anggukan sigap dari chen karena mengerti dengan apa yang akan dilakukannya nanti.
"Yuto, aku tahu mengendalikan kekuatan itu susah. Jadi, kau gunakan dulu pedang ini. Aku meminjamnya dari xiao karena dia mempunyai banyak pedang. Kau bisa menggunakannya?".
Tanya lili seraya memberikan pedang kepada yuto.
" aku bisa menggunakan teknik dasarnya saja. Aku bisa sedikit mengendalikan kekuatan ini karena buku. Apa kakak punya buku tentang teknik pedang?"
Tanya yuto membuat semua orang kaget dan tak percaya.
Bagaimana bisa seseorang bisa memahami sesuatu hanya dengan membaca buku.
tapi bagi mereka chen juga adalah bukti bahwa orang seperti itu memang ada.
"Ambillah. Di giok han ada banyak, aku sudah membaca semua bukunya".
Ucap lili memberikan sebuah gulungan yang berisi teknik-teknik pedang yang dipelajari xiao dan xia.
" xiao dan xia. Jika kalian berhasil pulang dengan selamat aku akan memberikan teknik terbaru dan kuat yang aku ciptakan".
Sambung lili menatap xiao dan xia bergantian.
Hal itu kembali membuat rasa semangat xiao dan xia membuncah dan ingin cepat-cepat menyelesaikan misinya.
"Kami juga dong! Kami juga mau mempelajari teknik ciptaan kak lili!".
Sahut nana tiba-tiba karena juga ingin menggunakan teknik yang diciptakan lili.
"Tenanglah. Semuanya akan kebagian, karena aku dan han akan mencoba sekuat tenaga untuk membuat masa depan kalian cerah".
__ADS_1
Ucap lili yang tiba-tiba saja disebelahnya sudah ada han yang tengah bersender didinding memeluk pinggang lili dari belakang.
" kami sudah kebal dengan suasana ini!"
Batin mereka semua kecuali yuto yang tengah menunduk karena malu melihat orang lain sedang bermesraan di depannya.
"Gunakan topeng ini".
Lili mengeluarkan banyak topeng yang berbentuk rubah dan membiarkan anak muridnya yang memilih sendiri.
Karena lili saat ini tak bisa bergerak dibuat han yang memeluknya dengan erat seperti magnet.
"Jangan sampai mereka tahu bahwa kalian adalah manusia. Topeng ini terbuat dari bahan khusus sehingga sangat susah untuk pecah. Dan juga ditopeng ini sudah diberikan mantra yang kuat serta darah vena agar mereka mengira kalian adalah iblis murni dari kerajaan vena".
Jelas lili lalu membiarkan anak-anak muridnya menggunakan topeng rubah yang memang sudah dipersiapkan lili sejak lama.
" hei".
Panggil han tiba-tiba menatap murid-murid dihadapnnya dengan datar membuat semua murid disana menunduk karena merasa takut dengan tatapan han.
"Jika kalian tidak bersyukur dengan topengnya atau membuat topeng itu hancur. Aku tak akan mengampuni kalian".
Lanjut han yang masih memeluk lili dengan erat dan mengeluarkan suaranya dan tatapan wajah yang datar menandakan dirinya tengah serius.
Karena han sangat tidak suka jika mereka tidak menghargai topeng yang sempurna seperti itu dari lili. Bahkan lili membuat topeng itu dengan tangannya sendiri. Walaupun han sering memarahinya karena tangan lili sering terluka saat membuat itu lili tetap melanjutkannya tanpa memikirkan rasa sakit di telapak tangannya.
"Jika kalian benar-benar melakukan itu. Jangan harap dapat hidup dengan tubuh yang sempurna".
Ancam han dengan arti jika mereka benar-benar tidak bersyukur dengan topeng rubah yang dibuat lili, maka akan han pastikan tubuh mereka akan menjadi cacat.
"Baik! Kami akan menjaga topeng ini dengan baik!".
Ucap mereka serentak seraya menunduk berterima kasih kepada lili.
" baiklah. Jangan biarkan iblis-iblis itu hidup, karena kalian sudah mengetahui aroma iblis kalian akan dengan cepat menemukannya. Tidak ada ampun bagi mahkluk yang sudah membunuh orang tak berdosa. Pergilah, jalankan misi kalian".
Perintah lili menunjukkan wajah seriusnya karena masih teringat dengan wajah marcel yang sangat ingin lili pecahkan.
"Baik!"
Jawab mereka dengan lantang dan tegas. Sedetik kemudian kehadiran anak-anak murid lili sudah tidak ada di penginapan dan sudah berada diperjalanan untuk menjalankan misi mereka.
Lili tak menyangka bahwa latihan mati-matian yang diberikan lili kepada anak muridnya memberikan hasil yang sangat bagus.
"Han".
Panggil lili pelan menatap bulan yang bersinar terang membiarkan han memeluknya dengan erat karena lili juga saat ini benar-benar butuh senderan karena sudah terlalu lelah.
"Jangan mengancam anak-anak seperti itu. Kau terlalu kasar".
Ucap lili menoleh kesamping kanannya yang dimana han tengah menyenderkan dagunya di pundak lili.
" kau sudah berusaha sekuat tenaga sampai mengalami luka-luka seperti itu. Saat siang hari kau melatih anak-anak dengan latihan yang tanpa henti.Disaat kami tidur kau malah melatih dirimu tanpa istirahat. Kau jarang tertidur untuk istirahat. Itu adalah hal bodoh yang baru pertama kali kulihat. Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Jika kau butuh bantuan, aku ada bersamamu".
"Aku juga tidak akan menarik kata-kataku jika mereka tidak bersyukur dengan topeng yang kau buat tanpa istirahat itu. Karena aku tidak ingin melihatmu sedih jika anak-anak itu tak mau menggunakannya".
Sambung han yang semakin mengeratkan pelukannya dan menutupi wajahnya di pundak lili.
" kau sudah bekerja keras. Kerja bagus, sayang. Kali ini istirahatlah dengan cukup karena ada anak kita didalam perutmu".
Lanjut han lagi membuat lili tak tahan ingin meneteskan air matanya.
Pelukan hangat dengan kata-kata yang hangat selalu lili rasakan dari han.
Inilah yang membuat lili menyukai han. Han selalu menerima lili walaupun dirinya sering keras kepala dan memarahi han.
Han selalu ada bersamanya dan menyemangatinya membuat lili nyaman hidup di kehidupan barunya yang indah ini.
"Hiks--hikss. Aku sangat lelah dengan masalah yang datang. Aku kesal, aku marah, aku kesal. Kesal dengan semua orang yang seenak jidatnya mencari masalah. Rasanya aku ingin membakar orang itu dan menggorengnya di kuali ku. Maafkan aku jika aku berbicara aneh saat inii. Aku benar-benar sangat kesal".
Ucap lili membalikkan badannya dan membalas pelukan han dengan lebih erat.
Lili saat ini sangat lemah, dirinya sangat lelah dengan masalah-masalah yang terus berdatangan.
Air mata lili menetes deras mengeluarkan beban-bebannya yang selama ini ia pendam.
Han yang merasa sakit melihat lili menangis menepuk-nepuk pelan punggung istrinya agar lili merasa tenang.
" menangislah, orang yang kuat juga bisa menangis. Kali ini aku akan membiarkanmu menangis, tapi kapan-kapan berusahalah agar tidak menangis. Karena saat melihatmu menangis membuat dadaku sesak".
Ujar han membenamkan wajahnya ditekuk leher lili dan membiar istrinya mengeluarkan keluh kesahnya.
"Tidak apa-apa. Karena anak-anak itu juga menyayangimu. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik dan berusaha untuk tidak merepotkan dirimu. Kau harus percaya pada mereka".
Sambung han mengelus pelan punggung lili.
Lili hanya mengangguk dengan tangisan yang belum berhenti sedari tadi.
" tidak apa-apa. Aku bersamamu. Menangislah hingga rasa lelahmu hilang,karena aku akan selalu menjadi senderanmu".
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1