
"Sudah kau siapkan?"
Tanya seorang laki-laki menatap pelayannya yang kembali membawa beberapa orang.
"Hoo~~ kita dapat kartu yang bagus".
Sambungnya lagi saat melihat 5 orang yang tengah berdiri dihadapannya dengan kekuatan besar yang dapat dirasakannya dari mereka.
" Tunggulah sebentar lagi. Biarkan mereka bersenang-senang".
Ucapnya lagi lalu pergi bersama perempuannya meninggalkan pelayan dan 5 orang tadi yang nantinya akan ditugaskan untuk membunuh lili.
***
Sudah agak lama lili menunggu giliran muridnya bertanding dan kini adalah seleksi giliran gong.
"Haha, kerajaan qi yang telah lama hilang kini mulai muncul dan tiba-tiba hadir ke pertandingan kekaisaran langit. Palingan isinya kerajaan qi hanya kutu kecil".
Remeh seorang lelaki yang membawa pedang yaitu lawan gong yang menjelek-jelekkan kerajaan mereka. Jika saja lili mendengarnya, mungkin anak dihadapannya ini sudah habis dibuat lili.
" kutunya itu kau".
Ucap gong santai melipat tangannya di dada menunggu lawan menyerangnya.
Gong tadi hampir memakai kekuatan tapak budha nya, tapi karena mengingat perkataan lili gong kembali menyimpan kekuatannya dan tetap bersikap biasa-biasa saja.
"Bisakah dia menang?"
Tanya nana mengkhawatirkan gong yang akan melawan lawannya tanpa menggunakan kekuatan spiritnya.
"Kau meremehkan gong ya?"
Ucap chen menjawab perkataan nana barusan seraya menatap kedepan yang dimana gong sudah mulai bertarung.
"Kalau kecepatan gong lah yang paling cepat antara kita. Dan gong itu bukanlah orang yang suka basa-basi, dia paling tahu dimana titik vital manusia dan hewan. Pengetahuannya tentang ilmu yang seperti itu lebih besar dariku. Lihatlah bagian mana yang akan ditusuknya".
Ucap chen lalu kembali menatap gong yang berlari cepat mengelilingi lawannya membuatĀ sang lawan kebingungan dengan keberadaan gong.
" lambat".
Bisik gong tepat dibelakang tubuh lawannya.
Belum sempat lawannya menghadap kebelakang gong sudah menusuk jarum ke leher belakang lawannya yang dimana adalah tempat titik vital manusia.
Sedetik kemudian lawannya sudah terbaring pingsan menandakan dirinya kalah dari pertarungan seleksi ini.
"Lihatlah! Dia membuat musuh terbaring tanpa menggunakan kekuatan spiritnya!"
Kagum salah satu penonton berteriak kencang membuat semua orang juga ikut terkagum dengan apa yang mereka lihat barusan.
Bahkan kaisar ato yang tadinya hampir meremehkan lili yang menjadi guru itu langsung terkagum dengan apa yang ia lihat.
"Sudah kubilang kan?"
Sombong chen karena analisanya tepat.
__ADS_1
Chen yang selalu memperhatikan teman-temannya itu lebih banyak tahu mengenai yang lain.
Maka dari itulah chen dapat menghafal bagaimana cara berpikir teman-temannya.
"Wah, kak lili senyum tuh kita gaboleh kalah nih"
Ucap xiao melambaikan tangannya kearah lili yang tersenyum kearah mereka.
Tentu saja lili saat ini sangat senang karena kerja kerasnya melatih murid-murid nakalnya ini membuahkan hasil yang bagus.
Setelah pertarungan antara gong dan lelaki berpedang itu sekarang saatnya giliran jun melawan seorang gadis cantik.
Inilah kelemahan jun karena dia malah mendapatkan lawan perempuan disaat-saat seperti ini.
"Singkirkan pikiran kotormu tentang gadis itu. Jika kau lemah hanya karena parasnya, aku takkan memberimu ruang untuk mendekati melly".
Ucap nana yang bertelepati tiba-tiba.
Suara lili yang berdengung dikepalanya barusan membuat jun langsung menoleh kebelakang dimana tempat melly tengah tersenyum menyemangatinya bersama ye.
Memang menurut jun melly lebih imut dan cantik. Jadi kali ini mungkin jun tak akan terpengaruh oleh perempuan karena perkataan lili barusan.
Dan juga saat melly tersenyum memberi semangat kepadanya membuat jun tambah semangat menghalau pikirannya tentang gadis yang menjadi lawannya ini.
Jun yang masih berdiri ditempatnya menunggu lawan menyerang tampak terlihat santai.
Itulah yang orang lain pikirkan jika melihat jun saat ini. Tapi sebenarnya jun tengah mencari celah dan mencari kelemahan musuh karena jun yang memiliki kekuatan naga itu mempunyai insting yang kuat.
" jun ngapain coba?"
Tanya xiao bingung karena melihat jun yang tak bergerak sedari tadi.
Sahut leo menjawab pertanyaan xiao.
Teman-temannya yang baru tahu itu hanya mengangguk kagum.
"Maju brengsek!"
Teriak gadis didepannya lalu mengeluarkan cambuk yang besar dan panjang.
Tepat saat itu juga jun menemukan cara untuk mengalahkan gadis didepannya.
Jun menutup matanya dan saat matanya terbuka bagian telapak tangannya menjadi keras.
Ini adalah teknik yang diajarkan lili pada anak muridnya. Memang telapak tangan es ini memiliki daya tahan yang kuat, bahkan racun dan besi sekalipun tak bisa menembusnya.
Lili tak terpikirkan jun akan memakainya disaat seperti ini.
Saat gadis itu berlari maju menebas cambuknya kearah jun, jun menghilang dari tempatnya berdiri.
Semua orang bingung kemana dia pergi, saat ini yang dapat mengetahui keberadaan jun hanyalah lili dan murid-muridnya.
Jun menggunakan mode transparan dan melompat kelangit. Saat sudah terlalu jauh dari arena pertarungan jun menampakkan tubuhnya lagi sehingga yang lain menganggap jun mempunyai kecepatan yang tinggi dan dapat terbang diudara.
Tepat saat gadis itu mengarahkan cambukannya kelangit jun menangkap ujung cambuk itu menggunakan telapak tangan es nya.
__ADS_1
"Kena kau".
Ucap jun lalu menarik ujung cambuk lalu menggenggam tali cambuk yang dipegang gadis tadi.
Jun kembali berlari melompat keatas dan mengelilingi wanita itu.
Tali cambuk terikat kuat mengelilingi tubuh gadis tadi. Dan setelahnya jun memukul kuat ujung kepala lawannya membuat gadis itu pingsan terjatuh ke tanah.
" apa kau tau kekuatan spiritnya? Gila, bahkan saat dia berada dilangit aku tak melihatnya bagaimana dia bisa keatas sana".
"Apa kekuatan teleportasi?"
Itulah yang dikatakan para penonton karena kagum dengan dua anggota perguruan qi yang menang tanpa menggunakan kekuatan spiritnya.
Bahkan tangan jun terlalu kebal dapat memegang ujung cambuk berduri itu tanpa berdarah sedikitpun.
Inilah yang ditunggu-tunggu lili. Dimana semua pusat perhatian orang akan tertuju ke anak muridnya karena kagum dan rasa ingin tahu yang kuat karena menginginkan jawaban apa kekuatan spirit anak muridnya.
Dengan begitu lawan juga berusaha menebak-nebak dan akan menjadi ragu jika lawan berfikir kekuatan murid lili adalah kelemahan mereka.
"Kau itu licik ya".
Kekeh han menatap lili yang tersenyum melihat ekspresi semua orang yang menonton.
" kenapa?! Gasuka?"
Tanya lili sensi karena masih marah dengan han yang dari tadi mengacuhkannya dan malah mengobrol panjang dengan teman lamanya.
"Suka malahan. Makin sayang jadinya".
Ucap han mencium pipi lili lalu menggenggam erat tangan kecil istrinya.
Untung saja tidak ada yang melihat, jika saja ada yang melihat han yang mencium lili didepan umum barusan mungkin itu akan tersebar kesemua penonton.
" Maaf ya, sayang".
Bisik han pelan lalu tersenyum lembut meminta maaf kepada lili karena telah mengacuhkannya.
Memang han kadang-kadang adalah orang yang peka dan han juga kadang-kadang bisa menjadi orang yang tidak peka.
"Awas aja kalau diulangin".
Ancam lili lalu mencubit paha han membuat suaminya merengek kesakitan.
Lili yang melihat han kesakitan itu tersenyum senang karena puas dan senang melihat wajah han yang terlihat imut.
" tunggu sampai di penginapan. Akan kumakan kau".
Ucap han menatap lili serius lalu kembali tertawa menggenggam erat tangan istrinya menunggu giliran anak muridnya lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.