GIRL AGAINTS THE WORLD

GIRL AGAINTS THE WORLD
CHAPTER-38


__ADS_3

"Kak,waktunya pergi ke makam"


Ucap jun yang berdiri didepan pintu memakai pakaian serba hitam menunggu lili yang masih didalam sedari tadi.


Tak lama kemudian lili keluar dengan pakaian serba hitamnya dan mempersiapkan diri untuk pergi ke makam.


"Mata kakak masih bengkak,beneran mau ke makam?"


Tanya jun memperhatikan mata lili yang masih sembab dan juga bagian putih bola mata lili hampir terlihat merah seluruhnya karena terlalu banyak menangis.


Yang ditanya pun hanya mengangguk diam tidak berisik seperti biasanya.


"Mama!"


Panggil wei yang sudah lebih sehat dari kejadian kemarin.


Langkah kecil dengan senyuman lebar wei lanturkan dihadapan lili.


Hati lili yang tadinya membuncah ingin menangis kini sedikit mereda saat melihat wajah wei yang baik-baik saja.


Tepat didepan gerbang pemakaman istana Qi sudah terdapat banyak orang yang berpakaian serba hitam menunduk didepan batu nisan.


Saat lili,jun dan wei tiba semuanya langsung memberikan hormat.


"Mama,Papa dimana?"


Tanya wei menarik lengan baju lili membuat langkah kaki mamanya terhenti dan menatap kearah wei.


"Papamu sedang pergi jauh. Jadi papa tidak bisa hadir disini".


Jelas lili tersenyum walaupun hatinya merasa sakit karena berbohong kepada anaknya.


Wei yang mendapatkan penjelasan hanya mengangguk patuh dan kembali berjalan memasuki gerbang pemakaman.


" ye,kami datang"


Ucap gong tersenyum menatap batu nisan adiknya.


Gong berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kau baik-baik saja kan?"


Tanya gong lagi dengan air mata yang sudah menumpuk dipelupuk matanya.


Xiao dengan cepat berjalan menghampiri gong dan menepuk pundak temannya untuk memberikan semangat.


Walaupun xiao memang sedih tetapi dirinya lebih tidak bisa melihat temannya yang sedang bersedih,maka dari itulah dia selalu berusaha membuat tingkah konyol agar semua temannya dapat tertawa bersama.


"Anak ini, padahal ayahmu masih belum banyak bermain bersamamu karena ayah sibuk. Tapi, kenapa kau yang malahan pergi dari dunia ini duluan?"


Tanya ghio yang sudah meneteskan air matanya menatap batu nisan bernama jo.


Chen dan yang lainnya langsung menatap ghio yang tak lain adalah pengganti penanggung jawab istana disaat raja sedang tidak ada.


Bisa dikatakan ghio adalah orang penting dan sangat dekat dengan han, apalagi han dengan mudah dan tanpa ragu memberikan gelar raja sementara disaat han pergi selama 300 tahun.


Gong yang tadinya menahan tangis kini juga berbalik menatap ghio karena tak percaya bahwa temannya almarhum jo adalah anak orang penting diistana.


"Paman. Ayahnya jo?"


Tanya xiao tiba-tiba yang mendapat balasan anggukan dari ghio.


Ghio yang masih terlihat muda walaupun usianya yang sudah melewati 300 tahun itu merasakan sedih dan sakit hati yang luar biasa karena masih belum meluangkan waktunya kepada anak laki-lakinya.


Ghio menangis memikirkan betapa bodoh dirinya disaat jo masih hidup meminta kasih sayang darinya.


Namun ghio tetap saja lebih mementingkan pekerjaannya tanpa mengetahui harapan besar anaknya yang merindukan kasih sayang ayahnya.


"Maafkan ayahmu nak"


Gumam ghio pelan dan menunduk membiarkan air matanya jatuh menetes kelantai.


Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada dipikiran chen dan yang lain tentang ghio dan jo.


Tetapi saat melihat ghio yang masih menangis membuat mereka mengurungkan niatnya dan kembali berdoa untuk teman-temannya.


"Vivi,besok adalah hari pertandingan. Kami sangat sedih karena kau,jo dan ye telah pergi. Kami juga sudah memaafkan perlakuanmu, maka dari itu kau harus baik-baik disana ya".


Ucap nana menatap batu nisan yang bertuliskan nama vivi.


Xia yang berada didepan makam vivi hanya diam menunduk karena sudah tak sanggup untuk berbicara.


" ye,vivi,jo. Kalian anak muridku yang hebat,kami akan slalu mendoakan kalian dari sini. Maka dari itulah, kalian harus baik-baik disana bertiga. Aku menyayangi kalian".


Lili maju berdiri tepat didepan tiga makam yang dimana adalah makam jo,ye dan vivi.


Lili hanya tersenyum dan mengikhlaskan apa yang sudah pergi dari dunia ini.


Lili juga sangat berterima kasih kepada semua anak muridnya yang selalu bersama dirinya tanpa mengeluh untuk berhenti dari latihan berat lili.


Menurut lili tidak ada gunanya menangis lagi karena mereka juga tidak mungkin kembali.


"Baiklah,aku dan wei akan pergi duluan".


Pamit lili dan pergi keluar gerbang makam menuju ruang pribadinya.


" wei main bersama gunin ya. Mama mau ganti pakaian".


Ucap lili yang dibalas anggukan dari wei.


Wei dengan cepat berlari pelan menuju tempat yang dimana gunin tengah tertidur dikamarnya.

__ADS_1


Setelah melihat wei yang sudah jauh darinya,lili masuk kedalam ruangannya dan melihat han yang masih terbaring dikasur.


Lili juga sudah lelah untuk menangis lagi dan kini dirinya hanya berdoa penuh harap agar suaminya cepat sadar.


Tadi malam lili sempat menangis lama karena melihat han yang tersiksa dengan mata yang tertutup.


Lili tak kuat melihat itu,namun demi keselamatan suaminya lili tetap menyalurkan energinya agar han tetap bertahan.


Ia berjalan dan duduk tepat disebelah kasur han lalu menatap han yang mulai kurus.


"Mau liatin sampai kapan?"


Tanya seseorang yang dimana adalah suara yang sangat lili rindukan.


Han membuka matanya dan terduduk menatap lili dengan senyum hangat.


"Han?"


Tanya lili menganga tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.


Lili tetap diam dengan mata yang membulat sempurna dan mulut yang menganga tak percaya. Beberapa detik kemudian lili mengerjapkan matanya.


"Han!! Itu kau!!. Kau bangun!!"


Teriak lili dan langsung memeluk han erat. Saking eratnya han merasakan sesak saat lili memeluknya, namun karena han mengerti perasaan lili sekarang dirinya hanya tersenyum dan membalas pelukan istrinya.


"Nona, ada apa? Saya sengar tadi ada te--- YANG MULIA RAJA SUDAH SADAR!!"


Pekik salah satu pelayan yang tadinya masuk dengan perasaan khawatir karena mendengar lili yang berteriak.


Han hampir merasakan telinganya akan pecah saat mendengar pekikan dari pelayannya.


Namun lili tetap tidak peduli dan diam memeluk han.


"Ya, istriku tidak apa-apa. Kau boleh keluar".


Perintah han yang langsung dituruti oleh pelayan tadi.


Tepat saat pintu tertutup pelayan tadi dengan hebohnya berteriak.


" KALIAN SEMUAA!! YANG MULIA SUDAH SADARRR!"


teriaknya menggelegar di lorong istana membuat pengawal bahkan gunin yang berada dilorong lainnya mendengar teriakan itu dengan jelas.


"Putih,kau jaga pintu ruanganku. Jangan sampai ada yang masuk dulu".


Ucap han menggelegar dikepala gunin yang dimana adalah telepati antara han dan gunin.


" cih, idiot ini. Aku kira kau takkan bangun".


Balas gunin lalu memutuskan telepatinya dan kembali berubah menjadi besar.


Dengan senyumnya yang mengembang, gunin pergi kearah ruangan han yang sudah sadar itu dan meninggalkan wei yang tengah tidur dan dijaga oleh penjaga dan pelayan.


***


Panggil lili yang masih memeluk han, tetapi pelukan lili kini sudah melonggar membuat han sangat lega karena bisa bernafas dengan mudah.


"Iyaa".


Jawab han dengan suara yang rendah membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasakan dadanya berdegup kencang karena suara lembut han.


" kau baik-baik saja?"


Tanya lili yang kini sudah melepas pelukannya dan menatap han dengan raut wajah khawatir.


"Tentu, aku itu kan kuat".


Pamer han menampilkan deretan giginya dengan senyum yang mengembang.


"Kekuatanmu?"


Tanya lili lagi menggenggam erat tangan han.


"Sudah kutaklukkan. Selengkapnya akan kuceritakan nanti".


Jelas han dan kembali menatap mata lili yang bengkak dan merah.


" kau menangis?"


Tanya han memegang pipi istrinya dan mengelus pelan pipi lili.


"Nggak tuh"


Tangkas lili lalu berdiri mengarah lemarinya.


"Mau ngapain?"


Tanya han lagi membuat lili ingin melempar suaminya kesungai karena masih bertanya kepada lili yang mengarah kelemari.


Tentu saja lili kelemari untuk mengambil pakaian dan menggantinya.


"Mau nari"


Jawab lili dengan malas.


"Ooohhhh"


Ucap han yang mengangguk-angguk menatap lili.


"Bodoh. Ya ganti pakaianlah! Gak lihat aku lagi pake baju ngelayat begini?"

__ADS_1


Tanya lili sensi dan kemudian mengambil pakaiannya dan berjalan mengarah tempat ganti.


Han hanya tertawa karena sangat rindu dengan tingkah ganas istrinya.


Walaupun hanya tak bertemu satu hari satu malam rasanya sudah tidak bertemu satu abad bagi han.


Inikah kekuatan cinta?


Tanya han dipikirannya sendiri lalu berjalan membuka pintu menatap gunin yang tengah duduk tepat didepan ruangannya.


"Hoi putih!"


Panggil han dengan semangat serta senyumnya yang melebar menatap gunin yang semalaman mengkhawatirkannya.


"Kau hidup ternyata".


Jawab gunin cuek sambil memakan apel manisnya.


" jawaban macam apa itu?! Cih, dasar harimau galak".


Ejek han membuat gunin yang tadinya menatap pemandangan indah dihadapannya kini harus menoleh kebelakang menatap pemandangan yang tak sedap dipandang yaitu adalah wajah han sendiri.


"Aku sudah menjaga pintunya. Nanti berikan aku apel manis satu keranjang. Aku kembali keruangan wei dulu".


Pamit gunin lalu berubah menjadi kecil dan berlari mengarah ruangan wei yang penuh dengan penjaga.


" lili, aku lapar".


Rengek han didepan pintu menatap lili yang baru saja selesai mengganti pakaiannya.


"Mandi dulu,kau bau busuk".


Ucap lili berpura-pura menutup hidungnya menatap han sedikit jijik membuat han jengkel.


" bercandaa. Hahaha,kau harus mandi dulu. Khusus hari ini, aku yang masak".


Ucap lili lalu pergi keluar menutup pintu kamar han dan berjalan senang kearah dapur.


***


"Yang mulia ratu, anda jangan kedapur! Disini kotor!"


Halang para pelayan saat melihat lili masuk kedalam dapur istana.


"Aku yang masak hari ini".


Ucap lili dengan wajah tak bersalahnya yang menghiraukan perkataan para pelayan.


" aduh, padahal yang mulia tidak perlu repot-repot karena kami memiliki chef tingkat atas disini".


Ucap salah satu pelayan yang merasa tak enak jika seorang ratu memasak dan masuk kedalam dapur.


"Haihh,sudah kubilang biar aku yang memasak. Kalian hanya harus membantuku dan jangan menghalangi ya".


Perintah lili dan masuk kedalam dapur istana yang besar dengan peralatan masak yang lengkap.


" padahal dapurnya sangat bersih. Ya,walaupun masih bersih diistana sih"


Gumam lili.


"Oh iya,tolong ambilkan nasi yang banyak menggunakan itu".


Ucap lili sambil menunjuk satu baskom besar dihadapannya.


Pelayan hanya mengangguk mengikuti perintah lili walau pikiran mereka penuh dengan pertanyaan untuk apa lili menggunakan nasi sebanyak itu.


"Bisakah aku meminta 8 daging ayam?"


Tanyanya lagi seraya mengangkat kayu bakar lalu menghidupkan api dengan lihai karena bagi lili dikehidupan sebelumnya ini sangat mudah dilakukan.


"Baik"


Jawab para pelayan yang langsung berlari membersihkan daging ayam yang diminta lili.


"Apa nona benar-benar bisa memasak?"


Bisik salah satu pelayan sambil melirik lili yang sudah mulai menggoreng nasi di kuali besar.


"Aku baru pertama kali ini melihat nasi digoreng".


Balas pelayan satu lagi.


"Aku sangat ingin menjitak para pelayan ini. Huh,dikehidupan sebelumnya bahkan sekarangpun tetap saja banyak yang meremehkan masakanku".


Batin lili yang sedari tadi mendengar perkataan pelayannya.


Sedangkan han yang baru selesai mandi itu terdiam berpikir ditempat dan bertanya pada dirinya sendiri.


"Lili bisa masak kah?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2