
Saat ini lili tengah beristirahat memulihkan tubuhnya yang masih melemah.
Han juga terpaksa harus menggantikan lili untuk mengajari murid-murid yang lain karena permintaan dari lili.
Sebenarnya saat ini han lebih ingin tidur bersama lili dan tidak ingin lepas, namun keberadaan murid-muridnya ini seperti nyamuk yang mengganggu hubungannya dan lili.
"Hey, kalian tau apa yang kalian perbuat? Demi menyelamatkan nyawa kalian lili mengorbankan nyawanya. Lili memang tidak keberatan melakukannya, tapi aku sebagai suami dan rajanya sangat keberatan jika lili melakukan hal-hal seperti itu. Lili saat ini tengah mengandung anakku, itu juga pasti akan mempengaruhi tubuhnya".
Ujar han berdiri menatap anak-anak muridnya yang tengah duduk menunduk menatap lantai memikirkan kesalahan mereka yang terlalu gegabah.
" haih, sudahlah. Hari ini akulah yang akan membimbingi kalian. Cara mengajarku agak berbeda dengan istriku. Siapa yang keberatan silahkan keluar".
Sambungnya menunjuk pintu disebelah kanan yang terbuka lebar.
"Tidak. Kami akan melakukan apapun itu demi membuat kak lili bangga pada kami".
Sahut xiao menatap han dengan sorotan mata percaya diri.
" baiklah-baiklah. Aku akan menjelaskan beberapa materi dahulu".
"Kekuatan spirit kita ini memiliki 6 tingkatan. Yang pertama adalah pemula, tingkat ke dua adalah tahap pengendalian roh, tingkat ke tiga tahap pengendalian jiwa, tingkat keempat pertapa dan selanjutnya tingkat ke 5 adalah tahap hidup dan mati serta tingkat terakhir yang jarang ditemukan yaitu tingkat dewa. Setiap tingkatan memiliki tahapnya sendiri. Seperti didalam tingkat pemula kita harus melewati 10 tingkatan untuk menuju ke tahap pengendalian jiwa dan begitulah seterusnya".
Jelas han.
" semua orang juga udah tau woi!"
Protes gu nin yang sedari tadi tengah duduk mendengarkan ocehan han bersama wei.
"Ya mana tau kan mereka malah lupa diri dan gasadar kalau perjalanan mereka masih jauh".
Jawab han lalu menjulurkan lidahnya mengejek gu nin yang sedang kesal setengah mati disana. Sedangkan yang lain hanya tetap diam menahan rasa kesal mereka karena han yang menjelaskan sesuatu yang dimana seluruh orang disini juga tahu mengenai itu.
"Baiklah. Aku memiliki keterangan mengenai kalian di kertas ini. Yang kupanggil tolong kedepan dan letakkan tangan kalian pada batu ini".
Ucap han lalu meletakkan batu berbentuk persegi dimejanya.
" chen".
Panggil han menatap chen yang langsung berjalan mengarah kepadanya.
"Letakkan tanganmu disana".
Setelah chen meletakkan tangannya dibatu seperti apa yang han bilang. Warna batu itu berubah karena dipenuhi oleh kekuatan chen, hal itu juga membuat yang lain kaget mengapa batunya tiba-tiba berubah warna. Setelah itu han langsung menyuruh chen duduk dan memanggil nama murid yang lain.
Bisa dibilang memakan waktu yang cukup lama. Namun kini mereka semua sudah maju dan mendapatkan hal yang tidak mengecewakan.
" chen. Kekuatan spiritmu jaring laba-laba hantu. Peringkat tahapmu adalah tahap pengendalian jiwa tingkat 8".
Jelas han memberi tahu hasil dari apa yang dia lihat. Tentu saja hal itu membuat chen dan yang lainnya hampir tersedak karena terkejut dengan apa yang didengarnya.
Padahal kemarin baru saja chen masih berada di tahap pengendalian roh. Perubahan ini sangat drastis bagi mereka.
"Xiao dan xia. Kekuatan spirit kalian disebut angin dewa dan ini sangat langka. Peringkat kalian adalah tahap pengendalian jiwa tingkat 7. Nana si penyihir, tingkatmu adalah tahap pengendalian jiwa tingkat 7. Jun dan leo kekuatan spirit naga legenda. Peringkat kalian adalah tahap pengendalian jiwa tingkat 8. Yuto, kekuatan spiritmu petir dan peringkatmu adalah tahap pengendalian jiwa tingkat 6".
Sambung han lalu memberhentikan kalimatnya dan menatap gong yang masih belum disebut.
" aku syok! Bisa-bisanya kita dengan cepat mencapai tahap pengendalian jiwa. Padahal itu membutuhkan waktu yang cukup lama!"
Oceh mereka tak percaya dengan apa yang didengar barusan.
"Gong, kekuatan spiritmu adalah patung budha yang didunia ini hanya dimiliki oleh dirimu dan adikmu. Tingkat kekuatan spiritmu adalah pertapa tingkat pertama".
Setelah han mengatakan itu semua murid menjadi terdiam kaku dan lebih menjadi syok daripada tadi.
__ADS_1
Gong yang juga tak percaya dengan tingkatannya merasa ingin pingsan karena terlalu bahagia.
" gila! Gong bener-bener diluar dugaan teman-teman sekalian!".
Teriak xiao menatap gong dengan wajah idiotnya.
"Anu, apa itu benar?"
Tanya gong yang agak ragu karena mendengar peringkat kekuatannya.
"Batu ini berasal dari lili. Kau meragukan itu?"
Tanya han balik menopang dagunya dan melihat semua anak-anak murid lili yang sudah berkembang pesat.
"Baiklah! Ayo kehalaman! Kalian akan melakukan hal yang lebih berat dari ini".
Ucap han lalu berlari keluar dengan cepat karena terlalu semangat untuk melihat wajah anak muridnya yang akan dia siksa.
***
Han dan anak muridnya kini sudah berkumpul dihalaman belakang penginapan untuk melanjutkan latihan.
" jadi, hari ini tugas kalian adalah pergi kegunung dengan membawa keranjang yang berisi batu ini. Setiap keranjang seberat 10 kilo".
Jelas han seraya memberikan keranjang-keranjang yang berisi batu kearah anak muridnya.
"Wah, untung aja gunungnya gak jauh sama penginapan".
Sahut xiao menghela napasnya pelan.
" siapa yang bilang dekat? Jalur yang kalian pakai adalah jalur yang berlawanan. Kau tau kan jauhnya seberapa?".
Tanya han menaikkan alisnya dan terkekeh pelan menatap anak muridnya yang sudah mulai menunjukkan wajah lemasnya.
Protes nana menunjukkan wajahnya yang imgin menangis mengingat seberapa jauh perjalanan ke gunung saat melewati jalur berlawanan.
"Jangan gunakan kekuatan kalian di saat perjalanan. Ingatlah, misi yang berasal dari ku dan lili adalah tugas yang mengandalkan kerja sama tim. Jika melanggar aturan bersiaplah untuk menerima hukuman. Pergi! Lakukan sekarang!"
Setelah mengatakan itu han langsung melengos pergi masuk kedalam penginapan untuk bertemu lili.
***
"Hei, ini sudah setengah perjalanan tapi kenapa terasa sangat jauh".
Protes nana yang sudah berkeringat dan tak kuat lagi untuk menggendong karung batu di punggungnya.
" aku sudah tak kuat lagi".
Sambungnya lalu terduduk lemas di tanah dan menselonjorkan kakinya yang sudah berasa ingin patah.
"Batu mu biar ku tambahkan ke keranjangku saja. Aku sudah mengambil setengahnya. Kau sudah bisa berjalan tanpa membawa beban berat".
Ucap yuto seraya mengambil beberapa batu milik nana dan memasukkannya ke dalam keranjangnya.
" ah, inikah kerja sama yang dimaksud guru han?"
Tanya chen membuat semua teman-temannya langsung menoleh kearahnya dengan wajah yang bingung karena tak mengerti dengan ucapan chen. Lagipula mereka sedari tadi tidak melakukan apa-apa, jadi mereia tak tahu kerja sama apa yang dimaksud dengan guru han.
"Kalian bodoh ya?"
Tanya chen lagi saat melihat temannya yang hanya terdiam menutup rapat mulutnya karena tak tahu apa-apa.
"Pikirkan lah kenapa kita disuruh membawa keranjang yang berisi batu seperti ini. Dan juga, mengapa guru han harus memilih jalur yang berbeda daripada jalur terdekat mengarah gunung? Guru han sudah berkata bahwa tugas ini adalah tugas yang harus menyangkut kerja sama. Kerja sama yang dimaksud guru han adalah apa yang dilakukan yuto barusan. Itulah kerja sama sesama tim yang sebenarnya. Kita harus saling membantu agar kita bisa dengan cepat sampai ke gunung".
__ADS_1
Jelas chen memberi tahu teman-temannya apa yang ada dipikirannya sekarang. Yang lain hanya mengangguk-angguk paham dan membantu nana agar bisa berdiri dan berjalan bersama ke gunung.
" kau sudah bisa berjalan?"
Tanya xia memegang lengan nana agar bisa berjalan.
"Ah, sebagai penyihir fisikku itu sangat lemah. Tapi aku sudah bisa berjalan".
Jawab nana lalu tersenyum kearah xia dan menaikkan jempolnya menandakan dirinya sedang baik-baik saja.
"Yuto membantu mu loh".
Goda xia diperjalanan membuat kuping nana yang mendengarkan perkataan xia barusan menjadi panas dan memerah karena malu.
" yuto, nana bilang semangat ya!"
Teriak xia kearah yuto yang terlihat lelah saat membawa tambahan batu. Namun, saat mendengar ucapan xia, yuto langsung berdiri tegap dan berjalan lancar seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hihi".
Kekeh xia saat melihat tingkah menggemaskan 2 temannya yang tengah berada dalam fase percintaan.
"Jahat banget. Padahal aku gak ada bilang apa-apa"
Bisik nana kearah xia dan menampilkan wajahnya yang seperti sedang marah kearah xia.
"Haha, tapi pengen bilang kan?"
Goda xia lagi menaik turunkan alisnya menatap nana.
Nana yang tak bisa lagi berdebat itu hanya diam dan kesal dengan xia yang selalu mengetahui pikirannya.
"Hei xia, terima kasih sudah menolongku. Yang lain juga terima kasih ya, jujur saja aku tak pernah diperlakukan seperti ini kecuali kalian,kak lili, guru han dan yang lain. Orang tuaku itu dulunya sangat baik. Tapi mereka juga bisa berubah menjadi sangat jahat. Mereka selalu berkata bahwa aku adalah anak bodoh yang tidak punya akal. Dulu saat diriku masih kecil, aku adalah orang yang cengeng".
"Aku selalu berusaha agar tidak membuat orang tuaku terbebani hanya karena diriku saja. Orang tuaku sangat baik kepada orang lain. Aku mengaguminya, aku mengagumi orang tua ku. Tapi, aku selalu diomeli untuk melakukan perkerjaan rumah sehingga aku tak pernah keluar dan meninggalkan masa kecilku yang bahagia. Setiap hari aku diperlakukan seperti budak dirumah. Kakakku, adikku bahkan paman dan tanteku tak pernah memperdulikan aku. Rasa sabarku semakin hari semakin hilang dan berubah menjadi amarah yang selalu kusimpan sendiri. Aku kabur dari rumah tepat disaat ayah dan ibuku berkata 'jika kau bukan anakku sudah ku kembalikan kau ke orang tua lama mu'. Otakku berhenti seketika, aku tak bisa berpikir lagi. Perkataan otang tua ku terlalu kasar, itu sangat menyakitkan. Hatiku terasa dibanting-banting, sakit itu terus kurasakan dan tak pernah kulupakan. Aku selalu iri saat melihat orang tua dan anak yang akrab, bahkan mereka terlihat seperti kakak dan adik yang selalu bersama. Amarah yang kusimpan membuat diriku menjadi dendam dengan keluarga bulan yaitu keluargaku sendiri. Amarahku membuat semangat pada diriku untuk mendapatkan kekuatan menjadi lebih besar. Aku tinggal bersama seorang nenek yang mengajariku teknik sihir, dan aku dapat memahaminya. Setelah sekian lama Aku membunuh keluarha bulan dengan tanganku sendiri, aku ini benar-benar sudah terlihat seperti iblis yang waktu itu. Aku benar-benar jahat".
Jelas nana diperjalanan membuat langkah semua orang berhenti dan terdiam menunduk.
"Hei nana".
Panggil xiao menatap lembut manik mata nana yang sendu.
" kenapa kau menceritakan itu pada kami?"
Tanya xiao kembali menatap nana meminta penjelasan.
"Karena aku percaya pada kalian. Kalian adalah keluarga keduaku, maka dari itulah kalian berhak mengetahui semua tentang diriku. Dan sekarang aku sudah memberi tahunya, jadi tidak akan ada lagi rahasia yang kusimpan".
Jelas nana lalu tersenyum kesemua teman-temannya.
" hei nana, berusahalah menjadi lebih kuat"
Sahut chen lalu kembali berjalan naik ke gunung untuk menyelesaikan latihan mereka.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1