GIRL AGAINTS THE WORLD

GIRL AGAINTS THE WORLD
CHAPTER-44


__ADS_3

Pertarungan seleksi ini semakin akhir malah semakin membuat para penonton semangat karena melihat para petarung yang bertarung dengan hebat.


Xia,nana dan leo juga sudah memenangkan pertarungan tanpa menggunakan kekuatan spirit mereka seperti yang dikatakan lili.


Semua perhatian banyak tertuju kepada perguruan qi karena terlalu penasaran tentang kekuatan spirit xiao dan yang lainnya.


Tepat seperti pemikiran lili semuanya berjalan lancar. Banyak lawan yang menjadi ragu melawan muridnya karena tak tau dengan kekuatan spirit mereka.


Chen yang mengerti mengapa lili tak memberi ijin kepada mereka untuk menggunakan kekuatan spirit hanya tersenyum dan melihat serta mendengarkan sekeliling yang membicarakan tentang mereka.


"Giliranmu".


Ucap chen menepuk pundak xiao yang tadinya termenung menatap arena.


" xiaoo! Semangat!"


Teriak xia memberi semangat kepada abangnya.


"Keluarkan kekuatanmu bocah".


Ucap pria disebrang yang dimana akan menjadi lawan xiao.


"Hooo~ atau memang kalian tak memiliki kekuatan spirit?"


Remeh pria berbadan besar itu lalu mengeluarkan kapak besinya dan melapisi listrik disekitar kapaknya untuk menambah kekuatan pada kapak.


"Haih, aku tak mau membunuh orang. Karena itulah aku tak mengeluarkan kekuatan spiritku. Atau kau benar-benar ingin mati?"


Tanya xiao berakting menampilkan wajah seramnya.


Lawan yang tadinya percaya diri kini juga ikut mulai ragu karena memikirkan perkataan xiao barusan.


"Hei pria berotot. Badan saja besar nyali mu kecil ya. Ah, jangan-jangan kapak mu itu dari plastik?".


Ejek xiao seraya memegang pisau kecilnya.


" apa kau bilang sialan?!"


Maki lawannya karena tak senang jika dirinya diremehkan seorang bocah.


"Wah mulai lagi tuh. Si tukang provokasi".


Kekeh chen karena sudah menduga bahwa xiao akan melakukan hal seperti ini lagi.


" ototmu itu malah terlihat seperti kaki ****".


Sambung xiao lagi membuat seluruh penonton tertawa terbahak-bahak.


Karena sudah malu dan tak tahan dengan ejekan xiao, pria itu melemparkan  kapaknya kearah xiao seperti bumerang.


Hampir saja xiao terlambat mengelak karena lemparan kapak barusan sangat cepat. Bahkan para penonton tak dapat melihat bagaimana caranya kapak itu sudah mengarah ke xiao.


Xiao yang berhasil meghindar walaupun didalam hatinya deg-deg an karena serangan barusan berusaha terlihat tenang dan berjalan pelan seperti tidak terjadi apa-apa.


"Wah, lambat sekali. Kau sangat tidak berpengalaman".


Ejek xiao sombong menutup matanya mendengarkan suara para penonton yang tak percaya dengan perkataan xiao barusan.


" hah? Gila. Bahkan serangan seperti tadi dia bilang lambat?"


"Apakau tak lihat dia tidak kenapa-napa saat diberikan serangan seperti tadi? Itu artinya dia jauh lebih cepat!"


Oceh para penonton semakin membuat pria berotot itu marah.


Karena xiao sangat lelah berdiri di arena mungkin sekarang adalah giliran xiao untuk menyerang.


"Giliranku".


Ucapnya lalu berlari cepat mencari celah untuk menyerang lawannya.


Orang-orang yang melihat kecepatan xiao menganggap xiao memiliki kekuatan transportasi.


Bagi mereka perpindahan tempat secepat itu jika hanya berlari tidak masuk akal.


Tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi murid-murid lili. Buktinya mereka dapat melakukannya.


" xiao, gunakan ujung tumpul pisau".


Ucap lili bertelapati untuk mengingatkan xiao agar tidak melukai murid dari perguruan lain.


Xiao yang mengerti kembali berlari lalu tiba-tiba saja dirinya sudah berdiri tepat diatas kepala pria berotot tadi.


Kaki kanannya menginjak kepala pria itu.


Tentu saja itu tak membuat lawan goyah karena baginya berat badan xiao belum terlalu berat.


"Kau yakin hanya ingin berdiri diam disitu?"


Tanya xiao yang sudah menyiapkan empat pisau kecilnya.

__ADS_1


"Minggir bocah!"


Teriak pria itu melemparkan kapaknya kearah xiao, dan serangan barusan berhasil membuat pipi xiao sedikit berdarah.


Pisau yang tadinya dipegang erat xiao kini telah terbang dikendalikannya dengan kecepatan yang bahkan tak dapat dilihat lawannya.


Pisau-pisau kecil yang dikeluarkan xiao semakin banyak mengelilingi tubuh lawannya.


Sedetik kemudian saat lawannya berkedip.


Pisau kecil xiao sudah berhenti dan kini tengah melayang tepat didekat tubuh lawannya.


Bahkan jika lawannya bergerak sedikit saja dirinya akan tersayat pisau.


Pisau-pisau yang dikeluarkan xiao berjumlah 78 yang mengelilingi lawannya tanpa menampakkan celah sedikitpun.


"Bergeraklah jika kau mau".


Ucap xiao yang masih mengendalikan pisaunya.


" aku menyerah".


Sahut pria berotot itu yang mengalah karena


Memang tak bisa bergerak lagi.


Pisau-pisau yang tadinya melayang kini kembali masuk kedalam tas kecil yang diberikan lili.


Tas kecil yang memiliki penyimpan besar seperti gelang hitamnya.


"Terima kasih atas kerja kerasnya. Kapan-kapan ajarkan aku cara membentuk otot yang besar ya".


Teriak xiao lalu melompat cepat kearah teman-temannya.


" wah, benar-benat hebat ya".


Kagum ato melihat anak murid lili yanh sedari tadi lolos seleksi tanpa mengeluarkan kekuatan spirit mereka sama sekali.


"Ah, ngomong-ngomong istri dan anakmu suka binatang ya?"


Tanya ato kepada han yang melihat 3 burung bertengger di kursi lili serta kucing yang dipeluk wei sedari tadi.


"Ah, begitulah".


" aku tidak melihat si putih".


Sahutnya lagi mengedarkan pandangannya yang tak melihat gu nin disekeliling.


Tunjuk han kearah gu nin yang tengah tertidur di paha wei.


" yang benar saja kucing kecil ini adalah putih?"


Tanya ato tak percaya berpikir bahwa kucing manis itu adalah harimau galak yang tak bisa diam.


"Aku bukan kucing pak tua! Dasar kembaran idiot".


Ucap gu nin tiba-tiba menatap tajam ato. Yang ditatap hanya tertawa percaya dan memberikan salam kepada gu nin yang sudah lama tak pernah ia lihat.


" kau berbicara kasar didepan anakku".


Gu nin yang merasakan aura tak sedap dari lili iti hanya menegukkan ludahnya dan berusaha bersikap normal seperti biasanya.


"Ah, putih itu adalah si pakar berbicara kasar".


Sahut han kembali menatap horror gunin yang membuat wei mendengar kata-kata kasar.


"Oh iya mama, gu nin pernah menyuruh wei bertanya kepada mama".


Perhatian lili dan han yang tadinya mengarah ke gu nin kini langsung mengarah ke wei menunggu perkataan selanjutnya.


" apa itu?"


Tanya lili tersenyum menatap wei yang ingin bicara.


"Oh tidak! Mati aku!"


Batin gu nin yang sudah berkeringat.


"********,*******,kerdil,dan ***** itu apa?"


Tanya wei menampilkan wajah tidak berdosanya karena memang tidak tahu apa-apa.


Wei memang tidak pernah mendengar itu karena selalu dikurung ayah lamanya selama 5 tahun.


"Gu nin. Apa yang kau ajarkan ke anak ini".


Dibayangan gu nin kini wajah lili dan han terlihat menyeramkan dengan kobaran api mengelilingi mereka seakan-akan ingin memakan dirinya.


" ha-ha, itu bukan aku yang mengajarkannya".

__ADS_1


Tepis gu nin tak mengaku. Setelah itu dirinya hanya pasrah karena sudah di siksa terlebih dahulu oleh lili dan han.


"Wei, kalau dengar yang begituan pukul aja ya siputih".


Ucap han mengelus kepala wei yang hanya mengangguk patuh.


" ah giliran kak chen!"


Teriak wei lalu kembali menatap arena menunggu pertarungan chen dan lawannya.


***


"Kalian ini benar-benar tak mau mengeluarkan kekuatan ya?"


Tanya lawannya dengan malas tak bersemangat karena ingin cepat-cepat tertidur.


"O, perkenalkan namaku yuto. Aku dari perguruan bebas utaraaa~~ hoaahhh. Aku mengantuk".


" namaku chen. Dari perguruan qi".


"Oh, siapa gurumu?"


Tanya yuto yang sedikit penasaran. Ingat ya, hanya sedikit saja karena yuto saat ini benar-benar malas dan mengantuk untuk bertarung.


"Guruku seorang ratu. Akan kutunjukkan nanti".


Jawab chen lalu berbincang-bincang kepada lawannya.


" hei, anak itu ngapain sih?"


Tanya xiao menampilkan wajahnya yang kebingungan mengapa temannya lebih bodoh dari pada dirinya.


Padahal biasanya chen adalah yang terpintar. Namun sekarang chen malah terlihat seperti orang idiot.


"Ayoo mulaiii~~"


Ucap yuto dengan malas lalu berlari cepat kearah chen.


Chen tak menyangka orang pemalas ini akan berlari dengan kecepatan yang hampir sama dengan dirinya.


"Hati-hati dengan petirku".


Ucapnya lalu mengeluarkan petir dari tangannya dan dilemparkan kearah chen yang kini tengah berlari kesetiap sudut menghindari serangan lawan.


Tanpa disadari yuto chen yang menghindar disegala arah itu juga tengah menyebarkan racun pelumpuh sementara di lantai arena.


Chen mengeluarkan benang tipisnya yang memiliki daya tahan yang besar karena benang itu terbuat dari rambut naga legenda jun dan leo.


Lili yang menyarankan hal itu karena rambut naga asli legenda milik jun dan leo memiliki item tubuh yang bagus dan kuat.


" ayo menghindarlah kalau kau bisa".


Remeh chen lalu mekemparkan benangnya kesembarang arah laku menarik benang itu dengan kuat.


Tepat saat benangnya ditarik chen, yuto langsung tak bisa bergerak ditempatnya karena tertahan benang chen yang bahkan hampir tak terlihat dimatanya.


10 detik berlalu chen melepaskan benangnya. Namun yuto tetap tak bisa bergerak karena sudah terkena racun pelumpuh milik chen.


"Kau ini pintar juga. Baik-baik, aku menyerah~~"


Ucap yuto karena tak bisa bergerak lagi. Dirinya hampir sama seperti keadaan lawan xiao tadi.


Mereka sama-sama tak bisa bergerak ditempat karena sudah masuk kedalam perangkap lawan.


"Guruku adalah seorang ratu"


Sahut chen menunjuk kearah lili menunjukkan kepada yuto bahwa itu adalah gurunya.


Yuto hampir tak percaya bahwa pertama kali ini dirinya mendengar seorang ratu adalah guru dari perguruan. Jika anak muridnya sudah sekuat mereka, akan sekuat apalagi gurunya.


"Hei sebelum aku tidur. Bisakah aku bertemu gurumu".


Pinta yuto kepada chen yang langsung mengangguk.


" hei lihatlah chen itu. Walaupun kami sering bertengkar, tapi cara kami bertarung itu hampir sama loh".


Sombong xiao membuat chen yang mendengar itu hanya tertawa dari atas arena.


"Aku menang lho!"


Teriak chen senang. Teman-temannya yang dibawah menatap chen hanya tertawa dan memberikan ucapan selamat.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2