Govergly

Govergly
Lima puluh satu


__ADS_3

tak terasa,sudah hampir 3 bulan Gly bergabung di perusahaan.


papa tinggal di rumah baru nya dengan mami Sonia.


Stiap jumat sore sepulang ngantor aku pulang ke sana dan minggu sore kembali pulang ke rumah lama ku.


yach aku tak mau kenangan di rumah ini bercampur dengan keluarga baru papa.


smua ini milik mama,


aku ga kan ngizinin istri baru papa mau pun keluarga nya menginap di rumah ini.


hubungan ku dengan Rey masih sama seperti sebelum sebelum nya.


dia tetap lah bayi besar yang pencemburu


bahkan ke asisten pribadi ku sekali pun.


sedangkan vio dan Dev,entah laaaah aku tak terlalu peduli.


meski kita pernah beberapa kali bertemu.


kabar terakhir yang ku dengar dia keguguran atau apa lah itu yang jelas aku pernah menengok nya sekali waktu ia di rumah sakit setelah di " kuret "


masa bodo dengan mereka berdua


aku memasang benteng tinggi tinggi untuk tidak bersentuhan dengan mereka dalam hal apa pun.


tapi hari ini.......


vio akan bekerja di sini sebagai meneger umum.setelah semalam papa menelvon.


huh.... menyebalkan sekali.


untuk apa dia masuk ke perusahaan


ok dia anak tiri papa


tapi harus di garis bawahi,


Hotel dan Resort ini milik mama ku!


walau papa yang mengelola hingga se besar ini sekarang.


tapi tetap ini smua milik mama ku.


papa seorang yatim piatu di salah satu panti asuhan dimana kake menjadi donatur tetap.


jadi mama sering berkunjung lalu akhir nya jatuh cinta.


kake yang tau perasaan Mama pun memutuskan untuk menikahkan ke dua nya.


ok kembali ke ralita.


aku harus menemui papa di rumah nya untuk membahas ke engganan ku.


aku tidak mau berdebat di kantor,dengan direktur utama sekaligus ayah ku.


tanpa menunggu Egy aku memacu kuda besi ku sendiri.


jalanan masih cukup lenggang.


tak lebih dari 30 menit aku sampai di kediaman papa.


papa sedang sarapan dengan keluarga baru nya


cihhh apa vio benar benar tinggal di sini sekarsng.


kemarin kemarin alasan nya agar mama nya itu bisa merawat nya selama pemulihan.


kenapa dia masih saja tinggal di sini?


aah bodo amat


yang penting ga tinggal sama gue.

__ADS_1


" Gly apa kau ingin sarapan ,sapa mami sonia ramah.seperti biasa.


" Gly ingin bicara sama papa. Gly tunggu di ruang kerja."


mengabaikan pertanyaan mami nya yang menurut nya basi.


tak berapa lama papa nya masuk ke ruang kerja di mana Gly tengah asik memikirkan apa yang mau ia katakan.


" kenapa sayang..."


.sambil memeluk dan mencium kening gly pelan.


" aku ga mau se gedung sama vio,pindahkan dia ke kantor lain.kalau perlu luar kota sekalian."


ucap Gly dengan dada bergemuruh,


" sayang......"ucap papa Hendra lirih.


gly berusaha lepas dari pelukan sang ayah lalu menggelang pelan.


" papa tau aku tidak menyukai nya


papa tau bukan aku menghibdari mereka


percuma dong klo dia kerja di tempat aku kerja.


" sampai kapan kamu menghindar,


kamu sama dia sama sama anak papa na


jangan seperti itu kalian bersaudara."


" bagi ku dia tak lebih dari seorang penghianat."


ucap Gly dengan penuh penekanan.


amarah nya sudah meluap luap.


" sayang,....


tanya Pa Hendra hati hati,


" apa kau juga membenci papa karna papa menghianati mama mu?"


itu lah mengapa kau tak ingin tinggal bersama kami?"


" papa tau alasan ku mengapa tak mengizin kan mereka tinggal di rumah mama.


jangan mengalihkan pembicaraan pa."


" sayang,maaf papa tidak bisa mewujudkan permintaan mu,


kau dan vio sama sama anak papa.


kalian punya kesempatan dan hak yang sama.


papa tau perusahaan itu milik keluarga mama mu.


tapi kau tau kan papa juga punya hak beberapa saham perusahaan.


arti nya punya hak memasukan vio di kantor pusat."


" tega nya papa tidak memikirkan perasaan gly.


apa papa tau stiap aku mengingat mereka aku ingin mencekik nya dengan tangan ku.


" apa papa tau hanya dengan mendengar tentang dia luka ku terasa tersiram air cuka?!"


" aku tidak mengusik pernikahan mu pa!"


aku tidak melarang dan dengan suka rela mengizinkan papa tinggal bersama mereka sementara aku sendiri hidup dengan semua kenangan keluarga kita.


" tega nya papa mengabaikan anak kandung pala sendiri demi keluarga baru papa !"


triak Gly penuh emosi

__ADS_1


" kau pikir cuma kau anak kandung tuan wijaya !


ucap Vio tak kalah nyaring,sambil menerobos masuk mendorong pintu dengan keras.


gly memicingkan mata tak suka.


" aku juga anak nya !"


kau membahas waktu kesendirian mu yang baru beberapa bulan ini di tinggal oleh papa mu dan menyalahkan ku."


lalu bagai mana dengan diri mu?!


" papa mu meninggalkan mami saat mami mengandung diri ku,selama bertahun tahun aku dan mami hidup tanpa suami dan ayah


karna pria itu tinggal dengan istri baru nya dan anak manja seperti diri mu."


gly bingung,mendengar omongan Vio yang penuh emosi,


di lihat nya papa nya yang berdiri tertunduk dalam diam mencoba mencari kejelasan.


" apa benar begitu ?!"


tanya Gly terdengar lemah dengan tatapan kosong.


lalu menggeleng keras berulang ulang.


" papa ?!"


berjalan mendekat ke arah papa nya dan berusahan menemukan mata cinta pertama nya kemudian mengunci nya.


" pa......" gumam Gly terdengar sangat lemah.


pemilik lengan yang sedang di pegang nya pun mengangguk pelan,dengan bulir air mata yang mengalir di pipi nya.


" maaf gly.....


maaf sayang....., ucap Pa hendra lirih.


" omong kosong !"


" terserah kau anak manja,


sekarang kau tau kan,bukan aku yang merebut papamu.


justru kau dan ibu mu lah yang merwbut dia dari kami!"


ucap Vio sinis


" Vio.....!


apa yang kau bicarakan.triak mami sonia tiba tiba.


lalu berjalan mendekat ke arah Gly yang terlihat pucat dan berakeringat.


"Gly sayang......"


mengulurkan tangan nya bermaksud ingin memeluk.


namun Gly menepis nya.


" aku benci papa "


ucap Gly lesu,


dunia nya seakan runtuh mendengar papa nya memilih membela Vio.


dan hati nya kembali hancur dengan pernyataan yang vio kata kan.


saat sahabat ku menghianati ku dengan kekasih ku Sendiri lalu menjadi sodara tiri


aku bertanya apa ada yang lebih buruk lagi?


sekarang aku mendapatkan jawaban nya


" tentu saja ada "

__ADS_1


__ADS_2