Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KECEWA


__ADS_3

Kakak kamu itu jalang, dia itu seorang pelacur yang sudah menjual tubuhnya demi uang.


Tidak ada wanita baik baik yang melelang keperawanannya demi uang.


Dan setelah dia tahu cara termudah untuk mencari uang, dia jadi ketagihan dan terus terusan menjual diri.


Semua ucapan Vivi terus menggema dikepala Alan. Dia bersandar pada di dinding sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Ada sekelebat pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Apakah kakaknya menjual diri demi membiayai rumah sakitnya?


"Tidak, tidak mungkin. Mbak Rain wanita baik baik. Dia tak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu." Alan bermonolog.


Tapi tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Tidak mungkin mamanya Sean menuduh seperti itu tanpa alasan.


Dan ini bukan pertama kalinya dia mendengar orang penyebut kakaknya jalang. Masih tersimpan dimemori otaknya saat Sean bilang akan memboking kakaknya waktu itu.


Sampai detik inipun, Alan masih belum tahu apa alasan kakaknya tiba tiba menikah dengan Sean. Sepanjang yang dia tahu, kakaknya sudah mendaftarkan pernikahannya dengan Gaza. Tapi tiba tiba dibatalkan dan mendadak menikah dengan Sean.


Alan menata hatinya dan masuk ke ruangan Rain. Sebisa mungkin, dia tak ingin terlihat sedang kacau.


"Al, mama mana?"


"Udah pulang mbak."


"Kenapa? jangan bilang kamu ngusir dia?"


Alan mengangguk. "Kak Sean yang nyuruh. Dia tak mengijinkan mbak ketemu sama mamanya. Dia tak mau terjadi apa apa pada kandungan mbak."


"Cie.... kayaknya kamu sama Sean udah mulai kompak nih?" goda Rain. Dia senang jika akhirnya Sean dan Alan bisa akur.


Sebenarnya Alan ingin sekali bertanya tentang kebenaran kata kata Vivi. Tapi dia takut membebani kakaknya dan membahayakan kandungannya.


"Al kamu kenapa?" Rain melihat raut wajah Alan yang berbeda sejak bertemu dengan mertuanya.


"Gak, gak papa kok mbak."


"Kamu jangan bohong, apa mama bilang sesuatu ke kamu?" tebak Rain.


Alan menggeleng sambil tersenyum. "Gak ada apa apa kok mbak. Tadi aku dapat telepon dari Ghania. Jadi sedikit baper aja." Bohong Alan.


"Al, kamu gak ngajak Amaira kesini?"


Al yang sedang banyak pikiran, sama sekali tak menyadari jika Rain sedang bertanya padanya.


"Al." Rain kembali memanggil Alan


"Eh, iya mbak. Mbak butuh sesuatu?" Alan sedikit gelagapan.

__ADS_1


"Ada apa dengan Alan? Aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan? tapi apa?" Rain bertanya dalam hati.


"Mbak, boleh Alan bertanya?"


"Tentu saja."


"Apa alasan mbak batalin pernikahan dengan Mas Gaza?"


Rain bergeming, sepertinya dugaannya benar. Mama mertuanya pasti bicara sesuatu pada Alan.


"Bukankah alasanya sudah jelas. Orang tua Gaza tak mau menerima mbak?"


"Apa.. " Alan tak melanjutkan kata katanya karena ada telepon masuk dari Sean. Sementara Rain sedang vc dengan Sean, Alan meminta ijin untuk keluar mencari makan siang.


"Sayang aku jelek, gak pakai make up. Bibirku terlihat pucet banget. Gak usah video call ya, telepon biasa aja." Tutur Rain sambil menatap wajahnya sendiri dilayar. Dia merasa tak percaya diri.


"Cantik kok, kapansih istriku jelek? Aku aja sampai bingung kapan kamu jeleknya." goda Sean sambil tersenyum tipis.


"Ish, gombal."


"Tapi sukakan dogombalin, buktinya pipi kamu merah tuh?"


Rain langsung memegangi pipinya sabil tersenyum malu. "Aku kangen," tutur Rain.


"Aku juga kangen, banget malahan. Kamu dan baby baik baik saja kan?" Tanya Sean penuh perhatian.


"Baik, kata dokter, debay dalam perut sehat." Rain mengarahkan kamera ponsel pada perutnya.


"Iya." Rain kembali mengarahkan kamera ponsel pada wajahnya. "Kamu nyuruh Alan ngusir mama ya kalau dia kesini?"


"Hem, aku gak mau aja mama ngomong macem macem yang membuat kamu stress. Aku tahu kamu itu orangnya over thinking."


"Tapi aku gak enak sama mama Sean."


"Tuh kan bener kataku, over thinking kamu beb. Gak usah mikirin perasaan mama. Pikirin aja diri kamu sendiri sama baby. Buatnya susah, jangan sampai babynya kenapa napa?"


"Hahaha... " Rain tak bisa menahan tawanya. "Susah apanya, orang kamu seneng seneng aja bikinnya. Kamu kan paling jago kalau urusan bikin baby."


"Akhirnya kamu ngakuin juga ya kalau aku jago bikin baby." Sean terkekeh. Mereka berdua mengobrol hingga Alan kembali kedalam ruangan. Sean tak mau membiarakan Rain sendirian.


...******...


Rain melihat ada nomor tak dikenal meneleponnya. Dia sedikit ragu untuk menjawab, dia takut jika yang menelepon adalah Firman.


"Kok gak dijawab mbak?" Tanya Alan yang saat itu sedang rebahan sambil bermain ponsel.


"Dari nomor tak dikenal Al."

__ADS_1


"Dijawab aja, kali aja ada yang penting. Diloudspeaker biar Alan juga bisa denger." Tutur Alan sambil beranjak dan duduk dikursi sebelah brankar kakaknya.


Rain mengangguk lalu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Hallo." Jawab Rain ragu ragu.


"Assalamualaikum Rain." Rain merasa sangat familiar dengan suara itu.


"Waalaikum salam, ayah?"


"Iya." Jawab Teguh singkat.


"Ayah tidak kenapa napa kan?" Rain merasa cemas. Dia merasa sedikit aneh ayahnya tiba tiba menelepon. Padahal biasanya ayahnya tak pernah menelepon dari lapas. Alan juga merasa ada sesuatu jika ayahnya sampai menelepon.


"Ayah tidak apa apa. Fisik ayah sehat, tapi batin ayah yang sakit."


Deg


Perasaan Rain seketika jadi tidak tenang. Dia. tak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya sesuatu yang buruk terjadi.


"Apa maksud ayah?"


"Mertuamu baru saja kemari. Dia memberitahu ayah tentang sesuatu yang membuat ayah tak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya kebenarannya padamu."


Jantung Rain berdetak kencang. Mendengar nama mertuanya, dia sudah bisa menebak apa yang Vivi katakan pada ayahnya.


Tak hanya Rain, Alan ikut tegang. "Apakah tente Vivi mengatakan hal yang sama seperti tadi?" batin Alan.


"Apa benar kau pernah menjual diri?"


JEDUAR....


Rain seperti tersambar petir mendengar pertanyaan ayahnya. Rain selalu menyimpan erat masalah ini, terutama pada ayahnya. Dia tak ingin ayahnya tahu dan kecewa padanya.


"Jawab Rain?"


Rain diam saja, dia tak mampu berkata kata. Apalagi ada Alan disana, Alan juga mendengar semua ini.


"Kenapa kau diam? Jadi semua ini benar?" Dari suaranya, terdengar jika teguh menahan tangis.


"Jadi ayah menjadi pembunuh dan dipenjara 5 tahun untuk menyelamatkan uang." Terdengar Teguh mulai menangis.


Rainpun tak kuasa menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak mendengar tangis ayahnya. Pria tua yang sangat dia sayangi dan banggakan itu menangisi kehormatannya.


"Semurah itu harga kehormatan yang ayah lindungi hingga tega membunuh orang? Semurah itu hargamu hingga bisa dijual? Ayah melakukan apapun demi menyelamatkan kehormatanmu. Tapi kau menjualnya pada pria pria hidung belang." Suara Teguh mulai hilang timbul karena disertai isak tangis.


Alan terkulai lemas mendengar penuturan ayahnya. Walaupun belum tahu pastinya, dia merasa jika dirinya ada sangkut pautnya dengan masalah ini.

__ADS_1


"Ayah sempat sangat kecewa padamu karena khilaf bersama Sean. Tapi ayah masih bisa mentoleransi karena kalian bilang saling mencintai dan Sean mau tanggung jawab. Ayah pikir dulu, Sean benar benar pacarmu. Nyatanya dia hanya pelangganmu yang kau jebak agar mau menikahimu."


"Sampai tadi pagi, Ayah tak pernah menyesal menjadi pembunuh. Ayah melakukan itu semua demi kehormatan putri ayah. Tapi detik ini, ayah menyesal telah menjadi pembunuh. Ayah sangat menjunjung tinggi kehormatanmu. Tapi kau sama sekali tak menghargai kehormatanmu sendiri. Apa kehormatan adalah sesuatu yang bisa dijual? Sungguh menjijikkan."


__ADS_2