Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
AWAS BININYA GALAK


__ADS_3

Tatkala Rain dan Arya sedang mengobrol, seorang gadis cantik datang menghampiri mereka.


"Hai Kak." Sapa gadis itu dan langsung memeluk Arya.


"Kok kamu disini?"


"Habis bikin konten dideket sini tadi. Terus aku lihat ada mobil kakak. Jadi aku masuk deh. Siapa tuh?" gadis itu menunjuk dagu kearah Rain.


"Oh iya Rain, kenalin ini adikku namanya Amaira."


"Hallo, aku Amaira." sapa gadis itu sambil mengulurkan tangan.


"Rain." Sahut Rain sambil menjabat tangan Amaira.


"Pacar kamu ka Kak? kok gak pernah diajak main kerumah?" Amaira main nyeplos aja.


Rain geleng geleng kepala. "Bukan, saya hanya rekan kerja saja."


"Awalnya rekan kerja, selanjutnya rekan berumah tangga, hehehe..."


Arya hanya bisa geleng geleng sambil menepuk jidat melihat kelakuan adiknya.


"Ya udah aku tinggal dulu biar gak ganggu. Jangan lupa beasiswa buat pacar aku ya kak." Seru Amaira sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Maafin adikku ya Rain, dia orangnya emang gitu. Kalau bicara suka ngasal. Tapi sebenarnya dia baik kok. Cuma terlalu jujur aja."


"Gak papa kok pak."


"Apaan sih pakai panggil bapak, panggil Arya aja."


Sean yang baru kembali dari toilet merasa panas melihat Rain dan Arya yang terlihat dekat. Dia tak sabar ingin segera menyelesaikan urusannya dan membawa Rain pulang.


"Senang bekerja sama dengan anda. " Arya menyalami Sean dan Rain bergantian setelah mereka mencapai kesepakan bisnis.


"Rain boleh aku minta nomor telepon kamu?" tanya Arya saat Rain tengah mengemasi berkas berkas serta laptop milik Sean. Seketika Rain langsung melirik Sean, dia bingung harus menjawab apa.


"Sepertinya jangan, Rain sudah menikah, dan suaminya galak. Udah gitu posesif banget." Ucap Sean setengah berbisik.


"Jadi kamu udah nikah Rain?" Arya terlihat kecewa.


"Iya." Jawab Rain sambil mengangguk.

__ADS_1


"Saya pikir kamu masih lajang. Pantas saja kamu bilang tak tertarik dengan Sean. Ternyata kau udah nikah."


Sean langsung memelototi Rain saat mendengar penuturan Arya.


Bisa bisanya Rain bilang gak tertarik sama aku. Awas aja lo Rain, bentar lagi gue bikin lo bucin sebucin bucinnya sama gue, gumam Sean dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Sean yang masih kesal hanya diam saja selama perjalanan. Dia bahkan tak melirik Rain sama sekali. Kalau saja tahu orang yang akan mereka temui adalah Arya, Sean pasti tak mau mengajak Rain.


"Lho kok lewat sini?" Rain merasa jika Sean salah ambil jalan.


"Kita langsung pulang aja."


"Kan masih siang. Emang gak ada kerjaan lagi?"


"Udah gak usah banyak nanya, gue bos nya, suka suka gue mau pulang jam berapa." Tak mau memperpanjang masalah, Rain memilih diam.


"Kita belanja Yuk Sean. Kan waktu itu gagal belanjanya."


"Ogah, males gue kepasar. Bikin gue kena sial aja."


"Dih, siapa juga yang ngajak kepasar. Aku mau ngajak kamu ke supermarket yang ada diapartemen."


Rain semangat sekali memasuki supermarket yang tak begitu ramai itu. Dia mendorong troly dan mulai mengambil apa saja yang dia butuhkan. Sedangkan Sean, dia malah asyik main game diponselnya.


"Rain." Sean berdecak kesal sambil melotot ke arah Rain. "Aku jadi kalah gara gara kamu narik narik aku."


"Lagian, orang diajak belanja kok malah main game." Dari tadi dia sudah cukup sabar dengan membiarkan Sean asyik sendiri dengan ponselnya. Sean sama sekali tak mau membantunya untuk mengambil barang yang letaknya tinggi atau sekedar membantu mendorong troly.


"Ya udah kamu pulang sana. Gak ada gunanya disini." Rain segera berjalan cepat meninggalkan Sean.


Sean buru buru mengantongi ponselnya lalu mengejar Rain dan mengambil alih mendorong troly.


"Sorry sorry, gitu aja ngambek. Ayo aku bantuin, mau cari apa lagi biar aku yang ambilin?"


"Ya udah aku mau pilih ikan dulu. Kamu kesana gih pilih buah." Rain mengarahkan dagunya ke tempat buah buahan.


"Siap nyonya." Sean segera menuju tempat buah buahan.


Dari kejauhan, Rain melihat ke arah Sean. Tapi lagi lagi dia dibuat geram dengan ulah Sean. Sean terlihat sedang memilih melon sambil mengobrol dengan tiga orang gadis yang masih berseragam putih abu.


"Suka yang gede ya Mas?"

__ADS_1


"Ya iyalah, yang gede tuh mantul, rasanya manis. Kalau kecil mah mana enak. Gak ada manis manisnya, belum mateng." Sean seketika melirik kearah Rain. Tahu jika Rain sedang memperhatikannya, dia malah cari cara untuk membuat Rain cemburu.


"Yang belum mateng justru enak Mas. Belum banyak yang nyentuh. Apalagi yang masih ori."


"Masak sih?"


"Beneran, kalau gak percaya boleh dibuktikan." Gadis itu malah makin nempel pada Sean.


"Sumpah, mas nya ganteng banget." Ucap salah satu dari mereka sambil terus menatap kagum pada Sean.


"Boleh minta nomor teleponnya gak? Kapan kapan aku kasih melon yang super manis. Yang bakal bikin mas nya ketagihan."


"Masak sih, emang ada melon yang bikin nagihin. Setahu aku cuma rokok aja yang bikin aku ketagihan."


"Hem hem." Rain sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian mereka.


"Ngapain kalian ngerubungin suami saya?" Ucap Rain sambil menggeser tubuh gadis yang menempel pada Sean hingga gadis itu hampir jatuh.


"Apaan sih mbak, gak lihat apa ada orang segede ini, main nyenggol aja. Dah gitu kasar banget sampai gue mau jatuh." Omel gadis itu.


"Lihat kok, bahkan sangat jelas. Mangkanya aku sengaja nyenggol kamu keras, biar gak nempel sama suami aku."


"Jadi ini bini kamu Mas?"


Sean mengangguk sambil senyum. Melihat sikap Rain dia seolah merasa jika rencananya berhasil.


"Galak banget bininya. Lain kali kalau mau keluar, pasang tulisan dipunggung. Awas bininya galak." Ejekan gadis itu langsung disambut gelak tawa oleh kedua temannya. Bahkan Sean juga ikutan tertawa.


Melihat Rain memelototinya, Sean langsung berhenti tertawa walau sebenarnya masih ingin tertawa.


"Lucu ya?" sindir Rain sambil terus memelototi Sean.


"Dih, kayaknya ada yang cemburu nih. Wah wah wah... ada yang mulai bucun nih."


"Apaan sih." Rain mencubit lengan Sean. "Aku gak cemburu, cuma tak suka aja kamu bersikap kayak gitu. Ingat kamu itu udah nikah. Masa ke supermarket sama istri malah godain cewek sekolahan. Gak ngehargain istrinya banget."


"Emang mau dihargai berapa, seribu apa dua ribu?" goda Sean.


"Kamu itu nyebelin banget." Rain melengos dan meninggalkan Sean.


"Rain, tunggu dulu dong. Jangan ngambek gitu ah." Sean mengejar Rain lalu menarik tangannya agar berhenti.

__ADS_1


"Apaan sih, lepas." Rain menghempaskan tangan Sean.


"Mbak, Mas, kalau berantem dirumah aja. Gak malu apa dilihatin orang." Ucap seorang ibu yang sontak membuat wajah Rain sekaligus Sean merah karena malu.


__ADS_2