
Selama dua minggu ini Sean sibuk dengan pekerjaannya. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaan yang masih tertunda. Dia ingin menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebelum dikembalikan pada sang papa.
Rain, wanita itu juga sibuk membatu pekerjaan suaminya. Sebagai sekretaris, dia bekerja semaksimal mungkin untuk membantu Sean sebelum mereka meninggalkan perusahaan.
Tapi Sean kali ini sangat protektif. Dia tak mengijinkan Rain ke pantry, kantin atau kemanapun. Rain hanya boleh duduk meja kerjanya dan diruangan Sean. Sean tak mau Rain mendengar hal hal yang membuat hatinya terluka lagi.
"Apa pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Rain yang baru masuk keruangan suaminya.
"Lumayan, hari ini hari terakhir kita disini. Jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku." Jawab Sean sambil melemparkan senyuman pada Rain.
"Ada yang bisa aku bantu?" tawar Rain sambil berjalan mendekati suaminya.
"Aku sangat lelah, bisakah memijit bahuku sebentar." Titah Sean sambil meregangkan ototnya dan melepas kaca mata. Ya, sekarang Sean lebih sering memakai kaca mata saat bekerja.
"Tentu saja." Rain segera mengambil posisi dibelakang Sean dan memijat pelan pundak pria itu.
Sean memejamkan matanya merasakan kenyamanan pijatan Rain. Mendapat sentuhan sedikit saja dari istrinya membuatnya mengantuk.
"Apa kau lapar? Aku akan memesankan makanan untukmu?" tawar Rain.
"Aku belum lapar, nanti saja beli makan sekalian pulang. Duduklah disini." Sean menepuk pahanya agar Rain duduk dipangkuannya.
Rain menghentikan pijatannya lalu duduk dipangkuan Sean. Sean memeluk istrinya sambil mengendus leher Rain yang beraroma parfum kesukaannya.
"Capekku langsung hilang kalau memelukmu seperti ini beb." Tutur Sean sambil mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya diceruk leher Rain.
"Ish geli." Rain menggelinjang saat Sean mecium belakang telinganya dan memberikan gigitan kecil disana.
"Tapi kamu sukakan?" Bisik Sean tepat ditelinga Rain hingga membuat darah wanita itu berdesir.
"Sayang, nanti kita pasti akan sangat merindukan tempat ini." Rain mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ruangan yang banyak menyimpan kenangannya bersama Sean.
"Rain..."
"Hem.. "
"Kau tak keberatankan kalau suatu saat aku kembali lagi kesini?" Tanya Sean sambil menarik dagu Rain agar menghadap padanya.
"Aku mendukung semua keputusanmu Sean. Semua yang menurutmu baik dan tak menyimpang, aku pasti akan mendukungmu. Apapun itu." Jawab Rain sambil mengecup singkat bibir Sean.
Merasa kurang karena hanya mendapatkan kecupan singkat, Sean segera memegang tengkuk Rain dan meminta ciuman yang lebih dalam. Keduanya saling mengecap dan menikmati bibir satu sama lain.
__ADS_1
"Terimakasih beb, kau memang wanita yang paling bisa memahamiku." Ucap Sean sambil menempelkan kening mereka. Berada dijarak sedekat itu membuat keduanya merasa panas. Rain buru buru menjauhkan wajahnya saat Sean kembali ingin menciumnya.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu." titah Rain.
"Huft." Sean mendengus kesal karena Rain menolak ciumannya.
"Udah gak usah cemberut gitu. Bukankah Danu bilang sore ini ada perpisahan kecil kecilan yang diadakan untuk kita. Jadi mending cepat selesaikan pekerjaan kamu."
"Astaga, aku hampir lupa kalau ada pesta perpisahan buat kita." Sean menepuk jidatnya sendiri.
"Lebih tepatnya untukmu sih bukan untuk kita. Aku mah bukan siapa siapa disini." Rain meralat ucapannya.
"Kenapa bilang seperti itu. Kau itu nyonya bos disini. Istri dari CEO sekaligus pewaris dari perusahaan ini. Jangan pernah menganggap dirimu bukan siapa siapa. Kau harus percaya diri dan menunjukkan pada semua karyawan jika kau seorang istri bos disini," tekan Sean.
"Untuk apa Sean, besok juga sudah bukan istri bos lagi. Kaukan sudah resign." Tutur Rain sambil memutar kedua bola matanya.
"Benar juga sih."
Rain beranjak dari pangkuan Sean sambil merapaikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Mau kemana?" Sean menarik tangan Rain saat wanita itu ingin melangkah.
"Kembali ke mejaku. Kalau disini terus, kamu gak bakal bisa kerja." Jawab Rain sambil menyeringai kecil lalu keluar ruangan.
Sejak turun dari mobil hingga didalam bandara, Alan terus melingkarkan lengannya dipinggang Rain. Rasanya berat sekali melepas kakaknya pergi untuk waktu yang lama. Hari ini Rain dan Sean berangkat ke Labuan bajo.
Disisi lain, Sean dan Amaira yang juga ada disana sedikit sebal dengan tingkah dua kakak beradik itu. Mereka berdua seolah diabaikan.
"Jangan lupa makan, belajar yang rajin." Pesan Rain pada Alan.
"Nggak usah mikirin Al. Al udah gede." Jawab Al sambil menangkup kedua pipi kakaknya.
"Apaan sih pakai gini gini segala." Sean segera menyingkirkan tangan Alan dari wajah istrinya.
"Sayang, dia itu adikku, masak kamu cemburu sih?" protes Rain.
"Bukannya cemburu, tapi kalian berdua lebay tau. Kayak mau ditinggal kemana gitu. Orang kita cuma mau honeymoon." Sean menyebikkan bibirnya.
"Jaga diri baik baik ya mbak. Kalau ada apa apa segera hubungi Alan." Tutur Al sambil memeluk erat kakaknya. Dia sengaja melakukan itu untuk menggoda Sean.
"Udah udah pelukannya." Sean buru buru menarik Rain dari dekapan Alan. "Kayak teletubbies aja pelukan mulu." Sindir Sean.
__ADS_1
"Kamu juga harus jaga kesehatan Al. Jangan ngebut kalau bawa mobil. Mbak gak mau terjadi apa apa lagi sama kamu." Rain kembali memeluk Alan. Sean melongo sambil geleng geleng melihat dua orang itu. Padahal baru dipisahin udah pelukan lagi.
"Ra, mbak nitip Alan ya, jagain dia. Kalau dia macem macem segera kasih tau mbak." Pesan Rain pada Amaira yang juga ikut mengantarnya.
"Iya mbak. Mbak hati hati ya, semoga selamat sampai pulang lagi." Jawab Amaira sambil memeluk Rain.
"Mbak suka deh, Alan punya pacar sebaik kamu."
"Apaan sih mbak." Muka Amaira langsung merona mendengar pujian calon kakak iparnya.
"Baik apanya? lupa kamu kalau dia pernah nampar kamu." Sindir Sean sambil menatap tidak suka kearah Amaira.
Amaira langsung menunduk malu mengingat kejadian waktu itu.
"Apaan sih yang. Udah gak usah bahas itu lagi." protes Rain. "Jangan lupa makan ya Al, jaga kesehatan."
Sean membuang nafas kasar. Dia mulai jengah mendengar pesan Rain yang diulang ulang terus.
"Udah gak usah diulang ulang mulu beb. Alan itu bukan bocah yang gak ngerti waktunya makan. Alan itu udah gede, udah bisa bikin bocah."
Rain sontak memelototi Sean yang bicara ngasal itu.
"Kalian berdua pulang sana, kita mau masuk dulu." Usir Sean
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Alan sambil memegang lengan Sean. "Ra, temenin mbak Rain dulu ya." Alan menarik Sean agar menjauh dari kedua perempuan itu.
"Mau ngomong apaan sih, kanapa pakai ngejauh gini."
"Aku cuma mau minta maaf sama kakak. Maaf jika selama ini Al nganggep kakak laki laki yang tidak baik. Sekarang, Al yakin kalau kak Sean adalah pria terbaik untuk mbak Rain. Alan harap hubungan kita kedepannya bisa lebih baik lagi."
Sean speechless melihat perubahan sikap Alan kepadanya. Tapi dia tersenyum, dia suka perubahan sikap Alan.
"Santai aja, gue udah maafin elo kok." Jawab Sean sambil menepuk pelan bahu Alan.
"Gak usah terlalu ngawatirin kakak lo lagi. Dia tanggung jawab gue sekarang. Gue janji bakal bahagiain dia."
"Makasih, sekali lagi aku minta maaf."
.
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN KASIH MAWAR BIAR SEMANGAT.
__ADS_1
TERIMAKASIH**