
Rain, Alan dan Amaira segera menuju ruang tamu saat keluarga mempelai wanita datang. Bukan sekeluarga seperti pernikahan pada umumnya, hanya Killa serta ayah dan ibunya yang datang.
Akad nikah memang diadakan dirumah Del karena orang tua Killa tak mau sampai tetangga mereka tahu tentang Killa yang hamil diluar nikah.
Rain kembali menangis melihat gadis yang memakai kebaya putih itu. Hatinya terenyuh melihat Killa yang seharusnya menikmati masa remaja, harus hamil gara gara ulah putranya.
Del terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna abu abu meski tiada senyum diwajahnya. Raut wajahnya terlihat tertekan. Dia memang tak menginginkan pernikahan ini.
Del menatap Killa sekilas lalu membuang pandangannya ke arah lain. Marah, kesal, benci, itu yang dia rasakan sekarang. Dia merasa jika Killa sudah menghancurkan masa depannya. Dia masih muda, masih ingin bersenang senang. Apalagi dia memiliki gadis yang dia cintai, yaitu Laura.
Killa, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Jika semua orang sedih dan terluka, dialah orang yang paling merasakan hal itu. Ingin menangis tapi sudah tak sanggup. Air matanya terasa sudah kering hingga dia hanya bisa merasakan sesak yang teramat sangat didadanya.
Killa duduk disamping Del dengan tubuh gemetaran. Jantungnya berdegup sangat kencang saat Delmar mengucap ikrar ijab qobul.
SAH
Ucap seluruh saksi yang ada disana.
Amaira menatap nanar kearah Killa. Dia sangat kasihan melihat gadis itu. Pernikahan ini mirip dengan pernikahannya dengan Alan. Tapi setidaknya dia dan Alan bahagia saat itu, tidak seperti Del dan Killa saat ini yang tampak tertekan.
Melihat Killa yang jadi korban perkosaan, dia jadi teringat dirinya dulu.
FLASHBACK
"Aw...Aw...." Jerit Amaira pagi itu.
Alan yang tidur terbangun gara gara teriakan Amaira. Dengan secepat kilat, dia menyambar celana pendek dan kaosnya yang berserakan dilantai. Dia takut terjadi apa apa pada Amaira. Dia bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan Amaira.
"Ada apa Ra?" Tanya Alan cemas saat melihat Amiara ada didapur. Ya, setelah menikah, Alan tak melanjutkan study S2 nya di Australia. Selain karena dia tak mampu menghidupi Amaira disana. Mama Amaira juga melarang anaknya ikut ke Australia dengan alasan hamil muda.
Alan bekerja di perusahaan Sean. Sedangkan Amiara tetap bekerja di perusahaan Arya. Sekarang mereka tinggal diapartemen yang disewa Alan.
"Al tanganku sakit, kecipratan minyak panas." Rengek manja Amaira sambil menunjukkan punggung tangannya yang terkena cipratan minyak.
"Astaga, kirain apaan Ra." Alan segera mendekat ke kompor dan segera mematikannya karena asapnya mulai mengepul. Tampaklah telur mata sapi gosong yang berendam dikubangan minyak.
"Sini." Alan menarik Amaira ke wastafel dan segera mengguyur tangan Amaira dengan air kran. "Lagian kamu ngapain sih pagi pagi udah didapur, pakai sok sok an mau masak segala?" Omel Alan.
"Aku kan pengen buatin sarapan buat kamu. Sejak kita menikah selalu kamu yang bikin sarapan. Sekali kali aku juga pengen masak buat kamu."
"Bikin telur mata sapi aja kamu gak bisa Ra. Selama 22 tahun ini kamu ngapain aja?" Sindir Alan. Dia gemas karena istrinya tak bisa apa apa. Definisi anak the Real anak sultan. Seumur hidup gak pernah yang namanya pegang penggorengan ataupun spatula.
"Aku belajar Al, terus kerja." Jawab Amaira dengan polos.
"Belajar, kerja, main, shopping, ngejar ngejar cowok. Ya, cuma itu keahlian kamu. Untuk pekerjaan rumah tangga, nol besar." Tekan Alan sambil membentuk jarinya menyerupai angka O.
"Maaf." Amaira tertunduk lesu dengan wajah Ditekuk. Alan menghela nafas, dia tak tega melihat ekspresi Amaira yang menyedihkan itu.
"Udah sana duduk, biar aku yang masak." Alan melepaskan celemek yang dipakai Amiara lalu memakainya.
"Sumpah, kamu ganteng banget kalau pakai apron Al." Puji Amaira sambil menatap Alan tanpa berkedip.
__ADS_1
"Jadi biasanya gak ganteng, cuma pas pakai apron saja ganteng?" Tanya Alan sambil membuang telur gosong diteflon.
"Enggak sih, kamu pakai apapun ganteng. Gak pakai baju malah makin ganteng." Ucap Amaira lalu menggigit bibir bawahnya.
"Ngapain senyum senyum gitu? Otak mesum kamu pasti udah berfantasi kemana mana?" Cibir Alan.
Ish, apaan sih Alan, tau aja kalau gue lagi ngebayangin yang semalam. Batin Amaira dengan wajah tersipu malu.
"Kamu tadi sebenarnya mau masak apa sih Ra?" Tanya Alan sambil membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak.
"Tadi sih aku rencananya mau bikin nasi goreng plus telur ceplok. Oh iya, aku udah masak nasi kok Al. Mungkin udah mateng." Amaira baru teringat kalau tadi dia sudah memasak nasi di magigcom.
Alan membuka magigcom lalu menutupnya lagi dengan ekspresi absurd.
"Kenapa Al?" Amaira merasa ada yang salah melihat ekspresi Alan.
"Kamu mau masak nasi apa bikin bubur sih Ra? Banyak banget airnya, mana bisa dimakan? Udah mirip bubur bayi." Alan hanya bisa geleng geleng kepala. Bahkan anak SD saja bisa masak nasi pakai magigcom, kenapa istrinya yang lulusan S1 di Singapura tidak bisa.
Amaira segera mengeceknya, benar saja, nasinya terlalu lembek sampai teksturnya mirip bubur.
"Maaf." Lagi lagi hanya itu yang bisa diucap Amaira. "Kita pesen makanan aja ya?" tawarnya.
"Itu lebih baik." Alan segera membersihkan dapur yang berantakan lalu mencopot apronnya. "Kamu kuliah jauh jauh sampai Singapura, tapi masak nasi aja gak bisa Ra." Keluh Alan.
"Ya kan di kampus gak diajarin caranya masak nasi Al. Aku kuliah jurusan management bisnis bukan jurusan masak."
Alan hanya bisa menghela nafas panjang. Menjadi suami Amaira memang harus punya Stok kesabaran ekstra.
"Ish, pengantin baru udah main tinggal aja." Amiara memberengut.
"Namanya juga kerjaan Ra."
"Ya udah aku ikut."
"Ya gak bisa gitu. Aku kesana kerja, dan gak sendirian. Masak aku ngajak kamu. Lagian kamukan juga harus kerja."
Amaira terlihat kecewa, tapi mau gimana lagi, tuntutan karier.
...*****...
Keesokan harinya, Amiara menyempatkan kerumah sakit untuk menemui temannya yang seorang dokter kandungan. Dia ingin konsultasi gimana caranya agar cepat hamil. Dia takut efek dulu pernah kemo, jadi kesuburannya sedikit terganggu.
Amaira ingin cepat hamil untuk menutupi kebohongannya. Karena yang mamanya dan Arya tahu, sekarang dia sedang hamil.
Setelah konsultasi, Amiara segera kembali kekantor. Tapi tiba tiba dia mendapat pesan dari Imelda, mamanya Edward.
Tante Imelda
"Rara, bisa tolong hubungi Edward gak? Sejak. tadi tante hubungi kok gak bisa?"
Mendapat pesan itu, walaupun malas, Amiara tetap menghubungi Edward. Tapi ternyata Sama saja, Edward tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
^^^Amaira^^^
^^^Maaf Tante, Rara hubungi juga gak bisa. ^^^
Tante Imelda
Rara bisa tolong tante gak? tante sakit, sekarang lagi di apartemen Edward sendirian. Om ada diluar negeri. Tolong kesini lalu anter tante ke rumah sakit tempat Edward kerja. Tolong ya sayang.
Amiara tak bisa menolak permintaan Imelda. Wanita itu sangat baik padanya. Dan dia merasa sudah mengecewakannya dan juga Edward.
^^^Amaiara^^^
^^^Baik tante. ^^^
Amaira segera ke apartemen Edward yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit. Amaira sudah pernah beberapa kali kesana.
Ting tong ting tong
Amaira menekan bel beberapa kali hingga seseorang membuka pintu.
"Kak Edward ada dirumah?" Amaira terkejut saat Edward yang membuka pintu.
"Baru dateng Ra, Yuk masuk."
Entah kenapa, Amaira merasa sedikit ragu untuk masuk. Dia seperti merasakan firasat yang tidak enak.
"Ayo masuk." Edward menarik Amaira masuk lalu mengunci pintu.
"Kok maksa gini sih Kak." Protes Amaira sambil memegangi pergelangan tangannya yang sakit akibat ditarik paksa oleh Edward.
"Elo yang udan bikin gue kayak gini Ra. Tega lo nipu gue Ra."
"Maksudnya?"
"Elo gak hamil kan? Gak usah berkelit. Gue udah nanya ke Sasha. Dia bilang lo konsultasi kesuburan kesana, lo gak hamil."
Tanpa Amaira tahu, ternyata saat dirumah sakit, Edward melihatnya dan membuntutinya.
"Maaf kak." Amaira merasa bersalah.
"Maaf lo bilang? enak aja. Lo udah ngehancurin perasaan gue Ra, dan lo cuma bilang maaf? Gak sesimpel itu Ra." Edward tiba tiba mendorong tubuh Amaira sampai terjatuh disofa.
"Jangan kasar kak. Aku tahu aku salah, aku minta maaf." Amiara coba bangkit tapi Edward justru mendorong bahunya hingga posisinya terlentang di sofa. Perasaan Amaira makin kalut. Jantungnya berdegup kencang dengan tubuh gemetaran.
"Karena lo udah pura pura hamil. Maka gue akan permudah sandiwara lo Ra. Gue akan buat lo hamil anak gue." Tekan Edward dengan tatapan mata yang sangat menakutkan.
"Lepas kak, lepasin Rara." Amaira mencoba berontak tapi Edward justru makin memperkuat cengkeramannya. Dengan paksa Edward mencium Amaira dan berusaha membuka bajunya.
Amaira tak bisa berteriak saat bibir Edward membungkam mulutnya. Dia hanya terus memukul dada Edward dengan harapan pria itu melepaskannya.
Bukannya melepaskan Edward justru menarik tangan Amaira keatas kepalanya lalu mencium leher dan dadanya. Dia juga meninggalkan beberap kissmark disana.
__ADS_1
Amaira keluar dari apartemen Edward dengan memakai jaket milik pria itu karena kemeja yang dia gunakan sudah sobek. Dengan air mata yang terus mengalir , dia segera pulang ke apartemennya.