
POV SEAN
Disinilah kami sekarang, diatas brankar ruang rawat inap Rain. Aku duduk diatas brankar sambil memeluk Rain.
Sejak tadi dia menangis, entah sudah berapa liter air mata yang dia keluarin sampai sampai gue takut air matanya kering.
Ya, kita berdua memang sedang berduka. Berduka atas kepergian calon anak kami yang belum sempat lahir kedunia. Gue berusaha untuk terlihat tegar dan gak nangis, walau sebenarnya gue gak setegar itu. Laki laki juga boleh kali nangis, tapi gak sekarang waktunya gue nangis. Rain butuh dukungan gue, dan gue harus kuat buat dia.
"Harusnya Tuhan gak ngasih kebahagiaan yang sifatnya hanya sementara kayak gini. Terlalu singkat, sampai sampai aku gak inget hanya berapa hari aku seneng karena dinyatakan positif hamil."
"Jangan ngomong gitu. Kita harus tetap bersyukur setidaknya pernah ngerasain kebahagiaan itu walau hanya sekejab" Sahutku sambil membelai rambut Rain yang berantakan. Ya, Rain yang biasanya cantik, rapi, wangi, hari ini terlihat berantakan, lemes, pucet walaupun tetap cantik sih.
"Terlalu sekejab Sean, saking sekejabnya kayak cuma mimpi aja."
"Relain beb, mungkin belum saat kita jadi orang tua. Mungkin kita harus memantaskan diri dulu agar layak mendapat sebutan mama dan papa."
"Jadi menurut kamu aku belum pantas ya Sean menjadi mama?" Tanya Rain sambil menatap kedua mataku.
Duh takut salah ngomong nih. Kondisi kayak gini kan sensitif banget. Salah dikit bisa jadi gede.
"Bukan belum pantas maksudku beb. Mungkin belum saatnya saja." Aku meralat kata kataku.
Sebenarnya aku ingin sekali bertanya kenapa dia sampai keluar kamar, padahalkan dia harusnya bedrest total? Dan kemana SiAlan itu? Gue suruh jaga kakaknya malah ngilang kayak gini. Tapi gue masih menimbang nimbang, apakah waktunya tepat untuk bertanya itu sekarang.
"Kamu pasti kecewa sama akukan? Kamu pasti nyalahin aku karena gak bisa jaga calon anak kita?"
Shitt, Rain ini kayak cenayang. Dia kayak bisa denger gitu isi hati gue.
"Kamu kenapa kok bisa diluar sampai nabrak brankar? bukankah harusnya kamu bedrest?" Ya, akhirnya aku tanya juga.
__ADS_1
"Semua salahku Sean, aku ceroboh. Bener yang kamu bilang, aku belum layak mendapat gelar mama. Aku memang belum pantas." Air mata Rain turun makin deras.
"Udah dong beb, jangan nangis terus. Aku gak nyalahin kamu kok." Ucapku sambil menghapus air matanya. Sebenarnya bohong banget kalau aku gak nyalahin dia sama sekali. Aku kecewa kenapa dia bisa seceroboh ini.
"Aku tahu kamu kecewa padaku Sean. Aku bisa lihat itu dimata kamu."
Tuh kan, Rain pinter banget baca isi hati gue lewat mata. Apa kelihatan banget dimata gue kalau saat ini gue sedang kecewa?
"Sean, bisa gak kamu beliin aku obat?"
"Obat apa? bukankah udah dapat obat dari dokter. Tuh banyak banget obat diatas nakas." Gue menunjuk dagu keatas nakas dimana ada setumpuk obat yang gue gak paham satu satu kegunaannya.
"Obat amnesia."
Gue langsung melotot kearahnya, emang ada ya obat kayak gitu?
"Aku pengen amnesia Sean. Aku pengen ngelupain semua ini. Aku pengen bisa terbebas dari semua penyesalan ini. Semua ini terlalu berat Sean. Aku berada dititik dimana aku kecewa pada diriku sendiri. Aku bukan hanya tak layak disebut mama. Tapi aku juga bukan anak yang baik, bukan kakak yang baik, bukan menantu yang baik, dan bukan istri yang baik. Aku mengecewakan semua orang Sean. Dan parahnya, aku mengecewakan semua orang yang aku sayangi."
"Sean, maukan kamu menjadi pendengar yang baik."
"Tentu saja."
"Aku butuh seorang pendengar, murni pendengar."
Aku mengangguk, aku paham apa yang dimaksud murni pendengar. Dia tak ingin aku menyahut atau mengomentari apapun ucapannya. Ya, mungkin dia cuma butuh mengeluarkan semua beban hidupnya biar lega.
"Baiklah, anggap saja aku ini manekin atau tembok, atau apapun yang kamu mau."
"Aku menyesal, aku menyesal udah pernah menjual diri. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, aku pengen berada dititik dimana semua itu belum terjadi. Aku pengen ketemu doraemon, aku pengen pinjem alatnya buat memperbaiki masa laluku. Aku gak mau menjual diri Sean. Aku menyesal, sangat menyesal."
__ADS_1
Kalau bener ada alat kayak gitu. Kita gak bakal ketemu dong Rain kalau kamu gak jadi menjual diri.
"Aku tahu kamu udah bayar mahal buat beli aku waktu itu. 1 milyar kan? Hahaha."
Astaga, kok Rain nangis sambil ketawa sih, sumpah bulu kudu gue jadi merinding.
"Kamu bisa kerja dan dapat uang 1 milyar lagi. Tapi aku? aku gak bisa mendapatkan kembali kehormatanku. Aku gak bisa menghilangkan sebutan pelacur yang melekat dalam diriku. Aku gak bisa Sean, gak bisa. Aku tetap pernah menjadi pelacur walau hanya sekali. Dan sampai kapanpun, orang akan mengingatku sebagai mantan pelacur."
Rain menangis sampai tubuhnya bergetar. Sungguh aku tak tega melihatnya. Sepertinya dugaanku benar, ayah dan Alan sudah tahu tentang ini.
"Aku sudah membuat ayahku kecewa. Harusnya saat itu otakku yang bodoh ini bisa sedikit berfikir tentang perasaan ayah. Tentang pengorbanan ayah yang telah rela dirinya dicap sebagai pembunuh demi menjaga kehormatanku. Tapi aku terlalu naif, aku cewek. manja yang gak mau kerja keras. Aku melakukan cara instan buat dapet duit banyak. Harusnya waktu itu gue ngejual organ aja, kenapa harus menjual kehormatan? hahaha."
Rain lagi lagi ketawa, sumpah gue takut banget. Takut kalau dia depresi.
"Gak ada keuntungan apapun yang aku dapat selain hanya uang 1 milyar yang habis dalam sekejab. Masa depanku hancur gara gara itu. Aku dicap pelacur seumur hidup dan entah berapa banyak dosa yang aku dapat dari itu semua. Aku kayak nukar uang 1 milyar sama gorden tiket keneraka. Miris banget."
Apa mendapatkan gue bukan sebuah keuntungan buat lo Rain? Gara gara itu juga kan kita bisa kenal sampai nikah? Gue tahu masa depan hancur yang lo maksud itu masa depan lo ama si kucrut. Bukankah gue bisa ganti masa depan yang lebih cerah buat lo? Tapi kayaknya masa depan dengan gue jauh dibawah ekspektasi masa depan cerah versi lo.
"Tapi semua udah terlambat sekarang, Ayah, Alan , kedua orang tuamu, semua orang kecewa padaku Sean. Aku harus membayar mahal satu kesalahan yang pernah aku buat itu. Dan aku merasa aku harus membayar lebih mahal dari yang aku dapatkan. Aku dapat uang 1 milyar, tapi aku harus menggantinya dengan kehilangan orang orang yang aku sayang. Ini tidak adil Sean, tidak adil."
Aku memeluknya makin erat, aku ingin bilang kalau dia gak kehilangan gue. Gue bakal. selalu ada buat dia.
"Aku pikir aku hanya kehilangan Gaza karena Kebodohonku ini. Tapi nyatanya lebih dari itu. Aku kehilangan semuanya Sean, semuanya."
Kenapa sih pakai inget Gaza segala. Pengen ngamukkan gue jadinya. Lo merasa kehilangan semuanya Rain. Apa lo gak inget gue? Apa lo gak sadar kalau lo kehilangan semua tapi mendapatkan gue? Apa mendapatkan gue gak sebanding sama sekali dengan kehilangan Gaza dan masa depan yang sudah kalian impikan?
Ingin sekali gue teriak kayak gitu buat nyadarin Rain. Tapi gue menahan diri karena sekarang gue adalah menekin. Gue hanya murni pendengar. Dan gue udah mutusin buat jadi pendengar yang baik.
"Ayah benci aku Sean, Ayah kecewa sama aku. Aku jahat, jahat sama Ayah, sama Alan , sama anak kita dan sama kamu. Gak hanya itu, aku juga jahat sama orang tua kamu, mereka pasti nyesel banget anaknya menikahi mantan pelacur."
__ADS_1
Nyesel aku tadi ngeiyain buat jadi pendengar. Harusnya gue bisa ngomong sekarang, gak nahan nahan kayak gini.
Pengen sekali ngomong alias tanya, Gue ini berarti gak sih Rain buat lo? Lo cinta gak sih Rain sama gue. Lo kok kayak gak ada syukur syukurnya dapat gue. Lo dari tadi cuma bilang kalau lo kehilangan orang yang lo sayang akibat jual diri. Lo sama sekali gak nyadar kalau gara gara itu lo dapet gue, gue Rain, gue, suami lo. Ocean Kalandra.