Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KEHILANGAN


__ADS_3

Setelah selesai kelas, Alan segera menuju parkiran. Dia ingin segera pulang karena kurang enak badan. Akhir akhir ini dia sering telat makan bahkan tak makan gara gara pikirannya yang kacau.


"Kok sekarang gak pernah bawa mobil lagi sih Al?" Tanya Queen yang ternyata sejak tadi mengikuti Alan.


"Bukan urusan lo." Jawab Alan sambil memakai helmnya.


"Jadi gosip kalau Amaira udah gak kuliah disini lagi itu benar? Kalian udah putus?"


"Bukan urusan lo." Lagi lagi kata itu yang keluar dari mulut pedas Alan.


"Gimana kalau lo pacaran ama gue aja sekarang. Lo bisa pakai mobil gue tiap hari, gue gak masalah kok."


Alan mendengus kesal. Entahlah, dia merasa citra cowok matre sangat melekat pada dirinya. Padahal dia tak pernah meminta apapun pada Amaira.


"Gue kurang apa sih Al, gue gak kalah cantik sama Amaira. Bahkan gue lebih seksi daripada dia. Emang sih dia lebih kaya daripada gue. Tapi kalau cuma ngasih mobil dan mencukupi kebutuhan lo sih gue sanggup kok."


Alan tersenyum sinis. Harga dirinya audah snagat diinjak injak oleh Queen.


"Sorry gue gak minat sama tawaran lo. Dan ucapan lo barusan, udah sangat melukai harga diri gue sebagai laki laki. Gue makin ilfeel sama lo Queen. Udah selesaikan ngomongnya?" Ucap Alan dengan tatapan tajam dan segera menyalakan motornya. Dia meninggalkan Queen yang masih berdiri ditempat.


"Ish, sialan banget sih, sok sok an ngomongin harga diri. Padahal udah jelas kalau situ cowok matre." Queen menghentak hentakan kakinya ke tanah karena kesal.


...*****...


Sesampainya dirumah, Alan segera merebahkan tubuhnya diranjang. Kali ini tubuhnya sangat tidak bersahabat, kepalanya pusing dan sedikit demam.


Alan memandangi ponselnya. Ponsel yang dulu tak pernah sepi dari notifikasi karena Amaira selalu mengirimkan chat, sekarang jadi sepi layaknya ponsel rusak yang tak bisa bunyi. Gadis itu selalu rutin membangunkannya tiap pagi, bertanya sudah makan, sudah mandi, sudah tidur dan sudah sudah lainnya. Alan sampai risih karena perhatiannya. Bahkan Alan sampai malas membalas chatnya.


Amaira juga selalu rutin mengirimkan emoticon love sebelum tidur. Gadis itu bahkan tak pernah marah jika Alan tak membalas pesannya.


Amaira terlalu care, hingga Alan menganggapnya lebay. Tapi sekarang, dia rindu perhatian itu. Dia rindu suara notifikasi chat masuk. Dia rindu suara bawel Amiara yang membangunkannya tiap pagi.


"Gue kangen sama lo Ra." Alan bermonolog sambil menatap foto Amaira yang sedang tersenyum di ponselnya. "Lo lagi ngapain sekarang? Lo gak kangen ya sama gue?" Alan membelai wajah Amaira di ponselnya.


Beberapa kali Alan menghubungi nomor Amaira, tapi sia sia, gadis itu sudah mengganti nomor ponselnya.


Flashback


Alan mengantarkan Amaira sampai didepan rumahnya sepulang dari labuan bajo.


"Kamu gak mau masuk dulu Al?"


"Kayaknya enggak Ra, gue langsung pulang aja. Salam buat mama lo dan kak Arya." Alan segera berbalik dan melangkah pergi.


"Al, tunggu sebentar." Teriak Amaira sebelum Alan keluar dari pintu gerbang rumah mewahnya.

__ADS_1


Alan berbalik dan melihat Amaira berjalan ke arahnya.


"Kamu gak mau ngomong sesuatu sama aku?"


"Gue capek Ra, mau cepet pulang. Lo buruan istirahat sana. Nanti kalau kamu kecapekan bisa bisa drop lagi." Ucap Alan sambil membelai kepala Amaira. "Gue pulang dulu Ra, dah sana masuk."


Alan segera keluar dari gerbang dan meninggalkan rumah Amaira.


Keesokan harinya, Alan ke rumah Amaira untuk menjemputnya kuliah.


"Pagi Bi, tolong panggilin Amaira. Bilang Al udah nungguin."


"Loh, mas Al gak tahu ya?" Bi surti mengerutkan keningnya.


"Tahu apa?"


"Non Amaira kan udah gak disini lagi."


"Maksudnya?"


"Non Amaira udah pindah ke Singapura."


Alan membulatkan matanya, dia geleng geleng karena tak percaya. Jelas jelas kemarin Amaira masih bersamanya.


"Enggak Mas, Non Amaira pindah ke Singapura. Dia bakal tinggal disana, selain untuk berobat, dia juga kuliah disana."


"Apa? kuliah disana?"


"Iya mas, mamanya juga pindah kesana juga. Disini tinggal Den Arya saja."


Lutut Alan terasa lemas, dadanya terasa sesak. Dia tak menyangka jika Amaira serius dengan kata katanya waktu di Labuan bajo. Dia pikir Amoara hanya menggertaknya waktu itu. Menurutnya Amaira tak mungkin mengajaknya putus, karena gadis itu terlalu mencintainya. Tapi nyatanya, ucapan Amaira sungguh sungguh. Dan sekarang, gadis itu sudah pergi meninggalkannya.


"Oh iya, bibi hampir lupa. Ada titipan dari Non Amaira. Tunggu sebentar ya Mas." Bi surti masuk kedalam lalu keluar lagi sambil membawa amplop berwarna pink.


"Ini Mas, dari Non Amaira."


"Makasih Bi." Alan mengambil amplop itu lalu segera membukanya.


*Hai Al


Maaf ya aku pergi tanpa pamit.


Sekarang kamu bebas Al. Nggak akan ada lagi cewek agresif yang gangguin lo. Nggak ada lagi cewek penyakitan yang ngerepotin lo.


Kira kira saat gue udah pergi, lo kangen gak sama gue?

__ADS_1


Gue terlalu kepedean kali ya.....


Jelas jelas lo gak bakal kangen sama cewek penyakitan yang kurus kayak triplek, gak ada seksi seksinya sama sekali kayak gue.


Al, maaf ya, gue udah pernah nyium bibir lo pas lo lagi ketiduran. Gue juga sering ngambil foto lo diam diam. Ya, gue emang segila itu.


Lupain kalau gue pernah ngajak lo nikah. Lupain juga tentang janji lo yang bakal nikahin gue saat gue sembuh nanti. Gue gak mau lo terbebani dengan itu. Lo bebas mau nikah sama siapapun.


Lo tau gak, apa yang paling gue takutin didunia ini?


Yang pertama, gue takut mati. Dan yang kedua, gue takut kehilangan lo.


Tapi akhirnya gue sadar. Gue harus jadi cewek yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, gue harus menghilangkan semua ketakutan gue.


Saat kita jatuh cinta, berarti kita juga harus siap patah hati. Dan sekarang sudah saatnya gue menghilangkan ketakutan gue. Udah saatnya gue ngelepas lo. Gue udah siap kehilangan lo, sebenarnya bukan sudah siap, melainkan harus siap.


Gue juga mulai siap menghilangkan ketakutan gue tentang kematian. Bukankah semua yang bernyawa pasti akan mati? Dan sudah saatmya gue harus siap kapanpun Tuhan manggil gue..


Gue gak bakal ngelupain lo Al. Lo akan selalu ada dalam memori gue. Lo adalah kenangan terindah dalam hidup gue. Ya, sepertinya lo memang hanya ditakdirkan sebagai kenangan, bukan masa depan.


Gue bakal selalu ngedoain lo semoga lo bisa ketemu sama cinta sejati lo. Dan gue juga punya satu permintaan. Doain semoga gue bisa sembuh Al.


Terimakasih karena udah mau stay sama gue beberapa bulan ini.


Dari Amaira, cewek yang pernah singgah dihidup lo, tapi bukan dihati lo*.


Flashback off


Gue kangen lo Ra, kangen banget. Lo lagi ngapain sekarang? Lo gak kangen gue ya? Lo bilang butuh gue Ra, tapi kenapa lo ninggalin gue?


Air mata Al perlahan menetes. Dia tak menyangka jika seorang Amaira yang dulu tergila gila padanya, bisa pergi meninggalkannya.


Gue emang bodoh Ra. Gue selalu berusaha buat gak cinta sama lo, gue selalu nyakitin lo. Tapi gue gak bisa ngebohongin diri gue sendiri kalau gue cinta sama lo. Gue emang pecundang Ra. Gue terlalu takut gak bisa bikin lo bahagia, hinga gue selalu nyakitin lo dan berharap lo pergi. Tapi setelah lo pergi, gue yang kesiksa Ra, gue yang gila karena merindukan lo.


Alan kembali teringat perkataan Amaira


Gue kasih waktu sampai kita tiba di Jakarta. Kalau saat itu lo nembak gue, berarti kita lanjut. Tapi jika enggak, berarti kita Udahan.


Penyesalan memang datangnya terakhir. Dan disaat sudah kehilangan, kita baru sadar jika kita sangat mencintanya dan membutuhkannya.


.


**Jangan lupa sampetin buat ngasih like dan komen.


Terimakasih buat yang masih mau setia membaca novel saya**.

__ADS_1


__ADS_2