Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
BUKAN JODOH


__ADS_3

Jantung Sean berdegup kencang saat Rain berjalan kearahnya.


PLAKK


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi putih Delia. Seketika wajahnya menjadi merah padam.


Sean terperangah melihatnya. Tak hanya Sean, keempat temannya juga kaget. Mereka ikut masuk saat Rain masuk kedalam rumah. Perasaan mereka sudah tak enak.


"Jadi kau lebih percaya pada suamimu daripada gue Rain?" Tanya Delia sambil memegangi pipinya yang terasa amat panas.


"Ya, aku lebih percaya suamiku daripada dirimu. Tidak ada alasan bagiku untuk mempercayai wanita yang baru aku kenal. Dan aku sangat mengenal suamiku. Dia tak mungkin melakukan perbuatan menjijikan seperti yang kau tuduhkan." Ucap Rain penuh penekanan.


Dia bukan wanita bodoh yang tak bisa membaca situasi. Sudah jelas, posisi Lia memeluk Sean. Mana mungkin Sean yang memaksa menciumnya. Bahkan Sean tak memegangi Lia sedikitpun. Sejak tadi sebenarnya Rain sudah tahu jika Lia terus mencuri pandang ke arah Sean. Maka dari itu, Rain sengaja bertanya, apa ada yang kau sukai diantara empat pria itu.


"Kau sangat mengenal suamimu? Berapa lama kau mengenalnya? Setahun, dua tahun?" Delia menarik ujung bibirnya. "Aku bahkan lebih dari itu Rain. 5 tahun aku berhubungan dengan suamimu. 5 tahun kami saling mencintai dan selama 5 tahun juga kami hidup seperti pasangan suami istri." Ucap Delia dengan sangat lantang dan percaya diri.


"Cukup Delia, hentikan semuanya. Keluar dari rumahku sekarang juga." Usir Sean.


Jadi perempuan ini adalah Delia? Delia mantan pacar Sean. Delia cinta pertama Sean. Dan Delia yang membuat Sean dendam bertahun tahun pada Gaza, batin Rain.


Tubuh Rain gemetar, jantungnya berdetak sangat cepat dan kakinya terasa lemas.


"Beb, kau tidak apa apa?" Tanya Sean sambil menopang tubuh Rain yang terlihat pucat dan lemas.


"Kenapa Rain? Kau kaget mengetahui jika aku adalah cinta pertama suamimu?"


"Hentikan Delia, keluar dari rumah gue sekarang juga. Sudah tidak ada apa apa diantara kita. Semua sudah berakhir 6 tahun yang lalu." Sean kembali mengusir Delia.


"Udah Del, lebih baik lo pergi. Semuanya hanya masa lalu. Uda selesai Del." Ucap Brian.


Delia menunduk, air matanya perlahan mulai menetes. Dia tak bisa lagi menahan sesak didadanya.

__ADS_1


"Ya, kau benar Sean. Semua sudah berakhir 6 tahun yang lalu. Tapi semua itu sangat tak adil bagiku. Hanya karena kesalahan yang tak pernah aku perbuat, kau mencampakkanku begitu saja. Aku hanya korban Sean. Aku dan Gaza dijebak saat itu. Dan kau sama sekali tak pernah mau mendengar penjelasanku." Tutur Delia dengan suara bergetar karena menangis. Dia kembali teringat masa itu. Saat dia mati matian meyakinkan Sean jika dirinya hanya dijebak. Tapi apa yang Sean lakukan, bukannya percaya, Sean malah memutuskannya.


Rain teringat Gaza. Pria itu juga menjelaskan hal yang sama. Dia dan Delia dijebak saat itu. Tapi Sean terlalu keras kepala. Dia sama sekali tak mempercayai penjelasan Delia dan Gaza.


"Semua ini tidak adil Sean. Sangat tidak adil. Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Hatiku dan tubuhku, semua aku berikan tanpa syarat padamu. Bahkan sampai sekarang aku belum bisa sepenuhnya melupakanmu. Tapi apa yang aku dapat? Aku bahkan dicampakkan begitu saja olehmu." Air mata Delia mengalir makin deras. Dadanya sakit sekali kalau teringat masa itu. Bahkan sampai sekarang, dia masih bisa mengingat kejadian itu dengan jelas.


"Apa lo pikir gue gak hancur saat itu Del? Gue hancur, sehancur hancurnya. Dan mereka semua jadi saksinya." Sean menunjuk teman temannya. Dia tak ingin dianggap orang yang sangat jahat. Dia juga korban disini. Dia juga terluka sama seperti Delia.


"Gue tak percaya lagi pada cinta sejak saat itu Del. Hati gue udah mati. Rasanya gue hampir gila. Gue juga korban Del. Kehidupan gue hancur setelah lo pergi. Bukannya berusaha membuat gue yakin, lo malah ninggalin gue ke luar negeri."


"Apa lo bilang Sean? Gue gak berusaha?"Delia tersenyum simpul. "Gue udah berusaha meyakinkan Lo, tapi lo sama sekali tak mau mempercayai gue. Gue kecewa saat itu Sean, sangat kecewa. Hingga gue lebih memilih untuk pergi. Kita sudah bersama selama 5 tahun, tapi lo gak bisa percaya sama gue. Sakit Sean, sakit sekali rasanya saat orang yang kita cintai tak mempercayai kita." Delia memegangi dadanya yang terasa sesak. Kecewanya pada Sean, mendorongnya untuk pergi jauh. Dia pikir dengan begitu, dia akan melupakan Sean, tapi nyatanya tak semudah itu.


"Kurang keras Del, usaha lo kurang keras. Kita udah bersama selama 5 tahun, tapi lo masih gak memahami gue. Lo tahu kalau gue itu kayak batu. Harusnya Lo terus berusaha, bukan malah ninggalin gue."


Semua orang disana terdiam mendengarkan pertengkaran mereka. Pertengkaran yang seharusnya sudah selesai 6 tahun yang lalu itu, ternyata masih lanjut hingga saat ini.


"Selesaikan masalah kalian." Rain ingin pergi, tapi Sean manahannya. Sean memegang kedua bahu Rain dan menatap dalam kedua matanya.


"Aku memang tak tahu masalah masa lalumu dengan Sean." Ucap Rain sambil menatap Delia. "Tapi sekarang Sean adalah suamiku. Aku tak masalah jika kau masih mencintai suamiku. Tapi akan jadi masalah jika kau mengganggu suamiku. Aku bukan orang yang akan diam saja saat milikku diusik. Aku bukan orang yang akan diam saja saat kebahagianku dipertaruhkan. Kita sama sama wanita, dan aku yakin, kau bukanlah wanita yang tega menyakiti wanita lain. Kita tak pernah ada masalah Lia. Aku belum ada dikehidupan Sean waktu itu. Dan aku harap, kedepannya juga tak akan ada masalah diantara kita."


Delia hanya diam saja. Dia bukanlah wanita jahat yang ingin menjadi pelakor. Dia hanya masih sakit hati dengan ketidak adilan yang dia terima. Dan saat melihat Sean bahagia, dia merasa tidak terima.


"Maafkan aku jika aku salah waktu itu. Maaf jika aku tak percaya padamu saat itu. Mungkin saat itu aku masih terlalu muda untuk mengambil suatu sikap. Aku terlalu keras kepala." Pada akhirnya permintaan maaf yang keluar dari mulut Sean. Rain juga pernah cerita padanya tentang pengakuan Gaza yang bilang hanya dijebak. Ya, sepertinya Sean mulai percaya jika yang terjadi saat itu hanyalah jebakan.


"Kau sangat cantik Lia. Aku juga percaya jika kau adalah wanita yang baik. Aku yakin kau akan menemukan pria yang baik juga, tapi bukan Sean. Sean adalah milikku, dan kau tak akan bisa mengubah hal itu."


"Kenapa Tuhan tak adil kepadaku? Aku yang menjalin hubungan selama 5 tahun dengan Sean, tapi kau yang menikah dengannya." Delia tertawa ditengah tengah tangisnya. Ya, dia menertawakan takdinya sendiri.


Ya, jodoh memang tak bisa ditebak. Semuanya rahasia Tuhan. Kita tak bisa memilih dengan siapa kita berjodoh. Aku juga menjalin hubungan selama 3 tahun dengan Gaza. Tapi takdir berkata lain, Gaza bukan jodohku, melainkan Sean. Gumam Rain dalam hati.


Semua orang yang tadinya geram pada Delia, berubah menjadi iba padanya. Ya, sebenarnya Delia maupun Sean, keduanya adalah korban.

__ADS_1


"Aku harap, mulai detik ini, semua masalahmu dan Sean telah berakhir. Terima kenyataan jika kalian memang tak berjodoh. Sean milikku, sekarang dan selamanya. Jadi jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku, karena usahamu hanya akan sia sia."


"Maafin gue Rain. Mungkin benar kata Lo, gue dan Sean tak berjodoh. Gue pulang dulu ya Rain." Pamit Delia.


"Mau gue anterin?" Tawar Brian.


"Gak usah Yan, gue bawa mobil kok."


" Ya udah hati hati."


Delia segera mengambil tasnya lalu pulang. Drama malam itu akhirnya berakhir. Dan sekarang tinggal Sean dan Rain didalam kamar itu karena semua sudah keluar.


"Makasih ya beb, kamu udah lebih percaya ke aku. Makasih udah selalu mendukungku." Ucap Sean sambil menangkup kedua pipi Rain. Hatinya terasa sangat lega.


"Kau milikku Sean, dan aku tak akan membiarkan orang lain mengambilmu dariku."


Sean menempelkan keningnya pada kening Rain. tangannya memeluk erat wanitanya itu.


"Tak akan beb, tak akan ada yang mengambilku darimu. Karena hati dan tubuhku sudah menjadi milikmu sepenuhnya." Sean memiringkan wajahnya. Bibirnya mulai menyentuh bibir Rain. Bukannya menyambut bibir suaminya, Rain malah mendorong dada Sean agar menjauh.


"Bersihkan dulu mulut kamu dari sisa perempuan tadi." Sinis Rain sambil melangkah masuk kedalam kamar mandi. "Aku gak mau berciuman denganmu saat masih ada sisa air liur Lia di mulut kamu."


Sean mengehala nafas lalu mengikuti Rain kedalam kamar mandi.


"Habiskan odol ini untuk menggosok gigi kamu." Rain menyerahkan sikat gigi serta odol yang masih hampir penuh kepada Sean.


"Takkan aku harus menghabiskan semua odol ini beb? Masih banyak loh ini?" Tanya Sean sambil menunjukkan odol yang masih hampir penuh itu.


"Aku gak mau tahu, yang penting harus sampai habis. Kalau enggak, jangan harap bisa cium aku apalagi dapat jatah."


BRAKK

__ADS_1


Rain keluar lalu menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.


__ADS_2