
Hari ini Rain periksa kandungan diantar oleh Sean. Alhamdulillah semuanya bagus, kandungannya sehat dan sudah berusia 10 minggu.
"Maaf ya beb, aku gak bisa nganter kamu pulang." Sean melihat jam tangannya. "Aku harus segera ketemu klien. Habis itu langsung ke bandara."
Rain terlihat sedih, bukan karena Sean tak bisa mengantarnya pulang, melainkan Sean harus keluar kota selama 2 hari.
"Jangan sedih gitu, 2 hari doang beb." Sean membelai wajah Rain yang tampak lesu. "Nanti sopir mama bakal nganter Del pulang biar kamu ada temen dirumah."
"Tapi besok ulang tahunku Yank. Tapi kamu gak ada." Rain makin sedih mengingat besok dia ulang tahun tanpa Sean.
"Maaf ya, tapi ini urgen banget beb. Besok kamu rayain sama ayah dan Del aja. Tapi aku janji, nanti malem jam 12 aku telepon kamu. Aku mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke kamu."
Rain mengangguk pelan, rasanya dia tak rela melepas kepergian Sean. Kalau saja dia tidak sedang hamil muda, dia pasti lebih memilih untuk ikut. Sayangnya dokter tak mengijinkannya naik pesawat dulu sebelum usia kandungannya diatas 12 minggu.
"Aku pergi dulu ya, gak enak kalau klien sampai nungguin. Baik baik ya anak papa." Sean mengelus perut Rain lalu mencium lama kening nya.
"Hati hati."
Sean mengangguk lalu meninggalkan Rain di lobi rumah sakit.
Saat berjalan keluar, Rain tak sengaja bertemu dengan Amiara.
"Mbak Rain, apa kabar?" Sapa Amaira sambil memeluk Rain lalu cipika cipiki.
"Baik Ra. Kamu udah kembali ke Jakarta? kok Alan gak pernah cerita?"
"Mbak Rain ngapain kesini?" Amaira mengalihkan topik pembicaraan.
"Periksa kandungan."
"Mbak Rain hamil?" Wajah Amaira terlihat berbinar.
"Iya Ra, anak kedua."
"Kamu ada perlu apa dirumah sakit?"
"Mau ketemu temen kak. Temenku praktek disini." Sebenarnya Amaira kesini untuk bertemu dengan Edward, kekasihnya.
"Kamu udah pernah ketemu Alan setelah pulang ke Indonesia?" Alan memang tak pernah cerita apapun tentang Amaira sejak dia pergi ke Singapura.
"Udah mbak."
"Kamu juga udah tahu kalau Alan akan ke Australia hari ini?"
__ADS_1
"Australia?" Amaira mengerutkan keningnya.
"Jadi kamu gak tahu? Alan dapat bea siswa S2 disana. Sejak kamu ke Singapura, Alan makin semangat belajarnya. Dia pengen memantaskan diri buat kamu Ra."
Amaira bahkan tak tahu menahu tentang rencana Alan ke Australia. Dia juga tak tahu jika selama ini Alan berjuang untuk memantaskan diri menjadi pendampingnya.
Sejak Non Amaira pindah ke Singapura. Hampir tiap hari Mas Alan lewat depan rumah. Dia biasanya berhenti sebentar lalu pergi lagi. Saya hafal sekali sama motornya. Pernah sekali saya sapa. Dia hanya bertanya kapan Non Amaira pulang.
Amaira teringat ucapan Pak Beni security dirumahnya.
"Kapan Alan berangkat ke Australia?"
"Hari ini, sekitar 2 jam lagi." Jawab Rain sambil melihat jam ditangannya. "Ya udah ya Ra, mbak permisi dulu."
"Iya mbak."
Amaira mendudukkan tubuhnya di kursi lobi. Dia mengambil ponsel untuk menelepon Alan. Berkali kali Amaira menelfon tapi tak diangkat. Amaira menatap foto Alan diponselnya, air matanya mulai menetes. Rasanya sakit sekali, seperti Alan akan meninggalkannya selamanya.
...******...
pov Alan
Aku berjalan dibandara sendirian. Aku memang tak mau diantar siapapun karena tak ingin merasakan sedihnya perpisahan dibandara kayak di film film. Ayah dan mbak Rain sebenarnya memaksa mau mengantar, tapi langsung menolak.
Aku tersenyum merutuki khayalan gilaku. Amaira sudah menolakku, masih saja aku gak bisa lupain dia.
"Ayo Al move on. Kejar cita citamu. Kalau kamu sukses, kaya raya, cewek cewek pasti bertekuk lutut padamu." Aku menyemangati diriku sendiri.
Aku berdiri dan mengantri untuk check in. Bandara sangat ramai hari ini. Kayaknya orang Indonesia makin kaya raya, buktinya banyak orang yang ingin bepergian naik pesawat. Terminal aja kayaknya gak seramai ini deh.
"Alan."
Telingaku seperti mendengar seseorang memanggil namaku. Tapi rasanya tak mungkin. Atau mungkin saja ada nama lain yang sama denganku. Maklumlah namaku kan pasaran.
"Alan." Suara itu terdengar makin jelas, makin dekat dan seperti suara yang aku kenal. Daripada penasaran, aku menoleh kebelakang.
"Amaira." Lirihku sambil menatapnya tak percaya. Aku melihat Amaira berlari menuju arahku.
BRUK
Dia menabrakku. Oh bukan, dia memelukku. Aku gak lagi mimpikan? Ini beneran Amaira. Kuberanikan diri menyentuh punggungnya. Ya, ini nyata. Amaira sedang memelukku sekarang.
"Jangan tinggalin aku Al." Ucapnya sambil menangis.
__ADS_1
"Kita minggir Yuk Ra." Aku menggandeng tangannya minggir ke tempat yang lebih nyaman. Rasanya malu diperhatikan banyak orang seperti ini.
"Kenapa kamu gak bilang kalau mau ke Australia?"
"Karena gak penting buat kamu untuk tahu Ra. Kamu sendiri yang bilang kita udah gak ada apa apa. Kamu udah nolak lamaranku."
"Dan kamu nyerah gitu aja?"
"Aku gak nyerah, aku mau ngejar pendidikan biar jadi orang sukses. Siapa tahu jika aku lebih sukses daripada pacar dokter kamu itu, kamu bakal ngelirik aku lagi."
"Aku masih sayang sama kamu Al. Jangan tinggalin aku. Maaf jika aku udah nolak kamu. Aku pikir bisa ngelupain kamu. Tapi nyatanya aku gak bisa Al. Aku masih cinta sama kamu."
Rasanya seneng sekali mendengar Amaira masih cinta sama aku. Aku pikir, dia bener bener sudah move on dari aku.
"Makasih karena masih sayang sama aku Ra. Tapi aku bener bener harus pergi. Aku ingin sukses biar gak dipandang sebelah mata. Aku ingin memantaskan diri untukmu."
"Aku gak peduli tentang semua itu Al. Aku tulus cinta sama kamu." Amaira kembali memelukku.
"Kamu itu princess, dan aku harus tahu diri. Aku bakal ngebuktiin sama keluarga kamu dan semua orang jika aku layak buat kamu. Kita udah pernah berpisah 4 tahun. Rasanya gak sulit jika ditambah 2 tahun lagi." Aku berusaha untuk membujuknya agar tidak sedih. Entah dapat keberanian dari mana, aku tiba tiba mencium bibirnya. Manis sekali, kenyal, sudah lama sekali aku tak mengecap bibir manis itu. Saat aku melepas pagutan bibirku, aku melihat Amaira masih menutup mata. Dia sepertinya sangat menikmatinya.
"Kamu cuma perlu nunggu aku Ra. Gak lama 2 tahun aja. Aku harus segera pergi Ra." Aku melepaskan pelukan Amaira karena aku harus segera check in.
"Aku akan nungguin kamu Al. Australia deket, aku bakal sering kesana buat ngunjungin kamu."
"Dasar anak sultan." Aku mengacak acak rambutnya sambil menyeringai. "Aku tahu duit kamu banyak. Pasti gak sulit kalau mau ke Australia. Tapi jangan sering sering, aku harus fokus belajar. Kerja yang Bener disini. dan satu lagi."
"Apa?"
"Selesaiin masalah kamu sama pacar kamu."
"Ya, aku akan segera putusin dia. Aku gak cinta sama dia. Aku cinta sama kamu Al."
"Alu juga cinta sama kamu Ra." Mungkin ini untuk pertama kalinya aku menjawab ungkapan cinta Amaira. Sejak dulu, berkali kalipun dia bilang I love you, aku tak pernah menjawab I love u too.
"Aku pergi ya Ra." Aku mencium Keningnya lama. Rasaya berat sekali mau pergi. Tapi aku harus pergi. Aku harus buktiin pada dunia kalau aku bisa sukses.
"Hati hati Al." Sekali lagi, aku lihat air matanya meleleh.
"Jangan Nangis." Aku mengahapus airmatanya dengan ibu jariku. "Kamu bilang Australia deket. Anak sultan gak akan kekurangan duit buat kesana." Aku mencoba membuatnya tertawa.
Dia mengangguk sambil tertawa.
"Kamu cantik Ra."
__ADS_1
Wajahnya langsung memerah mendengar pujianku.