
Zainal dan Vivi ikut mengantar Rain pulang. Vivi bahkan menyempatkan mampir disebuah restoran untuk membeli makan siang untuk mereka.
Terlihat seperti keluarga harmonis. Empat orang itu berkumpul dimeja makan sambil menyantap makan siang dan diiringi sedikit canda tawa. Walaupun awalnya Rain merasa sedikit canggung, namun lama kelamaan bisa mulai membaur dengan baik.
Memang benar, tidak ada yang bisa menebak bagaimana alur kehidupan. Beberapa hari yang lalu, semuanya tidak baik baik saja bahkan bisa dibilang hancur. Namun hari ini, keadaan berbalik 180 derajat.
"Sean, papa ingin bicara berdua denganmu." Ajak Zainal. Sean mengangguk lalu mengajak Zainal duduk disofa ruang tengah. Sementara Vivi dan Rain, mereka sedang istirahat dikamar.
"Apa alasanmu ingin keluar dari perusahaan?"
Sebenarnya Sean sudah tahu kalau topik ini yang akan dibahas ayahnya.
"Sean ingin membuka usaha sendiri. Sean ingin belajar hidup mandiri bersama Rain. Hidup dari hasil jerih payah kami berdua, bukan warisan dari papa."
Zaianal geleng geleng kepala sambil tersenyum. Dia seakan tak mengenali anaknya sendiri. Sean yang dulu tak seperti ini. Dia suka sekali berfoya foya menghabiskan uang orang tua.
"Kenapa kau menganggapnya warisan? Kau bekerja diperusahaan. Kau dapat gaji dari hasil kerja kerasmu. Dan terdengar sangat aneh jika anak papa ini tak mau warisan. Sean yang papa tahu suka sekali hidup mewah."
Sean terkekeh mendengarnya. Entah ini pujian atau sindiran.
"Kau yang sudah mengembangkan perusahaan. Walaupun kau baru memimpin perusahaan, tapi papa bisa melihat kemajuan perusahaan. Dan papa sangat mengandalkanmu. Kau harapan papa satu satunya. Apa kau ingin perusahaan yang papa bangun hancur karena kehilangannya pemimpinnya? Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, pikirkan semuanya baik baik."
"Sean dan Rain akan ke labuan bajo untuk beberapa bulan pa. Mungkin 2 hingga 3 bulan. Dokter bilang, Rain mengalami depresi."
Zainal terkejut, dia tak menyangka jika kondisi Rain sampai dititik itu. Rasa bersalahnya makin dalam pada menantunya.
"Papa tahukan kalau Rain mencoba bunuh diri?"
Zainal mengangguk. "Maya sudah menceritakam semuanya."
"Untuk saat ini, Sean ingin fokus pada Rain. Ingin meluangkan waktu bersama lebih banyak dan menata kembali rumah tangga kami. Sean tak ingin kehilangan Rain pa. Sean akan melakukan apapun demi dia. Sean tak mau suatu saat menyesal jika terjadi apa apa pada Rain."
"Kau sudah berubah Sean. Kai sudah dewasa sekarang. Papa bangga padamu." Tutur Zainal sambil tersenyum dan menepuk nepuk punggung Sean.
"Sean takut perusahaan akan terbengkalai karena Sean kurang fokus. Mengingat papa sudah operasi dan sehat, jadi Sean rasa, papa sanggup memimpin perusahaan kembali."
Itulah apa yang ada dipikiran Sean saat ini. Menjadi CEO bukanlah sesuatu yang mudah, janggung jawabnya terlalu besar. Mungkin yang orang lihat, menjadi bos adalah hal yang sangat mudah, tinggal perintah sana sini. Tapi kelangsungan perusahaan sangat tergantung padanya.
"Papa sudah tua, papa ingin istirahat Sean. Papa ingin menghabiskan masa tua dengan tenang bersama mamamu dan anak cucu nantinya."
__ADS_1
Sean bisa paham keinginan papanya. Keinginan yang mungkin ada pada semua orang tua seusia papanya. Usia dimana mereka sudah lelah dengan kesibukan dan ingin menepi untuk mencari ketenangan. Dan sekarang, Sean mulai merasa dilema.
"Bukankah Rain adalah sekretarismu. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama sama lebih lama."
"Tidak semudah itu Pah. Skandal antara Sean dan Rain waktu itu sangat menggemparkan. Dan semua orang masih mengingat hal itu. Rain buruk dimata semua karyawan. Sean tahu mereka hanya baik didepan. Tapi saat dibelakang, mereka menggunjing Rain. Padahal kenyataannya Seanlah yang salah. Sean yang mengambil foto itu dan teledor hingga foto itu tersebar. Tapi Rain yang menanggung malu, Rain yang menjadi bahan cibiran. Bahkan sampai detik ini semua orang dikantor masih mengira jika Rain menjebakku agar aku menikahinya."
Zainal menghela nafas. Dia bisa paham perasaan Sean. Dia tahu kalau anaknya itu ingin menjaga perasaan istrinya.
"Sean tak mau mental Rain down saat mendengar suara suara sumbang dikantor. Mungkin dulu Rain sanggup, tapi untuk saat ini Sean tak yakin. Hidup Rain sangat penuh dengan masalah. Semakin banyak, semakin menumpuk, hingga dia berada dititik terendah."
"Papa bisa paham, tapi tolong pikirkan sekali lagi. Papa bisa kembali keperusahan, tapi tak bisa lama. Papa memberimu waktu satu tahun. Lakukan apa yang kau mau selama setahun ini Sean. Bahagiakan Rain, kembalikan kepercayaan dirinya. Dan papa ingin, setelah itu kau kembali ke perusahaan." Ucap Zainal sambil menepuk pelan bahu Sean.
...******...
Pov Rain
"Sayang aku takut." Tuturku sambil menoleh kearah Sean. Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju lapas.
"Jangan takut, ada aku. Bukankah kau sendiri yang bilang jika tak masalah apapun keputusan ayah." Jawan Sean sambil menggenggam tanganku.
Aku memang pernah berucap seperti itu. Tapi sayangnya, mulut dan hatiku bertolak belakang. Tentu saja akan jadi masalah jika ayah tak mau memaafkanku. Tinggal dia orang tuaku didunia ini, dan aku tak ingin ayah sampai membenciku.
"Jangan takut, ayo." Sean menggandeng tanganku masuk kedalam lapas.
Aku begitu terpukul saat sipir bilang, ayah tak mau bertemu denganku. Hatiku hancur, sebegitu bencikah ayah padaku? Air mataku tak mampu lagi aku bendung.
"Sudah jangan nangis, kita kesini lagi lain waktu." Bujuk Sean sambil menghapus air mataku.
Aku menggeleng, aku harus segera bertemu ayah. Menunda hanya akan membuatku terus dihantui rasa berslaah. "Tapi aku tak tenang jika masalah ini belum selesai Sean."
Sean terlihat berfikir, entah apa yang dia pikirkan aku juga tidak tahu.
"Pak, bisakah anda bilang pada Pak Teguh, jika menantunya ingin bertemu." Ucap Sean pada sipir yang bertugas.
"Tadi saat kau bilang pada sipir, anaknya ingin bertemu, ayah tidak mau menemui. Mungkin saja jika aku yang ingin bertemu, ayah mau." tutur Sean dengan penuh harap.
Ternyata diluar dugaan, ayah keluar menemui kami. Aku melihat matanya sembab. Ya, aku yakin ayah baru saja menangis. Tubuh ayah makin kurus, tulang tulangnya terlihat menonjol.
"Ayah." Lirihku sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Ayah diam saja tak menjawabku. Dia duduk didepan kami, tanpa mau melihat kearahku. Rasanya sakit saat diabaikan seperti ini. Sakit, bahkan lebih sakit daripada saat aku memotong urat nadiku.
"Apa kabar yah?" Tanya Sean.
"Tidak baik."
Jleb, hatiku mencelos mendengarnya. Air mataku makin deras tak terbendung.
"Maafkan ayah." Ucap ayah sambil memegang tangan Sean yang ada diatas meja.
"Dulu ayah kurang suka padamu karena ayah pikir kau pemuda yang tidak baik karena berpacaran sampai melewati batas. Tapi sekarang Ayah jadi tahu kenapa kau melakukan hal itu pada Rain, karena Rain bukan wanita baik baik. Makanya kau berani memperlakukannya seperti itu."
Oh Tuhan, lebih baik aku pingsan saja saat ini, rasanya sakit sekali mendengar ayah bilang aku bukan wanita baik baik.
Aku meremas tangan Sean yang ada dibawah meja. Dia menoleh kearahku, aku yakin, dia paham perasaanku saat ini. Aku memang terus menyembunyikan tanganku dibawah meja, aku tak ingin ayah melihat bekas luka dipergelangan tanganku.
"Jangan bilang seperti itu yah. Rain wanita yang baik. Dia melakukan itu karena terpaksa. Karena dia butuh uang untuk menyelamatkan adiknya. Seperti ayah yang rela membunuh demi menyelamatkan putri ayah. Begitu juga dengan Rain, dia rela menjual sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya demi menyelamatkan adiknya."
Sean memang luar biasa. Disaat bersama teman temannya, dia seperti berandalan, bad boy. Tapi saat dikantor, dia sangat tegas dan berwibawa seperti saat ini. Kadang aku sampai berfikir jika dia punya kepribadian ganda.
"Jadi dari awal kau juga tahu tentang itu? Dan kau masih mau menikahi Rain?" Ayah geleng geleng kepala.
"Karena saya tulus mencintai Rain ayah. Saya tak peduli dengan masa lalunya. Kerena setiap orang punya masa lalu. Saya juga bukan manusia suci yang tak pernah khilaf."
Tadi malam Aku sudah mewanti wanti agar Sean tak bilang pada ayah jika dia yang membeliku waktu itu. Aku tak ingin Sean terlihat buruk dimata ayah. Aku tak ingin Sean dianggap pria hidung belang yang suka beli perempuan.
"Apa kau tak pernah menyesal telah menikahi perempuan yang sudah menjual kehormatanmya demi uang?"
Sean menggeleng. "Sean tidak pernah menyesal. Sean mencintai Rain, dan Sean menerima dia apa adanya. Cinta Sean tak bersyarat, tak mengharuskan Rain menjadi sempurna." Ucap Sean sambil menoleh padaku dan mengeratkan genggaman tangan kami.
"Apa kau pernah menyesal telah melakukan itu?" Tanya ayah sambil menatapku tajam.
"Rain menyesal ayah. Sekali lagi Rain minta maaf, Rain sudah mengecewakan ayah."
"Ayah memang kecewa padamu, tapi ayah lebih kecewa pada diri ayah sendiri. Ayah tak mampu menjadi ayah yang baik untukmu dan Alan hingga kau harus mengorbankan diri. Seharusnya pengobatan Alan adalah tanggung jawab ayah, bukan tanggung jawabmu." Ayah menitikkan air matanya, ingin sekali aku menghapus air matanya, tapi aku tak punya keberanian untuk itu.
"Ayah adalah ayah yang hebat untukku dan Alan. Kami bangga mempunyai ayah. Jadi jangan pernah ayah merasa kecewa pada diri ayah sendiri. Ayah adalah pahlawan bagi Rain dan Alan."
Ya, seperti itulah kenyataannya. Aku sangat bangga pada ayahku. Kalau saja ada kehidupan lain, aku berharap Teguh kurniawan tetap menjadi ayahku.
__ADS_1