Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
SUDAH TERLAMBAT


__ADS_3

Tiga orang perempuan nampak sedang bersenda gurau disebuah cafe. Mereka adalah sahabat yang sudah lama tak bertemu.


"Kebangetan lo Ra, udah 4 bulan di Indonesia gak ngabarin kita. Lo ngapain aja dirumah? semedi?" Protes Viona yang kesal.


"Tau tuh, udah gak nganggep kita temen lagi." Timpal Lala.


"Sorry girls, gue tuh sibuk jadi gak ada waktu buat keluar."


"Halah lo mah alasan, sibuk ngapain cobak sampai gak bisa keluar rumah sama sekali. Gak mungkinkan anak sultan kayak lo sibuk ngepel atau nyuci baju?"


"Gue kerja sekarang, gue jadi manager di perusahaan Kak Arya. Gue juga harus bantu dia kali, bukan cuma minta duit doang."


"Lo udah bener bener berubah ya Ra sekarang. Lo udah dewasa banget, dari cara berfikir sampai penampilan, semua udah berubah. Sumpah, gue aja sampai pangling ngeliat lo, makin cantik aja lo." Puji Viona.


"Makin seksi juga." Sahut Lala.


Ya, Amaira sudah tak seperti dulu lagi. Gadis itu sudah bermetamorfosa menjadi wanita yang cantik dan seksi. Tak ada lagi Amaira si kurus kerempeng seperti triplek.


"Bwt, pastanya enak banget nih. Kalian langganan kesini?" Tanya Amaira sambil menikmati pasta.


"Kita kan bukan penyuka makanan itali kayak lo. Jadi kita gak pernah kesini. Ini juga pertama kali kesini." Jawab Lala.


"Tapi sumpah, enak banget tempatnya, makanannya juga enak. Foto foto Yuk habis ini. Kalian pasti tau tempat ini dari sosmed ya?"


"Jadi lo beneran gak tahu tentang cafe ini?" Selidik Viona.


"Ya gak tahu lah, orang gue baru pulang dari Singapura. Selama hampir 4 tahun, gue gak pernah sama sekali ke Indonesia. Palingan Kak Arya yang main kesana. Emang kenapa dengan cafe ini?"


"Ini cafenya Kak Sean, masak elo gak tahu sih? Bukannya lo juga followernya kak Sean ya? Kak Sean tuh selalu promoin cafenya di ig."


Milik Kak Sean? Apa Alan juga sering kesini? batin Amaira.


Amaira sudah tak menggunakan sosial media lagi sejak pindah ke Singapura. Dia hanya fokus pada pengobatan dan kuliah.


"Kita pulang yuk?" Ajak Amaira, entah kenapa tiba tiba hatinya merasa tak enak.


"Kan belum habis makanannya? lo kenapa sih? Lagian kata lo tadi, temen lo mau nyusulin kesini. Diakan belum datang, ntar dia nyariin gimana?"


"Iya sih." Akhirnya Amaira kembali duduk dan menghabiskan pastanya.


BRUKK


Seorang waitres yang mengantarkan minuman milik Lala terpeleset dan minuman yang dia bawa tumpah mengenai Amiara. Amaira segera berdiri dan membersihkan gaunnya dengan tisu.


"Gimana sih mas, bisa kerja gak?" Omel Lala.


"Hati hati dong, baju saya jadi kotor gara gara kamu." Amaira ikut mengomeli waitres tersebut.


"Maaf mbak, maaf, saya gak sengaja. Saya tadi kepleset."

__ADS_1


"Alasan lo." bentak Viona.


"Beneran mbak, tuh liat saya kepleset tomat." Waitres itu menujuk ke bawah, memang benar dia kepleset karena ada potongan tomat didekat meja Amiara. Amaira jadi teringat kalau dia tadi membuang potongan tomat sembarang.


"Ada apa ini?" Meneger cafe yang melihat keributan itu segera datang mendekat. Waitres itu hanya menunduk, dia takut dipecat.


Betapa terkejutnya ketiga perempuan itu melihat siapa yang datang. Ya, orang itu adalah Alan.


"Alan." Lirih Viona dan Lala bersamaan.


Speechless, seperti itulah Amaira saat ini. Setelah 4 tahun, akhirnya dia bertemu lagi dengan Alan. Dan yang terasa masih sama, jantungnya masih berdegup kencang saat menatap Alan.


Sama hal nya dengan Alan, pria itu bergeming beberapa saat. Dia tak menyangka jika akan bertemu dengan Amaira. Perempuan yang dia rindukan selama 4 tahun ini.


"Maaf Pak, saya tak sengaja menumpahkan minuman ke baju mbak ini." Ucap Waitres itu hingga menyadarkan Alan dari lamunannya.


"Ya sudah pergilah, biar saya yang menyelesaikan urusan ini." Titah Alan pada bawahannya.


"Terimakasih pak." Waitres itu segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa kabar Ra?"


"Baik Al."


"Tolong maafkan karyawanku tadi. Dia tak sengaja. Untuk masalah baju, aku yang akan menggantinya."


Viona dan Lala seolah mengalami dejavu. Dulu dengan cara yang hampir sama Amaira menjebak Alan dan menyuruhnya mengganti bajunya.


"Ra, bisakah aku meminta waktumu sebentar. Aku ingin bicara berdua denganmu."


Amaira bingung mau menjawab, jujur saja dia sangat gugup saat ini.


"Bisakan Ra?"


"I, iya."


Alan tersenyum mendengarnya. Melihat kegugupan Amaira, Alan merasa jika Amaira masih memiliki rasa padanya.


"Kita bicara di atas yuk."


Amaira mengangguk.


"Rara."


Amaira menoleh mendengar suara yang sangat dia kenali itu. Karena hanya dialah satu satu orang yang memanggil Amaira dengan panggilan Rara.


"Udah lama ya beb? Sory gue tadi banyak banget pasien, jadi agak lama." Ucap seorang pria yang baru saja datang.


Mendengarnya memanggil Amira beb, membuat Alan seketika tersadar. Ya, dia sudah terlambat. Amaira bukan lagi miliknya seperti dulu. Empat tahun bukan waktu yang singkat, 4 tahun mampu mengubah perasaan seseorang. Dan pada akhirnya, dia harus menerima kenyataan jika Amaira sudah menjadi milik orang lain sekarang.

__ADS_1


"Siapa dia Ra?" tanya Lala.


"Dia Kak Edward, pacar gue."


Pacar gue, kata kata itu bagai tombak yang langsung menghujam jantung Alan. Sakit, sakit sekali mendengar Amaira menyebut pria lain sebagai pacarnya. Posisinya dihati Amaira sudah tergantikan sekarang.


Disaat yang sama karyawan Alan datang menghampirinya. Dia memberitahunya jika band yang harusnya manggung malam ini tak bisa datang.


"Silakan lanjutkan makan kalian, saya permisi dulu." Ucap Alan lalu pergi bersama karyawannya.


"Duduk kak, kenalin ini temen aku Viona dan Lala." Viona dan Lala segera mengenalkan diri pada Edward dan sebaliknya. "Kakak mau pesen apa?" Tanya Amaira pada Edward yang sekarang duduk disebelahnya. Lala dan Viona masih tertegun, mereka tak mengira jika Amaira sudah berhasil move on dari Alan.


"Kayak kamu aja Ra, kayaknya enak tuh." Jawab Edward sambil melihat piring didepan Amaira.


Amaira segera memesankan makanan untuk Edward.


"Baju kamu kenapa beb?" Edward melihat noda dibaju Amaira.


Amaira diam saja, dia masih kepikiran Alan hingga tak bisa fokus. Lala dan Viona saling tatap, mereka bisa melihat kalau pikiran Amaira sedang tidak disini. Mereka yakin kalau Alan adalah penyebabnya.


"Ra, Rara." Edward menepuk bahu Amaira hingga wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Iya kak."


"Kamu kenapa kok bengong aja. Mikirin apa sih?"


"Eng, enggak ada kok." Amaira buru buru meneguk minumannya untuk mengurangi kegugupannya.


JRENG


Perhatian mereka teralih pada suara petikan gitar. Ditempat yang biasanya dipakai live band, terlihat Alan duduk dengan membawa sebuah gitar.


🎶


Oh ini kisah sedihku Ku meninggalkan dia


Betapa bodohnya aku. Dan kini aku menyesal


Melepas keindahan Dan itu kamu


Tuhan tolonglah aku. Kembalikan dia


Ke dalam pelukku Karena ku tak bisa


Mengganti dirinya Kuakui jujur aku tak sanggup


Sungguh aku tak bisa


🎶

__ADS_1


Tatapan mata Alan terus tertuju pada Amiara. Tapi Amaira terus menunduk sambil meremas jari jemarinya. Hatinya bagai diaduk aduk mendengar lantunan lagu Alan.


Enggak, gak usah ge er Ra. Lagu ini bukan buat kamu, lagu ini bukan isi hati Al. Lagu ini hanya sekedar nyanyian. Sadar Ra jangan baper, batin Amaira.


__ADS_2