
Rain menangis sambil menatap foto Delmar kecil. Ibu mana yang tidak sedih saat putranya yang belum genap berusia 18th, belum bisa dianggap dewasa, terpaksa harus menikah.
"Sudahlah ma, semua akan baik baik saja. Del masih bisa sekolah seperti biasa. Rapikan make up kamu, bentar lagi pengantin perempuan datang." Sean mencoba menenangkan Rain.
Rain hanya mengangguk. Pagi ini akan dilangsungkan akad nikah antara Delmar dan Killa. Mereka hanya menikah siri karena belum 18 tahun. Dan tak ada tamu undangan, hanya keluarga inti saja yang hadir.
Ayah Killa meminta mahar 100juta. Kalau tak mau, mereka akan mengancam akan melaporkan Delmar ke polisi. Keluarga itu seakan memanfaatkan keadaan. Mengetahui Delmar anak orang kaya, mereka justru mengambil kesempatan untuk mendapatkan uang.
Mau tak mau Sean menyetujui. Dia tak mau putra sulungnya berakhir dipenjara. Lebih baik kehilangan uang daripada Del kehilangan masa depan.
"Mbak." Alan menepuk bahu Rain yang sedang duduk disofa ruang keluarga. Pagi ini dia datang bersama Amaira.
"Al, Maira, mana ayah?"
"Ayah ada didepan mbak. Udah mbak jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik baik saja." Hibur Alan.
"Mbak kasian sama Del. Dia masih terlalu kecil untuk menikah. Dan gadis itu, Killa, dia bahkan masih 16 tahun, tapi dia sudah hamil." Rain kembali menangis.
"Sudahlah mbak, mungkin memang seperti ini takdir mereka." Amaira memeluk Rain agar lebih tenang.
"Mbak pikir, hanya kamu satu satunya pria dikeluarga kita yang menghamili anak orang. Ternyata Delmar juga sama." Lirih Rain dengan nada putus asa.
Amaira menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menatap Alan yang terlihat biasa saja. Alan dicap sebagai pria tidak baik karena dirinya. Karena Amaira yang mengaku dihamili Alan.
FLASHBACK
Amaira yang baru pulang kerja terkejut dengan kedatangan Edward dan orang tuanya. Dan ternyata kedatangan mereka untuk melamar Amaira. Dan sialnya, mamanya serta Arya terlihat sangat mendukung hal itu. Keluaganya memang sangat menyukai Edward. Selain dia baik, dia juga mapan dan dari keluarga berada.
Amaira meminta ijin untuk bicara berdua dengan Edward.
"Kenapa seperti ini kak? Bukankah Rara udah bilang kalau hubungan kita udah berakhir. Kita udah putus."
"Aku gak terima diputusin sepihak kayak gitu Ra. Aku cinta sama kamu, dan aku gak mau kita putus." Edward memegang kedua tangan Amaira tapi langsung dihempas oleh gadis itu.
"Tapi aku gak cinta sama kakak. Rara minta maaf jika selama ini hanya menjadikan Kakak sebagai pelarian. Tapi Rara mohon, jangan memperkeruh keadaan seperti ini."
"Mama kamu dan kak Arya sudah menyetujui lamaran ini Ra. Bahkan sekarang mereka sedang mencari tanggal untuk pernikahan kita." Edward kembali memegang tangan Amaira.
Amaira membulatkan matanya. Dia tak mengira jika keluarganya bisa memutuskan sepihak seperti ini. Amaira bingung, dia tak mungkin menikah dengan Edward. Hubungannya dengan Alan sudah membaik, bahkan dia sudah pernah sekali mengunjungi Alan di Australia.
"Ayo kita menemui mereka. Mungkin saja mereka sudah mendapatkan tanggal yang tepat untuk pernikahan kita." Edward menarik tangan Amaira.
"Aku hamil kak."
__ADS_1
Seketika Edward melepaskan tangan Amaira.
"Jangan membohongiku dengan trik murahan seperti itu." Edward sama sekali tak percaya. Selama mereka pacaran, Amaira tak pernah mau melakukan hal lebih selain berciuman. Edward sangat yakin jika Amaira gadis baik baik.
"Aku tidak berbohong, tunggu sebentar." Amaira naik ke kamarnya setelah itu dia kembali menemui Edward.
"Ini." Amaira menyerahkan sebuah test pack dengan dua garis merah pada Edward.
"Ini gila, ini tidak mungkin." Edward yang marah membanting testpack itu kelantai.
"Tapi itu kenyataannya kak. Dan aku tak mau kau bertanggung jawab atas perbuatan orang lain." Amiara mulai meneteskan air matanya.
"Siapa pria itu?" Tanya Edward sambil mencengkeram kedua bahu Amaira.
"Mantan pacarku dulu, dan dua bulan yang lalu, kami balikan."
Edward melepaskan bahu Amiara lalu mengacak acak rambutnya sendiri. Dia frustasi mengetahui wanita yang dicintai hamil dengan pria lain. Edward yang marah segera mengajak kedua orang tuanya pulang. Tak pelak hal itu membuat semua orang bingung.
Mama Amaira mendatangi Amaira di halaman belakang dimana tadi dia mengobrol dengan Edward. Sang mama begitu syok saat melihat benda pipih kecil dilantai. Dan dia makin terkejut saat melihat dua garis merah disana.
"Apa ini Ra, kamu hamil?" Bentak sang mama hingga terdengar sampai telinga Arya. Amaira hanya tertunduk sambil menangis.
"Siapa ayahnya Ra? mama yakin bukan Edward, dia terlihat sangat marah tadi. Siapa Ra, katakan?"
"Alan ma."
Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Amaira.
"Mamah." Teriak Arya. Dia kaget melihat mamanya menampar adiknya. Sejak kecil Amaira tak pernah dikasari. Jangankan ditampar, dicubit saja dia tidak pernah.
Mama Amaira menyerahkan Test pack kepada Arya. Dan seketika wajah Arya mengeras karena marah.
"Maira hamil anak Alan." Lirih sang mama dengan wajah kecewa. Dia sangat malu pada keluarga Edward.
"Bangsat, pria tak tahu diri. Dulu aku sangat mempercayainya, tak kusangka dia menghancurkan adikku." Kedua tangan Arya mengepal erat menahan emosi.
Dua hari kemudian, Amaira terkejut saat melihat Arya menyeret Alan kerumahnya. Wajah Alan terlihat babak belur. Sudah bisa dipastikan jika Alan habis dihajar Arya. Amaira tak habis pikir, bagaimana kakaknya mengetahui alamat Alan di Australia.
"Al, kamu gak papa kan?" Amaira yang cemas segera mendekati Alan.
"Segera masuk kamar," bentak Arya. "Sebentar lagi asisten kakak datang membawa baju dan mua. Kakak akan menikahkan kalian hari ini."
Alan menatap tajam kedua mata Amaira. Dia seakan mencari jawaban dari mata itu. Dia tak paham dengan semua ini. Arya tiba tiba datang ke apartemennya dan menghajarnya habis habisan. Dia disuruh tanggung jawab karena Amaira hamil.
__ADS_1
"Saya ingin bicara berdua dengan Amaira." Pinta Alan.
"Terserah, asal jangan berusaha untuk lari dari tanggung jawab." Ketus Arya sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
Alan segera menarik Amaira ke halaman belakang.
"Aku obatin ya Al luka kamu."
"Aku gak butuh diobatin Ra. Aku butuh penjelasan. Apa ini Ra, jelaskan padaku? Aku tak merasa melakukan apapun padamu. Kalau kau hamil, sudah jelas itu bukan anakku."
"Maaf Al, maafin aku." lirih Amaira sambil tertunduk.
"Kenapa aku yang harus bertanggung jawab Ra. Kenapa kau tega memfitnahku seperti ini. Aku memang cinta sama kamu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya gini sama aku." Alan tak mengira jika Amaira tega memfitnahnya seperti ini. Kenapa dia yang dituduh menghamili disaat dia sama sekali tak pernah melakukan perbuatan diluar batas pada Amaira.
"A, aku gak hamil Al."
"What!" Mata Alan membulat sempurna.
"Aku terpaksa bilang hamil anak kamu karena aku gak mau dinikahin sama kak Edward."
Sebenarnya Amaira hanya pura pura hamil. Dia yang bingung bagaimana cara menggagalkan rencana pernikahan dengan Edward, tiba tiba teringat sesuatu. Ya, dia ingat Test pack yang tadi pagi dipakai oleh Elen sahabatnya yang menginap dirumahnya. Elen hamil diluar nikah dengan kekasihnya.
"Kamu gak lagi bodoh bodohin aku kan Ra?"
"Sumpah Al aku gak hamil. Kalau kamu gak percaya, kita bisa cek kedokter. Aku masih perawan Al. Tolong jangan raguin aku." Amaira memegang kedua tangan Alan. Matanya menatap sendu seakan memohon sebuah kepercayaan.
"Elo beneran gila Ra. Gara gara kebohongan lo, gue yang jadi korban disini. Keluarga lo pasti ilfeel sama gue. Mereka pasti menganggap gue sebagai pria bajingan yamg udah merusak putrinya." Alan melepaskan tangan Amaira lalu menendang kaki meja untuk melampiaskan kekesalannya. Menurutnya ulah Amiara saat ini sudah kelewat batas.
"Sekarang ikut gue buat ngejelasin semuanya ke keluarga lo." Alan menarik pergelangan tangan Amaira dengan kasar.
"Gak mau, aku gak mau. Aku gak mau dinikahin sama Kak Edward. Aku mau nikah sama kamu." Amaira menghempaskan tangan Alan. Matanya mulai berkaca kaca.
Alan menghela nafas frustasi. Dia pikir Amaira sudah berubah menjadi wanita dewasa secara fisik maupun pemikiran. Ternyata dia salah, Amaira tetap seperti dulu. Dia tetap suka bertindak sesuka hati bahkan kadang diluar batas nalar.
"Tapi gak gini juga caranya Ra."
"Jadi kamu gak mau nikahin aku Al? Aku pikir kamu tulus saat ngelamar aku waktu itu. Ternyata kamu tetep kayak dulu. Kamu gak pernah serius sama aku. Kamu gak beneran cinta sama aku." Amaira berusaha menahan air matanya yang hampir meleleh.
"Baiklah, aku gak akan maksa kamu. Ayo kita jelasin semuanya. Aku sudah pasrah Al, mungkin jodohku memang Kak Edward." Amaira melangkah meninggalkan Alan.
.
PART INI SPESIAL BUAT YANG KANGEN SAMA AL DAN AMAIRA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN
TERIMAKASIH