
Hoek hoek hoek
Sean terbangun mendengar suara Rain muntah muntah. Dia segera bangkit dan menuju kamar mandi.
"Kita ke dokter yuk, kamu dari kemarin loh muntah muntah terus." bujuk Sean sambil memijit punggung dan tengkuk Rain.
"Mungkin asam lambungku naik karena stress."
"Makanya kita periksa ke dokter ya. Muka kamu pucey banget."
Rain mengangguk lalu kembali lagi kekamar bersama Sean.
"Mau aku buatkan teh hangat?" tawar Sean.
"Apa kamu bisa?" Rain ragu mengingat memasak mie instan saja Sean gak bisa.
"Jangan terlalu meremehkan suamimu ini. Orang bodohpun bisa kalau hanya membuat teh panas."
"Maaf." Rain memasang wajah bersalah yang terlihat sangat menggemaskan dimata Sean.
Cup
Sean mencium sekilas bibir Rain. "Jangan memasang wajah seperti itu. Kamu sedang sakit, jadi jangan menggodaku."
"Dilihat dari sisi mana aku menggodanya?" batin Rain.
Sean kedapur untuk membuatkan Rain teh hangat. Sambil menunggu air mendidih, Sean menelepon Danu. Dia menyuruh Danu untuk mengahncurkan bisnis bengkel mobil yang baru dibuka oleh Firman. Sean juga menyuruh Danu menyiapkan semua bukti untuk menjebloskan Firman kepenjara.
Dulu Sean pernah mengampuni Firman atas kasus korupsi yang dilakukan di OCE group. Tapi kali ini, dia tak ingin melepaskan Firman untuk yang kedua kalinya. Bahkan Sean juga akan melaporkan masalah korupsi itu agar Firman dijerat pasal berlapis.
"Beb, bangun dulu, minum tehnya." Titah Sean saat dia baru masuk kamar sambil membawa secangkir teh hangat.
"Kenapa lama banget bikin tehnya?" protes Rain.
"Kenapa? kangen?" goda Sean sambil menoel hidung Rain. "Aku tadi sakit perut, jadi pup dulu." Bohong Sean. Padahal sebenarnya dia lama karena menelepon Danu.
"Tapi kamu udah cuci tangankan pas bikin teh? Aku gak mau kalau tehnya bau pup kamu."
"Astaga beb, gitu amat sih, ya udah cuci tanganlah. Kalau gak percaya nih, cium tangan aku." Sean mengarahkan tangannya ke wajah Rain.
Rain terkekeh melihat ekspresi Sean. "Becanda, udah jangan cemberut, nanti gantengnya ilang. Kalau gak ganteng, aku balikan lagi loh sama Gaza."
"Rain." Sean menggeram. "Gak lucu tau." Ucapnya sambil melotot. Rain terpingkal pingkal melihat kekesalan Sean.
"Aku seneng kamu udah bisa ketawa Beb. Mulai sekarang, jangan sedih lagi ya. Lupain yang terjadi kemarin." pinta Sean sambil membelai pipi Rain dengan punggung tangannya.
"Cepetan minum tehnya." Sean menyodorkan teh yang dia pegang pada Rain.
Rain meniup beberapa kali lalu meminum teh buatan Sean. Tapi baru seteguk, dia berhenti.
"Kenapa?" Sean melihat ekspresi aneh diwajah Rain.
"Katanya bisa bikin teh, tapi kok kayak gini rasanya?"
"Emang gimana rasanya?" Sean mengambil teh dari tangan Rain lalu mencicipinya. Sean langsung menyemburkan teh yang baru masuk kedalam mulutnya. Teh itu rasanya sangat asin.
"Sial, gara gara bikin teh sambil telepon Danu aku jadi gak fokus. Aku pasti salah masukin garam," batin Sean.
__ADS_1
"Katanya cuma orang bodoh yang tak bisa bikin teh? Apa termasuk salah satunya?"
Sean menyesal sudah mengucapkan kata kata itu tadi. Andai saja waktu bisa diulang, dia gak akan bilang kayak gitu.
"Aku bikinin yang baru ya?"
"Udah gak usah, nanti garam didapur habis." Ledek Rain.
...*****...
"Gimana dok, istri saya gak papakan?" Tanya Sean pada dokter yang baru saja memeriksa Rain.
"Kalau dilihat dari gejala dan penjelasan istri bapak tentang haid terakhirnya. Kemungkinan istri bapak hamil."
"Hamil?" Sean dan Rain saling berpandangan.
"Beneran dok?" Rain bertanya lagi untuk memastikan. Tangannya langsung mengelus perutnya sambil tersenyum dan berdoa semoga semua ini benar.
"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya nyonya Rain melakukan pemeriksaan di poli kandungan."
Tak ingin buang buang waktu, Sean dan Rain segera ke poli kandungan. Setelah mengantri lama akhirnya datang juga giliran mereka.
"Selamat ya Pak, istri anda hamil 8 minggu." Sean tak bisa menyembunyikan kebahagiaannnya saat mengetahui Rain ternyata hamil.
"Yess akhirnya gue menang." Saking senengnya dia sampai keceplosan bilang menang. Rain yang masih berbaring diranjang sontak menarik pergelangan tangan Sean karena malu.
Dokter dan asistennya melongo mendengar ucapan Sean.
"Menang? menang apa pak?"
"I, itu, menang... " Sean juga bingung mau menjawab. "Memenangkan istri saya dok, dapat hadiah anak." Jawab Sean sambil cengar cengir.
"Pasti akan saya jaga dengan baik dok. Saya suruh rebahan dikamar aja tiap hari biar gak capek." Sean mulai lebay.
"Beneran loh ya rebahan aja dikamar. Jangan diajak olah raga terus kalau dikamar." Dokter itu sengaja mengajak becanda.
Sean menggaruk garuk tengkuknya sambil. tersenyum. "Kalau itu saya gak bisa janji dok. Suka khilaf soalnya."
Rain langsung memelototi Sean yang bicaranya blak blakan.
...*****...
.
Sepulang dari rumah sakit, Sean tak sabar ingin segera memberitahu Leo jika Rain hamil. Dia sangat antusias mengabarkan kemenangannya. Dia memotret foto usg janinnya dan mengirimnya pada Leo.
Gue menang Bro. - Sean.
Busyet, ternyata lo tokcer juga - Leo
Anak gue, anak sultan. Semuanya harus yang serba mahal. Mulai dari persalinan sampai perlengkapan bayi. Persiapin duit yang banyak. - Sean.
Yaelah, itu mah mau lo aja. Bayi mana ngerti mana barang murah atau mahal. - Leo.
Gue gak mau tahu, semua harus serba mahal. Anak gue bisa sawan kalau pakai barang murah. - Sean
Rain yang sejak tadi dicuekin langsung merebut ponsel Sean.
__ADS_1
"Kok aku dicuekin?" protes Rain.
"Sorry, aku tadi lagi chat sama Leo bentar."
"Huft, kamu sayang Leo apa aku?" Rain mengerucutkan bibirnya.
"Ya sayang kamu lah beb. Ngapain sayang Leo, emang aku jeruk makan jeruk."
Rain terkekeh mendengarnya. Sebenarnya dia juga tak marah pada Sean, dia hanya sedang cari perhatian saja dan pura pura ngambek.
"Hai sayang, anaknya papa." Sean mendekatkan wajahnya pada perut Rain. "Sehat sehat ya didalem."
Cup cup cup
Sean mencium perut Rain berkali kali hingga Rain kegelian.
"Udah yang, geli tau." Rain mendorong kepala Sean agar menjauh dari perutnya.
"Semoga saja dengan adanya anak ini, mama bisa menerima aku ya Sean." Rain menaruh harapan lebih pada anak yang dia kandung. Dia berharap kehadiaran bayinya akan mencairkan hati mama mertuanya.
"Pasti, mama dan papa pasti seneng. Ayah kamu juga."
Rain mengangguk sambil meneteskan air mata. Kalau kemarin air matanya terkuras karena sedih, hari ini air mata bahagia yang dia teteskan. Semoga kedepannya hanya akan ada air mata bahagia.
"Tapi...?"
"Tapi apa?" Sean mengerutkan dahinya.
"Bagaimana jika Firman mengadu yang macam macam pada mama? Kemarin dia sempat mengancamku Sean. Aku takut." Perasaan Rain tiba tiba saja tidak tenang.
"Rain, berapa kali aku bilang, jangan pikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Ingat, sekarang kau hamil, jangan sampai stres dan membahayakan janin dalam kandungan kamu."
Rain mengangguk lalu memeluk Sean. Dia sangat menyukai aroma tubuh Sean yang membuatnya merasa tenang.
"Apa kamu menginginkan sesuatu? Biasanya wanita hamil suka ngidam yang aneh aneh." Tanya Sean sambil membelai rambut Rain.
"Aku gak pengen apa apa. Aku cuma pengen meluk kamu terus kayak gini." Jawab Rain sambil mencium leher Sean. Menghirup dalam dalam aroma tubuh yang menenangkannya.
Darah Sean langsung berdesir merasakan hangatnya nafas Rain diceruk lehernya. Sean mendekatkan wajahnya dan menyapukan bibirnya pada bibir Rain. Tapi baru saja kedua bibir itu saling menyapa, Rain segera menarik wajahnya menjauh.
"Kenapa beb?" Sean melihat Rain sedikit gemetar. "Kamu gak lagi trauma kan?" Sean takut jika Rain masih trauma karena perlakuan Firman kemarin.
Sebenarnya memang benar, saat berciuman, Rain teringat kembali Bagaimana Firman menciumnya dengan beringas kemarin.
"See, beb." Sean menangkup kedua pipi Rain. Mata perempuan itu sudah terlihat berkaca kaca.
"Lupakan yang kemarin. Biarkan aku membantumu melupakan itu. Aku akan menghapus jejaknya dan mengganti dengan jejakku diseluruh tubuhmu. Ingatlah percintaan kita, dan hapus perlahan lahan ingatan kemarin."
Rain mengannguk dan mengikuti saran Sean. Dia berusaha memenuhi pikirannya dengan kenangan indah saat bercinta dengan Sean.
"Kau menyukai aroma tubuhku kan?"
Rain lagi lagi mengangguk.
"Aku akan membuat aroma tubuhku menempel diseluruh kulitmu. Rileks beb, nikmati semua sentuhanku. Pejamkan matamu dan nikmatilah." Ucapan Sean mampu membuat Rain seperti terhipnotis dan melakukan apapun yang Sean ucapkan.
Sean mulai menyatukan bibir mereka dengan lembut. Menyapukan bibir dan lidahnya keseruan rongga mulut Rain.
__ADS_1
Rain masih memejamkan matanya dan perlahan lahan mulai menikmati dan ikut hanyut dalam permainan Sean.