Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TAKUT MEMBUKA HATI


__ADS_3

Rain dan Sean memasuki ballroom sebuah hotel mewah. Mereka berdua nampak sangat serasi, yang satu tampan yang satu cantik. Setelah sedikit bertegur sapa dengan para tamu undangan lain, mereka langsung menuju pelaminan.


Ya, hari ini adalah resepsi pernikahan Leo dan Zalfa. Setelah berkali kali meminta petunjuk melalui sholat istikharah, akhirnya Zalfa mantap menerima lamaran Leo.


"Selamat ya." Ucap Rain sambil cipika cipiki dengan Zalfa. Hari ini Zalfa terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih dan hijab senada. "Semoga sakinah mawadah warohmah. Dan semoga cepat diberi momongan."


"Amin... makasih Rain doanya. Aku juga mendoakan hal yang sama untuk pernikahanmu dan Kak Sean." Meraka berdua memang lebih akrab sekarang. Sejak sahabatnya Maya bekerja di luar kota. Rain tak punya teman sampai akhirnya dia kenal dengan Zalfa.


"Selamat ya Bro, akhirnya lo merid juga. Padahal gue pikir lo bakal jadi perjaka tua." Ledek Sean.


"Sialan Lo." Leo menggebuk pelan bahu Sean. "Mana mungkin pria setampan gue jadi perjaka tua. Itu hal yang sangat mustahil."


Sean menyebikkan bibirnya mendengarkan ocehan Leo yang menurutnya terlalu narsis itu.


"Gue udah gak sabar pengen belah duren. Perawan Bro, kayaknya gue bakal gak tidur nih semalaman." Bisik Leo di telinga Sean sambil senyum senyum membayangkan malam pertamanya. Nafasnya bahkan sampai naik turun hanya dengan membayangkannya saja.


"Kasihan sekali bini lo, masih perawan dapet yang udah bekas kayak punya lo."


"Kayak bini lo kagak aja, Lo juga barang bekas, jangan pura pura lupa. Gimana kalau kita taruhan?"


"Taruhan apa?" Sean mengerutkan keningnya. "Taruhan nebak lo kuat berapa ronde ntar malam?"


"Bukan itu." Leo berdecak. "Kita taruhan, siapa yang bakal duluan jadi ayah. Yang kalah harus ngebiayain biaya persalinan sekaligus membelikan semua perlengkapan bayinya." Ucap Leo penuh semangat.


"Halah lagu lo pakai ngajak taruhan. Bilang aja kalau lo gak ada duit buat ngebiayain istri lo lahiran."


Leo terkekeh mendengar ucapan Sean. Bukannya tak mampu membiayain, dia cuma usaha buat dapet gratisan.


"Jadi lo gak berani nih?" Leo tersenyum meremehkan.


"Ish, siapa juga yang takut." Sean pura pura percaya diri padahal dia yakin kemungkinannya untuk menang akan sangat tipis.


"Oke kalau lo berani." Leo segera menjabat tangan Sean sebagai awal perjanjian. "Kalau gue sih yakin bakal menang." Leo begitu percaya diri. Hal itu justru membuat Sean berfikir sesuatu.


"Jangan bilang kalau Zalfa sudah hamil sekarang? makanya dia mau nikah sama lo?" Sean buru buru menarik tangannya yang dibabat Leo. Dia merasa sedang dijebak.


"Ya enggak lah. Bini gue perempuan baik baik, sholehah. Mana mau diajak ml sebelum merid. Yang bener aja lo." Leo yang tak terima dengan perkataan Sean langsung menyangkal dengan bicara agak keras sampai terdengar oleh Rain dan Zalfa.


Kedua wanita itu langsung menatap tajam pada para suaminya. Sekarang mereka tahu topik apa yang sedang dibicarakan mereka berdua.


"Sebel kalau ngeliat mereka kumpul gitu. Aku yakin yang diomongin gak jauh dari masalah ranjang." gerutu Rain sambil memutar kedua bola matanya jengah.

__ADS_1


"Gue yakin bakalan menang karena gue tahu lo puasa tiap hari." Ledek Leo sambil berbisik ditelinga Sean. "Kalau gue, bisa dipastikan bakalan lembur terus tiap malam bikin baby." Leo tertawa puas setelah berhasil mengejek Sean.


"Sialan lo." Sean gantian menggebuk bahu Leo lalu menarik Rain turun dari pelaminan. Dia bahkan tak memberi selamat pada Zalfa saking kesalnya pada Leo.


.


......******......


Selama perjalanan pulang bahkan sampai mereka siap siap tidur, Sean sama sekali tak bicara apa apa. Dia terus menekuk wajahnya. Nampak sekali kalau dia sedang banyak pikiran.


Kata kata Leo sungguh mengganggu pikirannya. Sekarang pernikahannya dengan Rain sudah berjalan 4 bulan. Tapi semuanya masih seperti jalan ditempat, tak ada kemajuan sama sekali.


Rain yang sedang memakai skin care memperhatikan suaminya dari cermin didepannya. Dia merasa aneh melihat Sean yang sejak tadi hanya diam. Biasanya pria itu sangat banyak bicara. Kalau diam pun pasti sedang bermain ponsel. Tapi kali ini, Sean terlihat duduk diam sambil menekuk wajahnya.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Rain sambil merangkak naik ke atas ranjang lalu duduk disebelah suaminya.


"Kita udah empat bulan nikah Rain, tapi masih aja kayak gini. Apa sulit sekali ya untuk mencintai aku?" Sean balik bertanya sambil melirik ke arah Rain.


Sebenarnya Rain sudah mulai mencintai Sean. Hanya saja dia masih bimbang. Dia masih takut untuk membuka hati pada Sean.


"Apa aku benar benar tak pantas untuk dicintai?" Nada bicaranya terdengar seperti orang yang putus asa. Sudah tak banyak lagi waktunya bersama Rain karena wanita itu hanya memberinya waktu 6 bulan.


"Bukan seperti itu Sean. Bukan masalah pantas tidaknya?"


"Aku takut."


Sean mengerutkan keningnya. Menurutnya jawaban Rain sungguh membingungkan.


"Kenapa?"


"Aku takut saat mengingat semua kebiasaanmu Sean."


"Maksudnya?" Sean makin dibuat bingung. Otaknya belum bisa mencerna ucapan Rain.


"Aku takut kau tak bisa setia padaku. Aku takut dengan kebiasaanmu yang suka mencari kepuasan diluar. Aku takut saat kau merasa bosan padaku, kau akan mencari kepuasan diluar. Aku belum siap untuk sakit hati, oleh kerana itu aku tak mau jatuh cinta."


Sean menghela nafas, dia bisa memahami ketakutan Rain. Dia sadar, dia memang bukan orang baik selama ini.


"Kau tak perlu takut. Bukankah selama menjadi suamimu aku tak pernah melakukan hal itu lagi. Walaupun kau tak pernah memberiku apa yang aku mau, aku juga tak ada niat untuk mencari kepuasan diluar." Sean berusaha meyakinkan Rain dengan manatap mata wanita itu dalam dalam.


"Aku hanya menginginkan kepuasan darimu Rain. Dari istriku, bukan dari wanita lain diluar sana. Aku ingin pernikahan yang hangat Rain. Yang mampu membuatku selalu ingin pulang dan menghabiskan waktu denganmu. Aku ingin memiliki anak bersamamu. Menjalani setiap tarikan nafas bersamamu serta menua bersamamu." Sean menggenggam lembut kedua tangan Rain. Menautkan jari jemari mereka dan menciumnya berkali kali.

__ADS_1


Jantung Rain berdegup kencang saat Sean mencium jari jemarinya. Sentuhan bibir lembut Sean mampu membuatnya bergetar.


Rain melihat kesungguhan dimata suaminya. Tapi entah kenapa rasa takut itu masih saja ada. Dia belum bisa percaya begitu saja pada Sean.


"Aku takut tak bisa memuaskanmu seperti wanita wanita panggilan yang sering bersamamu. Aku tak punya kepercayaan diri lebih untuk itu Sean."


Sean memejamkan matanya. Dia sama sekali tak menyangka jika Rain sampai berpikiran seperti itu.


"Kenapa kau berfikir sejauh itu. Jangan terlalu over thinking. Kalau kau seperti itu terus, sampai kapanpun kau tak akan bisa membuka hati untukku. Kau tahu, hanya bersamamu aku bisa merasakan kepuasan Rain. Aku hanya ingin mencapai klimaks bersamamu. Aku hanya ingin memberikan benihku dirahimmu. Sejak menikah denganmu aku sudah tak bernafsu dengan perempuan lain."


"Bohong." Rain menghempaskan tangan Sean yang menggenggamnya.


"Bohong?" Sean Mengerutkan keningnya. Dia merasa tak sedang berbohong. Semua yang dia katakan adalah benar. "Aku berkata yang sesungguhnya Rain. Aku hanya mau kamu, bukan wanita lain. Walaupun kau berdiri diantara seribu wanita didepanku. Mataku hanya akan selalu tertuju padamu."


"Kau lupa dengan yang kau lakukan di apartemen Leo waktu itu? Apa aku harus mengingatkannya lagi." Kenangan itu masih terpatri jelas diingatan Sean.


Sean menghela nafas. "Itu semua ulah Dino. Dino yang memanggil perempuan bukan aku."


"Tapi kau bersenang senang dengan wanita itu, aku melihatnya sendiri. Aku melihat wanita itu menggerayangi tubuhmu. Aku melihat mata terpejam menikmatinya." Mengingat kejadian itu membuat dada Rain menjadi sesak.


Sean menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan.


"Aku mabuk Rain, aku sudah menolak perempuan itu, tapi dia terus menggerayangiku."


"Tapi kau terlihat menikmatinya. Kalau saja aku tidak datang, kau pasti udah bercinta dengannya. Sungguh menjijikkan, membayangkannya saja aku ingin muntah." Rain langsung membuang muka ke arah lain.


Sean menarik kedua bahu Rain agar menghadap padanya. "Semua orang punya masa lalu Rain. Aku tahu masa laluku buruk. Tapi semua orang juga bisa berubah. Kau hanya perlu percaya padaku. Aku mencintaimu, aku hanya menginginkanmu, bukan perempuan lain."


Rain terdiam, dia memang melihat Sean sudah banyak berubah. Apalagi sikap Sean selama ini menunjukka jika pria itu benar benar tulus mencintainya.


"Aku mohon, bukalah hatimu padaku. Jangan memikirkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Aku tak mungkin berpaling pada wanita lain. Kau bisakan menjadi istriku seutuhnya mulai saat ini?"


Rain diam saja, dia bingung harus menjawab apa?


"Aku mencintaimu Rain, aku sungguh sungguh mencintaimu."


Sean mendekatkan wajahnya pada Rain, menempelkan keningnya pada kening Rain. Dari jarak sedekat itu, dia bisa merasakan hangatnya nafas Rain yang menyapu wajahnya.


Sean tak tahan melihat bibir ranum Rain. Rasanya dia hampir gila karena menahan gejolak birahi yang menguasai seluruh tubuh dan pikirannya. Sean memberikan ciuman dibibir wanita yang sangat dia cintai itu dengan sangat lembut.


Jantung Rain seperti ingin lompat dari tempatnya. Sapuan bibir Sean sungguh menggoyahkan pertahannya. Dia seperti merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan selama bersama Sean.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu Rain. Aku sangat menginginkanmu malam ini." Ucap Sean dengan suara serak, pria itu tak mampu lagi menahan hasratnya.


__ADS_2