
"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Sean pada dokter yang baru keluar dari ruangan Rain.
"Alhamdulillah keadaannya baik baik saja pak. Tadi sempat kehilangan banyak darah, beruntung rumah sakit mempunyai stok darah yang sama dengan istri bapak."
"Apa saya bisa melihatnya dok?"
"Silakan, tapi istri anda belum sadar, mungkin sebentar lagi. Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, bisakah kita bicara berdua diruangan saya?" Wajah dokter itu terlihat serius, dan hal itu membuat Sean makin khawatir.
"Baiklah dok, saya akan kesana setelah melihat kondisi istri saya sebentar."
"Silakan."
Keempat orang itu satu persatu mulai masuk keruangan Rain. Hening, tak ada yang bersuara sesuai pesan dokter.
Rain masih belum sadar, wajahnya sangat pucat. Pergelangan tangannya dibalut perban.
Sean tak kuasa menahan air mata melihat kondisi Rain yang menyedihkan. Alan, dia tak berbeda dengan Sean. Dia juga menangis, hatinya sakit melihat kakaknya terbaring tak berdaya kerena kesalahannya.
Maya sampai memalingkan wajahnya saat menatap Rain. Dia sungguh tak tega, hatinya benar benar sakit. Dia tak menyangka jika ucapannya pada Vivi melalui telepon waktu itu bisa berdampak separah seperti ini. Sangat parah bahkan hampir membuat Rain meregang nyawa.
"Din, gue titip Rain bentar. Gue uda gak bisa percaya sama dua orang itu." Sean menatap sinis Alan dan Maya secara bergantian. "Cuman elo yang bisa gue percaya buat jaga Rain. Gue harus menemui dokter."
"Pergilah, Rain aman sama gue." Jawab Dino sambil menepuk bahu Sean.
Sekarang tinggal 3 orang dalam ruangan itu. Dan mereka seperti orang bisu yang sama sekali tak ada niat untuk saling bicara.
"Eh.. " Terdengar suara lenguhan Rain walau sangat pelan.
"Mbak, kamu udah sadar." Tanya Alan yang duduk dikursi sebelah brankar.
"Al...." lirih Rain
"Iya mbak, ini Al." Jawab Alan sambil memegangi lengan Rain.
"Haus."
Alan buru buru mengambilkan Rain air putih yang ada diatas nakas.
Rain mengedarkan pandangannya, dia mencoba mengumpulkan kepingan memorinya. Terakhir yang dia ingat, dia memotong nadinya dengan pecahan gelas, setelah itu dia tak sadar.
"Sean, mana Sean?" Seanlah orang pertama yang dicari Rain. Saat tak sadarkan diri tadi, Rain bermimpi melihat Sean memakai pakaian serba putih dan menangis seperti orang putus asa.
"Kak Sean dengan diruangan dokter kak," jawab Alan.
"Gimana keadaan lo Rain?" tanya Dino yang sekarang sudah berdiri didekat Rain.
"Aku baik baik saja Din, hanya kepalaku yang pusing."
"Syukurlah kalau gitu."
__ADS_1
"Maafin Alan ya mbak, maaf. Semua ini gara gara Alan. Lagi lagi Alan yang menyebabkan mbak menderita. Maaf karena Alan mbak keguguran." Ucap Alan sambil menangis.
"Semua udah takdir Al, jangan nyalahin diri kamu."
"Jangan lakuin hal gila ini lagi. Al gak punya siapa siapa, Al butuh mbak."
"Maafin mbak."
Alan menggeleng gelengkan kepalanya "Mbak gak salah, Alan yang salah."
Sejak tadi, Maya hanya berdiri dipojokkan ruangan. Dia belum berani menyapa Rain.
Setelah cukup lama Rain mengobrol dengan Alan, akhirnya Maya melangkah mendekati brankar Rain.
"Hai Rain." Sapa Maya.
"Hai May." Diluar dugaan Maya, ternyata Rain bersikap biasa saja padanya. Sebenarnya Rain sudah tahu sejak tadi Maya ada disana, tapi dia tak mau menegur sebelum Maya sendiri yang mengajaknya bicara.
"Boleh minta waktumu, aku ingin bicaca berdua denganmu."
Rain mengangguk setelah itu dia menyuruh Dino dan Alan keluar.
Untuk beberapa saat, Maya hanya diam sambil meneteskan air matanya. Dia bingung harus bicara dari mana.
"Kamu mau ngomong apa May?" Akhirnya Rain membuka percakapan.
"Kamu benci ya May sama aku? Aku ada salah apa sih May sama kamu?" Rainpun tak kuasa manahan air mata.
Maya menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah Rain, bukan kamu. Aku udah jahat sama kamu."
"Kamu pasti punya alasan, karena Maya yang aku kenal bukan seorang wanita yang tega mengkhianati sahabatnya."
"Maaf Rain, aku terpaksa."
"Apa maksudmu May, siapa yang memaksamu?"
"Firman."
Rain memejamkan matanya, dia tak mengira jika lagi lagi Firman yang berada dibalik ini semua.
"Firman mengancamku Rain. Dia mengancam akan menyebarkan foto bugilku jika aku tak menuruti maunya. Maaf, demi menyelamatkan diriku, aku mengahacurkanmu. Aku sangat menyesal Rain. Aku benci diriku sendiri."
Maya lalu menceritakan jika dia pernah ada hubungan dengan Firman. Maya yang saat itu tergila gila pada Firman selalu menuruti kemauan pria itu. Bahkan saat Firman memintanya foto bugil, Maya mengiyakannya.
Saat itu Firman berdalih jika foto itu hanya untuk koleksi pribadinya. Nyatanya dia malah mengancam Maya dengan foto itu. Selain foto itu, Firman juga banyak menyimpan video syur mereka berdua.
"Maafkan aku Rain, maaf." Entah sudah keberapa kalinya Maya minta maaf. "Aku janji akan menjelaskan semua ini pada mama mertuamu."
.
__ADS_1
...******...
POV SEAN
Setelah bicara panjang lebar dengan dokter, gue kembali keruangan Rain. Alan dan Dino ada diluar, dan hanya Maya yang bersama Rain.
Entah apa yang mereka bahas, tapi yang pasti, dua wanita itu sama sama menangis. Mereka berdua buru buru menghapus air mata saat ngeliat gue masuk.
"Bisa keluar, gue mau ngobrol ama Rain." Gue terang terangan mengusir Maya. Wanita itu tak menjawab, dia hanya mengangguk lalu keluar.
Gue manatap Rain, sumpah, kasian banget, bisa dibilang mengenaskan. Wajahnya sangat pucat, bibirmu sampai terlihat biru. Matanya merah dan bengkak.
"Sean." lirihnya
Dia manggil gue duluan karena sejak tadi gue hanya menatapnya tanpa bersuara. Gue duduk dikursi yang tadi diduduki Maya.
"Kenapa kamu ngelakuin hal nekat kayak gini?"
Rain hanya diam sambil menatap gue.
"Lo pernah gak sih Rain mikirin gue? Elo itu sebenarnya cinta gak sama gue? Anak kita udah pergi, dan lo mau pergi juga. Terus gue gimana? Pernah gak sih lo mikir tentang itu? Atau jangan jangan elo emang gak pernah mikirin gue?"
Rain menggeleng sambil mencoba meraih tangan gue.
"Aku mikirin kamu Sean, aku cinta sama kamu."
Gue tersenyum sinis mendengar ucapannya.
"Kalau lo cinta sama gue, lo gak bakal mau ninggalin gue. Lo gak bakal bikin gue sedih kayak gini. Cinta gak kayak gitu Rain. Elo mikir gak gimana perasaan gue kalau lo pergi? Hancur Rain, gue pasti hancur. Mungkin gue akan depresi atau gila. Dan mungkin juga gue bakal ikutan mati buat nyusulin lo."
Rasanya pengen banget nangis, tapi tahan, tahan, gue gak boleh cengeng didepan Rain.
Rain memejamkan matanya sambil menangis. Sebenarnya gue kasihan liat dia kayak gini, Tapi gue kecewa, kecewa banget sama dia. Gue pengen dia sadar kalau ada gue, ada gue yang bakal selalu cinta sama dia.
"Elo selalu mikirin apa yang hilang, apa yang pergi dari hidup lo. Tapi lo gak pernah mikirin apa yang elo punya. Elo punya gue, gue akan selalu ada buat lo." Gue keluarin semua uneg uneg gue biar plong dan biar Rain sadar.
"Elo tega banget sama gue. Lo tega mau ninggalin gue. Love yourself, cintai diri lo dulu, baru cintai gue. Kalau elo aja gak bisa mencintai diri lo sendiri, bisanya cuma nyakitin, terus apa lo bisa mencintai gue?"
"Gue sayang banget sama lo Rain, Gue cinta mati. Gue butuh lo, gue butuh lo selalu ada disamping gue."
"Maaf Sean, maaf."
"Lo tuh harusnya bunuh gue dulu sebelum bunuh diri. Atau seengaknya ajakin gue, biar kita mati sama sama." sinis gue.
Gue udah gak tahan lagi, dada rasanya sesek banget. Gue beranjak dan keluar dari kamar Rain. Gue takut gak bisa ngontrol emosi dan ujung ujungnya malah bikin Rain terluka. Lebih baik gue nenangin diri saat ini.
.
Sampetin buat like dan komen ya, terimakasih
__ADS_1