Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TERLALU MENDADAK


__ADS_3

"Jangan becanda Sean, mama tak suka sikapmu yang seenaknya sendiri," bentak Vivi. Wanita paruh baya itu murka saat Sean bilang akan menikah besok.


"Sean gak becanda ma. Sean akan menikah dengan Rain besok pagi. Setuju atau tidak, keputusan Sean tak akan berubah." Sean memang pribadi yang sangat keras seperti papanya. Sejak kecil dia susah diatur, selalu bikin masalah. Tapi dibalik itu semua, Sean sangat cerdas dan pantang menyerah.


"Dia itu anak seorang napi. Jangan bikin malu keluarga."


"Ayahnya membunuh karena menyelamatkan kehormatan putrinya. Seorang seperti itu harusnya disebut pahlawan."


"Hahaha... lucu sekali. Pembunuh tetap pembunuh. Aku kasian sekali padanya, dia menjaga kehormatan putrinya hingga membunuh tetapi putrinya malah jadi wanita murahan."


"Jangan sebut Rain seperti itu ma. Dia calon istriku. Dia bukan wanita seperti itu."


"Kalau bukan murahan apa namanya? demi jabatan dia rela tidur denganmu. Atau jangan jangan dia yang sengaja menyebarkan foto kalian agar kau menikahinya."


"Sean malas berdebat dengan mama. Gak masalah kalau mama dan papa tidak setuju. Sean akan pergi, Sean akan meninggalkan perusahaan," ancam Sean. Sean bukankan orang yang suka diatur. Menurutnya hanya dia yang berhak mengatur hidupnya sendiri.


"Tunggu Sean." Panggil Zainal, papa Sean.


"Apalagi pa, Sean kesini hanya untuk mengabari papa dan mama kalau Sean mau menikah. Sean tak butuh restu kalian. Ini hidup Sean, cuma Sean yang berhak menentukan hidup Sean."


Bukan tanpa sebab Sean menjadi pembangkang. Sejak kecil dia tak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Papanya terlalu sibuk bekerja, mamanya sibuk dengan teman teman sosialitanya. Setiap hari Sean hanya ditemani pengasuh.


Papanya juga terlalu keras mendidik Sean. Sean selalu dituntut untuk menjadi yang nomor satu dalam hal apapun. Karena hal itulah, kadang Sean melakukan cara licik agar menjadi nomor satu.


Sean tak pernah menerima kekalahan hingga dia SMA. Namun sejak kuliah, Gaza selalu berada diatasnya. Hal itu menjadi awal bibit bibit kebenciannya pada Gaza. Dan puncaknya adalah saat Gaza kepergok tidur dengan Delia.


Sean masih ingat saat papanya tak mau datang diacara wisuda karena dia tak menjadi lulusan terbaik. Gelar itu jatuh pada Gaza.


Setelah lulus S2, Sean menolak bekerja diperusahaannya papanya. Tapi karena papanya yang sakit sakitan serta perusahaan kacau akibat ulah sepupunya yang korup. Akhirnya Sean mau bekerja di perusahaan papanya.


Sean lah membuat perusahaan itu bangkit lagi setelah krisis akibat ulah sepupunya. Setelah berhasil membuktikan kemampuannya, papanya akhirnya menyerahkan kursi CEO padanya.

__ADS_1


"Papa tidak melarangmu menikah, hanya saja jangan terburu buru. Pikirkan semuanya matang matang. Jangan sampai kau menyesali keputusanmu."


Rain keburu ditikung orang kalau aku gak buru buru, batin Sean.


"Keputusan Sean sudah bulat Pah. Sean juga sudah bicara pada ayahnya Rain. Semua sudah diputuskan."


"Harusnya kau minta pendapat kami sebelum memutuskan hal itu Sean," protes Vivi.


"Sudahlah mah, Pah, keputusan Sean sudah bulat. Datanglah jika kalian merestui. Jika tidakpun tak apa apa. Dan kalau kalian ingin meminta lagi perusahaan. Sean akan mengembalikannya."


"Baiklah, besok kami akan datang," ucap Zainal dengan yakin.


"Tapi Pah," Vivi masih belum bisa terima.


"Terimakasih Pah, Sean pulang dulu." Sean segera meninggalkannya rumah orang tuanya.


"Kenapa papa setuju, Mama bisa mencarikan calon yang lebih baik untuk Sean."


"Sudahlah mah, sejak kecil kita sudah mengatur hidupnya. Kali ini biarkanlah dia yang memutuskan kehidupannya sendiri. Lagipula jika Sean marah dan meninggalkan perusahaan, siapa yang akan mengurus perusahaan? Papa tidak mau perusahaan yang papa bangun mulai nol, hancur. Cuma Sean harapan kita satu satunya."


"Tapi kinerja Sena sangat bagus mah. Banyak perusahaan yang akan merekrutnya. Dia tak mungkin hidup susah."


Zainal memang sudah berubah sejak menderita kanker. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa memahami situasi, terutama anaknya. Dia merasa bersalah karena sering memaksakan kehendak serta terlalu keras pada Sean.


...*******...


Alan, pria itu menatap jam diponselnya. Sudah jam 10 malam sekarang. Kerena banyaknya masalah keluarga, dia sampai melupakan ulang tahun Amaira.


Alan sudah berencana untuk datang. Tapi saat ingin membeli kado, dia malah mendapat telepon dari Rain kalau ayahnya masuk rumah sakit.


Ditambah lagi tiba tiba kakaknya akan menikah dengan Sean besok. Padahal setahu dia kakaknya mau menikah dengan Gaza, tapi kenapa tiba tiba mau menikah dengan Sean.

__ADS_1


Tak ada yang menjawab pertanyaannya karena Rain dan ayahnya bungkam. Alan merasa ada yang disembunyikan keluarganya.


"Kamu mikirin apa sih Al kok kok mukanya gitu?" Rain bisa melihat kalau Alan sedang memikirkan sesuatu.


"Memikirkan kamu mbak. Memikirkan alasan kenapa kamu tiba tiba mau menikah dengan pria berengsek itu." Alan masih saja dendam pada Sean.


"Jangan bicara seperti itu Al. Dia calon suami mbak. Kamu harus hormat sama dia."


"Tapi apa alasannya mbak? kasih tahu Alan. Alan tahu yang mbak cintai itu Mas Gaza. Tapi kenapa malah nikah sama pria itu." Al malas menyebut nama Sean.


"Jangan terlalu memikirkan alasannya. Kau hanya perlu mendoakan agar mbakmu bahagia Al. Ini sudah menjadi keputusan ayah dan mbak kamu. Jadi hormati keputusan mereka," ucap Maya.


Disini memang hanya Alan yang tidak tahu masalah foto itu. Rain dan ayahnya sengaja menutupi hal itu. Menurut mereka lebih baik Alan tidak tahu.


"Al merasa ada yang kalian sembunyikan dari Al. Apalagi pernikahan ini terlalu mendadak. Jangan jangan." Al menatap Rain intens.


"Jangan jangan apa?" Rain bingung mengartikan kata kata serta tatapan Al.


"Jangan jangan mbak hamil karena diperkosa siberengsek itu."


Rain dan Maya saling memandang mendengar spekulasi Al yang tidak tidak. Kedua wanita itu menganggap Al terlalu buruk menilai Sean.


"Ya enggak lah Al. Mbak gak lagi hamil, Mbak juga gak diperkosa. Kamu terlalu banyak nonton drama jadi pikirannya aneh aneh." Rain akhirnya tertawa karena kekonyolan Alan.


"Kalau memang bukan karena itu. Lalu kenapa tiba tiba mbak mau nikah besok. Ayah juga langsung setuju? Alan jadi makin penasaran."


"Daripada mati penasaran, mending kamu tidur. Besok pagi mbakmu nikah. Jadi besok kita bertiga harus bangun pagi pagi."


"Tapi." Alan masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban.


"Gak semua pertanyaan ada jawabannya Al. Bener kata kak Maya, lebih baik kita tidur." Rain dan Maya segera membereskan meja dan meninggalkan Alan yang masih bingung mencari jawaban.

__ADS_1


Diapartemen, Sean terus membolak balikkan tubuhnya. Dia terlalu bahagia hingga tak bisa tidur. Dia tak sabar ingin segera menikah dengan Rain. Otak kotornya terus saja membayangkan malam pengantin bersama Rain.


Terimakasih bagi yang sudah mau membaca novel saya yang receh ini. Kalau berkenan mohon disempatakan jempolnya untuk menekan like.


__ADS_2