
Pov Sean.
Gue kesel banget sama Rain. Bisa bisanya dia nolak gue. Padahal dia istri gue sekarang, bukannya udah kewajibannya buat melayani gue.
Sebenarnya sih bisa aja kalau gue maksa dia. Toh dia juga gak bakal bisa ngelawan gue. Secara badan gue lebih besar dari dia. Tapi entah kenapa gue gak tega mau maksa dia.
Yang paling bikin gue makin kesel. Rain masih aja mikirin Gaza. Padahal Gaza udah campakin dia. Walau gara gara gue juga sih, eh ralat , gara gara Rain sendiri.
"Lo kenapa sih Sean? ada masalah?" tanya Brian.
"Kepala gue pusing Yan, cenut cenut, kayak mau pecah." Jawab gue sambil terus minum.
"Kepala atas apa bawah Bro?" ledek Dino yang memang otaknya selalu mesum.
"Dua duanya, gue lagi ***** nih."
"Cih, ***** tuh cari cewek, bukannya mabok gak jelas kayak gini. Mau gue cariin?" Gue diem aja, entah kenapa sejak ketemu Rain, gue udah gak nafsu dengan cewek manapun.
Kita berempat sedang ada di apartemen Leo. Tempat ini memang udah biasa jadi tempat seneng seneng kita. Tapi kali ini cuma gue yang mabok berat. Leo sama sekali gak minum. Dia sih katanya mau tobat. Tapi gue gak percaya sama tuh anak.
Kalau Brian sama Dino ikut mabok walau gak separah gue. Dua orang itu pantang ngeliat ada minuman gratis.
Ting tong ting tong
Leo buru buru buka pintu saat mendengar suara bel. Setelah itu gue ngeliat dua orang cewek masuk bersama Leo.
"Siapa yang manggil cewek?" tanya gue penasaran.
"Gue yang manggil. Gak enak mabok gini gak ada yang nemenin."
"Tumben lo ada duit buat manggil cewek?"
"Hehehe.. pakai duit lo."
"Maksudnya?"
"Pas lo ngasih atm buat beli minuman. Gue sekalian narik uang buat manggil cewek."
__ADS_1
"Sialan lo, jadi lo ngerampok atm gue." Pengen sekali gue ngelempar botol ke kepala Dino. Tapi gue gak tega kalau inget ibunya yang baik ke gue.
"Kalian bertiga emang gila. Gue mau insyaf malah kelakuan kalian kayak gini diapartemen gue. Ini terakhir kalinya, lain kali gue gak mau kalian kayak gini lagi disini." Leo ngomel ngomel kayak orang bener. Padahal dulu dia sama saja. Tapi sejak kenal dengan Zalfa si gadis berhijab, kelakuannya jadi berubah drastis.
Ceramahnya bagai angin lalu buat kami bertiga yang lagi mabok. Ditambah lagi dengan datangnya 2 cewek, kelakuan kita makin menjadi.
Dret dret dret
"Sean, ponsel lo bunyi tuh dari tadi," teriak Leo.
Gue gak mempedulikannya sama sekali. Dari tadi gue juga tahu kalau Rain telepon terus, tapi gue males mau jawab. Gue masih kesel sama dia.
"Hallo." Gue lihat Leo ngejawab panggilan di ponsel gue. Entah apa yang dia omongin gue gak denger karena Brian nyetel musik kenceng.
...*****...
Rain terbelalak saat memasuki apartemen Leo. Tubuhnya gemetaran, dalam hidupnya baru kali ini dia melihat pemandangan seperti ini.
Dia melihat seorang pria yang tak lain adlaah Brian dan wanita sedang berhubungan badan.
Dan yang lebih membuatnya syok, dia melihat Sean yang hanya memakai ****** ***** kondisi setengah sadar sedang bersama seorang wanita.
"Lepaskan dia, dasar wanita murahan." Rain menarik tangan wanita yang sedang berusaha melepas celana Sean.
"Siapa lo, dateng dateng main maki maki aja. Lo panggilan juga? tuh layanin dia. Sean jatah gue malam ini," ucap merempuan itu sambil menunjuk ke arah Dino.
"Ayo pulang Sean." Rain menarik tangan Sean yang seperti sudah tak sadarkan diri itu. Sean terlalu banyak minum hingga dia teler.
"Sean, bangun, ayo pulang." Rain tetap berusaha menarik Sean walau usahanya sia sia. Tubuh Sean terlalu kuat untuk ditariknya.
"Apa apaan sih lo. Dateng dateng main ganggu gue ama Sean aja," bentak wanita itu.
"Hai cantik, ngapain narik narik Sean. Mending sama gue aja. Sean udah jatahnya Lula." Dino menarik tangan Rain hingga wanita itu jatuh kepelukannya.
"Lepas, lepaskan." Rain teriak sambil memukul mukul Dino.
"Elo." Dino memperhatikan wajah Rain dengan seksama. Walau mabuk dia masih bisa mengenali Rain. "Elo sekretarisnya Sean kan? iya gue inget sama lo. Jadi Sean nyuruh lo kesini buat nemenin kita?" Dino segera membalikkan tubuh Rain hingga posisinya berada tepat dibawah Dino.
__ADS_1
"Lepas. Sean, tolong gue Sean." Rain meronta ronta agar bisa terlepas dari kungkungan kedua tangan Dino. Rain merasa mual dan pusing saat mencium bau alkohol yang sangat menyengat diruang itu.
"Gak usah manggil manggil Sean. Dia udah teler, percuma dia gak bakal denger. Mending kita seneng seneng aja."
Dino berusaha mencium bibir Rain. Tapi Rain terus berusaha menghindar dan berteriak teriak memanggil Sean.
"Sean... Sean.... tolong aku Sean.... "
Samar samar Leo seperti mendengar suara teriakan minta tolong. Untungnya kerena ada telepon, Leo tadi sempat mengecilkan volume musik di ruangan itu.
"Sean...... to." Rain tak mampu berteriak lagi karena Dino mencium bibirnya.
Bugh bugh bugh.
Dino terpental ke lantai saat Sean memukulnya bertubi tubi. Ternyata walaupun setengah sadar, Sean masih bisa mendengar teriakan Rain memanggil namanya dan meminta tolong.
"Bangs*t lo, beraninya lo nyentuh istri gue. Lo mau ngelecehin istri gue didepan gue, setan lo." Sean memaki maki sambil terus memukuli Dino.
"Udah Sean, udah." Brian dan Leo berusaha menghentikan Sean yang kesetanan.
"Lepasin gue, gua bakal bunuh tu setan." Sean berusaha melepaskan tangan Brian dan Leo.
Dino terseok seok berlari ke kamar untuk menyelamatkan diri.
"Maafin gue ya Rain, gue tadi ada telepon. Gue gak tahu kalau Dino mau ngelecehin lo. Ayo gue anter pulang. Yan, lo urus cewek cewek ini. Suruh mereka pulang."
Leo dan Rain memapah Sean hingga masuk kedalam mobil. Sean mabuk berat hingga jalan saja dia terjatuh terus. Tapi saat menghajar Dino, dia terlihat kuat, Leo sampai geleng geleng kepala.
"Jadi kalian udah merid?" tanya Leo saat dalam perjalanan menuju apartemen Sean.
"Iya, tadi pagi kami menikah."
Ada apa ya? pengantin baru bukannya enak enak dikamar malah mabok mabokan ditempat orang sambil nyewa cewek, gumam Leo dalam hati.
Setelah mengantar Sean hingga kamarnya, Leo pamit pulang pada Rain.
Rain menitikkan air mata melihat Sean terkapar diatas ranjang. Ini tak seperti Sean yang biasa dia lihat. Sean yang cool dan berwibawa. Rain seperti melihat orang lain.
__ADS_1
Tadi saat teleponnya dijawab Leo. Leo memberitahukan kalau Sean sedang ada diapartemennya. Setelah mendapat alamatnya, Rain segera menyusul karena merasa bersalah pada Sean. Bagaimanaun, penolakannya tadi siang adalah kesalahan kerana sekarang Sean sudah sah menjadi suaminya.