Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
RUMAH IMPIAN


__ADS_3

"Sayang, kenapa pakai tutup mata segala sih?" Keluh Rain.


Ya, hari ini mereka pulang ke Jakarta. Dan saat di taksi, Sean memaksa menutup mata Rain menggunakan kain yang sudah dia persiapkan dari rumah.


"Udah nurut aja." Tutur Sean sambil menggenggam tangan Rain lalu menciumnya.


"Sebenarnya aku mau dikasih surprise apa sih? Aku penasaran deh?"


"Coba aja tebak, kira kira aku mau ngasih kamu surprise apa?"


Rain mengetuk ngetukkan telunjuknya di pipi sambil berfikir.


"Emas." Tebak Rain.


"Emas?" Sean mengerutkan keningnya. "Buat apa aku ngasih kamu emas. Kamu kan udah punya eMas Sean yang lebih shining dari pada emas batangan." Goda Sean sambil mencubit pipi Rain.


"Ya kali aja Yank. Soalnya tadi aku liat di you tube. Ada artis yang ngasih istrinya emas 6kg. Kali aja kamu terinspirasi dari itu."


"Hahaha.... aku gak suka nyontek beb. Coba deh tebak yang lain."


Rain kembali perfikir kira kira surprise apa yang akan dia dapat. Dan akhirnya,


"Aku tahu yank, kamu buatin aku pesta pernikahan kan?" Tebak Rain penuh semangat. Dia pikir kali ini tebakannya pasti betul.


"Astaga beb, pengen banget ya pesta pernikahan? Sampai nebaknya ke arah situ." Sean geleng geleng kepala.


"Ya kali aja yank. Foto prewednya kan udah. Bulan madu udah. Dan malam pengantin juga udah. Tinggal pestanya aja yang belum."


Sean terkekeh mendengarnya. Dulu Sean yang ingin sekali pesta, tapi Rain tak mau. Sekarang malah ngerap dibikinin pesta.


"Btw, pernikahan kita nih lucu banget ya beb. Urutannya amburadul, gak jelas. Ijab qobul udah lama. ML tiap malem. Hamil juga udah. Tapi baru prewedding dan honeymoon. Dan sekarang, kamu malah ngarep pesta pernikahan. Apa belum expired beb, udah mau setahun lo ijabnya?" Sean sampai senyum senyum sendiri memikirkan perjalanan pernikahannya dengan Rain.


"Jadi tebakanku salah lagi ya?" Rain mendengus kesal lalu mengerucutkan bibirnya.


"Udah gak usah nebak lagi. Makin ngawur tebakan kamu. Udah sini rebahan dibahunya Mas Sean, entar kalau udah sampai mas kasih tahu."


Rain seketika mencubit lengan Sean sambi terkekeh. "Apaan sih MAS? geli tau yank."

__ADS_1


"Manggil suaminya mas kok geli. Aneh kamu beb. Geli itu kalau kayak gini." Sean menggelitik pinggang Rain hingga wanita itu menggeliatkan geliat kegelian sambil terbahak bahak.


Supir taksi sampai senyum senyum sendiri gara gara baper mendengar obrolan mereka.


"Ampun mas, geli... " Ucap Rain sambil memegang tangan Sean agar tak menggelitikinya lagi. "Ampun Mas, adek geli." Ucap Rain sambil terus tertawa.


Sean pun ikut tertawa mendengar ucapan Rain. Terdengar sangat aneh memang saat Rain memanggilnya mas. Adek? sumpah, seumur hidup Sean tak pernah terpikirkan akan memanggil pasangannya dengan sebutan adek.


Akhirnya taksi yang mereka tumpangi berhenti. Sean menuntun Rain keluar karena matanya masih ditutup. Setelah taksi yang mengantar mereka pergi. Sean segera membuka penutup mata Rain.


Rain membuka mata perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya. Dia mengerjab ngerjabkan matanya dan menguceknya beberapa kali.


"Kita dimana yank?" Tanya Rain saat melihat sekitarnya yang terasa asing. Ya, sekarang dia tengah berdiri disebuah halaman sebuah rumah. Rumah tingkat dua bercat putih yang tak terlalu besar. Halaman yang luas dengan begitu banyak tanaman serta beberapa pohon yang membuatnya terlihat begitu asri.


"Selamat datang dirumah baru kita."


Rain melongo dengan mata terbuka lebar. Seketika dia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ini benaran yank? Ini rumah kita?"


"Beneran beb, ini rumah kita. Rumah Tuan dan Nyonya Kalandra."


"Kamu suka?" Tanya Sean sambil melepas pelukan Rain lalu memegang dagunya.


"Hem." Rain mengangguk lalu kembali memeluk Sean.


"Terimakasih Sayang, terimakasih karena sudah mewujudkan rumah impianku."


"Masuk kedalam yuk. Emang kamu gak penasaran sama isinya? Dibelakang rumah halamannya juga sangat luas loh. Bisa banget buat play ground keempat anak kita nanti." Tutur Sean sambil menggandeng Rain masuk kedalam rumah baru mereka.


Rain terus tersenyum melihat interior dalam rumah. Tak terlihat kesan mewah didalamnya, tapi terkesan sederhana dan hangat. Rumah seperti inilah impian Rain. Rumah itu sudah siap huni. Semua perabotannya sudah lengkap.


"Maaf ya beb, sebagian furniturenya aku ambil dari apartemen kita dulu. Masih bagus, jadi aku pindahin kesini. Cuma beberapa yang kurang aja aku beli yang baru."


"Gak papa yank, aku suka sekali rumah ini. Aku pasti akan sangat betah disini." Senyum terus mengembang dibibir Rain. Dia memang sangat menyukai rumah barunya ini. Banyak sekali kaca dirumah ini sehingga memudahkan sinar matahari masuk. Jadi saat siang seperti ini, mereka sama sekali tak perlu menyalakan lampu.


"Ke atas yuk liat kamar kita."

__ADS_1


"Kamu gak lagi mau ngajak aku ML kan Yank?"


"Astaga beb." Sean mendorong kepala Rain menggunakan telunjuknya. "Otak kamu terlalu mesum. Ya kali aku ngajak ML setelah perjalanan jauh. Aku tau lah kamu masih capek."


Rain langsung ketawa dan membenamkan wajahnya didada Sean. Wajahnya memerah karena malu, maka dari itu dia bersembunyi di dada bidang suaminya.


"Kamu lagi pengen ya?" Bisik Sean ditelinga Rain. "Tahan dulu beb, entar Malem aja kita perawanin ranjang barunya." Goda Sean sambil menyeringai kecil.


"Kamu beli ranjang baru Yank?"


"Hem, biar kita makin semangat bikin baby." Jawab Sean sambil menarik tangan Rain menaiki tangga ke lantai dua.


Rain sangat takjub melihat kamarnya. Rumahnya memang terkesan sederhana. Tapi kamar utamanya sangat besar dan mewah. Sean sengaja merenovasi bagian kamar, agar lebih luas. Dua ruangan dia jadikan satu untuk kamar mereka. Dan karena itu, rumah yang harusnya memiliki 3 kamar di lantai atas, jadi. tinggal 2 kamar saja.


"Besar banget Yank, mewah lagi. Udah kayak kamar president suit di hotel hotel. Kamar mandinya juga mewah banget." Ini jauh lebih bagus daripada kamar mereka di apartemen.


"Ini area spesial buat kita. Jadi aku buat seistimewa mungkin. Aku pengen kamu betah berlama lama didalam kamar. Biar kamu gak ngerasa capek walaupun sepuluh ronde." Goda Sean sambil terkekeh.


"Itu sing emang tujuan utama kamu yank."


"Tapi kamu sukakan? Udah keliatan tuh si wajah kamu kalau gak sabar pengen buru buru Malem." Lagi lagi Sean menggodanya.


"Ish, apaan sih." Rain mencubit pinggang Sean yang sejak tadi terus terusan menggodanya.


"Blushing pipi kamu beb."


"Apaan sih." Teriak Rain kesal sambil menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Setelah puas melihat kamar, mereka menuju halaman belakang. Disana ternyata lebih luas dari halaman depan. Hamparan rumput yang hijau membuat siapapun yang menatap merasa damai.


Ya, rumah itu sederhana. Jadi tidak ada kolam renang. Hanya ada hamparan rumput hijau dengan beberapa pohon palem, mangga dan beberapa bunga. Disudut halaman juga ada gazebo, kolam ikan dan ayunan.


"Luas banget Yank, aku suka."


"Tapi entar kalau anak kita udah empat, gak akan seluas ini lagi beb. Kita harus membangun kamar karena hanya ada 2 kamar serta 1 kamar pembantu dirumah ini." Ucap Sean sambil memeluk Rain dari belakang dan meletakkan dagunya dibahu Rain.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih


__ADS_2