Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
SANG PENOLONG


__ADS_3

Selepas magrib, Sean, Dino, Leo dan Brian sibuk mempersiapkan acara barbeque. Ribet sih, karena bisa dibilang mereka amatiran. Gak pernah bikin pesta kayak gini. Dulu kan kalau pesta pasti mabok ples nyewa cewek. Tapi masa masa itu udah berlalu.


Kalau kata Sean dan Leo sih, mereka udah insaf. Pengen ketemu malaikat Ridwan disurga.


Rain dan Zalfa masih didapur mempersiapkan daging dan lainnya yang bakal mereka panggang.


"Beneran ini minumannya?" Dino mengangkat botol soft drink berukuran besar sambil mengernyitkan keningnya.


"Terus Lo maunya apa? Ber atau vodka gitu? Bisa dipenggal gue ama bini gue kalau ada minuman kayak gitu." Omel Leo sambil meletakkan tangannya di leher.


"Udah bro terima aja seadanya. Daripada ntar lo diserang lagi sama emak emak." Sahut Brian sambil terkekeh.


"Genk kita nih ya, misalkan tangan, tinggal sebelah coi. Udah lumpuh, udah gak sejalan kayak dulu." protes Dino. Sejak merid, Sean dan Leo emang udah jarang kumpul. Udah gak bisa diajak Have fun kayak dulu lagi.


"Genk kita nih ya, cocoknya dikasih nama fakboy insaf." Seloroh Dino.


"Emang lo udah insaf?" Leo menyebikkan bibirnya.


"Gue belakangan aja, nungguin Brian duluan."


"Kelamaan nunggu gue. Takutnya elo udah disamperin malaikat Izrail duluan."


"Amit amit, kebangetan doa lo Yan." Bentak Dino sambil melempar botol kecap ke arah Brian.


"Terus lo maunya gimana? Gak mau temenan sama kita lagi?" tanya Sean sambil mengambil gitar dan duduk santai. Dia mah tuan rumah, nyantai aja. Biar para tamu yang sibuk. Kebalik gak sih?


"Ya mau lah bro. Gue kan masih butuh duit lo." Jawab Dino dan langsung dilempar sandal oleh Sean.


Obrolan mereka berhenti tatkala Rain dan Zalfa keluar sambil membawa daging, sosis dan bumbu barbeque.


Brian dan Leo dengan sigap mengambil alih barang bawaan mereka dan mulai memanggangnya.


Sean segera menarik Rain agar duduk disebelahnya. Begitu pula dengan Leo, dia menyuruh Zalfa duduk saja agar tidak capek. Sedangkan dirinya, dengan sigap memanggang daging dan sosis untuk istrinya yang lagi hamil itu.


"Mau gue nyanyiin apa beb?" Tanya Sean sambil merangkul pundak Rain.


"I like you u so much, you'll khow it." Jawab Rain tanpa berfikir lagi. Dia memang sangat menyukai lagu itu. Rasanya lagu itu cocok sekali dengan perasaanya saat ini.


"Gak hafal beb."


"Aku yang nyanyi, kamu main gitar aja."


"Siap."


Sean langsung memetik gitar mengiringi nyanyian Rain.


Love you every minute, every second


Love you everywhere and any moment


Always and forever, I know


I can't quit you 'cause


Baby you're the one


I don't know how

__ADS_1


Love you 'til the last of snow disappears


Love you 'til the rainy day becomes clear


Never knew a love like this


Now I can't let go


I'm in love with you


And now you know


Hati Sean rasanya meledak ledak mendengarkan lantunan lagu Rain yang dia bilang spesial buat Sean. Sean sampai tak berhenti tersenyum saking senangnya. Kalau saja gak ada para pengganggu ini, Sean pasti udah narik Rain ke dalam kamar.


Setelah Rain selesai nyanyi, Sean segera meletakkan gitarnya dan langsung mencium Rain. Dia sama sekali tak peduli dengan beberapa pasang mata yang terus menatap mereka.


Mereka berhenti saat kehabisan nafas, tapi setelah itu lanjut lagi saling berciuman. Saling *******, menghisap dan membelit lidah satu sama lain. Keempat penonton hanya bisa melongo sambil geleng geleng kepala.


"Dunia milik berdua woi, yang lain ngontrak." Seru Brian sambil membalik daging yang dia panggang.


"Elo kenapa Din, kok speechless kayak gitu? Jangan bilang lo lagi nginget inget saat ciuman sama Rain ya?" Ledek Leo sambil terkekeh.


"Bacot lo. Kalau kedengaran Sean bisa mati gue. Lo inget sendirikan gimana dia ngehajar gue waktu itu." Dino merinding mengingat saat dia dihajar Sean sampai hampir mampus.


"Sumpah, selama gue hidup, belum pernah tuh ciuman selama mereka. Bahkan di film bokep pun gak selama itu. Kayaknya perlu dikasih penghargaan mereka." Seloroh Brian yang sejak tadi terus fokus menatap Rain dan Sean hingga sosis yang di panggang gosong.


Tapi yang dibicarakan seolah tak sadar diri. Mereka larut dalam kenikmatan yang mereka berdua ciptakan.


"Yang aku pengen kayak mereka." Leo menatap Zalfa lalu menunjuk dagu ke arah Sean dan Rain.


"Apaan sih." Bukannya dapat ciuman, Leo malah dapat pelototan tajam dari Zalfa.


Sean dan Rain segera menghentikan aktifitas panas mereka dan segera beranjak untuk menyelamatkan diri.


"Hahahaha." Suara gelak tawa keempat sahabatnya sontak membuat Sean dan Rain kebingungan. Ternyata mereka cuma di prank.


"Sumpah, kalian berdua parah banget." Brian geleng geleng. "Couple terpanas tahun ini."


Muka Rain sontak merah padam mendengar ledekan Brian. Tapi beda halnya dengan Sean. Dia seakan tak peduli dan malah memeluk pinggang Rain dari belakang dan menciumi lehernya.


"Ngiri, bilang aja." Tutur Sean dengan santai.


"Ngiri Sean, ngiri banget gue. Jiwa jomblo gue meronta ronta." Seloroh Dino.


Leo yang selesai memanggang sosis, langsung memberikannya pada Zalfa. "Makan yank biar baby kita gak kelaparan. Kamu kan suka sosis." Zalfa dengan senang hati menerima lalu memakannya.


"Rain lo mau juga?" Tawar Dino. Sejak tadi dia memang membakar sosis. Dan udah pada mateng.


"Rain gak suka sosis itu, dia sukanya sosis gue." Sahut Sean.


"Aku mau yank." Rengek Rain sambil mendorong kepala Sean yang sejak tadi sibuk memberi kissmark dilehernya.


"Tuh kan bini lo laper. Lo sih dari tadi cuma sibuk nyipok mulu. Keturunan Robert pattinson lo?" Ledek Dino sambil menusuk sosis menggunakan garpu dan memberikannya pada Rain.


"Perhatian banget lo ke istri gue?" Tanya Sean dan langsung membuat Dino salah tingkah.


"Lebay lo, gitu aja cemburu." Maki Dino.

__ADS_1


"Kita main truth or dare yuk. Dah lama banget gak main itu." Ajak Brian. Dulu saat kuliah, itu adalah permainan kesukaan mereka.


"Yuk, aku pengen banget main itu." Jawab Rain antusias.


"Ya udah, habis makan kita main truth or dare." Saran Leo dan disetujui mereka semua.


Saat mereka tengah menikmati makanan, tiba tiba terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Rain segera menuju halaman depan untuk melihat tamu yang datang.


"Kenalin nih, Lia. Yang aku ceritain tadi siang. Yang nolong aku sama Zalfa di pasar." Ucap Rain sambil menggandeng lengan Lia.


Deg


Wajah keempat pria yang tadi makan sambil bersenda gurau langsung menegang melihat tamu yang datang.


"Huk huk huk." Dino langsung tersedak daging. Sedangkan Sean, tanpa sadar dia menjatuhkan sosis yang dia pegang.


"Kok langsung pada diem?" Rain mengerutkan keningnya. "Ayok Lia, aku kenalin sama mereka." Rain menarik tangan Lia mendekat ke arah meja tempat mereka berkumpul.


"Yang paling ganteng itu suami aku, namanya Sean." Ucap Rain sambil menunjuk ke arah Sean.


"Lia." Lia mengulurkan tangannya pada Sean.


"Sean." Sean, menjabat tangan Lia dengan sedikit gugup.


"Ini suaminya Zalfa, kak Leo. Yang itu kak Brian dan Kak Dino." Rain memperkenalkan mereka satu persatu.


"Lia." Lia mengulurkan tangannya kepada Leo lalu yang lainnya.


Ketiga pria disana menatap Sean dengan tatapan absurd. Dan hal itu rupanya disadari oleh Zalfa.


"Kalian udah kenal sebelumnya sama Lia?"


Bukannya menjawab ketiga pria disana kompak menatap Sean. Mereka seolah bertanya jawaban apa yang harus mereka katakan.


"Enggak, kita gak kenal." Jawab Sean dengan muka tegang.


"Kok pada tegang gitu sih mukanya? Pada terpesona ya sama Lia?" goda Rain. "Kak Brian, tadi katanya pengen kenalan?"


"Eng, enggak jadi." Jawab Brian dengan cepat.


Rain menatap heran, dia seolah merasa aneh dengan sikap Brian dan yang lainnya.


"Eh, iya jadi. Jadi pengen kenalan. Kamu....udah punya pacar?" Brian mencoba bersikap biasa tapi tetap terlihat aneh.


"Belum, masih jomblo. Belum bisa move on dari mantan terindah." Jawab Lia sambil tersenyum dan menatap Sean.


"Duduk Lia, kita makan yuk." Ajak Zalfa.


Lia tersenyum lalu duduk tepat disebelah Sean.


"Minggir lo, ini tempat duduknya istri gue." Bentak Sean sesaat setelah Lia mendudukkan tubuhnya dikursi.


"Jangan galak galak gitu dong yank. Gak papa kamu duduk situ aja. Aku duduk sini." Rain malah memilih duduk didekat Dino.


Sean langsung membuang nafas kasar dan berdiri. "Tukeran duduk Din, gak rela gue Rain duduk didekat lo."


Dino segera bangkit dari duduknya. Dia ngeri melihat wajah Sean yang terlihat marah.

__ADS_1


Sedangkan Lia, dia tersenyum miring melihat tingkah Sean. Tapi dia justru senang sekarang. Dengan Sean pindah, dia jadi makin leluasa menatap pria itu. Karena posisinya sekarang berhadapan dengan Sean.


__ADS_2