
Pov Rain
Malam ini aku habiskan dengan menangis, menangis dan menangis. Memang benar kalau penyesalan itu datangnya diakhir. Masa depanku terancam hancur hanya karena keputusan bodoh yang pernah aku ambil.
Benar kata Gaza, otakku gak bisa buat mikir. Harga diriku sangat rendah hingga bisa dijual. Demi uang uang rela menghalalkan segala cara. Dilihat dari sudut pandang manapun, yang aku lakukan memang salah. Aku mencari uang dengan jalan pintas.
Sean, ingin sekali aku marah padanya. Ingin sekali aku memaki dan memukulinya. Tapi benarkah ini salahnya? atau ini murni kesalahanku? Aku tak ingin mencari kambing hitam dengan menyalahkannya.
Bagaimanapun Sean tak pernah menjebakku. Aku sendiri yang telah menjual diri padanya tanpa paksaan.
Jodoh ditangannnya Tuhan, jika memang Gaza meninggalku, aku harus rela. Aku harus ikhlas jika memang di bukan jodohku.
Beberapa hari yang lalu aku disibukan dengan khayalanku bersama Gaza. Menjadi istrinya, tinggal diluar negeri dan hidup bahagia. Tapi semua itu hanya sebatas khayalan. Kemungkinan untuk terealisasi sangat kecil, mungkin kurang dari 50 persen.
Pagi ini aku tetap datang bekerja. Bagaimanapun hidupku harus berlanjut. Walaupun aku kecewa pada Sean, tapi aku butuh pekerjaan. Setidaknya sampai aku dan Gaza menikah, seperti itu rencanaku dulu. Tapi sekarang, entahlah, masihkah Gaza mau menikahiku?
Tapi pagi ini terasa lain. Aku melihat orang orang menatapku tak seperti biasanya. Mereka juga berbisik bisik sambil melihatku. Tapi aku gak boleh negatif thinking. Belum tentu aku yang mereka bicarakan.
Saat mau masuk lift, beberapa orang terang terangan menghujatku.
"Gak nyangka ya, wajahnya sih gadis baik baik, tapi kelakuannya amit amit."
"Ralat say, bukan gadis lagi kali."
"ups lupa."
"Hahaha.... "
"Apa maksud kalian?" Aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan.
"Gak usah sok polos gitu deh. Semua udah tau kelakuan busuk lo. Segitunya ya cara lo buat dapat jabatan, menjijikkan."
Apa lagi ini? kenapa pagi pagibudah dapat serangan kayak gini. Aku gak ngerti maksud mereka. Aku mematung didepan lift, aku tak jadi masuk dan membiarkan mereka yang menghujatku masuk lebih dulu. Dihujat diluar aja rasanya sesak, apalagi didalam lift, bisa bisa aku gak bisa nafas.
Mila, aku melihatnya tergopoh gopoh berlari menuju lift. Ya, mungkin aku bisa cari tahu dari dia.
__ADS_1
"Mil." Sapaku saat dia berdiri didepan lift. Yang makin bikin aku bingung, dia tak menyapaku. Dia malah melengos saat melihatku.
"Mil ikut aku bentar." Aku menarik tangannya menjauh dari pintu lift.
"Apaan sih narik narik gue." Katanya dengan dengan nada jutek..
Apalagi ini, kenapa Mila juga ikut ikutan tak suka padaku.
"Mil, tolong jelasin ke aku apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa semua orang membicarakanku? Dan kau, kenapa sikapmu seperti ini padaku?"
"Lo beneran gak tahu?" Tanyanya dengan sambil tersenyum sinis.
Aku menggeleng karena benar benar tak tahu.
"Nih." Dia memperlibatkan foto diponselnya.
JEDER
Aku seperti tersambar petir melihatnya. Aku melihat fotoku dan Sean sedang tidur tanpa busana dan hanya ditutupi selimut.
Foto ini terlihat asli. Tempatnya sama persis dengan hotel tempatku dan Sean menginap. Tapi foto ini, kapan foto ini diambil? Aku bahkan tak tahu ada foto seperti ini.
"Darimana kamu dapat foto ini?"
"Foto ini udah nyebar disemua grup chat di kantor ini."
Astaga, pantas semua orang menghujatku. Aku tak tahu foto ini karena aku tak masuk dalam grup chat manapun.
Aku berjalan gontai menuju meja kerjaku. Pagi ini aku tak ke pantry karena pasti akan dibully kalau aku kesana. Aku terus memandangi foto yang dikirim Mila ke ponselku. Sepertinya hanya Sean yang bisa menjelaskan semua ini.
Tak lama kemudian Sean datang. Sebelum aku bicara, dia lebih dulu menyuruhku masuk ke ruangannya.
"Bagaimana bisa ada foto seperti ini?" aku menunjukkan foto diponselku padanya.
"Ternyata kau sudah tahu." jawabnya enteng.
__ADS_1
"Apa kau yang mengambil foto ini? Kau juga menyebarkannya?" Rasa hormatku pada Sean mendadak hilang.
"Mana mungkin aku menyebarkan foto seperti ini dikantor. Kau pikir aku tak dirugikan disini. Para karyawan tak akan segan lagi padaku setelah melihat foto ini. Wibawaku sebagai bos juga turun. Imej yang kubangun dengan baik hancur gara gara foto ini." Sean terlihat emosi hingga dia menggebrak mejanya.
"Tapi foto ini, kau kan yamg mengambilnya? Hanya ada kita berdua saat itu, dan aku tak tahu menahu tentang foto ini. Aku yakin kau yang mengambil foto ini."
"Memang aku yang mengambilnya. Tapi bukan untuk disebarkan dikantor seperti ini."
"Apa? jadi benar kau yang mengambil foto ini? Tapi untuk apa?"
"Untuk membalas dendam pada Gaza."
"Jadi kau sudah merencanakan semuanya Sean. Jadi saat itu kau sudah tahu jika aku tunangan Gaza?"
Benar kata Gaza, Sean bukan pria yang baik. Dia sengaja menggunakanku untuk balas dendam pada Gaza.
"Aku tak pernah merencanakan apapun. Kau sendiri yang menjual diri Rain. Saat itu tak sengaja ada yang menunjukkan fotomu padaku, dia bilang kau sedang menjual keperawanan. Aku pernah melihat fotomu di akun instagram milik Gaza. Setelah aku cocokkan ternyata sama."
"Lalu kau merencanakan semuanya?"
"Benar, tapi jangan menyalahkanku. Kau sendiri yang menjual diri, bukan aku yang memaksa. Aku hanya sedang hoki saja. Tuhan terlalu sayang padaku hingga dia mengirimmu sebagai alat balas dendamku."
"Jahat kamu Sean."
"Jahat kau bilang? dimana letak kejahatanku? aku dewa penolongmu, aku memberimu banyak uang saat kau membutuhkan. Harusnya kau berterimakasih padaku karena mau membelimu dengan harga mahal. Sudah dapat uang banyak, melayani pria tampan pula, kau sangat beruntung."
Aku terdiam, berdebat dengannya tak akan menang. Dia terlalu pintar kalau urusan berdebat. Mungkin karena itu juga dia selalu menang tender.
"Pagi Pak." Danu masuk keruangan Sean.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan siapa pelakunya?"
"Pelakunya adalah Risa."
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Cleaning service yang biasanya membersihkan ruangan anda. Dia menemukan foto itu dibawah meja kerja anda. Setelah itu dia menyebarkannya di grup wa."
"Astaga, kenapa aku bisa seceroboh itu. Kemarin aku melempar beberapa foto pada Gaza. Mungkin aku tak teliti saat memungutinya lagi. Ada foto yang tertinggal dibawah meja."