
Rain terus mengomel karena tengah malam dibangunkan oleh Sean. Pria itu menyuruh Rain bersiap siap, karena mereka akan jalan jalan.
"Mau kemana sih tengah malem gini?" Gerutu Rain sambil memakai jaket yang sudah diambilkan Sean dari almari.
"Udah pokoknya ikut aja, dijamin gak nyesel. Aku bakal ngasih banyak surprise buat kamu." Jawab Sean sambil memasukkan kamera, tripot serta minuman kedalam tas ranselnya.
"Ngantuk yang." Rengek Rain sambil malas malasan duduk ditepi ranjang. Bukannya memakai sepatu dia malah bengong aja.
"Kok malah bengong sih. Sini aku bantuin." Sean berjongkok lalu memasangkan kaos kaki di kaki istrinya.
"Sepatunya sekalian." Pinta Rain dengan nada manjanya.
"Ish, manja banget sih."
"Sekali kali pengen kayak cinderella." Rain menyeringai melihat Sean dengan telaten memakaikan sepatu kets dikakinya.
"Ya kali cinderella pakai sepatu kayak gini beb." Tutur Sean sambil mengikat tali sepatu Rain. "Udah Yuk berangkat."
Rain lumayan bingung saat Sean mengajaknya naik speed boat. Apalagi ini tengah malam, rasanya sangat tidak tepat berjalan jalan di waktu ini.
"Dingin banget yang." Ucap Rain sambil mengeratkan pelukannya pada Sean. "Kenapa sih harus malem malem kayak gini?"
"Ya emang harus tengah malem beb. Kita mau berburu sunrise. Kemarin ngerengek mau lihat sunrise."
"Kita mau liat sunrise dimana sih?"
"Dipulau padar."
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, mereka sampai di pulau padar. Ternyata walaupun jam 5 pagi, tempat itu lumayan ramai.
"Kita trecking ke atas yuk."
"Hah." Rain melongo melihat anak tangga yang begitu banyak. "Seriusan kita naik yang?"
"Ya iyalah, tuh banyak yang naik, gak usah takut."
"Bukannya takut, cuma ngebayangin aja, pasti capek banget."
"Gak usah dibayangin, dijalanin aja. Yuk buruan naik, entar kelewat sunrise nyesel loh." Sean segera menggandeng Rain menaiki anak tangga menuju puncak padar.
Rain ngos ngosan sesampainya dipuncak. Entah berapa kali mereka istirahat sebentar karena Rain mengeluh capek. Sesampainya dipuncak, Sean mencari tempat yang nyaman buat mereka menunggu sunrise yang akan segera muncul. Sean mengotak atik kameranya agar siap digunakan saat matahari benar benar muncul.
"Cantik banget Sean." Guman Rain saat mulai melihat matahari terbit. Pemandangan di puncak padar memang sangat bangus. Hingga lelah yang dirasa saat mendaki tadi langsung terbayar lunas.
"Kamu pose gih aku fotoin." Titah Sean sambil menyiapkan kameranya. Rain sangat antusias berfoto. Dia tak ingin melewatkan momen sebagus ini. Mereka berdua saling bergantian memotret. Sean juga memakai tongsis untuk mengambil foto mereka berdua.
"Udah puas liat sunrisenya?" Sean memeluk Rain dari belakang setelah mereka puas berfoto.
__ADS_1
"Puas banget yang, makasih udah ngajak aku kesini. Bagus banget tempatnya."
"Kamu suka?"
"Suka banget, pemandangannya sangat bangus." Jawab Rain sambil membalikkan badannya menghadap Sean. "Tapi yang paling bikin aku lebih suka lagi, aku lihat sunrisenya sama kamu." Goda Rain sambil mengecup pipi Sean. "Makasih banyak yang." Ucap Rain sambil melingkarkan tangannya dileher Sean.
"Makasih doang, gak mau ngasih yang lain lagi?" Tanya Sean sambil menempelkan kening mereka.
"Maksudnya?"
Rain buru buru mendorong tubuh Sean, saat pria itu mulai menempelkan bibirnya pada bibir Rain.
"Banyak orang yang, malu tau." Rain melotot agar Sean mengurungkan niatnya.
"Tuh liat." Sean menunjuk sepasang bule yang sedang berciuman.
"Tapikan mereka bu----"
Cup
Belum sempat Rain menuntaskan ucapannya, Sean sudah terlebih dulu membungkam mulut Rain dengan bibirnya. Tangan Sean memegangi tengkuknya hingga Rain tak bisa mengelak.
Rain langsung memejamkan matanya, bukan karena terlalu menikmati, melainkan malu. Dia sangat malu berciuman ditempat umum seperti ini.
"Malu tahu yang." Ucap Rain sambil menggebuk pelan dada Sean kerana kesal dengan ulah suaminya itu.
Pasir pantai yang terlihat berwarna pink itu sungguh memanjakan mata mereka. Disana Sean sampai kewalahan karena Rain terus minta difoto.
Setelah puas berfoto dan bermain dipantai hingga siang, Sean mengajak Rain istirahat dihotel yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana.
"Kok ke hotel sih, kenapa gak snorkeling dulu terus nunggu sunset dipantai?"
"Istirahat aja dulu, kita butuh tidur beb. Emang gak ngantuk dari semalam belum tidur?"
"Iya juga sih."
"Besok kita kesini lagi buat snorkeling."
Akhirnya Rain menuruti kemauan Sean. Sebenarnya dia juga lumayan ngantuk dan capek. Setelah tidur beberapa jam di hotel, Sean membangunkan Rain dan menyuruhnya bersiap siap.
"Katanya besok Kepantai lagi?"
"Aku surprise buat kamu. Udah jangan banyak nanya, yuk buruan."
Tak ingin banyak tanya lagi, Rain memilih mengikuti saja perihtah Sean.
Sesampainya di pink beach, ada beberapa orang yang sedang menunggu mereka.
__ADS_1
"Kita mau ngapain sih?" Tanya Rain yang belum paham.
"Foto beb, aku sih ngomongnya mau prewed ke mereka."
Rain melongo diajakin foto prewed. Yang benar saja, nikah udah hampir setahun baru diajakin prewedding. Yang bener after wedding kali Sean.
"Kita kan mau pindah ke rumah baru. Gak enak lah kalau gak ada foto pernikahan gitu. Tahu sendiri pernikahan kita dulu kek gimana. Bajunya aja ala kadarnya. Kurang enak buat dipajang."
Rain memahami alasan Sean. Mereka memang tak punya foto pernikahan yang layak untuk dipajang didinding.
Rain sudah dimake up dan mamakai gaun warna putih. Gaunnya tak terlalu mewah tapi elegan dan terlihat sangat cocok dipakai Rain. Rain lebih memilih flowercrown sebagai hiasan kepala daripada memakai mahkota atau disanggul. Dia ingin terlihat sederhana saja.
"Kamu cantik banget beb, persis kayak pengantin." Puji Sean yang membuat pipi Rain otomatis memerah.
Setelah sesi foto berakhir mereka kembali ke hotel. Rain masih mengenakan gaun putih itu. Sean bilang gaun itu dia beli sendiri, bukan milik studio foto.
Rain terbelalak saat baru memasuki kamar hotelnya. Kamar yang tadi biasa saja saat dia tinggal. Tiba tiba berubah menjadi sangat indah, bak kamar pengantin.
Aroma bunga mawar sangat menyeruak diseluruh ruangan. Ranjang king size dengan sprei warna putih penuh dengan taburan bunga mawar yang dibentuk hati.
"Kau menyukainya?" Tanya Sean sambil memeluk Rain dari belakang.
Rain hanya mengangguk, dia tak bisa berkata apa apa karena terlalu bahagia.
"Ini malam pengantin kita, beb."
Sejak keguguran mereka memang belum pernah berhubungan badan. Walaupun Rain sudah selesai nifas sejak 2 minggu pasca seguguran. Rain masih menolak untuk berhubungan. Dia masih ingin menunda hingga 1 bulan. Dan hari ini, tepat 1 bulan setelah keguguran.
Sean membalikkan tubuh Rain agar menghadapnya.
"Hari ini sudah bolehkan?" Tanya Sean sambil manatap dua manik mata Rain yang terlihat berkaca kaca.
"Hem.. " Rain mengangguk pelan. "Terimakasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia Sean." Rain memeluk Sean sambil menangis. Dia sangat terharu dengan semua kejutan yang diberikan Sean padanya.
"Makasih Sean. I love you. I love you So bad."
Sean melepaskan pelukan Rain lalu menghapus air mata yang membasahi pipinya. "I love you too beb." Jawab Sean lalu menyapukan bibirnya pada bibir Rain. Mereka berdua saling ******* dan bertukar saliva.
Tanpa melepaskan pagutan bibirnya, Sean menggendong Rain ala bridal style dan menjatuhkan pelan diatas ranjang yang penuh bunga mawar.
Sean menatap kedua manik mata Rain. Jantungnya berdebar debar seakan ini benar benar malam pertama mereka.
Tak beda dengan Rain. Wajahnya memerah karena malu saat Sean menatapnya dengan penuh gairah. Jantungnya berdetak tak karuan. Darahnya berdesir saat Sean mulai menciumi wajah dan lehernya.
"Aku menginginkanmu malam ini beb, sangat menginginkanmu." Ucap Sean dengan suara paraunya. Tangannya mulai membuka gaun yang dipakai Rain.
"Lakukan apapun yang kau mau Sean. Jangan tahan dirimu, aku milikmu." Sahut Rain sambil membuka kancing baju Sean.
__ADS_1