
"Yang, bangun yang... " Rain menggoyang goyangkan tubuh suaminya. Berkali kali Rain mencoba membangunkan Sean tapi hasilnya nihil. Pria itu tetap terlelap dan tak ada niatan sedikitpun untuk bangun.
"Bangun dong, udah siang nih." rengek Rain.
"Masih pagi beb, masih ngantuk." Sean membalikkan badan lalu mendekap Rain agar wanita itu kembali tidur dan tak mengganggu tidurnya lagi.
"Lepas." Rain berusaha melepaskan belitan tangan Sean. "Kita jalan jalan yuk. Udah seminggu disini tapi belum ke pink beach." Keluh Rain.
"Kapan kapan aja, aku masih males. Lagian kita lama disini, gak usah buru buru. Hari itu kan udah ke pulau Rinca. Kamu malah takut ketemu komodo."
"Huft." Rain membuang nafas kasar.
Mereka berdua memang berencana lama di Labuan bajo. Oleh karena itu Sean memilih menyewa sebuah rumah sederhana daripada menginap dihotel. Menurutnya tinggal dirumah lebih nyaman dan murah. Rumah yang mereka sewa memang dikhususkan untuk wisatawan. Jadi rumah itu sudah dilengkapi perabotan.
"Tidur lagi aja yuk." Ajak Sean sambil memeluk Rain lagi.
"Aku udah gak ngantuk, pengen liat sunset," rengeknya sambil menarik selimut Sean agar segera bangun.
"Ya kali pagi pagi liat sunset beb, sunrise kali maksud kamu?" Ralat Sean dengan mata yang masih saja terpejam.
"Tuh kan langsung nyaut. Berarti kamu udah gak ngantuk Yang. Aku ngomong salah aja langsung nggeh kamu."
"Ya karena walaupun ngantuk tuh otakku masih bekerja. Otaknya orang jenius mah gini beb." Rain memutar kedua bola matanya. Dia jengah mendengar berbagai macam alasan Sean.
"Kalau gak mau tidur lagi, mending kamu masak sana. Aku masih mau lanjut tidur." Tutur Sean tanpa mempedulikan Rain yang terlihat kesal.
"Kita itu kesini buat honeymoon. Jadi jangan tidur terus napa. Jalan jalan kek, kemana gitu?"
"Yang namanya honeymoon gak harus selalu jalan jalan. Bobok berdua dikamar gini juga masuk dalam list honeymoon."
"Ya kali 2 bulan cuma mau tidur tiduran aja disini. Kalau cuma gitu mah mending dirumah aja." gerutu Rain dalam hati.
Rain yang kesal segera beranjak meninggalkan kamar.
...******...
Setelah merasa puas tidur Sean segera mandi lalu menuju dapur untuk mencari istrinya. Tapi ternyata dapur kosong, tak nampak ada orang atau aktifitas apapun disana.
"Beb, beb, kamu dimana?" Teriak Sean sambil mencari Rain diruangan lain. Rumah itu kecil hanya ada 2 kamar tidur jadi tak mungkin Rain tak mendengar teriakan suaminya.
Sean berdecak kesal saat melihat Rain sedang duduk di ayunan depan rumah sambil memakai headset.
"Pantesan gak denger dipanggil dari tadi." Gerutu Sean sambil menarik headset yang melingkar dikepala Rain.
"Ish ganggu aja." Kesal Rain.
"Kamu gak masak? Aku laper." Keluh Sean sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
"Gak ada yang mau dimasak. Semuanya udah habis. Kamu sih molor aja dari tadi." sungut Rain.
"Ish gak usah ngambek gitu." Tutur Sean sambil menarik hidung mancung Rain lalu duduk disebelahnya. "Jadi kamu juga belum sarapan?"
Rain menggeleng, sebenarnya dia juga lapar tapi malas kalau mau makan sendirian.
"Ya udah aku pesenin makanan." Sean membuka aplikasi pesan makanan lalu memesan makanan untuk mereka berdua.
"Lihat nih." Rain menunjukkan foto foto di tagar pink beach yang ada diinstagram. "Bagus banget kan? Aku pengen banget kesana, kita kesana yuk hari ini." Rengek Rain sambil menarik narik lengan Sean.
Sean mengambil ponsel Rain lalu melihat foto pink beach yang dimaksud Rain. Sebenarnya dulu Sean sudah pernah kesana. Jadi tanpa lihat fotopun sebenarnya dia sudah tahu.
"Iya kesana, tapi gak hari ini beb." Ujar Sean sambil melihat lihat instagram milik Rain. Mumpung lagi pegang HP Rain, jadi dia tak mau melewatkan kesempatan emas untuk membuka DM.
"Ish apaan sih pakai buka buka DM." Rain segera merampas ponselnya.
"Kok kayak takut gitu? kamu nyembunyiin sesuatu dari aku? Siapa yang DM kamu, kenapa aku gak boleh liat?" Sean mulai menaruh curiga.
"Gak ada yang, suer aku gak macem macem kok." Rain membentuk huruf V dengan jarinya.
"Ya kalau gitu mana ponselnya, aku mau lihat." Sean menengadahkan telapak tangannya. Wajahnya mulai terlihat tegang dan itu membuat Rain sedikit takut.
"Gak ada apa apa, cuma DM gak penting." Rain mencoba tersenyum dan bersikap biasa saja. "Aku udah laper banget yang. Kok lama banget makanannya."
"Gak usah ngalihin topik. Mana ponsel kamu?" pinta Sean. Kesal karena Rain tak kunjung memberikan ponselnya, Sean segera beranjak dari ayunan.
"Tidur." Jawab Sean asal sambil melepaskan genggaman tangan Rain.
"Ini." Rain menyodorkan ponselnya pada Sean. Dia tak mau suaminya marah karena salah paham.
Sean segera meraih ponsel itu lalu kembali duduk diayunan.
"Jangan marah dong." Bujuk Rain sambil melingkarkan tangannya di perut Sean dan menempatkan kepalanya di bahu pria itu.
Sean tak menjawab, dia sibuk mengecek DM di akun instagram Rain. Sean berdecak kesal saat melihat ada beberapa DM dari pria yang mengajak Rain jalan atau meminta nomor telepon. Tapi untungnya Rain tak pernah membalas DM mereka.
"Siapa sih orang orang ini? bukankah akun kamu diprivat, jadi mereka ini follower kamu donk. Kamu kenal?"
"Teman kuliah dulu."
Tiba tiba mata Sean melotot melihat banyak sekali DM dari Gaza. "Jadi Gaza masih sering nge DM kamu?"
Rain mengangguk pasrah. "Tapi aku gak pernah bales kok. Aku kan udah punya kamu. Sayangnya sama kamu. Cintanya juga sama kamu." Terang Rain sambil menatap kedua manik mata suaminya. Ada perasaan takut kalau saja Sean bakal marah.
"Beneran?" Tanya Sean dengan tatapan mata tajamnya.
"Suer." Rain lagi lagi membentuk huruf V dengan jarinya.
__ADS_1
"Buktinya mana?"
Rain menangkup kedua pipi Sean dan langsung menautkan bibirnya pada bibir Sean. Tak mau hanya diluar, Rain memasukkan lidahnya dan mulai mengeksplor setiap rongga mulut milik suaminya.
Seanpun tak tinggal diam, dia mulai membelit lidah Rain dan ******* bibirnya. Ciuman itu baru berhenti saat keduanya kehabisan nafas. Tapi saat dirasa nafasnya sudah mulai normal mereka kembali berciuman lagi.
"Ingat, jangan pernah ada kontak dengan Gaza lagi." Pesan Sean sambil meng unfollow akun Gaza.
Rain hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Mana ponsel kamu, aku juga mau lihat DM kamu?" Rain sebenarnya juga penasaran dengan DM di akun ig Sean.
"Ini, ambil aja." Sean meletakkan ponselnya ditangan Rain. "Aku mah bebas beb, gak ada rahasia apa apa sama kamu. Di akun kamu kok gak ada foto aku sama sekali sih beb. Kita foto dulu Yuk, aku juga mau kali nampang di akun ig kamu." Sean menarik tubuh Rain agar makin menempel lalu mengarahkan kamera ponsel ke arahnya dan Rain. "Nempel beb, biar keliatan mesra gitu."
Cup
Rain mengecup pipi Sean sesaat sebelum Sean menekan tombol kamera.
"Udah keliatan mesra kan?" Rain mengambil ponselnya untuk melihat hasil jepretan Sean.
"Pipi kamu merah yank pas aku cium. Cie.....gak nyangka langsung blushing pas aku cium." Goda Rain sambil menunjukkan hasil foto itu.
"Masak sih." Sean langsung memperhatikan fotonya. "Perasaan kamu aja kali beb. Ya kali difoto kelihatan blushing." Sangkal Sean. Sebenarnya memang tak kelihatan. Hanya saja Rain ingin menggoda Sean.
"Gak usah malu gitu. Aku tahu kok kalau kamu itu bucin sama aku." ledek Rain sambil menyeringai kecil.
"Udah cepetan upload." Titah Sean. Dia malu kalau terus diledekin bucin.
"Bentar aku edit dulu." Jawab Rain sambil sibuk mengedit fotonya.
"Gak usah, aku tuh udah ganteng maksimal. Diedit atau enggak, gak bakalan ngaruh. Loh kok mukaku ditutupin emot sih?" Sean tak paham kenapa Rain menutup wajahnya dengan emoticon.
"Ya karena kamu ganteng maksimal yang. Jadi aku gak mau ada yang ngeliatin muka kamu. Cukup aku aja yang liat."
Sean sontak terpingkal pingkal mendengar penjelasan Rain yang dianggapnya sedikit lebay itu. Ralat, banyak sih, gak sedikit.
"Aku gak nyangka kamu sebucin itu sama aku beb." Sean sampai geleng geleng kepala. "Kayaknya kamu bakal dapet penghargaan deh."
"Penghargaan?" Rain tak paham.
"Iya penghargaan, Bucin of the year. Hahaha.... " Sean kembali menertawakan Rain.
"Gak lucu." Rain memelototi Sean sambil mencubit lengannya.
"Gak lucu emang. Tapi aku bangga banget sama kamu beb. Hahaha..... "
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, berupa like dan komen. Terimakasih