Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
SUAMI SUAMI LEBAY


__ADS_3

Rain dan Zalfa sangat antusias menyiapkan sarapan. Mereka mengobrol sambil becanda hingga tawa mereka mengusik para pria yang sedang tidur. Semalaman pria pria itu memang begadang sambil main kartu hingga hampir subuh baru tidur.


Sean berjalan seperti robot ke arah Rain dengan mata yang hanya sedikit terbuka. Dia langsung memeluk Rain dari belakang dan menyandarkan kepalanya dibahu Rain.


"Temenin aku bobok dikamar yuk Beb." Lirihnya dengan mata terpejam.


"Jangan gini dong Sean. Malu Ih diliatin Zalfa." Ucap Rain sambil berusaha melepaskan belitan tangan Sean. "Lagian ini udah siang, mending mandi terus sarapan. Udah mateng nih."


Zalfa hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah manja Sean. Zalfa jadi merasa sedikit tak enak karena udah mengganggu bulan madu mereka.


"Udah sana buruan mandi." Rain mendorong tubuh Sean agar gak nempel terus padanya.


"Mandiin dong beb, mager banget nih masih ngantuk." Tutur Sean sambil menguap.


Rain langsung mencubit pinggang Sean karena bicara fulgar didepan Zalfa.


"Udah sana urusin dulu bayi gede kamu Rain. Biar aku yang ngelanjutin masak. Bentar lagi juga selesai kok."


"Sorry ya Zal, aku tinggal bentar."


Baru beberapa langkah Rain pergi, Zalfa malah berlari ke toilet dan muntah muntah.


Hoek Hoek Hoek


"Zal kamu kenapa?" Tanya Rain yang terlihat cemas. Zalfa diam saja sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Rain menuntun Zalfa ke meja makan lalu mengambilkan air hangat untuknya.


"Yang kamu muntah muntah lagi?" Tanya Leo sambil memijit punggung dan tengkuk Zalfa. Ya, Sean baru saja membangunkan Leo dan memberitahunya kalau Zalfa muntah muntah.


"Aku gak papa kok." Jawab Zalfa sambil menoleh ke arah Leo.


"Ke kamar aja Yuk, aku temenin istirahat. Jangan capek capek, kamukan lagi hamil." Leo menasehati.


"Zalfa hamil?" Tanya Rain.


"Iya, baru 12 minggu." Jawab Leo sumringah.


Seketika wajah Rain berubah. Terlihat matanya mulai berkaca kaca. Ya, dia teringat janinnya yang sudah pergi meninggalkannya. Seharusnya kalau dia masih ada. Rain sudah hamil 4 bulan sekarang.


Melihat perubahan wajah Rain, seketika Sean langsung memeluknya. Bukannya lega, Rain malah menangis dipelukan Sean.


Zalfa dan Leo menatap Rain dengan iba. Mereka tahu jika Rain sempat mengalami depresi 2 bulan yang lalu. Oleh karena itu Zalfa tak memberitahu Rain jika dia hamil. Dia takut Rain kembali teringat anaknya.


"Udah dong jangan nangis." Sean menghapus air mata Rain dengan telapak tangannya. "Nanti juga bisa hamil lagi. Akukan jago bikin anak." Goda Sean agar Rain kembali tersenyum.


Zalfa berjalan mendekati Rain lalu meraih tangan wanita itu.


"Kata orang, kalau kita pegang perutnya wanita hamil, bakal ketularan." Tutur Zalfa sambil meletakkan tangan Rain di perutnya.


Rain tersenyum sambil mengusap perut Zalfa. Dia sangat berharap jika mitos itu menjadi kenyataan.


"Maaf ya Sean, kamu jadi kalah taruhan gara gara aku." Ucap Rain sambil menoleh ke arah Sean.

__ADS_1


"Astaga beb, gak usah mikirin itu kali. Aku gak akan miskin hanya karena kalah taruhan sama Leo." Tutur Sean sambil melirik ke arah Leo.


Mereke bertiga langsung tertawa mendengar ucapan Sean yang selalu kental dengan kesombongannya itu.


...******...


Setelah sarapan, Rain dan Zalfa pergi ke pasar yang letaknya tak begitu jauh dari kontrakan mereka. Mereka tak hanya berdua, ada Leo yang menemani. Pria itu sangat protektif sejak istrinya hamil.


"Aku tunggu disini ya yang, males masuk, kotor." Ucap Leo. Rain jadi teringat Sean. Suaminya itu juga paling pantang masuk pasar. "Jangan bawa berat berat, suruh Rain aja yang bawa."


Rain nyengir mendengar ucapan Leo yang to the point.


"Maafin suamiku ya Rain, dia emang sedikit nyebelin." Ucap Zalfa.


"Sejak nikah sama Sean, aku udah biasa ngadepin orang nyebelin. Jadi udah biasa, tenang aja." Jawan Rain sambil menggandeng Zalfa masuk pasar.


Tujuan Rain ke pasar adalah untuk membeli daging serta sosis. Rencananya nanti malam mereka akan mengadakan barbeque di halaman belakang rumah.


Leo mondar mandir didepan pasar karena terlalu lama menunggu Zalfa dan Rain. Entah sudah berapa batang rokok yang dia habiskan selama menunggu.


Melihat yang ditunggu muncul, Leo buru buru membuang rokoknya dan menghampiri mereka.


"Lama banget sih. Sini gue bawain." Leo mengambil belanjaan dari tangan Rain dan Zalfa. "Yuk buruan pulang, udah siang nih, panas banget." Tutur Leo sambil membuang mengibas ngibaskan tangannya karena kecerahan. "Yang, apa perlu aku beliin payung biar kamu gak kepanasan pas jalan." Tawar Leo pada istrinya.


"Lebay." ledek Rain sambil menyebikkan bibirnya. Zalfa hanya tersenyum mendengar ledekan Rain. Dia juga menyadari jika suaminya sedikit lebay.


"Ngiri, bilang dong." Celetuk Leo.


Rain memutar kedua bola matanya. Malas sekali menanggapi Leo yang sifatnya sebelas dua belas dengan Sean.


"Minum dulu beb." Sean menyodorkan air meniral botol kepada Rain. "Kok kayaknya capek banget gitu sih? Belanja banyak kamu?" Tanya Sean sambil mengelap keringat didahi Rain.


"Panas yang pas jalan pulang." Keluh Rain sambil mengipas ngibaskan tangannya disamping leher.


"Ya harusnya beli payung beb biar gak kepanasan."


"Cih, lebay." Leo balas meledek. Rain yang kesal langsung melempar Leo dengan botol air mineral yang baru habis dia minum.


Zalfa hanya terkekeh melihatnya. Dia tak menyangka jika Sean dan Leo memiliki kesamaan. Yaitu sama sama lebay.


"Aku tadi kecopetan pas dipasar yang." Adu Rain pada suaminya.


"Hah, kecopetan!" Teriak Sean saking terkejutnya. Brian dan Dino yang lagi sibuk main game langsung memberikan atensi pada Rain. Sedangkan Leo, dia yang menemani ke pasar malah tidak tahu apa apa.


"Kamu gak papa kan beb? Gak ada yang lukakan?" Sean memutar tubuh Rain untuk memastikan jika istrinya itu baik baik saja.


"Beneran yang, tapi kamu gak papakan? Anak kita amankan?" Leo juga mengamati Zalfa. Dia takut terjadi apa apa pada kandungan iatrinya.


Sean, Dino dan Brian langsung menatap Leo. Mereka masih tak paham kenapa Leo tak tahu padahal mereka ke pasar bersama.


"Lo kan ikut ke pasar Le, kok lo gak tahu mereka kecopetan?" tanya Sean penuh selidik.

__ADS_1


Leo menggaruk garuk kepalanya sambil nyengir. "Heee....gue nungguin didepan tadi."


"Begok banget sih elo. Gimana kalau terjadi apa apa sama istri gue?" bentak Sean.


"Sory Sean, lagipula gak terjadi apa apa kan? Yang harusnya lebih cemas itu gue. Istri gue lagi hamil Bro."


"Udah tahu bini lo hamil. Masih aja lo biarin masuk pasar sendirian. Punya otak itu dipakai, jangan dibuat pajangan doang." Maki Sean.


"Astaga, mereka itu masuk pasar, bukannya mau masuk medan perang. Ya gue santai aja, gak mikir aneh aneh." Leo membela diri.


"Pasar juga bahaya kali Le. Gimana kalau Rain kepleset, atau dingangguin orang. Lo itu harusnya jagain, bukan nunggu diluar." Sean terus menyalahkan Leo.


"Ckckck." Brian berdecak sambil geleng geleng. "Gue heran ngeliat lo berdua. Kayaknya setelah nikah kalian jadi over lebay deh. Tuh dua perempuan baik baik aja, lo berdua malah debat gak karuan." Sindir Brian.


"Bener banget Bro, gue jadi takut mau merid. Takut jadi kayak mereka nih yang jadi bucin akut." Dino bergidik ngeri.


"Gue sumpahin lo bakalan ketemu cewek yang bikin lo bucin. Biar lo bisa ngerasain dan gak ngehina kita. Bener gak Le." Setelah tadi menjadi rival, sekarang Sean dan Leo berbalik menjadi sekutu.


"Bener banget. Dan jika saat itu tiba, gue bakal mati matian ngehina lo." Leo menimpali.


"Cih, emang kalian emak gue pakai nyumpahin gue?" Dino terkekeh sambil menatap Sean dan Leo bergantian. "Sumpah serapah dari calon calon penghuni neraka kayak kalian sih gak bakal terjadi woy."


"Ish apaan sih kak. Suami aku tuh calon penghuni surga." Zalfa tak terima jika Leo dikatakan calon penghuni neraka.


"Kak Dino kalau mau masuk neraka ya masuk aja. Gak usah ajak ajak suami kita." Sungut Rain.


Brian terkekeh melihat Dino diserang. "Ngalah Bro, gak akan menang lawan emak emak." Ucap Brian sambil menepuk nepuk punggung Dino.


"Apa aja yang ilang beb, dompet kamu?" Sean balik membahas masalah kecopetan.


"Gak yang, untung ada yang nolongin. Baik banget tau orangnya." Tutur Rain dengan mata berbinar mengingat kejadian tadi.


"Cowok yang nolongin kamu?"


"Pengennya sih gitu yang, kayak ditipi tipi, ditolongin sama cowok gateng. Sayangnya yang nolong malah cewek."


"Ya baguslah, daripada cowok. Gimana kalau dia naksir kamu."


"Ish kamu yang, posesif banget sih." Ucap Rain sambil bergelayut manja dilengan Sean.


"Yang nolongin kita tadi cantik banget orangnya. Tinggi, seksi, pokoknya cantiklah kayak model. Namanya Lia." Celetuk Zalfa.


"Beneran, kenalin sama gue dong." Brian bersemangat.


"Itu mah gampang kak. Entar Malem dia kesini kok, aku ngundang dia buat ikutan barbequean ama kita." Rain menyahuti.


Lia? perasaan gue kok jadi gak enak gini ya? batin Sean.


.


Ceritanya Sean dan Rain, enaknya dilanjutin apa segera ditamatin ya???? kasih saran dong

__ADS_1


**Jangan lupa sampetin like, komen dan kasih mawarnya dong buat author.


Yang suka baca novelnya author, bisa tolong follow akunnya author ya say. Terimakasih**.


__ADS_2