
pov Rain
Hatiku begitu hancur saat mendengar kata-kata Mr. lim. Jadi Pak Sean menjebakku, dia mengirimmu kesini bukan untuk pekerjaan kantor, melainkan pekerjaan yang lain. Inikah tujuannya mempekerjakan aku lagi di perusahaannya.
Air mataku tak bisa kubendung, sakit sekali dadaku. Aku tak menyangka Pak Sean sejahat ini. Apa salahku padanya hingga dia tega melemparku untuk memuaskan koleganya.
"Aku sudah tak sabar, bisa kita mulai sayang." Mr. lim tiba tiba mendekapku dan menciumi leherku penuh nafsu.
Aku berusaha berontak, sekuat tenaga aku mendorong Mr. Lim hingga pria berusia 45tahun itu terhuyung kebelakang.
"Tolong biarkan saya pergi. Saya bukan wanita seperti yang anda pikirkan." Kataku sambil berurai air mata.
"Tolong jangan mengulur ngulur waktu. Aku sudah tak tahan melihatmu sayang." Mr. Lim kembali mendekat dan mencoba menciumku. Sekuat tenaga aku berusaha menghindar. Aku berlari menuju pintu. Berkali kali aku menarik gagang pintu namun hasilnya nihil. Pintu dikunci oleh Mr. Lim.
Ingin rasanya aku berteriak minta tolong. Tapi sepertinya tak akan ada gunanya. Tak akan ada yang mendengarku. Kamar semewah ini sudah pasti kedap suara.
"Kenapa kau terus meninghindar. Aku tidak melakukannya cuma cuma. Aku akan membayarmu mahal untuk malam ini."
Hatiku makin sakit mendengarnya. Jadi pekerjaan ini yang dimaksud Pak Danu.
Aku menggeleng "Saya bukan wanita seperti itu Mister. Tolong biarkan saya pergi, please." Aku mengiba sambil mengatupkan kedua telapak tanganku.
"Lalu kenapa kau kesini jika bukan untuk menemaniku hah?" Suara mister Lim mulai meninggi.
"Saya hanya diberitahu Pak Danu jika saya harus menemui anda disini. Dia bilang jika ini urusan pekerjaan. Tolong jangan salah paham dengan maksud kedatangan saya." Aku berusaha menjelaskan duduk permasalahannya. Aku pikir tadi terjadi miss komunikasi, tapi aku baru sadar jika aku dijebak. Dijadikan umpan untuk menarik ikan besar.
"Benarkah kau tidak kesini untuk menemaniku?"
__ADS_1
Aku mengangguk, jantungku masih berdebar tak beraturan. Jujur sekali aku sangat takut saat ini. Aku takut Mr. Lim memperkosaku. Aku memang bukan perawan lagi. Tapi wanita mana yang sudi ditiduri paksa oleh lelaki yang tidak dicintainya.
Ocean Kalandra, ingin sekali aku membunuhnya saat ini. Aku benci padanya, dia tak layak disebut manusia. Dia lebih layak disebut iblis. Tega sekali dia melakukan ini padaku.
"Biarkan saya pergi, saya mohon." Aku bersimpuh dikaki Mr. lim dengan harapan dia akan mengasihaniku.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku juga tak mungkin memaksa wanita untuk memuaskanku. Aku bukan laki laki berengsek yang akan memperkosa wanita."
Aku sedikit lega mendengar kata-kata nya. Setidaknya dia masih punya hati nurani dengan tidak memaksaku.
"Pergilah." Mr. lim membukakan pintu untukku.
"Terimakasih." Aku segera keluar dan berlari menuju lift. Aku memasuki lift sambil menangis, aku tak peduli dengan tatapan orang orang yang seakan akan Kepo dengan keadaanku. Aku bersyukur Tuhan masih menyelamatkanku kali ini.
Saat pintu lift terbuka, aku segera keluar. Aku mendengar suara orang memanggil namaku.
"Rain." Aku bisa mendengar suara itu walau pelan. Perlahan aku mendongak, dan ternyata sijahat itu yang memanggilku. Pria yang sudah menjebakku dan membuatku hampir menjadi pemuas nafsu koleganya.
...********...
Dikantornya Sean masih seperti orang bingung. Berkali kali dia menelepon Rain tapi tak tersambung. Sepertinya Rain sudah memblokir nomor teleponnya.
"Bangsat, ini semua gara gara lo." Teriak Sean. Dia melempar kontrak perjanjian kerja yang tak jadi ditandatangani tepat ke wajah Danu. Dia tak lagi berbicara formal pada Danu.
Danu, jangan ditanya lagi, dia bingung dengan kejadian yang diluar perkiraannya. Dia pikir pagi ini akan dapat bonus karena berhasil membuat Mr. Lim senang dan menandatangani kontrak kerjasama.
Nyatanya dia mendapatkan sambutan lemparan air mineral serta lemparan kontrak kerjasama. Untuk umpatan dan makian, sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang dia dapat pagi ini.
__ADS_1
"Maaf Pak." Hanya itu yang bisa Danu katakan. Dia sendiri masih bingung kenapa Mr. lim membatalkan kerjasama ini.
"Kau sudah membuat perusahaan rugi banyak. Dan yang lebih membuatku ingin menelanmu hidup hidup karena kau hampir saja mencelakakan Rain."
"Mencelakakan?" Danu menggaruk keningnya. Dia bingung mencerna kalimat itu. Dia juga masih bingung dengan kata-kata Mr. lim yang bilang bahwa dia menjebak sekretarisnya.
"Dasar bodoh, kau sudah mengirim Rain ke
kandang singa dan hampir saja dilahab. Apa seperti itu bukan mencelakakan namanya." Bentak Sean dengan suara yang menggelegar bak petir disiang bolong.
"Saya hanya ingin membantu Rain mendapatkan customer besar. Mr. lim sangat kaya raya, dia pasti membayar Rain sangat mahal." Ya, itulah tujuan Danu. Danu tak murni bersalah dalam kasus ini. Dia pikir Rain memang seorang wanita malam. Tujuannya baik, ingin membantu Rain mendapatkan klien besar. Dia sama sekaali tak ada niat menjebak.
"Gila kau Danu, Rain bukan wanita macam itu. Berhenti menjudge Rain seperti itu." Sean semakin murka mendengar perkataan Danu.
Danu bingung, dia tahu kalau Rain memang berprofesi seperti itu. Lalu dimana letak kesalahan dalam kata katanya.
Kalau saja bukan bosnya, Danu ingin sekali memukul kepala Sean yang otaknya agak geser itu. Sudah jelas hari itu dia yang memboking Rain, sekarang bisa bisanya dia bilang Rain bukan wanita seperti itu.
"Sekarang temui Rain dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Katakan kalau aku tak tahu menahu masalah ini. Semua ini salahmu. Jangan kembali bekerja jika Rain tak kembali bekerja," ancamnya.
Danu ingin sekali mengumpat Sean. Bisa bisanya dia melempar semua kesalahan padanya. Dan Rain, kenapa gadis itu bilang dijebak. Jelas jelas Danu memberinya rejeki bukan menjebak. Dan sekarang bukannya memikirkan cara untuk membujuk Mr. Lim agar mau kembali bekerjasama, Sean malah sibuk memikirkan Rain.
"Kenapa diam saja, kau tak sanggup? Angkat kaki dari sini sekarang juga kalau kau tak sanggup membawa Rain kembali bekerja," bentak Sean sambil menunjuk kearah pintu.
"Baik Pak." Danu menghela nafas berat lalu segera pergi.
"Arrghh sialan. Semuanya kacau gara gara Danu." Sean mengacak rambutnya frustasi lalu menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kursi.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan rate 5 ya. Terimakasih