
Ting tong ting tong
Mendengar suara bel, Rain ingin segera keluar. Dia tahu itu pasti Al. Tadi dia sudah mengirim pesan agar Al menjemputnya.
"Mau kemana?" Sean lagi lagi menarik tangan Rain yang mau keluar kamar.
"Mau buka pintu, gak denger apa ada yang nekan bel?"
"Biar aku aja yang buka." Sean segera keluar kamar tapi Rain malah ngikut dibelakangnya.
"Ngapain ikut? udah sana masuk kamar."
"Itu pasti Al yang datang, aku yang nyuruh dia jemput aku."
"Ish, males banget berurusan sama sialan itu. Udah aku aja yang buka?" Sean menghalangi Rain yang mau membuka pintu.
"Masuk ke kamar," titah Sean.
"Gak mau, aku mau keluar sama Al."
"Aku bilang masuk," teriak Sean hingga membuat Rain sedikit takut. "Cepetan masuk kamar. Aku gak ngijinin. kamu kemana mana."
Kok jadi dia yang marah marah sih? kan harusnya aku yang marah, batin Rain sambil masuk ke kamar.
Tapi melihat Sean marah, dia takut juga. Dan mau tidak mau, dia masuk kedalam kamar.
"Ngapain kesini?" Tanya Sean bagitu dia membuka pintu dan mendapati Alan berdiri disana. Bukannya nyuruh masuk, dia malah memperlihatkan ketidak sukaannya atas kedatangan Alan.
"Mbak Rain yang nyuruh." Jawab Alan ketus. Sesungguhnya, dia pun malas bertemu Sean.
"Rain lagi tidur, udah kamu pulang sana."
"Tapi aku mau ketemu mbak Rain." Alan tak bisa percaya begitu saja pada Sean. Menurutnya, jika Rain menuruhnya datang, pasti ada sesuatu yang penting.
"Dibilangin orangnya lagi tidur ngeyel. Udah sana pulang," hardik Sean.
"Baik aku akan pulang, tapi setelah ngeliat mbak Rain. Aku takut aja kamu ngapa ngapain dia." feeling Alan mengatakan jika ada yang tidak beres. Ditambah lagi Sean yang sejak tadi mengusirnya, membuatnya makin yakin ada sesuatu.
"Ngapa ngapain gimana maksud lo? lo pikir dia gue apain? Lo gak usah mikir lebay." Sean menyeringai lebar. "Kakak lo aman disini, gak bakal gue apa apain, palingan juga cuma gue kelonin."
Alan bisa mencium bau alkohol dari mulut Sean. Dia makin khawatir kalau Rain diapa apain. Apalagi Rain sampai kirim pesan minta dijemput.
"Pokoknya gue gak mau pulang sebelum ketemu Mbak Rain."
__ADS_1
Aduh... kalau urusan sama Sialan ini memang ribet, keluh Sean dalam hati.
"Ya udah cepetan masuk." Sean minggir dari pintu dan mempersilakan Alan masuk.
Ini untuk pertama kalinya Alan masuk ke apartemen itu. Dia kagum melihat interior yang sangat mewah. Dulu dia memang orang yang berada, tapi tak kaya raya macam Sean.
Ada sedikit rasa bersyukur dihatinya. setidaknya sekarang kakaknya hidup lebih baik, lebih berkecukupan.
"Mbak." Alan berteriak memanggil Rain.
"Gak usah teriak teriak, lo pikir ini hutan. Noh orangnya dikamar." Sean menunjuk arah kamar tempat Rain berada.
"Al." Rain keluar dari kamar setelah mendengar panggilan Alan. "Mbak seneng kamu main kesini. Mbak kangen banget sama kamu." Rain langsung memeluk Alan.
Sean melotot melihatnya, ada sedikit rasa tak rela melihat Rain memeluk pria lain walau adiknya sendiri.
"Lo udah liat orangnya baik baik aja kan? dah buruan pulang." Sean kembali mengusir Alan.
"Apaan sih, orang dia baru datang kok disuruh pulang. Mama kamu dateng kesini aja gak aku usir. Kok adikku dateng kamu usir?" protes Rain.
Sean hanya bercedak, tak bisa lagi dia membantah ucapan Rain.
"Makan yuk Al, mbak masak banyak hari ini." Rain segera menggandeng Al menuju meja makan.
Benaran Sialan nih bocah, cocok banget dengan namanya, batin Sean.
Sementara Alan memarik kursi lalu duduk, Rain menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Dengan telaten dia mengambilkan Alan nasi, lauk dan membuatkan minum untuknya.
Sean yang duduk disebelah Al hanya bisa iri dengki melihat cara Rain memperlakukan Alan. Sedang dirinya hanya dicuekin bak makhluk halus yang tak terlihat.
"Ambilin juga buat aku," titah Sean.
"Ambil sendiri kan bisa," jawab Rain ketus.
"Aku suami kamu, kamu gak mau ngelayanin aku?"
Entah sudah yang keberapa kalinya Sean bilang aku suami kamu, dan hal itu benar benar membuat Rain muak.
Tak ingin acara makan siangnya dengan Al terganggu gara gara ocehan Sean. Rain segera mengambilkan nasi dan air putih untuk Sean.
Sean makan sambil menahan kesal. Dari tadi Rain asyik ngobrol panjang lebar dengan Alan. Sedang dirinya sama sekali gak dianggap.
"Kamu udah daftar kuliah?" Tanya Rain disela sela makannya.
__ADS_1
"Al kayaknya mau daftar di universitas lain mbak. Al mau daftar di universitas Soekarno Hatta."
Rain kaget mendengar nama universitas itu. Sudah menjadi rahasia umum jika yang kuliah disana hanya kaum berduit.
"Loh kok kesana, itu universitas malah Al?"
"Al dapat beasiswa dari seorang pengusaha. Dicariin teman mbak. Orang itu baik banget, dia sengaja ngasih beasiswa pada anak kurang mampu yang ingin kuliah. Tapi Al belum ketemu dia."
"Astaga, jadi lo ngemis ngemis minta beasiswa? Kenapa gak ngemis ke gue aja sih?" Ujar Sean sambil memyeringai lebar. Sepertinya, sifat songongnya kembali kambuh.
Mendengar itu Al langsung meletakkan sendoknya. Siapa juga yang tak geram jika dikatakan pengemis.
"Maksud lo ngomong gitu apaan sih?"
"Udah Al, udah." Rain mengusap lengan Alan agar emosinya sedikit reda. "Mulutnya emang gak ada filternya. Jadi yang keluar cuma kata kata yang bikin orang sakit hati doang. Gak usah didengerin, anggap aja suara knalpot Brongg."
Sean hanya bisa melotot saat disamakan dengan knalpot.
"Lo malu malu in aja Al. Gimana kalau orang tahu lo ipar gue? mau ditaruh mana muka gue? orang pikir pasti gue pelit karena gak mau biayain lo kuliah." sungut Sean.
"Terus, mama kamu yang minta aku bayarin tas 90 juta gak malu maluin. Katanya situ orang kaya, tapi kenapa malah morotin aku. Kamu dan mama kamu sama aja." balas Rain.
Deg
Sean tercengang mendengar ucapan Rain. Dia tak menyangka mamanya seketerlaluan itu. Sean jadi malu, apalagi Rain mengatakan itu didepan Al.
"Hah, mertua mbak ngemis minta diberikan tas 90juta? Itu tas, atau mas batangan, mahal banget?" Alan sengaja menggunakan kata ngemis untuk membalas Sean.
"Seumur hidup aja mbak gak pernah beli tas semahal itu. Ini malah mbak dipaksa disuruh bayar. Dapat suami kaya bukannya banyak uang. Eh.... malah habis habisan diporotin." Rain sengaja menyindir Sean. Meluapakan kekesalan yang menumpuk dihatinya.
"Doain aja nanti Al kaya mbak, biar bisa Beliin mbak tas mahal. Jadi mbak gak usah ngemis ngemis minta sama suami yang katanya kaya tapi keluarganya matre itu." Al dan Rain kali ini kompak membully Sean.
"Mending kita ya Al, biarpun gak kaya seengganya gak ngemis ngemis barang mewah sama orang lain. Tapi mbak ikhlas kok, mbak anggap aja sebagai sedekah." Tekan Rain sambil menusuk dengan keras ikan didalam piringnya.
Sean makin panas Karena terus terusan dikata katain oleh Rain dan Alan. Karena udah gak kuat, dia milih pergi dan segera masuk kamar.
"Marah tuh kayaknya," ucap Alan sambil menunjuk dagu kearah pintu kamar.
"Biarin aja, aku kesel banget sama dia." Rain tak mau ambil pusing. Keduanya lalu meneruskan makan mereka. Tapi tak lama kemudian Sean keluar dari kamar.
"Nih." Sean meletakkan kartu debit didepan Rain. "Itu isinya 2M, cukup kan buat ganti uang kamu yang dipakai mama beli tas? Dan lo Al, gak usah terima beasiswa dari siapapun. Gue yang bakal biayain kuliah lo. Dan ini, " Sean meletakkan kunci mobil serta stnk. "Ini buat lo." Sean memberikan mobil yang dulunya dipakai Dino untuk Alan. Tidak terima dihina, dia pamerkan kekayaannya pada Rain dan Alan.
"Sory gue gak butuh ini. Gue kesini mau ketemu Mbak Rain, bukan mau ngemis mobil." Al menolak mentah mentah mobil dari Sean. "Al pulang dulu ya mbak. Bisa senewen kalau lama lama sama dia." Alan menunjuk dagu ke arah Sean.
__ADS_1
Sumpah, ni bocah minta dihajar kayaknya. Kalau aja gue gak cinta sama kakaknya, udah gue kirim ke antartika nih bocah.