
Amaira sudah menunggu Al diparkiran cafe. Dia sengaja tak masuk karena Al pasti ngomel ngomel kalau Amaira datang disaat jam kerjanya. Dia tak suka kalau diganggu saat kerja, lebih tepatnya dia sungkan pada bos serta rekan kerjanya.
Amaira berdiri disamping pintu mobilnya sambil mengecek instagram. Tiba tiba muncul ide mau foto bersama Al dan mempostingnya di sosmed.
"Al." Amaira melambaikan tangannya saat melihat Al keluar dari cafe.
"Aku kan udah bilang gak usah kesini hari ini, aku lagi sibuk." Alan ingin segera mencari Rain. Pikirannnya tak tenang gara gara kedatangan Sean tadi.
"Aku kan kangen kamu Al." Amaira bergelayut manja di lengan Al. Al merasa risih karena beberapa temannya yang ingin pulang memperhatikannya.
"Jangan gini Ra, malu banyak yang liat." Al berusaha melepaskan tangan Amaira. Gadis itu berdecak kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Al sama sekali tak mempedulikan Amaira. Saat ini yang terpenting baginya hanya segera menemukan Rain.
Al mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rain lagi. Tapi nomornya masih saja tidak aktif. Satu satunya teman Rain hanya Maya, dan Maya juga tak tahu dia ada dimana.
Amaira makin kesal karena Alan malah sibuk menelepon dan mengabaikannya.
Makam, ya, Alan teringat makam ibunya. Biasanya kalau lagi banyak masalah, Rain datang kesana. Mengingat sudah sore, Al ingin buru buru kesana.
"Udah ya Ra, gue buru buru." Al cepat cepat memakai helm nya.
"Mau kemana sih Al? Terus gue gimana? lo gak mau ngajak gue?"
"Gue cuma bawa helm satu, gimana mau ngajak lo?"
"Tenang aja, gue bawa helm kok dimobil." Amaira segera masuk ke mobilnya untuk mengambil helm. Sejak ngejar ngejar Al, dia selalu sedia helm. Dia tak mau Al tak mengajaknya naik motor dengan alasan gak bawa helm.
"Hah." Al melongo sambil geleng geleng kepala. Dia tak habis pikir, sampai segitunya usaha Amaira buat bisa dekat dengannya.
Amaira tak mau menyia nyiakan kesempatan. Dia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Al sambil meletakkan dagunya dibahu Alan. Udara sore hari yang segar ditambah langit senja yang indah menambah suasana jadi makin romantis, menurut Amaira. Tapi tidak menurut Al, pikirannya kacau sekarang, sebelum bertemu kakaknya, dia belum bisa tenang.
"Kita mau kemana sih Al?"
"Ke makam."
"What!" pekik Amaira. "Jangan becanda, gak lucu."
"Aku gak becanda, aku mau kemakam nyariin kakak aku."
Tubuh Amaira seketika gemetar. Dia sangat takut dengan yang namanya makam.
__ADS_1
"Aku turun disini aja Al," ucapnya lemas.
"Nanggung udah deket, kalau gak mau masuk kamu nunggu diluar aja, sambil jagain motor aku."
"Enggak, aju turun sini aja. Aku gak mau ke makam. Hiks hiks hiks." Gadis itu sampai menangis karena takut.
Alan buru buru menepikan motornya saat mendengar Amaira menangis. Setelah menghentikan motornya, dia menoleh ke arah Amaira.
"Lo Nangis Ra?"
"Aku gak mau ke makam Al, aku takut." cicit gadis itu sambil mencengkeram jaket Al. Wajahnya juga terlihat pucat.
Alan melihat ada minimarket dekat tempatnya berhenti. Dia membawa Amaira kesana dan membelikan gadis itu minuman.
"Lo tunggu sini gak papa kan? gue buru buru harus ke makam soalnya bentar lagi gelap."
"Hem." Jawab gadis itu sambil manggut manggut.
Alan buru buru melajukan motornya ke pemakaman. Sesampainya disana, ternyata Rain tak ada. Tak nampak juga bunga segar yang menunjukkan jika makam itu habis dikunjungi. Alan makin bingung, dia tak tahu harus mencari Rain kemana lagi.
"Gimana Al, ada kakak kamu?" tanya Amaira sesampainya Al di minimarket.
"Ga ada Ra. Gue bingung banget harus nyari dimana lagi." Alan duduk disamping Amaira sambil meneguk minuman yang tadi berikan pada Amaira.
"Yang aku tahu, teman Mbak Rain cuma satu, dan dia tak ada disana."
"Masak kakak kamu cuma punya teman satu?"
"Mbak ku agak tertutup Ra, dia susah bergaul."
"Mbak kamu introvert gitu?"
"Gak juga sih, tapi ada suatu sebab yang membuat dia merasa lebih nyaman sendirian. Dulunya dia sangat periang."
"Sebabnya apa?"
"Maaf Ra, aku gak bisa cerita."
...******...
__ADS_1
Brian bingung menghadapi Sean. Dia ingin meninggalkannya tapi tak tega, dia takut Sean akan melakukan hal yang diluar batas.
Brian merebut bungkus rokok yang sedang di pegang Sean. Dia tak mau Sean terus merokok sambil minum seperti ini.
"Udah Sean, lo udah habis banyak."
"Gue gak bisa berhenti Yan, gue bisa gila kalau gak ngerokok dan minum. Cuma ini yang bisa bikin gue tenang saat ini."
Sean merebut kembali rokoknya. Tak terhitung sudah berapa batang rokok yang dia hisap. Dan puntungnya dia buang ke sembarang tempat. Tempat itu sudah tak layak lagi disebut apartemen, lebih tepatnya mirip tempat pembuangan sampah.
"Kalau Rain ngeliat lo kayak gini, yang ada dia makin ilfeel sama lo."
"Gimana mau lihat, orang dia ada di London sekarang. Dia dan Gaza pasti sedang mertawain gue sekarang, hahaha." Sean menertawakan dirinya sendiri.
"Jangan ketawa kayak gitu, ngeri gue. Lo mirip orang gila beneran."
"Gue emang udah gila Yan, buktinya gue sampai halu ngeliat Rain berdiri dibelakang lo."
Brian segera menoleh, matanya membulat sempurna saat melihat Rain berdiri dibelakangnya. Brian mencubit lengannya sendiri. Dia takut kalau ternyata dirinya ketularan gila dan halu kayak Sean.
"Aww." pekik Brian. Ternyata dia gak halu. Yang dia lihat beneran Rain.
Sean kembali menegak minumannya. Dia berharap kehuluannya akan segera hilang. Dia menyipitkan matanya saat melihat Rain tak juga hilang dari pandangannya.Dia mengucek matanya berkali kali dengan harapan bayangan Rain akan hilang.
"His, kenapa bayangan Rain gak ilang ilang sih." gerutu Sean. Dia mengambil botol minumannya dan ancang ancang mau melempar botol itu kearah Rain.
"Jangan jangan." Brian buru buru menghentikan Sean dan merebut botol itu. "Lo gila mau ngelempar Rain pakai botol?"
"Itu bukan Rain, itu cuma bayangannya saja. Dia ada di London."
"Sadar Sean, sadar." Brian mengguncangkan bahu Sean berkali kali. "Itu Rain, lo gak lagi halu."
Rain hanya diam ditempat. Dia tak paham dengan kelakuan Sean. Bisa bisanya dia mengacaukan rumah seperti ini. Apartemennya sudah mirip kapal pecah. Bau alkohol dan rokok sangat menyeruak, hingga membuat Rain merasa mual.
"Kamu apa apaan sih Sean?" bentak Rain. "Bisa bisanya kamu menghancurkan rumah kayak gini? Lo tahu kan kalau gue gak suka bau alkohol dan rokok. Tapi kenapa kamu malah mabok disini?" Rain hampir menagis karena kesal. Dia tak bisa membayangkan bagaimana cara membersihkan ruangan itu.
Sean kaget mendengar Rain yang mengamuk. Apakah ini artinya dia benar Rain. Jadi dia gak sedang halu melihat Rain.
"Rain, jadi ini beneran kamu beb." Sean buru buru berdiri, dia berjalan sempoyongan menghampiri Rain. "Ini beneran lo kan Rain?" Sean ingin memeluk Rain tapi Rain malah mendorongnya.
__ADS_1
BRUK
Sean yang mabuk berat itu langsung terjatuh hanya dengan satu dorongan.