
Setelah perdebatan di kamar, Rain mengajak Sean untuk sarapan. Pagi ini Rain memasak nasi goreng polos tanpa tambahan apapun dan telur ceplok. Makanan seadanya itu dihidangakannya di meja makan.
Sean menatap makanan didepannya tanpa selera sama sekali. Tapi dia tak enak hati ingin menolak. Beda halnya dengan Rain, dia terlihat antusias menyantap makanan didepannya.
"Kamu gak bisa masak ya?"
Rain otomatis berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan Sean. Dengan susah payah Rain berusaha menelan makanan yang ada dimulutnya.
"Kenapa? tidak enak ya?"
"Bukan, hanya saja kenapa makanannya simpel sekali. Apa ini bisa dibilang nasi goreng? kenapa bentukannya hanya seperti nasi yang digoreng dengan minyak. Gak ada warnanya, gak ada sosis atau sayur atau apalah." Sean mengaduk aduk nasi didepannya dengan tatapan aneh. Seakan akan yang ada dihadapnnya itu tidak layak disebut makanan.
Ish, gak bersyukur banget jadi orang, batin Rain.
"Bukannya aku gak bisa masak, hanya saja gak ada yang bisa dimasak. Kulkas kamu kosong, cuma ada telur saja. Gimana mau berwarna, kecap, saos atau bumbu apapun juga gak ada. Nasi gorengnya jadi gak aku bumbuin, cuma aku goreng dengan mentega aja. Mau belanja supermarket dibawah juga masih belum buka."
Sean ngeri mendengar penjelasan Rain. Nasi digoreng dengan mentega, tanpa bumbu apapun. Apa itu bisa disebut nasi goreng? Sean makin ilfill melihat nasi goreng itu.
Dan Rain terlalu peka untuk melihat ekspresi Sean.
"Kok diambil?" Tanya Sean saat Rain mengambil nasi goreng yang ada didepannya.
"Gak usah dimakan kalau gak mau. Aku pesenin makanan online aja."
"Gak perlu, aku makan ini aja." Sean mengambil kembali nasi goreng dari tangan Rain dan meletakkan dimeja.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian. Sean mulai memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
Mungkin ini makanan paling tidak enak yang pernah aku makan seumur hidup, batin Sean sambil berusaha menelan makanannya.
"Gak enak ya?" Rain bisa melihat ekspresi semacam itu diwajah Sean.
"Lumayan, masih bisa dimakan kok." Ucap Sean sambil menyeringai kecil. Padahal kalau boleh jujur, bukan lumayan rasanya, melainkan sangat tidak enak.
"Kemarin saat dirumahnya, dia cuma masak omelet telur ples oseng toge. Sekarang lebih parah lagi. Gak mungkinkan aku akan menderita terus kayak gini, " batin Sean.
Rain ingin ketawa, dia tahu kalau Sean terpaksa memakannya. Makanan itu memang tak enak, dia sendiri juga tahu. Tapi daripada gak sarapan, mending makan seadanya. Tapi dia senang karena Sean mau memakannya.
"Apa aku perlu mencari asisten rumah tangga?"
"Kan kata kamu sudah ada."
"Bi Ratih cuma bersih bersih aja. Itupun dua hari sekali, dia gak pernah masak."
"Gak usah, biar aku saja yang masak."
Huk huk huk
Sean langsung tersedak mendengarnya. Dia tak sanggup kalau harus makan seperti ini terus setiap hari.
__ADS_1
Bukannya mengambilkan air, Rain malah tertawa melihat Sean yang tersedak mendengar dia mau memasak tiap hari.
"Orang tersedak kok malah diketawain sih?" Sean sebal melihat Rain menertawakannya.
"Kok kayaknya kamu syok gitu mendengar aku mau masak tiap hari? Kamu ngeraguin kemampuanku ya?"
"Bukannya meragukan, aku hanya tak mau kamu capek karena harus memasak tiap hari," bohong Sean. Sejujurnya dia memang sangat meragukan kemampuan Rain memasak.
"Astaga...suamiku ini care banget. Sampai sampai gak mau istrinya kecapekan karena masak. Aku senang sekali." Rain tersenyum sambil memegang tangan Sean yang ada diatas meja.
"Gak usah pegang pegang." Sean buru buru menarik tangannya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang hanya karena Rain tersenyum dan memegang tangannya.
"Ish gitu aja ngegas. Aku cuma pengen godain kamu dikit aja biar gak tegang makannya. Siapa tahu tiba tiba nasi gorengnya jadi enak."
"Yang ada yang dibawah ikutan tegang kalau kamu kayak gitu."
Rain melotot mendengarnya. Apa mungkin hanya dipegang tanganya saja yang bawah ikut bereaksi.
"Kita belanja aja yuk buat ngisi kulkas." Rain segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah ayo." Sean cepat cepat berdiri. Dia sepeti mendapat angin segar. Setidaknya dia tak perlu menghabiskan nasi goreng super simpel, dan minim rasa itu.
"Habisin dulu dong makanannya, nanti. mubadzir."
Dengan lemas Sean kembali mendudukkan pantatnya dikursi. Rain kembali menahan tawa melihat ekspresi Sean yang terlihat menderita. Rain sebenarnya tahu jika Sean terpaksa memakan nasi goreng itu. Tapi karena masih kesal dengan ulah Sean semalam. Jadi anggap aja ini sebagai hukuman untuknya.
...******...
"Kamu yakin mau belanja disini?"
"Yakin lah, dipasar lebih lengkap, lebih segar dan yang paling bikin aku seneng, lebih murah."
"Aku yang bayar, gak usah mikirin harga. Kita belanja di supermarket aja ya?" Membayangkan saja Sean sudah merasa jijik, apalagi masuk. Dipikirannya pasar tradisional pasti kotor, bau dan becek.
"Udah terlanjur sampai sini. Ya udah aku masuk sendiri kalau gitu." Rain membuka sabuk pengaman dan siap siap turun.
"Ya udah aku ikut." Sahut Sean dengan muka sebal.
"Jaga mobil gue baik baik, jangan sampai kegores apalagi hilang," pesan Sean pada petugas parkir dengan gaya songongnya.
"Cih, dasar orang kaya sombong. Gue doain mobilnya ilang beneran." Gerutu tukang parkir sambil mengepalkan tangannya ke atas seolah oleh mau memukul kepala Sean. Dia berani seperti itu karena Sean sudah berjalan membelakanginya.
"Sepatu mahal gue bisa kotor kalau dipake disini Rain." Sean jalan sambil jinjit jinjit takut sepatunya kotor.
"Ya udah kita beli sandal jepit aja. Sepatunya ditaruh kresek."
"Yang benar aja, gak level gue pakai sandal jepit. Yang iya kalau pakai sandal jepit, malah kaki gue yang kotor." Tutur Sean sambil bergidik.
Rain hanya geleng geleng melihat suaminya yang tingkat kesongongannya melebihi rata rata itu.
__ADS_1
Baru memasuki pasar Sean sudah menjadi magnet tersendiri bagi para emak emak yang terpesona akan ketampanannya. Rain sampai risih karena tatapan mereka selalu tertuju pada Sean.
"Ih cakep banget."
"Itu sih bukan cakep, tapi kelewat cakep."
"Pengen saya jadikan mantu."
"Boleh gak kalau bapak yang dirumah saya tukar tambah sama dia."
Bukannya cemburu, celetukan mak mak itu membuat Rain pengen ketawa terus. Dia tak menyangka kalau suaminya itu bakalan punya banyak fans dipasar.
Rain berhenti disebuah lapak penjual sayur dan bumbu masak. Mengingat kulkas yang kosong serta tak ada bumbu apapun diapartemen. Rain jadi belanja banyak sekali.
"Itu pacar apa suaminya neng, cakep banget?" tanya ibu penjual sayur.
"Suami saya Bu."
Sean merasa senang saat Rain menyebutnya suami sambil tersenyum.
"Gagal deh mau saya jadikan mantu." Sahut Ibu yang berdiri disamping Rain dengan raut kecewa.
"Mau saya kasih diskon gak?" tanya penjual sayur.
"Mau dong Bu." Rain sangat antusias mendengar kata diskon.
"Kalau gitu, suaminya suruh ngelus perut saya dong. Saya lagi hamil, siapa tahu anak saya nanti ketularan cakep."
Sean langsung melotot mendengarnya.
"Boleh Bu." Jawab Rain tanpa bertanya dulu pada Sean. Sean menjawil lengan Rain sambil geleng geleng sebagai isyarat kalau dia tidak mau. Ogah banget dia ngelus perut ibu itu.
"Apaan sih Rain, ogah tau." Bisik Sean ditelinga Rain.
"Cuma ngelus doang kok. Nanti saya diskon sepuluh ribu." Kata ibu itu sambil keluar dari lapaknya dan mendekati Sean.
"Buruan dong Mas, saya tambah jadi 15 rebu deh diskonnya."
Rain menyenggol lengan Sean sambil melotot agar Sean segera melakukan permintaan ibu itu.
"Busyet, cuma buat uang 15 rebu gue mesti ngelus ngelus perut ibu ini. Mana bau bawang lagi orangnya." gerutu Sean dalam hati sambil terpaksa mengelus perut ibu itu.
"Kamu ikutan ngelus juga neng. Kata orang kalau ngelus perut ibu hamil bisa ketularan."
"Ketularan apa Bu?" tanya Rain sambil ikutan mengelus perut bumil itu.
"Ketularan hamil." Rain buru buru melepaskan tangannya. Tapi Sean malah menarik tangan Rain agar tetap menempel pada perut buncit itu.
"Saya doain semoga cepet cepat nyusul dapat momongan." Kata penjual sayur itu.
__ADS_1
"Amin..... " Sean mengamini dengan suara lantang hingga membuat orang yang disana ketawa.
"Semangat banget ngamininnnya. Kayaknya udah pengen banget tuh."