Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
GUGUP


__ADS_3

Amaira merasa sangat kecewa dengan Alan. Dia pikir Alan akan dengan senang hati menikahinya. Tapi lagi lagi Amaira terlalu berharap.


"Baiklah, aku gak akan maksa kamu. Ayo kita jelasin semuanya. Aku sudah pasrah Al, mungkin jodohku memang Kak Edward." Dengan air mata yang menetes, Amaira melangkah meninggalkan Alan.


"Tunggu." Alan menarik pergelangan tangan Amaira. "Aku memang ingin menikahimu Ra. Tapi dengan cara yang gentle, bukan seperti ini."


Amaira menghela nafas. "Sudahlah Al, ayo temui mama dan kak Arya. Aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Amaira sambil menangis.


Alan sungguh tak tega melihatnya. Amaira memang sedikit gila, tapi Alan sadar, jika semua itu gara gara dirinya. Gara gara cinta Amaira yang terlalu besar untuknya.


"Aku akan menikahimu, tak perlu jelaskan apa apa lagi."


"Beneran Al?" Tanya Amaira sambil menggoyang goyangkan lengan Alan.


"Iya, udah jangan nangis." Alan menghapus air mata Amaira dengan ibu jarinya. "Sekarang masuk kekamarmu. Bersiaplah untuk pernikahan kita. Aku tak ingin mempelai wanitaku terlihat jelek." Goda Alan sambil menarik kedua sudut bibir Amaira agar gadis itu tersenyum.


Dengan wajah tersipu malu, Amaira berlari menuju kamarnya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Kepalanya seolah dipenuhi kupu kupu. Dia begitu bahagia. Bahkan saat dinyatakan bersih dari kanker, dia tak sebahagia ini. Menikah dengan Alan adalah harapannya sejak dulu.


Amaira yang sudah siap dengan kebaya putih dan rambut disanggul modern, duduk disamping Alan. Pemandangan yang sangat kontras. Mempelai wanita terlihat sangat anggun dan cantik, sedang mempelai pria terlihat babak belur. Sungguh pernikahan yang ironis.


Untung saja yang hadir tidak banyak, jadi Alan tak terlalu malu. Tapi Alan begitu malu saat ayahnya, Rain dan Sean tiba disana. Dia sampai tak sanggup melihat wajah kecewa ayahnya.


SAH


Kata itu terucap dari para saksi setelah Alan selesai mengucap ijab kabul. Perasaan tegangnya seketika hilang. Walaupun pernikahan ini diluar ekspektasinya, tapi dia bahagia. Setidaknya dia bisa menikahi Amaira walau ada drama dibalik semua ini.


Amaira tampak sangat bahagia hari itu. Terlebih saat Alan mencium keningnya. Hatinya terasa berbunga bunga. Semua orang disana bisa melihatnya.


Setelah ijab kabul, semua tamu segera pulang karena memang tak ada acara resepsi atau lainnya.


"Surat nikahnya udah diurus asisten kakak, nanti kalau jadi kakak kasih kamu." Ucap Arya dengan nada ketus saat makan malam.


Tak hanya Arya, mama Amaira juga terlihat tak begitu menyukai Alan. Alan merasa terasing saat makan malam keluarga.


"Lalu pestanya gimana kak? Aku pengen resepsi yang mewah." Ucap Amaira antusias. Sejak dulu dia memang mendambakan pernikahan ala princess.


Alan menelan makanannya dengan susah payah. Mana mungkin dia ada uang untuk pesta mewah. Tabungannnya mungkin hanya cukup untuk menyewa apartemen di Australia untuk ditempati bersama Amaira. Karena apartemen yang sekarang dia sewa bersama teman temannya.


"Tanya saja pada suamimu, apa dia mampu mengadakan pesta pernikahan untuk kalian?" Arya terlihat sedang menyindir Alan.


Amaira seketika terdiam. Dia merasa sudah salah topik pembicaraan. Dia menatap Alan yang tampak gelisah. Alan cepat cepat menghabiskan makanannya agar bisa segera meninggalkan meja makan.


"Ra, aku mau keluar sebentar, aku harus mengambil sesuatu dirumah." Pamit Alan saat keduanya sudah ada didalam kamar.


"Aku ikut." Ucap Amaira manja sambil bergelayut dilengan Alan.


"Gak usah, cuma sebentar. Lagipula aku sudah memesan ojek online. Lebih baik kamu istirahat saja." Tutur Alan sambil mencium kening Amaira.


"Kok pakai ojol? kenapa gak pakai mobil aku aja?"


"Gak usah, aku gak enak sama keluarga kamu."


Alan melihat ponselnya dan mendapati chat dari ojol jika sudah menunggu diluar. "Aku pergi dulu."


Amaira terduduk diranjang kamarnya. Dia merasa kasihan pada Alan. Kerena ulahnya, Alan yang belum siap terpaksa menikahinya.

__ADS_1


Sepulang dari rumah ayahnya, Alan mendapati Amaira tengah meringkuk diatas diatas ranjang.


"Ra" Sapaan Alan membuat Amaira yang tengah menangis buru buru menghapus air matanya.


"Kamu nangis?"


"Enggak kok, cuma ngantuk, jadi keluar air mata." Sanggah Amaira sambil berdiri menyambut suaminya.


"Maaf ya gara gara nungguin aku kamu jadi sampai ngantuk gini."


"Kamu ngambil apa sih?" Amaira melihat Alan membawa sebuah ransel.


"Cuma baju aja."


"O." Amaira membulatkan mulutnya.


"Ra, apa kamu beneran pengen resepsi?" Alan tiba tiba menjadi serius.


"Enggak kok Al." Bohong Amaira, sejujurnya dia sangat mendamba ingin menjadi ratu sehari.


"Gak usah bohong, kamu gak pinter untuk itu. Aku tahu kamu pengen pestakan. Kita buat resepsi kecil kecilan saja gimana? Hanya keluarga dan sahabat dekat saja. Yang penting kamu bisa pakai gaun pengantin yang cantik dan bisa dansa sama aku. Aku ada sedikit tabungan kok."


Amaira sangat terharu dengan niatan Alan membahagiakannya.


"Gak usah Al, mending uangnya buat hidup kita di Australia saja. Biaya hidup disana mahal. Tapi aku bakal nyari kerja disana biar bisa bantu kamu. Kamu fokus kuliah aja, biar aku yang kerja."


Alan sungguh tertohok dengan ucapan Amaira. Seorang gadis manja yang hidup serba berlebihan sejak kecil, tiba tiba mau melakukan apapun untuk dirinya yang bukan apa apa.


"Jangan Ra, kamu cuma perlu duduk cantik dirumah. Biar aku yang kerja sambil kuliah."


"Yang aku bisa cuma kerja kantoran Al. Selain itu aku gak bisa. Masak, nyuci, ngepel, semuanya aku gak bisa. Daripada aku gak ngapa ngapain mending kerjakan?"


"Tapi aku akan belajar kok Al. Aku bakal buktiin kalau aku bisa menjadi istri idaman buat kamu."


Alan seketika tersenyum. Dia senang Amaira mau berusaha, tapi sepertinya tidak akan mudah.


"Al." Panggil Amaira sambil memainkan tangannya didada Al.


"Hem." Alan hanya berdehem sambil membelai rambut Amaira.


"Aku tadi baca di internet, katanya gak semua perawan itu keluar darah saat hubungan pertama kali."


"Lalu?" Alan mengernyit bingung.


"Gimana kalau aku nanti gak keluar darah?" Tanya Amaira ragu ragu.


"Ya, berarti kamu gak perawan. Kamu udah nipu aku. Kamu udah pernah melakukannya dengan Edward atau pacar kamu yang lain saat di Singapura. Atau jangan jangan kamu beneran hamil sekarang?" Alan menatap mata Amaira dengan intens.


Amaira geleng geleng kepala. "Gak pernah, aku berani sumpah. Aku juga gak hamil." Amaira terlihat gelisah.


Alan ingin sekali tertawa. Menurutnya sangat lucu ekspresi Amaira yang ketakutan seperti ini. Sebenarnya dia sangat percaya pada Amaira, hanya saja dia ingin mengerjainya dulu.


"Ya udah, kalau gitu ayo kita buktikan." Ucap Alan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Amaira.


Jantung Amaira seperti mau meledak saat merasakan sapuan nafas Alan diwajahnya. Seketika dia memejamkan mata untuk mengurangi kegugupannya. Tubuh Amaira bergetar saat merasakan benda basah dan kenyal menyapu bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat hingga dia lupa bernafas.

__ADS_1


"Nafas." Alan melepaskan ciumannya dan menyentil pelan dahi Amiara. Seketika Amaira tersadar dan mengambil nafas sebanyak banyaknya.


"Kita udah pernah ciuman sebelumnya. Tapi kenapa kamu kayak amatiran gini Ra? Kamu nervous?"


Amaira mengangguk. Dia memang sangat gugup saat ini. Walaupun mereka sudah pernah beberapa kali ciuman, tapi mengingat saat ini adalah malam pertama, Amaira begitu gugup.


"Rileks, gak usah terlalu tegang." Alan tersenyum sambil merapikan rambut Amaira.


"Ini malam pertama kita Al. Aku sangat gugup."


"Ya udah kalau gitu ditunda besok aja nunggu kamu siap."


Amaira buru buru menggeleng. Malam ini sudah dia nantikan sejak dulu, mana mungkin dia rela ditunda.


"Aku udah siap."


"Yakin?"


"Hem."


Dengan senyuman mengembang, Alan kembali mencium Amaira. Memberikan kecupan basah di seluruh wajah, leher serta dadanya. Nafas keduanya mulai memburu. Dan jantung mereka sama sama berdebar, karena malam ini yang pertama bagi keduanya.


Alan mengangkat tubuh Amaira ke atas ranjang dan kembali mencumbuinya. Amaira tak mampu lagi menahan desahannya. Ini sungguh nikmat, lebih nikmat dari yang pernah dia bayangkan. Darahnya berdesir, tubuhnya terus menggeliat menerima semua sentuhan dari Alan.


Amaira menghentikan Alan saat pria itu ingin memasukinya.


"Ada apa Ra?"


"Aku takut, bagaimana jika tidak keluar darah?" Amaira menggigit bibir bawahnya.


"Are you still virgin?"


"Yes."


"Semuanya akan baik baik saja. Kamu hanya perlu menahan, karena pasti akan sedikit sakit."


Amaira mengangguk pelan. Melihat Amaira siap, Alan melanjutkan yang tadi sempat tertunda.


"Auh....sakit... " Teriak Amaira sambil mencakar punggung Alan. Kuku yang panjang menggores punggung Alan hingga berdarah.


Alan buru buru membekap mulut Amaira dengan telapak tangannya. Teriakan Amaira cukup kencang hingga mungkin terdengar orang diluar kamar.


"Jangan teriak, malu kalau kedengaran orang orang."


Amaira mengangguk lalu memejamkan matanya. Amaira merasakan sakit yang luar biasa dibagian intinya. Dia buru buru membekap mulutnya sendiri agar tak teriak.


Alan menarik tangan Amaira lalu menciumnya. Dia ingin mengalihkan rasa sakit itu agar Amiara bisa menikmatinya.


Alan ambruk diatas tubuh Amaira setelah mencapai pelepasan. Tubuhnya basah oleh keringat dan nafasnya masih memburu.


"Al, berat." Lirih Amaira sambil berusaha mendorong tubuh Alan yang menindihnya.


"Astaga, maaf sayang." Alan segera menjatuhkan tubuhnya disamping Amaira. Dia memiringkan wajahnya dan melihat Amaira yang nampak sangat kelelahan.


Amaira berusaha bangkit walau tubuhnya terasa remuk. Senyumnya langsung mengembang saat melihat bercak darah dispreinya.

__ADS_1


"Benaran kan Al aku masih perawan." Dia kembali berbaring dan memeluk Alan erat erat seolah besok tak bisa memeluk lagi.


"Aku sudah tahu. Lagian tadi aku cuma menggoda kamu aja. Aku tahu kamu wanita baik baik Ra. Aku sangat beruntung bisa memilikimu." Ucap Alan sambil mencium pucuk kepala istrinya.


__ADS_2