
"Aw... "pekik Rain saat dirinya hampir terjatuh kedalam kolam.
Sret
Tubuh Rain terpental kedepan karena ada sebuah tangan yang menariknya hingga dia terdampar disebuah dada yang bidang.
Rain terdiam untuk beberapa saat hingga dia tersadar berada dipelukan seseorang. Rain mendongakkan kepalanya dan..
"Gaza!" lirih Rain.
Dengan sisa sisa kesadarannya, Rain berusaha lepas dari pelukan Gaza.
"Kamu kenapa Rain?" Gaza menyadari jika sesuatu terjadi dengan Rain.
Rain diam saja dan berniat menjauh dari Gaza. Dia tak ingin Sean melihatnya dan memunculkan masalah.
Baru beberapa langkah, Rain merasakan bumi yang dia injak seperti berputar. Kepalanya makin berat dan tubuhnya makin panas. Melihat Rain yang berjalan limbung dan hampir jatuh, Gaza segera mendekat dan menopang tubuh Rain.
"Rain kamu kenapa?" Gaza melihat mata Rain yang memerah. Dan dari gelagatnya, Gaza menduga jika Rain sedang mabuk.
"Kamu mabuk Rain?" Tanya Gaza sambil menopang kedua bahu Rain. Rain tak menjawab, dia berusaha melepas tangan Gaza dari pundaknya.
Dari atas panggung, Sean bisa melihat interaksi antara Rain dan Gaza. Amarahnya sudah mulai naik hingga dia kehilangan konsentrasi. Permainan gitarnya amburadul hingga temannya berkali kali memberi isyarat padanya.
"Kanapa kamu berubah kayak gini Rain? Suami kamu yang ngajarin kamu mabuk? Keterlaluan lo Sean." Gaza menatap tajam Sean yang berada diatas panggung. Dia mengepalkan tangannya. Dia sangat tahu kalau sejak dulu Sean dan genknya suka mabuk. Tapi dia tak menyangka jika Sean menularkan kebiasaannya itu pada Rain.
"Lepas." Rain berusaha menyingkirkan tangan Gaza. Tapi Gaza justru memeluknya erat. Rain tak mampu berbuat apa apa, jangankan menolak dipeluk Gaza, untuk menganggat kepala saja dia tak kuat karena terlalu pusing. Rain seperti kehilangan kesadaran, dia meletakkan kepalanya didada Gaza dan mulai memejamkan mata.
Sean sangat geram melihat Rain berpelukan sangat intim dengan Gaza. Dia segera meletakkan gitarnya dan turun panggung.
"Sean, lo mau kemana?" Tanya Boy sang drumer yang ikut kelabakan saat Sean tiba tiba turun panggung. Brian yang memegang bass menyadari apa yang terjadi. Dia juga melihat Rain berpelukan dengan Gaza.
Para penonton otomatis, memperhatikan pergerakan Sean. Pertunjukan diatas panggung terhenti dan berganti pertunjukan yang lebih menarik.
Sean segera menarik Rain dari pelukan Gaza lalu
BUGH BUGH
Dua kali bogem mentah dia layangan kewajah Gaza. Gaza yang juga marah langsung membalas pukulan Sean hingga mereka saling adu jotos dan saling mengumpat. Beberapa orang berusaha melerai dan beberapa ada juga yang malah memvidio.
__ADS_1
Rain yang mabuk tak bisa berbuat apa apa. Jangankan melerai, menguasai tubuhnya sendiri saja dia tak bisa.
Setelah berhasil dilerai, Sean segera menarik tangan Rain untuk pulang. Tapi karena kesadaran Rain yang tak penuh, dia justru terjungkal saat tangannya ditarik Sean.
Melihat itu, Gaza makin naik pitam. Dia berusaha menolong Rain untuk bangun.
"Lepasin istri gue." Sean mendorong tubuh Gaza agar menjauh dari Rain. Sean kesal kepada Rain yang sejak tadi hanya diam saja dan terkesan menerima perlakuan Gaza.
"Ayo pulang." Bentak Sean sambil menarik kasar lengan Rain agar bangun.
"Elo bisa gak sih gak usah kasar begitu." Gaza tak terima Rain dibentak dan diperlakukan kasar. "Gue tahu lo nikahin Rain cuma untuk balas dendam ke gue. Tapi sikap lo kedia udah keterlaluan. Gue gak nyangka kalau selain bersikap kasar, lo juga ngajarin Rain yang gak bener."
Semua orang disana mulai berbisik bisik membicarakan masalah rumah tangga Sean.
"Kalau lo gak bisa jadi suami yang baik, lepasin Rain."
"Siapa lo nyuruh nyuruh gue?" Sean ingin maju lagi menghajar Gaza tapi Leo menghalanginya.
"Udah Sean, mending bawa Rain pulang." Leo menarik Sean yang ingin kembali menghajar Gaza. Dia melihat jika banyak yang merekam kejadian itu.
"Gue harus membungkam mulut dia dulu biar dia gak makin bicara aneh aneh." Sean berusaha melepaskan cekalan tangan Leo.
Sean segera menghampiri Rain yang sedang dipegangi oleh Brian. Kepala Rain yang terasa sangat berat membuatnya tak kuat lagi berdiri. Sean melihat mata Rain yang memerah dan tampak kosong. Sepertinya Rain sudah kehilangan kesadaran.
Menyadari ada yang tidak beres, Sean segera menggendong Rain ala bridal style dan membawanya keluar dari resort.
Sesampainya dimobil, Sean segera mendudukkan Rain dan memasangakan Seltbelt. Rain tampak sudah memejamkan matanya. Setelah itu dia menutup pintu dan masuk ke bagian kemudi.
Sean membuka mulut Rain dan mencium aroma yang keluar dari sana.
"Shitt, kamu minum vodka beb." Umpat Sean sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
...******...
Saat baru membuka mata, Rain merasakan perutnya sangat mual, dia segera berlari ke kamar mandi dan memutahkan isi perutnya.
Hoek Hoek hoek
Sean terbangun mendengar suara muntah muntah. Tapi dia tak ada niat melihat karena masih kesal pada Rain.
__ADS_1
"Sayang." Rain mengguncang pelan bahu Sean. Dia tak tahu jika suaminya itu sudah bangun dan hanya pura pura tidur saja.
"Hem." Sean membuka matanya dengan malas.
"Kepalaku pusing, aku habis muntah muntah. Antar aku kedokter Yuk. Kayaknya aku hamil deh. Aku udah telat lama."
Sean menghela nafas lalu mengubah posisi menjadi duduk.
"Kamu itu muntah muntah karena habis mabuk, bukan hamil." Jawab Sean dengan nada kesal.
"Mabuk?" Rain sama sekali belum ingat kejadian semalam.
"Gak ingat?" Sean menatap sinis kearah Rain. "Gak inget kamu kalau tadi malem udah bikin kekacauan?"
Rain mengingat ingat kejadian semalam. Dia pikir tadi malam bermimpi melihat Gaza. Ternyata itu nyata, bukan mimpi.
"Kamu kenapa sih bisa sampai mabuk?" Tanya Sean dengan sedikit membentak. "Sengaja mau bikin aku malu? Sengaja mau deket deket Gaza dengan alasan gak sadar karena mabuk?"
"A, aku.." Rain menggigit bibir bawahnya karena gugup. Dia sendiri tak tahu kenapa bisa sampai mabuk.
Sean segera bangun dan menuju kamar mandi. Rain masih mengumpulkan semua memorinya tadi malam. Dia mengingat ingat bagaimana dia bisa mabuk.
Setelah mandi, Sean mengecek ponselnya. Matanya terbelalak sempurna saat membaca pesan dari Leo. Leo memberitahunya jika vidio perkelahiannya dengan Gaza tadi malam menyebar di grup, tak hanya itu, foto foto Rain yang sedang berpelukan dengan Gaza juga menyebar.
Anak anak yang tidak datang reuni jadi tahu tentang masalah itu. Dan saat ini, di grup ramai membahas tentang scandal Rain dan Gaza. Juga tenang alasan Sean menikahi Rain.
"Lihat kelakuan kamu." Sean melemparkan ponselnya pada Rain.
Rain membekap mulutnya sendiri saat melihat vidio itu. Disana jelas sekali perkelahian antara Sean dan Gaza. Juga terdengar jelas saat Gaza mengatakan kalau alasan Sean menikah hanya untuk balas dendam. Foto foto dirinya yang berpelukan dengan Gaza juga beredar. Rain memang tak sadar tadi malam, jadi dia tak begitu tahu kejadiannya.
Sean merebut ponselnya dan segera keluar kamar.
"Sayang tunggu." Rain mengejar Sean dan menarik lengan pria itu.
"Aku bisa jelasin semuanya. Aku gak tahu apa yang aku minum hingga bisa mabuk. Sumpah aku gak tahu Sean."
"Elo bodoh apa begok, gak mungkin lo gak tahu apa yang lo minum." Bentak Sean sambil menghempaskan tangan Rain.
Rain bergeming, setelah bertahun tahun, Rain kembali mendengar Sean mengumpatnya dengan kata kata kotor.
__ADS_1