
Sean merasakan kepalanya sangat pusing. Pandangannya mulai berkunang kunang. Dia menyandarkan diri dikaki sofa sambil memejamkan matanya yang terasa berat.
Rain memutar kedua bola matanya. Dia makin muak melihat kelakuan Sean yang makin hari makin menjadi. Menikah dengan Sean merupakan suatu cobaan baginya. Tak ingin terus disini, Rain segera melangkah meninggalkan Sean.
"Mau kemana Rain?" sergah Brian.
"Mau pulang ke rumah aku. Males aku disini Yan." Dari cara bicaranya nampak sekali jika dia sangat lelah.
"Suami lo kayak gitu kok malah lo tinggalin sih Rain?"
"Terus gue harus gimana? Gue capek Yan menghadapi dia yang terus kayak gini. Udah tahu aku paling gak suka dengan bau alkohol dan rokok, dia malah mabuk dirumah. Dia bisa berbuat semau dia, kenapa gue enggak," teriak Rain.
"Lo tahu kenapa dia kayak gini? Dia kayak gini karena lo." Brian menujuk Rain dengan jari telunjuknya.
"Kok karena gue?" Rain menunjuk dirinya sendiri. "Gue baru pulang dia udah kayak gini."
"Dia nyariin lo seharian. Dia depresi karena dia pikir lo kabur dengan Gaza ke London. Suami mana yang bisa terima jika istrinya kabur dengan pria lain," teriak Brian. Terang saja dia lebih membela Sean dan menyudutkan Rain, karena Sean sahabatnya.
"Kenapa ponsel lo gak aktif? Kemana lo seharian ini?" Brian tiba tiba jadi wartawan dadakan.
"Bukan urusan lo."
"Bukan urusan gue kata lo. Lo pikir gue bakal diem aja saat melihat sahabat gue kayak orang gila karena ditinggal istrinya kabur? Dia kayak gini karena lo Rain."
Rain terdiam mendengar ucapan Brian. Dia baru ingat kalau belum mengaktifkan ponselnya. Hari ini dia sengaja mematikan ponselnya agar Sean tak bisa melacak keberadaannya. Dia tak ingin Sean tahu jika dia pergi ke bandara untuk melihat Gaza yang terakhir kalinya.
"Lebih baik kita bawa Sean ke kamar. Lo urusin suami lo."
Brian membopong Sean masuk ke dalam kamar dan merebahkannya diranjang. Rain melepaskan sepatu dan kaos kaki yang masih menempel dikaki Sean.
"Lo gak usah ngebersihin yang diluar. Gue udah nelepon Bi Ratih untuk ngebersihin. Lebih baik lo urusin aja suami lo. Gue pulang dulu."
Rain memandangi wajah Sean yang tertidur karena teler kebanyakan minum. Dia masih kepikiran kata kata Brian. Benarkah Sean kayak gini karena dirinya?
Rain mengambil ponselnya didalam tas lalu mengaktifkannya. Dia baru tahu kalau ada banyak sekali panggilan dari Sean dan Alan.
__ADS_1
Baru saja ponselnya aktif, langsung ada panggilan masuk dari Alan.
"Hallo Al."
"Kamu dimana mbak?" tanya Alan dari seberang sana. Suaranya terdengar sangat cemas.
"Mbak di apartemen Sean. Mbak gak papa kok, gak usah cemas."
"Syukurlah kalau begitu mbak. Kamu lagi ada masalah ya sama suami kamu? Tadi siang dia nyariin kamu ke cafe."
"Hanya ada sedikit salah paham. Ya udah Al, mbak mau istirahat." Rain segera menutup teleponnya.
...******...
Sean membuka matanya perlahan. Dia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Saat dia melihat kesamping, dia terkejut melihat ada seseorang yang berbaring memunggunginya.
"Siapa dia, kok kayak Rain? Bukankah Rain ada di London. Astaga, jangan jangan tadi malam waktu mabuk, gue manggil cewek." Guman Sean sambil pelan pelan menarik tubuh wanita itu agar terlihat wajahnya.
"Rain," seru Sean.
"Shitt." Sean menggetok kepalanya sendiri. "Jadi yang gue lihat tadi malam beneran Rain? Kalau begitu dia lihat gue pas mabuk berat. Dan gue juga mau ngelempar dia pakai botol. Astaga, dia pasti makin ilfeel ke gue."
Sean mengendus dirinya sendiri. Dia dapat mencium bau alkohol bercampur asap rokok yang sangat menyengat. Buru buru dia kemar mandi untuk membersihkan diri.
Saat keluar kamar mandi, dia melihat Rain baru keluar kamar. Buru buru dia menyusul istrinya itu. Dia takut Rain pergi lagi.
"Rain mau kenama?" Teriak Sean sambil berusaha menggapai tangan Rain. "Tunggu bentar, mau kemana?" Sean mencengkeram pergelangan tangan Rain agar wanita itu tak lagi meninggalkannya.
"Apaan sih Sean, lepasin, gue buru buru." Rain berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Sean.
"Gak, gue gak bakal lepasin lo."
"Lepasin Sean, gue udah gak tahan," bentak Rain.
"Maafin gue, gue janji gak akan mabuk mabukan lagi."
__ADS_1
"Astaga." Rain memejamkan matanya karena geram. "Gue gak peduli lo mau mabuk apa nggak. Cepat lepasin gue, gue udah gak tahan." Rain terus berusaha melepaskan diri dari Sean.
"Jangan ngomong gitu Rain, please. Gue janji bakal berubah kayak yang lo mau. Tapi tolong jangan tinggalin gue." Sean sudah kehilangan gengsinya. Persetan masalah harga diri, yang penting gak ditinggal Rain, hanya itu yang ada dikepala Sean.
"Gue udah gak tahan Sean," teriak Rain dengan muka merah padam.
Duutttt
Suara nyaring disertai bau busuk seketika menyeruak ke seluruh ruangan. Sean langsung melepaskan tangan Rain dan menutup hidungnya. Satu tangannya sibuk mengibas ngibaskan udara busuk disekitar hidungnya.
Rain buru buru berlari ke toilet yanga ada disamping dapur. Perasannya campur aduk, antara kesal dan malu. Sebenarnya sejak tadi dia udah kebelet pup. Karena Sean menggunakan kamar mandi dikamar. Rain terpaksa keluar kamar menuju toilet di sebelah dapur.
"Astaga, gue udah ngejatuhin harga diri dengan memohon mohon padanya, taunya dia udah gak tahan mau pup. Gila, bodoh banget sih gue." Sean menertawakan dirinya sendiri serta situasi yang sangat konyol ini. Saking takutnya ditinggal Rain, dia sampai gak bisa berfikir waras.
Rain keluar toilet sambil memegangi perutnya yang terasa plong. Dia kaget melihat Sean masih setia duduk di sofa depan tv dengan masih memakai handuk.
"Ngapain kamu masih disitu?"
"Nungguin kamu." Jawabnya sambil beranjak mendekati Rain. Melihat Rain membuatnya kembali teringat hal konyol tadi hingga dia kelepasan ketawa.
"Kamu ngetawain aku?" Rain mulai sewot.
"Enggak kok." Jawan Sean sambil berusaha menahan tawa.
"Kenapa emangnya, kentut aku bau?" Rain melotot sambil berkacak pinggang.
"Ish kau ini terlalu baper. Yang namanya kentut ya pasti bau. Emang ada ya kentut bau harum? hahaha."
"Udah puas ketawanya?"
"Belum, hahahaha." Sean terpingkal melihat wajah Rain yang merah padam menahan marah dan malu.
"Handuk jamu jatuh tuh." Rain melengos ke arah lain lalu masuk kedalam kamar.
Sean seketika menunduk. Dan benar saja, handuk itu sudah berpindah posisi dari pinggang ke atas lantai.
__ADS_1
"Sial," umatnya sambil buru buru memungutnya lalu memakainya lagi.