
Rain menangis sambil menatap keluar jendela. Hari ini begitu luar biasa menurutnya. Terlalu banyak kejutan yang membuatnya tak henti hentinya menahan sesak. Mulai dari fotonya yang tersebar. Di hujat satu kantor, dilabrak Salma, rencana pernikahannya dibatalkan, ayahnya masuk rumah sakit lalu yang paling menyedihkan adalah besok dia terpaksa harus menikah dengan pria yang sama sekali tak dicintainya.
"Udah dong Rain jangan nangis terus, mata kamu bisa bengkak besok. Masa pengantin matanya bengkak?" Maya mendekati Rain lalu duduk disebelahnya
"Alan mana May?"
"Aku suruh keluar beli makan. Kau pasti belum makan sejak sore."
Bukan sejak sore May, tapi sejak siang, batin Rain. Mana mungkin dia bisa makan saat situasi seperti ini.
"Kenapa mahal sekali harga yang harus aku bayar karena uang 1M. Karena uang itu sekarang aku kehilangan orang yang paling aku cintai. Kerena kesalahan satu malam, masa depanku hancur." Rain melirik pada Maya .
"Jangan bilang seperti itu Rain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Jangan buru buru menvonis masa depanmu hancur. Kata kata adalah doa Rain. Berdoalah semoga dia jodoh terbaik yang dikirim Tuhan untukmu."
"Tapi aku sama sekali tak mencintainya May. Aku hanya mencintai Gaza."
"Jodoh ditangan Tuhan, kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Tapi semua hasilnya ada ditangan Tuhan. Jika Gaza bukan jodohmu, kalian tak akan bersama walau segala usaha kau lakukan."
"Kau tahu May, sejak aku bersama Gaza. Aku selalu berharap menikah dengannya. Setiap saat aku berdoa agar dia jodohku. Aku tak pernah membayangkan akan menikah dengan pria lain."
"Berdamailah dengan takdir Rain. Kau harus ikhlas jika Gaza bukan jodohmu tapi orang lain."
"Tapi aku tak yakin akan sanggup menjalani rumah tangga dengan orang lain May. Menikah itu untuk selamanya, untuk seumur hidup. Dan seumur hidup itu terlalu lama untuk aku jalani bersama orang yang tidak aku cintai."
"Kau pernah dengar pepatah jawa. Tresno jalanan soko kulino yang kurang lebih artinya Cinta bersemi karena terbiasa. Aku yakin kau akan bisa mencintai suamimu jika kau terbiasa bersamanya. Tidak ada yang tidak mungkin Rain."
"Tapi aku merasa hukuman ini terlalu berat untuk kesalahan satu malam yang aku perbuat."
"Tidak berat jika kau ikhlas menjalaninya. Menikah adalah ibadah Rain. Jangan menganggap ini adalah hukuman."
Kalau hukumannya seperti ini aku juga mau Rain. Siapa yang gak mau nikah sama pria tampan dan kaya raya, batin Maya.
flashback
"Kenapa kau melakukan ini nak?"
__ADS_1
"Karena kami saling mencintai." Sean tiba tiba mengatakan hal itu. Rain dan ayahnya sontak langsung menoleh ke arah Sean. Merka berdua terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari kapan Sean masuk.
Teguh menatap Sean dengan seksama, dia ingat wajah difoto itu. Pria inilah yang ada difoto bersama Rain, batin Teguh.
"Kau pria itu kan? pria yang ada difoto bersama Rain?" Tanya Teguh dengan suara lirih. Teguh tak seperti teguh yang dulu. Dulu mungkin dia akan menghajar pria yang berani menyentuh putrinya. Tapi sekarang, tubuh rentanya terlalu lemah hingga ingin membentak saja rasanya tak mampu.
"Benar Om, saya Sean, pria yang sudah tidur dengan Rain." Biasanya seorang pria akan takut mengakui sudah meniduri anak gadis orang. Tapi lain dengan Sean, dia terlihat sangat tenang.
"Benar yang dia katakan Rain? Benarkah kalian saling mencintai?"
Rain hanya menunduk, dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia bilang tak mencintai Sean, lalu apa alasannya dia tidur dengan Sean. Tak mungkin dia bilang alasannya adalah menjual diri karena uang.
"Jawab nak, kenapa kau diam saja?"
Dengan terpaksa akhirnya Rain mengangguk.
"Kalau kau mencintai Sean, kenapa kau datang bersama Gaza dan bilang kalau kalian akan menikah bulan depan?"
"Maaf yah."
"Tidak yah, aku tulus pada Gaza. Aku tulus ingin menikah dengannya, Rain tak ada niat mempermainkannnya."
"Kau masih berharap menikah dengannya setelah melakukan hal kotor dengan Sean? Apa kau masih merasa layak untuk Gaza? Ayah saja malu nak. Ayah malu pada Gaza dan keluarganya karena perbuatanmu. Entah pria mana yang masih mau menikah denganmu setelah tersebarnya foto itu."
"Saya akan bertanggung jawab Om. Saya akan menikahi Rain." Ucap Sena dengan suara lantang tanpa keraguan sedikitpun.
Rain dan Teguh sontak langsung menatap Sean saat pria itu bilang akan menikahi Rain.
"Memang seharusnya seperti itu. Kau sudah mengotori anakku, kau harus bertanggung jawab."
Rain menggeleng kearah Sean. Dia tak ingin Sean melanjutkan ide gilanya ini.
"Ti, tidak ayah, Rain tak hamil. Sean tak perlu bertanggung jawab."
"Tapi semua orang sudah mengetahui perbuatan kalian. Jadi lebih baik kalian menikah untuk menutupi aib ini. Kau seharusnya senang dia mau bertanggung jawab Rain. Tapi kenapa kau malah menolak. Jangan mengharap Gaza lagi, kau harus sadar diri. Keluarganya juga tak akan mau menerimamu."
__ADS_1
"Saya akan segera menikahi Rain."
"Lebih cepat lebih baik. Aku tak mau Rain terus dihina karena masalah ini."
"Besok saya akan menikahi Rain di masjid depan rumah sakit ini. Masalah surat suratnya, bisa diurus setelahnya. Yang penting kami menikah dulu agar semua masalah ini tak berlanjut."
"Aku setuju." Jawab Teguh yakin. Baginya, hanya dengan cara ini nama baik Rain akan terselamatkan. Lebih cepat lebih baik. Selain itu, dia akan lebih tenang didalam penjara karena ada yang menjaga Rain nantinya.
Tubuh Rain lemas mendengar ayahnya menyetujui ide Sean. Dan yang lebih gila lagi, kenapa Sean bilang akan menikah besok, tak bisakan menikah bulan depan atau tahun depan. Kenapa terburu buru?
"Rain dan Sean perlu bicara sebenar ayah." Rain segera menarik Sean keluar dari ruangan Ayahnya.
"Apa maksudmu Sean, kenapa kau bicara yang tidak tidak?"
"Apa maksudmu bicara tidak tidak, aku serius Rain. Aku akan bertanggung jawab."
"Aku tak butuh pertanggung jawabanmu. Aku tak hamil. Lagi pula untuk apa kau bertanggung jawab. Kau sudah membayarku dulu. Kau tak perlu menikahiku."
Sean berdecak kesal. Wanita didepannya itu sungguh keras kepala.
"Aku tidak bertanggung jawab karena sudah memerawanimu. Tapi aku bertanggung jawab karena foto itu aku yang mengambil. Walaupun bukan aku yang menyebarkan. Tapi semua ini gara gara aku. Jadi aku harus bertanggung jawab dengan menikahimu."
Rain mendengus kesal. Dia bingung bagaimana harus menghadapi Sean. Bos nya yang satu ini memang sedikit gila. Selalu melakukan apapun sesuka hati.
"Aku tegaskan lagi Sean. Kau tak perlu bertanggung jawab. Aku tak mau menikah denganmu." Ketus Rain. Baginya, pernikahan adalah ibadah terlama dan sebisa mungkin sekali seumur hidup. Jadi dia tak ingin menikah dengan pria yang tidak dia cintai.
"Baiklah, kalau begitu katakan pada Ayahmu kalau kau tak mau menikah denganku. Katakan juga jika kau menjual diri saat itu. Pergi sana, katakan semuanya sesuka hatimu. Kau tahukan kalau ayahmu masuk rumah sakit karena serangan jantung. Jadi kalau terjadi apa apa pada ayahmu, jangan salahkan aku. " Sean mendorong Rain ke arah kamar Teguh.
Rain dan Sean kembali masuk keruangan Teguh. Rain menghela nafas berusaha untuk tenang.
"Bagaimana, apa kau setuju menikah besok Rain?"
Sean sengaja diam saja. Dia ingin Rain sendiri yang bilang pada ayahnya. Sengaja menantangnya karena dia yakin, Rain tak akan sanggup mengatakan kebenarannya pada sang ayah.
"Iya ayah, kami akan menikah besok. Jadi ayah jangan pikirkan apa apa lagi. Biar kami menyelesaikan masalah kami sendiri."
__ADS_1
Yes, hampir saja Sean berteriak seperti itu. Tapi untungnya dia masih bisa menahan diri untuk tidak celebrasi berlebihan.