
Alan membawa Amaira berjalan jalan disekitar rumah sakit dengan memakai kursi roda. Dia tak habis fikir dengan mamanya Amaira yang menyuruhnya membawa Amaira dengan kursi roda. Masuk angin saja kenapa selebay ini, batin Alan.
"Kamu rencananya daftar kuliah dimana?"
"Di UMJ, emangnya kenapa?"
"Kok disitu sih, mending kamu daftar dikampus aku aja. Aku kan pengen barengan terus sama pacar aku."
"Apaan sih Ra, aku bukan pacar kamu kali. Lagian kamu apa apaan sih pakai bilang kita jadian segala sama mama kamu? Aku jadi gak enak tahu sama mama kamu."
"Yey.. kamu kan emang nembak aku. Jadi ya kamu pacar aku. Ngapain pakai gak enak sama mama. Mama aku baik kok, buktinya dia malah seneng aku bilang jadian sama kamu."
Alan juga heran kenapa mamanya Amaira terkesan senang saat gadis itu bilang jadian. Padahal harusnya dia gak suka putrinya pacaran sama pelayan kafe.
"Kamu gak cerita yang enggak enggak tentang aku kan ke mama kamu Ra?"
"Enggak enggak gimana maksudnya?"
"Ya mungkin kamu nutupin jati diri aku yang hanya pelayan cafe. Mungkin saja kamu bilang aku anak orang kaya. Buktinya mama kamu gak keberatan kamu jadian sama aku."
"Ish kamu ini Al. Mama aku gak pernah menilai orang dari kekayaannya. Menurutnya, apapun yang membuat aku bahagia, dia pasti mendukung."
Masak sih ada orang kaya kayak gitu, batin Alan.
"Kamu kuliah dikampus aku ya, Please...."
"Kampus kamu itu kampus mahal Ra, aku mana ada uang buat bayar kuliah disana."
"Gak usah mikirin itu, aku bisa nyariin bea siswa buat kamu."
"Siapa yang mau ngasih aku beasiswa?" Alan tertawa mendengar ide konyol Amaira. "Aku bukan siswa yang berprestasi saat sekolah, aku gak pernah masuk peringkat 3 besar. Selain itu aku juga cuma ikut ujian kesetaraan saja."
"Itu jadi urusan aku Al, kamu cuma perlu kuliah saja. Gak usah mikirin yang lain. Cukup mikirin aku aja." Goda Amaira sambil mengerlingkan matanya pada Alan.
Astaga, gadis macam apa sih dia ini? Kenapa juga ada spesies kayak gini, gumam Al dalam hati.
"Mau ya Al... mau, Please." Amaira menggenggam tangan Al.
"Gak usah pegang pegang bukan muhrim." Al menarik paksa tangannya.
"Ya makanya segera dihalalin dong biar jadi muhrim."
Hah... kayaknya Bener Bener gak waras nih cewek. Masak iya dia minta dihalalin. Amit amit punya istri kayak dia, batin Alan.
...*******...
Sean menghentikan mobilnya didepan sebuah minimarket. Dia menyuruh Rain masuk untuk mengambil uang tunai dan membelikannya rokok. Dia sendiri tak mau turun karena malu sepatunya kotor.
__ADS_1
Rain langsung menuju mesin atm untuk mengambil uang tunai. Sebelum ke kasir untuk membeli rokok, dia lebih dulu muter nyari cemilan dan mie instan.
"Istri orang kaya kok makan mie instan?" seru seseorang saat Rain mengambil mie instan merek kesukaannya.
"Gaza." Rain tak menyangka akan bertemu Gaza ditempat itu.
"Apa kabar Rain?"
"Baik Ga, kamu gimana?" Jawab Rain dengan sedikit kikuk.
"Mungkin tak sebaik saat bersamamu dulu."
"Maafkan aku Ga."
"Untuk apa minta maaf Rain. Kau tak salah, mungkin kita memang tidak jodoh. Pacaran 3 tahun, tapi menikahinya sama orang lain, lucu ya?" Gaza tersenyum walau hatinya menangis.
Tidak lucu Ga, tapi menyedihkan. Sampai detik inipun, aku masih berharap jika semua ini mimpi. Aku ingin bangun, mimpi ini terlalu buruk, batin Rain.
"Jangan sering sering makan mie instan, gak sehat. Sekarang kamu udah jadi istri orang kaya, suruh suamimu membelikan makanan yang sehat."
"Tak perlu kau suruh aku sudah tahu," sahut Sean yang tiba tiba datang. "Aku nyuruh kamu beli rokok bukan ngobrol sama dia. Ayo pulang." Sean menarik tangan Rain menuju meja kasir.
Ternyata saat diparkiran, Sean melihat ada mobil Gaza. Tanpa pikir lagi, dia langsung masuk untuk mencari Rain.
Sepanjang perjalanan Sean tak bicara apapun. Dia malah membuka kaca mobilnya dan merokok. Sebenarnya Rain tak suka jika Sean merokok disebelahnya, tapi melihat mood Sean yang buruk, dia memilih diam.
"Aku mau masak mie, apa kau mau?" tanya Rain.
"Aku gak suka ya Rain kamu masih berhubungan dengan Gaza."
"Bagaimanapun aku kenal lama dengannya Sean. Mana mungkin aku pura pura gak kenal saat ketemu dia. Toh yang ngajak mampir minimarket kamu, bukan aku. Jadi jangan salahin aku kalau kami gak sengaja ketemu disana."
"Aku gak mau tahu Rain, pokoknya aku gak suka liat kamu ngobrol ataupun dekat sama dia."
"Ya gak bisa gitu dong Sean. Walaupun kami mantan, hubungan silaturahmi harus tetap dijaga. Siapa tahu nanti dengan berjalannya waktu kami bisa menjadi teman baik."
"Cih, yang namanya mantan, gak bakal bisa jadi temen. Udah Rain aku males debat, aku mau tidur, jangan ganggu aku."
Aku juga males debat sama kamu, karena kamu selalunya mau menang sendiri. Gumam Rain dalam hati sambil keluar meninggalkan Sean.
Rain kedapur untuk membuat mie. Setelah debat dengan Sean, dia makin lapar. Rasanya dia tak sabar ingin segera melahap mie instan soto favoritnya.
Baru makan beberapa sendok, Rain melihat Sean keluar dari kamar.
"Aku mau dong." Sean langsung merebut mie beserta sendok yang sedang dipakai Rain makan.
"Ish, tadi katanya gak mau," Rain berdecak kesal.
__ADS_1
"Tadi gak mau, sekarang mau. Aku gak bisa tidur, lapar, terus badanku pegel semua, gara gara ngejar copet tadi." Ucapnya sambil makan mie tanpa rasa bersalah.
"Ya udah makan aja itu, biar aku buat lagi."
"Gak usah, kita makan berdua aja, biar lebih romantis." Serunya sambil menggeser kursi mendekati Rain agar bisa makan semangkok berdua.
"Romantis sama ngirit beda tipis."
"Udah gak usah banyak protes, cepetan makan. Nih." Sean memberikan sendoknya kepada Rain.
"Aku ambil sendok lain aja."
"Gak usah, gantian aja biar gak banyak banyak sendok kotor. Ntar kamu capek nyucinya." Sean mencari cari alasan, padahal itu cuma bagian dari modus agar berbagi sendok dengan Rain.
"Aku gak bakal kecapekan kok nyuci sendok doang."
"Bawel lo, udah buka mulut lo, biar gue suapin."
Karena malas berdebat Rain menuruti perintah Sean. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari Sean.
"Habis makan pijetin aku ya Rain. Kakiku pegel."
Rain lagi lagi hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengangguk. Walaupun sebenarnya malas, tapi tak mungkin dia bilang tidak. Karena Sean pasti akan menggunakan segala cara agar dirinya menuruti kemauannya.
"Yang kuat dong Rain, gak terasa nih." Omel Sean saat Rain memijit kakinya. Sementara dirinya malah asyik dengan ponselnya.
"Ini bagus gak?" Sean menunjukkan gambar sepatu warna putih kombinasi silver di ponselnya.
"Bagus." Jawab Rain asal, padahal dia sebenarnya tidak begitu memperhatikan.
"Ya udah kalau gitu beliin ini ya Rain. Sebagai ganti sepatuku yang tadi." Sean langsung menekan tombol beli. "Udah aku beli Rain, kamu tinggal transfer aja."
"Berapa?"
"29,99 juta."
"What!" pekik Rain "Lo gak salah nyebut kan?"
"Gak kok, nih lo liat sendiri." Sean memberikan ponselnya pada Rain.
Tubuh Rain terasa lemas melihat harga sepatu itu. Dia menyesal karena tadi tak memperhatikan betul betul harganya. Uang sebanyak itu sayang sekali kalau hanya untuk beli sepatu. Mending buat beli motor, batin Rain.
"Cari yang lain aja Sean. Setelah aku lihat lihat, yang ini modelnya jelek."
"Tadi katanya bagus, kok sekarang jadi jelek. Labil lo. Udah buruan transfer, aku udah baik hati nih nyari yang harganya lebih murah dari sepatuku yang tadi."
Lebih murah apaya coba, 30jt juga cuma dapet kembalian 10 ribu. Itu mah namanya sama, gerutu Rain dalam hati.
__ADS_1