Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
IRI ( pengen disayang )


__ADS_3

"Pagi beb." Sapa Sean sambil memeluk Rain dari belakang. Rain yang sedang memasak segera melepaskan belitan tangan Sean dipinggangnya. Jujur saja dia masih kesal dengan suaminya itu.


"Jangan ngambek lagi dong." Tutur Sean sambil mencuri ciuman di pipi Rain. "Nih sebagai permintaan maafku." Sean menyodorkan setangkai bunga mawar merah yang baru dia petik dari depan rumah tetangga.


Rain hanya berdecih dan mengabaikan bunga di tangan Sean.


"Kok gak diterima sih. Perjuanganku berat tau buat ngedapetin nih bunga. Aku sampai dikejar anjing karena metik bunga ini dihalaman tetangga." Tukas Sean dengan nada memelas agar Rain merasa iba.


Rasain, siapa juga yang nyuruh kamu nyuri bunga, batin Rain.


Merasa tak di anggap sama sekali. Sean meletakkan bunga itu dimeja dapur dekat kompor.


Sean menggaruk garuk tengkuknya. Dia terus memutar otaknya untuk mencari cara meluluhkan hati Rain. Rasanya sangat tidak nyaman didiamkan seperti ini. Separuh nafasnya seakan hilang. Lebay banget gak sih?


Melihat Rain yang berkali kali menyelipkan rambutnya dibelakang telinga, Sean jadi punya ide briliant.


"Aku iket ya beb rambut kamu biar leluasa masaknya." Ucap Sean sambil merapikan rambut panjang Rain dan mencoba untuk mengikatnya dengan karet gelang.


Rain hanya diam tanpa sepatah katapun. Dia membiarkan saja Sean mengikat rambutnya. Sedangkan Sean, dia sedikit kesulitan, ini pertama kali dalam hidupnya mengikat rambut perempuan.


"So sweet banget." Lirih Amaira yang sejak tadi memperhatikan Sean dan Rain.


"Ngapain lo ngeliatin kak Sean terus?" Amaira kaget mendengar suara Alan yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya.


"Kak Sean tuh so sweet banget. Udah ganteng, perhatian lagi. Beruntung banget ya kak Rain dapet suami kayak kak Sean. Sumpah, iri banget aku." Tutur Amaira sambil tersenyum gemas karena baper melihat kemesraan yang ditunjukkan Sean.


"Elo Naksir sama kak Sean?"


"Hah." Amaira tak terkejut mendapat pertanyaan konyol seperti itu. "Ya enggaklah, aku bukan pelakor kali Al. Lagi pula aku kan udah punya kamu." Ucap Amaira sambil bergelayut manja dilengan Alan.


Saat sarapan, Sean terus mencoba mencari perhatian Rain. Dia benar benar galau saat didiamkan seperti ini. Sean terus menunjukkan perhatiannya, mulai dari mengambilkan air, lauk dan sesekali menyuapi Rain. Rain terpaksa menuruti saja kemauan Sean. Dia tak ingin Alan tahu jika mereka sedang marahan.


Amaira bahkan sampai tak berkedip melihat perhatian yang diberikan Sean pada Rain. Ya, dia sangat iri. Dia juga ingin diperlakukan seperti itu.


Alan menendang kaki Amaira yang ada dibawah meja, hingga membuat gadis itu tersentak kaget. Dia sedikit geram melihat Amaira yang tak berkedip melihat Sean. Ada perasaan kesal didalam hatinya.


"Kita udah selesai mbak. Kita pamit dulu ya, mau segera jalan, takut kesiangan." Pamit Alan sambil menarik tangan Amaira.

__ADS_1


Alan dan Amaira pergi Kepantai hari ini. Pantai merupakan tempat yang paling disukai oleh Amaira. Gadis itu merasa sangat tenang jika mendengar suara ombak. Rasanya bernafas juga lebih lega saat dipantai. Semua masalah hidupnya serasa hilang. Bahkan ketakutannya tantang kematian sejenak bisa terlupakan.


Amaira menatap Al yang sejak tadi hanya bungkam. Wajahnya juga terlihat kesal.


"Kamu kenapa sih Al? Kok kayak gak seneng gitu jalan jalan sama aku?"


"Kamu suka sama Kak Sean?" Tanya Alan sambil menatap tajam mata Amaira.


"Kenapa emangnya? kamu cemburu?" Tanya Amaira dengan seringai diwajahnya. Entahlah, rasanya begitu senang jika saja memang benar Alan cemburu.


"Eng, enggak. Gak usah ke pedean." Sangkal Alan dengan nada ketus. Sebenarnya dia memang cemburu, dia tak suka jika Amaira mengagumi pria lain selain dirinya. Walaupun hanya sebatas kagum, bukan suka dalam tanda kutip.


"Ngaku aja deh Al, kamu cemburu kan?" Ledek Amaira sambil menyenggol lengan Alan. "Gak usah gengsi, aku tahu kok ku sebenernya cinta sama aku. Tapi kamu gak mau mengakuinya. Jangan dipendam disini Al." Amaira menempelkan telapak tangannya didada Al. "Jangan sampai entar nyesel kalau udah gak sama aku."


"Emangnya kamu mau kemana? Kamu tuh gak bisa jauh dari aku."


"Ya bisa aja kan besok atau lusa, Tuhan udah manggil aku. Kita gak pernah tahu kapan dan dimana kita bakal dipanggil Tuhan. Selagi ada waktu, gunakan sebaik baiknya."


Alan berdecih. "Gak usah ngomongin mati napa Ra."


"Al, salah gak sih kalau aku serakah?" Tanya Amaira sambil melirik kearah Alan yang sekarang duduk lesehan diatas pasir.


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu Al. Dulu aku pikir, udah cukup jika sebelum mati, aku bisa ngerasain pacaran sama kamu. Tapi sekarang aku mulai serakah. Aku pengen diperhatikan kayak mbak Rain. Aku pengen disayangin Al. Bukan hanya dikasih status sebagai pacar tanpa dikasih cinta. Aku pengen kamu bisa perhatian kayak kak Sean. Salah gak sih Al jika aku juga pengen ngerasa disayangi sebelum aku benar bener dipanggil Tuhan?" Tanya Amaira dengan mata berkaca kaca.


"Aku bukan Kak Sean. Jadi gak usah minta aku buat kayak dia."


"Aku gak minta kamu kayak dia. Hanya saja, aku pengen kamu lebih perhatian dan sayang sama aku. Aku pengen ngerasain rasanya dicintai Al. Jujur aja, selama ini aku ngerasa jika cinta sendirian. Cuma aku yang cinta disini. Tapi kamu enggak."


"Dari awal gue kan emang gak pernah cinta sama lo Ra. Lo aja yang ngasal bilang kalau kita jadian. Jadi lo gak usah nuntut macem macem deh. Dah untung gue mau jadi cowok lo."


Rasannya sakit sekali mendengar kejujuran seperti itu. Sakit sekali mendengar orang yang kita cintai bilang ga cinta sama kita.


"Kita Udahan aja ya Al."


Jantung Alan serasa berhenti berdetak mendengarnya. Dia memang belum benar benar cinta pada Amaira. Tapi saat Amaira yang dulu sangat tergila gila padanya bilang udahan, rasanya masih seperti tak percaya.


Alan menatap Amaira dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tak menyangka kata kata itu akan keluar dari bibir seorang Amaira yang bucin tingkat dewa itu.

__ADS_1


"Lo udah gak cinta sama gue lagi? Lo udah gak butuh gue? Ternyata cuma sebatas ini cinta lo ke gue Ra?" Tanya Alan sambil tersenyum sinis.


"Kalau aja hati aku bisa dibuka Al." Amaira terseyum simpul. "Kamu pasti bisa melihat apa yang ada dihati aku. Hati aku cuma penuh dengan kamu. Hanya kamu Al." Ucap Amaira sambil menahan air matanya agar tak sampai jatuh.


"Terus kenapa lo mau Udahan?"


"Karena aku sadar jika selama ini udah jahat sama kamu. Aku udah maksa kamu buat jadi pacar aku. Aku udah memaksa kamu buat cinta sama aku. Maafin aku Al. Aku gak mau egois lagi. Aku bakal ngelepas kamu jika itu bisa membuat kamu lebih nyaman." Ucap Amaira sambil meremas jari jemarinya. Bukan sesuatu yang mudah untuk mengatakan semua ini. Amaira sadar jika konsekuensinya sangat besar saat mengatakan semua ini. Ya, kehilangan Alan adalah resiko terbesarnya.


"Aku kasih waktu sampai kita kembali ke Jakarta. Saat itu, jika kamu nembak aku. Berarti kita jadian. Tapi jika kamu gak nembak aku, berarti kita Udahan."


...******...


"Surprise." Teriak trio resek yang membuat Sean hampir jantungan. Dia menatap cengo ketiga sahabatnya yang sekarang berdiri didepan pintu rumahnya.


Baru saja seminggu dia merasa tenang karena Alan dan Amaira sudah pulang. Sekarang malah lebih parah yang datang.


Ketiga orang itu plus Zalfa langsung masuk tanpa mempedulikan Sean yang masih mematung didepan pintu.


"Sean, ngapain lo masih berdiri disana? Dikutuk jadi patung selamat datang lo?" Ledek Dino sambil menyeringai.


"Hai Rain, aku kangen." Zalfa langsung memeluk sahabatnya itu.


Sean masuk dan langsung menuju dapur tanpa mempedulikan mereka semua. Dia mengambil air mineral botol dan langsung meneguknya sampai hampir. Dia masih memikirkan bagaimana ketiga sahabatnya itu tahu alamatnya di Labuan bajo.


"Sayang, kok malah duduk disini. Temen teman kamu didepan tuh." Ucap Rain sambil menunjuk dagu kearah ruang tamu.


"Kok mereka bisa tahu alamat kita sih?" Sean masih tak habis pikir.


"Maaf." Ucap Rain sambil menyeringai kecil. "Aku yang share lok alamat kita ke Zalfa."


Sean langsung melotot. Akhirnya pertanyaannya terjawab sudah. Dan sepertinya ketenangannya dengan Rain bakal musnah dengan kehadiran Mereka berempat.


"Kita itu kesini buat honeymoon bukan liburan bareng bareng." Gerutu Sean.


"Ish, jangan ngomong gitu. Gak enak kalau kedengaran mereka. Lagipula kita udah 2 bulan disini yang. Honeymoonnya udah lama. Jadi gak masalah kalau mereka kesini." Bujuk Rain.


"Tapi mereka itu resek beb. Kamu belum tau aja mereka. Pasti ganggu kita. Gak bisa romantis romantisan lagi dong."

__ADS_1


"Cuma beberapa hari kok. Kedepan yuk nemuin mereka. Masak. tuan rumahnya malah sembunyi didapur." Ajak Rain sambil menarik lengan Sean.


Sean mendengus kesal lalu mengikuti Rain kedepan.


__ADS_2