
Delmar dengan semangat menyanyi lagu ulang tahun untuk sang mama yang berulang tahun hari ini. Sang kakek bertepuk tangan dengan semangat sambil ikut menyanyi sebisanya.
"Yeyy.... " Delmar bertepuk tangan dengan heboh saat mamanya meniup lilin bertuliskan angka 2 dan 7.
"Makasih sayang." Rain mencium kedua pipi dan kening Delmar lalu memeluk ayahnya.
"Happy birthday sayang, semoga kamu selalu bahagia." Ucap Teguh sambil mencium lama kening Rain.
"Terimakasih ayah." Rain meneteskan air mata bahagianya. Setelah 5 tahun merayakan tanpa ayahnya, akhirnya hari ini dia bisa merayakan bersama Taguh.
Rain memberikan potongan pertama kuenya untuk Delmar karena bocah itu sudah sangat tak sabar ingin memakan cake coklat kesukaaanya. Setelah itu dia membarikan potongan kedua pada Teguh.
Cake coklat berukuran kecil itu meraka habiskan bertiga sambil bergurau. Tapi si kecil Delmar yang paling banyak menghabiskan cake itu hingga creamnya belepotan disekitar mulut kecilnya.
Rain membersihkan mulut Del setelah kue itu habis tak tersisa. "Del tunggu disini, mama buat in susu dulu." Rain meninggalkan Delmar dikamar dan beranjak menuju dapur.
"Kenapa nak?" Teguh mendekati Rain yang sedang membuat susu untuk Del. "Kamu Nangis?" Teguh melihat sisa sisa air mata dipipi Rain.
"Enggak kok yah."
"Kangen suami kamu?"
"Kenapa Sean bohong yah. Kemarin dia bilang mau nelepon pas jam 12 malam. Nyatanya tadi malam dia gak telepon Rain. Dia cuma ngechat ngucapin selamat ulang tahun." Mata Rain kembali berkaca kaca.
"Mungkin dia terlalu banyak pekerjaan, hingga dia lelah dan harus istirahat. Perpikir positif Rain. Ayah yakin Sean pria yang baik. Apa kamu sudah meneleponnya hari ini?"
Rain menggeleng.
"Telepon dia nak, tanya kabarnya."
"Baik yah." Rain segera mengambil ponselnya dan menelepon Sean. Tapi 3 kali dia telepon, Sean tak juga mengangkatnya. "Gak diangkat yah." Wajah Rain terlihat sangat kecewa.
"Mungkin dia sedang sibuk. Jangan terlalu dipikirkan. Kasian anak dalam kandungan kamu kalau ibunya stress."
"Mama, susunya mana." Del yang rebahan dikasur mulai berteriak teriak karena mamanya tak kunjung datang membawakan susu.
"Iya sayang, sebentar."
...******...
Rain yang sedang tidur seperti bermimpi mendengar suara Sean. Suara itu makin jelas dan makin terasa nyata.
HAPPY BDAY
HAPPY BDAY
HAPPY BDAY MY WIFE
Rain membuka matanya dan mendapati Sean tengah tersenyum padanya sambil membawa cake kecil dengan sebuah lilin yang menyala.
"Sean." Lirih Rain seakan tak percaya jika suaminya sekarang berada didepan matanya.
"Masih jam 23.50 wib, jadi hari ini masih ulang tahun kamu kan?" Ucap Sean sambil melihat jam tangannya.
"Ini beneran kamu yank? katanya pulang besok?" Tanya Rain sambil menyentuh wajah Sean.
Sean mengambil tangan Rain yang ada diwajahnya lalu menciumnya.
"Aku gak mau ngelewatin hari ulang tahun kamu beb. Makanya aku usahain pekerjaanku cepat selesai biar bisa cepet pulang."
Tanpa sadar air mata Rain menetas. Dia terharu karena Sean cepat cepat pulang demi dia..
"Kok nangis? gak seneng ya aku pulang?"
__ADS_1
Rain menggeleng sambil menghapus air matanya. "Seneng banget."
"Ya udah, tiup dulu dong lilinnya, terus make a Wish."
Rain meniup lilin itu lalu memejamkan mata untuk berdoa.
"Doa apa?" Sean penasaran.
"Ada deh, rahasia." Ucap Rain sambil mencuil cake lalu menyuapkan pada Sean.
"Ish, pakai rahasia rahasia segala sih." Sean mengambil cream diatas cake lalu mengoleskannya di hidung Rain.
"Sean." Teriak Rain sambil melotot
Egh....
Delmar melenguh, dia yang sedang tertidur pulas disamping Rain sedikit terusik akibat teriakan mamanya.
Shuuttt
Sean meletakkan telunjuknya di bibir agar Rain tak berisik.
"Jangan sampai dia bangun, entar resek." Sean bicara sepelan mungkin.
"Kok baju kamu basah yank?" Rain memegang kemeja Sean yang sedikit basah.
"Iya, diluar hujan deras. Kehujanan tadi pas turun dari taksi."
"Ya udah buruan mandi terus ganti baju biar gak sakit."
"Kamu masih takut hujan?"
"Kalau siang sih enggak, cuma kalau malem dan deres banget."
"Ayo ikut aku."
"Ayo." Sean menarik Rain agar mengikutinya.
Tibalah mereka berdua di pintu belakang rumah. Saat Sean membukanya hawa dingin langsung menyeruak. Rain otomatis memeluk tubuhnya sendiri karena dia hanya memakai gaun tidur yang tipis. Hujan malam itu sangat deras, tapi tak diiringi petir.
"Hujan hujanan Yuk."
"Hah." Rain melongo mendengar ide gila Sean. "Aku takut Sean." Rain mengeratkan pelukannya dilengan Sean.
"Ada aku. Lagi pula ini dihalaman rumah. Takut apa? Ayo." Sean menarik Rain ke halaman belakang.
"Enggak, aku gak mau." Rain ingin melangkah pergi tapi Sean justru menarik tangannya dan membawanya ke tengah halaman.
"Aku takut Sean." Rain mulai menggigil karena dingin dan takut. Memorinya tentang kecelakaan dimasa lalu kembali mengusiknya. Rain tak bisa menahan air matanya. Tubuh Rain ambruk di tanah karena kakinya bergetar hebat.
"Jangan takut beb, ada aku." Sean memeluk Rain yang terduduk dirumput. "Lupakan tantang kenangan buruk itu. Sekarang kamu gak sendiri ada aku. Aku akan selalu menjagamu. Hujan tak akan mampu menyakitimu beb. Kamu wanita yang hebat, kamu seorang ibu. Kau tahu? jangankan melawan hujan seperti ini, seorang ibu bahkan bisa menerjang badai yang paling burukpun." Sean memegangi kedua pundak Rain dan mengajaknya berdiri.
"Tutup matamu beb, aku akan memberikan kenangan indah disaat hujan."
Sean mendekatkan wajahnya pada wajah Rain. Mengikis jarak diantara mereka hingga bibir merka saling berpagutan. Sean memberikan ciuman yang sangat lembut dan dalam.
"Bukalah matamu, lihatlah. Tak selalu hal buruk yang terjadi saat hujan. Kita Bahkan bisa mengukir kenangan indah saat hujan."
Sean kembali mencium Rain, menyapu lembut bibirnya dan **********. "Lupakan kejadian buruk itu. Ingatlah, saat hujan turun, kita berciuman." Sean menahan tengkuk Rain dan memperdalam ciuman mereka. Mengeksplor setiap rongga mulutnya dan membelai lidahnya. Perlahan Rain mulai merasa nyaman, dia membalas ciuman Sean hingga rasa dingin ditubuhnya perlahan menghilang dan berganti kehangatan.
"Kau masih takut?" tanya Sean saat pagutan mereka terlepas.
"Sedikit." Jawab Rain sambil mengatur nafasnya yang naik turun. Dia mulai membuka matanya dan menatap sekeliling.
__ADS_1
"Tinggal sedikitkan? baiklah, bersiaplah untuk hal indah berikutnya."
Sean kembali mencium Rain. Kali ini lebih panas dan menuntut. Tangannya mulai membelai dada Rain yang hanya terbungkus gaun tidur tanpa bra. Gaun tidur tipis itu sudah basah kuyup hingga membuat dada Rain tercetak sempurna dengan ujung yang mencuat.
Ciuman Sean mulai turun menyusuri leher Rain, menggigit belakang telinganya dan memberinya beberapa tanda cinta dileher serta dadanya.
Rain makin belingsatan. Tubuhnya terasa panas dan desahan mulai keluar dari bibinya.
"Aww." Raik terkejut saat Sean mengangkat tubuhnya. Rain pikir semuanya sudah selesai dan Sean akan membawanya masuk. Tapi ternyata dia salah. Sean mengangkat tubuhnya ke gazebo yang berada disudut halaman.
"Kenapa kau membawaku kesini?"
"Kita tuntaskan disini."
"Hah." Mulut Rain menganga dan matanya membulat sempurna. Dia tak percaya jika Sean mempunyai ide gila seperti ini.
Sean segera mencumbui Rain. Hasratnya sudah tak bisa dibendung lagi.
"Hentikan Sean, jangan disini." Rain mendorong kepala Sean yang berada didadanya. "Ini tempat terbuka, aku malu." Tak seperti Sean yang sudah hilang akal, Rain masih bisa berfikir normal.
"Malu? pada siapa? tak ada siapa siapa disini. Hanya ada kita berdua beb." Sean melanjutkan kegilaannya.
"Hentikan Sean, kita lanjut didalam rumah." Rain masih berusaha mengendalikan diri walaupun rasannya sudah sangat susah.
"Disini saja beb. Setelah ini kau akan menyukai hujan. Karena saat hujan, kau mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Kau tak akan bisa melupakan malam ini selamanya."
"Ta, tapi Sean." Rain makin blingsatan karena rangsangan yang diberikan Sean.
"No debat beb. Jangan malu, aku hanya akan menyingkap bajumu saja."
Akhirnya Rain pasrah menerima semua perlakuan Sean. Mereka berdua menikmati malam yang luar biasa yang selama ini belum pernah mereka rasakan bahkan tak pernah mereka bayangkan. Kenangan yang begitu luar biasa yang tak akan Rain lupakan sepanjang hidupnya.
Sean merebahkan tubuhnya disebelah Rain setelah keduanya mencapai puncak. Keduanya saling menatap dengan nafas yang masih memburu.
"Kau menyukainya?" Tanya Sean sambil membelai wajah Rain menggunakan punggung tangannya.
"Hem, sangat menyukainya."
"Mau lagi?"
Rain mengangguk malu malu.
JEDER
"Aww.. " Rain langsung memeluk Sean saat petir tiba tiba menyambar. "Aku takut Sean."
"Kita masuk, aku juga sedikit ngeri." Jawab Sean sambil menguraikan pelukan Rain. "Ayo."
"Tubuhku masih lemas sayang. Dua kali keluar membuatku kehabisan tenaga."
Sean tersenyum mendengar pengakuan jujur Rain. Sebagai laki laki, dia merasa bangga jika wanitanya bisa merasakan kepuasan dibawah kungkungannya.
"Aku suka sekali melihatmu tak berdaya karenaku seperti ini." Sean segera menempatkan tangannya di punggung dan lutut Rain. Menggendongmya ala bridal style dan membawanya masuk kedalam rumah.
Rain yang masih lemas hanya bisa tersenyum sambil mengalungkan tangannya dileher Sean.
"I love you Sean."
"I love you more babe."
.
TAMAT
__ADS_1
Ada season 2 untuk novel ini. Menceritakan tentang Delmar yang terpaksa menikah muda dengan gadis yang tidak dia cintai, bahkan tidak kenal.