
Setelah Ghea pergi, Sean mengajak Rain makan siang diluar. Tapi kali ini agak lain karena Rain meminta makan mie ayam ditempat langganannya yang lokasinya tak jauh dari kantor. Sejak menikah, Rain tak pernah lagi makan ditempat itu.
Mereka berdua jalan kaki dibawah teriknya kota Jakarta. Hampir sepanjang perjalanan Sean terus mengomel. Dia mengeluh, capek, kepanasan dan masih masih banyak lagi keluhan keluhan lainnya yang membuat Rain geleng geleng kepala.
"Dasar anak mami, manja banget." Sindir Rain sambil menyebikkan bibirnya. Sean hanya melirik tanpa komentar apapun.
Langkah mereka berhenti didepan sebuah warung mie ayam sederhana. Walaupun warung itu sederhana tapi pelanggannya cukup banyak hingga hampir semua kursi ada yang menempati.
Aroma mie ayam yang menggoda memenuhi seluruh warung hingga membuat Rain tak sabar ingin segera menyantap makanan favoritnya itu.
Dua mangkok mie ayam plus bakso sudah terhidang didepan Sean dan Rain. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Cobalah, aku yakin kau akan menyukainya?" Ucap Rain sambil menuang saus, kecap serta sambal keatas mie ayam miliknya.
"Jangan banyak banyak, itu gak sehat." Omel Sean saat melihat Rain terlalu banyak menuang saus.
"Sok sok an sehat, padahal tiap hari ngerokok," gerutu Rain dalam hati. Dia sengaja diam saja karena tak mau berdebat. Menurutnya mie itu lebih membuatnya berselera daripada berdebat.
Sean menuang sedikit sambal dan kecap ke mangkok mie miliknya. Sebenarnya dia kurang nyaman disini, selain warungnya yang sempit, hawanya juga sedikit panas hingga membuat Sean merasa kegerahan dan berkali kali menyeka keringatnya.
"Hem... enak sekali. Sudah lama aku tak makan disini." Tutur Rain setelah satu suap mie mendarat di mulutnya. "Enakkan?"
"Biasa saja." Sean tampak kurang menikmati.
Rain tersenyum simpul. Enak itu memang relatif, tak semua orang memiliki selera yang sama hingga enak menurut Rain belum tentu enak menurut Sean.
Setelah orang yang duduk disebelah Rain pergi kerena sudah selesai makan. Terlihat dua orang pria siap mengisi bangku kosong tersebut. Pria itu tersenyum pada Rain lalu duduk tepat disebelahnya. Sean tampak tak suka melihatnya.
"Mas, bisa gak duduknya agak jauh dari istri saya?" Sean tak terima karena jarak mereka twrlalu dekat.
"Maaf Mas, tapi kursinya gak muat kalau duduknya terlalu jauh." Kursi panjang itu memang pas untuk 3 orang. Dan orang yang paling ujung berbadan gemuk hingga Rain sedikit dempet dengan pria yang duduk ditengah.
"Kamu duduk disini aja kalau gitu, biar aku duduk disana." Sean segera berdiri dan bersiap berpindah tempat duduk. Rain hanya menunduk, dia tak komentar karena memang seperti itulah sifat suaminya.
Sean melanjutkan makannya disebelah Rain sambil sesekali melirik pria yang duduk didepan Rain itu.
"Mas, bisa gak kalau makan konsen ke makanannya aja. Gak usah lihat lihat istri saya." Sean memperingati pria itu karena beberapa kali tertangkap basah melihat Rain. Rain sontak menendang kaki Sean yang ada dibawah meja.
"Suaminya cerewet sekali sih mbak." Protes pria itu yang dari tadi kena semprot.
"Maaf ya mas."
Rain buru buru menghabiskan makanannya dan segera mengajak Sean keluar.
"Lain kali gak usah ngajak ngajak aku ke tempat kayak gini lagi, aku gak suka." Omel Sean saat mereka sudah berada diluar warung.
"Maaf."
Rain sungguh menyesal telah mengajak Sean ketempat itu. Rain menyadari kesalahannya jika dia tak bisa menyamakan Sean dengan Gaza. Dia salah karena telah berusaha membuat Sean menjadi seperti Gaza.
__ADS_1
Gaza dan Rain memiliki selera yang hampir sama. Gaza menyukai makan ditempat seperti ini.
"Untuk apa kau meminta maaf?"
"Seharusnya aku gak maksa kamu makan disini. Maaf sudah memaksamu untuk menyukai apa yang aku suka. Maaf karena kemarin ngajak kamu kekajian tanpa bilang dulu. Maaf juga udah maksa kamu buat berhenti minum. Maaf jika selama ini aku berusaha merubahmu menjadi apa yang aku mau." Pembicaraan Rain malah melebar kemana mana.
"Apaan sih minta maaf mulu, kayak lebaran aja. Udah buruan, jam makan siang hampir habis." Perasaan Sean tak enak kalau Rain udah mulai bicara seperti ini. Dia takut Rain menyerah untuk belajar mencintainya.
Saat baru berjalan beberapa langkah, Sean melihat suatu tempat yang nampak ramai.
"Tempat apa itu?" Sean menunjuk dagu ke arah
tersebut.
"Taman."
Sean tak pernah tahu ada taman disini karena ini bukan arahnya menuju pulang.
"Kita kesana yuk?" Ajaknya sambil menggandeng tangan Rain.
"Ngapain?"
"Kita foto foto buat di Pajang di medsos. Kita gak pernah ada foto bareng selain pas nikah. Katanya tadi kamu pengen mamerin aku ke temen temen kamu." Sean menyenggol lengan Rain sambil tersenyum menggoda.
"Ish apaan sih. Aku tuh cuma kesel aja sama Ghea yang kepo banget sama kehidupan aku. Makanya aku bilang kayak gitu."
"Beneran karena itu? Bukan karena cemburu sama Ghea?"
Sesampainya ditaman, mereka kesusahan mencari tempat duduk karena teriknya matahari. Tempat tempat yang teduh rata rata sudah diduduki. Karena tak kunjung menemukan tempat duduk, Sean mengajak Rain berteduh di bawah sebuah pohon besar yang rindang.
"Kita foto disini Yuk." Ajak Sean sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia menarik Rain mendekat lalu mengarahkan camera ponsel ke arah mereka berdua. Sean memeluk Rain dari belakan sambil memiringkan kepalanya.
"Senyum dong, jangan kayak terpaksa gitu."
"Iya, iya, bawel."
CEKREK CEKREK CEKREK
Berkali kali Sean mengambil foto dengan pose yang berbeda. Hingga yang paling terakhir, dia mencuri ciuman dipipi Rain.
"Hobinya nyari kesempatan." Gerutu Rain yang hanya ditanggapi dengan seringai kecil dari Sean.
Sean melihat kembali hasil fotonya. Rata rata semua bagus.
"Sini lihat." Rain langsung merebut paksa ponsel Sean. Menurutnya ini kesempatan langka karena ponsel itu dalam keadaan tak terkunci. Jadi misinya untuk menghapus vidio bisa terlaksana.
Bukannya melihat foto tadi, Rain malah langsung mencari vidio yang dimaksud Sean.
"Katanya liat foto, kok malah buka buka yang lain?"
__ADS_1
"Aku mau hapus vidio yang kamu ambil semalam. Kok gak ada vidionya? Kamu simpen dimana sih?" sungut Rain yang mulai kesal karena tak ketemu juga.
Sean berusaha menahan tawanya. Dia tak menyangka kalau Rain benar benar mempercayai ucapannya.
"Cepet tunjukin mana vidionya?"
"Cari aja sendiri." Jawab Sean santai sambil menyulut rokok.
"Cepetan kasih tau atau aku hancurin ponsel ini?" Rain dalam posisi mengangkat ponsel itu sambil ancang ancang mau membantingnya.
"Jangan jangan jangan." Sean tak rela ponsel barunya rusak. Ponsel itu baru saja dia beli setelah ponsel lamanya rusak saat mengamuk karena kehilangan Rain seharian waktu itu.
"Kalau gitu tunjukin mana vidionya?" Rain berdecak kesal.
"Gak ada vidionya, aku cuma becandain kamu doang." Akhirnya Sean mengaku.
"Gak usah bohong." Rain melotot saking kesalnya.
"Beneran gak ada, suer.. " Sean sampai mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Mau tidak mau Rain terpaksa percaya. Dia berhenti mencari vidio lalu kembali ke galeri foto untuk melihat hasil jepretan Sean barusan.
Rain terbelalak saat melihat galery foto diponsel Sean penuh dengan fotonya. Entah kapan Sean mengambil foto foto candid dirinya.
"Sini balikin ponsel aku." Sean berusaha merebut ponselnya tapi malah dipelototin oleh Rain sehingga dia mengurungkan niatnya.
"Sejak kapan kamu suka ngambil foto aku diam diam kayak gini?"
"Sejak aku jatuh cinta sama kamu." Jawabnya sambil membuang putung rokok ketempat sampah yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aku gak nyangka kamu secinta itu sama aku? Bahkan aku pikir kamu nikahin aku cuma buat balas dendam doang."
"Makanya, cepatan jatuh cinta sama aku biar aku gak kesiksa karena cinta sendirian kayak gini." Pintanya nya sambil menatap dalam kedua mata Rain.
"Maaf." Rain merasa bersalah karena masih belum bisa mencintai suaminya.
"Aku gak butuh kata maaf, aku butuh kata I Love u too." Ucapnya sambil memegang kedua bahu Rain. "Aku tulus cinta sama kamu Rain. Aku benar benar nunggu kamu buat cinta sama aku. Aku tahu sulit bagimu untuk melupakan Gaza. Tapi aku mohon berusahalah. Aku ingin pernikahan kita untuk selamanya. Aku ingin menikah sekali dalam seumur hidup." Sejenak Sean menjeda ucapannya.
"Aku memang bukan laki laki yang baik. Tapi bukankah seorang bad boy juga bisa menjadi good boy jika sedang jatuh cinta?"
Sean mulai mendekatkan wajahnya pada Rain. Mengikis jarak diantara mereka hingga sama sama bisa merasakan hembusan nafas keduanya.
Cup
Sean mendaratkan ciuman dibibir Rain. Rain hanya pasrah tanpa menolak. Kata kata Sean yang mirip sad boy mampu menghipnotis Rain hingga menerima semua perlakuan pria itu padanya.
Rain memejamkan mata dan mulai menikmati setiap sentuhan dari bibir Sean. Sean menciumnya semata mata karena cinta, bukan karena nafsu seperti waktu dulu. Sangat lembut hingga mampu membuat seorang Rain terbuai dan lupa dimana mereka sedang berada.
"Mbak, Mas, jangan berbuat mesum disini, ini tempat umum." Teriak seorang ibu yang sedang menutupi mata anaknya agar tak terkontaminasi dengan adegan dewasa didepannya.
__ADS_1
Sean seketika melepas pagutan bibirnya. Kedua orang itu sangat malu hingga wajah mereka memerah.
"Maaf Bu." Rain hanya menunduk, dia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya.