
Pov Rain
Firman dengan lancang ingin menyentuh wajahku, tapi aku berhasil menampiknya sebelum dia melakukan itu.
"Jangan berani menyentuhku." Bentakku dengan mata melotot. Aku sungguh tak rela jika tangan kotornya itu menyentuhku.
"Astaga, kau terlihat begitu cantik saat marah seperti ini Rain." Ucapnya dengan seringai yang yang membuatku benar benar muak.
"Tolong jaga sopan santunmu. Ini apartemenku, kalau kau tidak bisa bersikap sopan, tolong segera keluar dari apartemenku" Usirku sambil menunjuk pintu keluar.
"Aku pasti akan keluar jika aku sudah mendapatkan yang aku mau."
Apa maksud perkataannya? apa yang sebenarnya dia mau?
"Kau tahu Rain, aku sudah menginginkanmu sejak Maya menawarkanmu padaku waktu itu."
Deg
Jantungku serasa mau copot. Jadi kerena itu dia mengenaliku.
"Saat itu aku sudah menawarmu, tapi sial, ada orang yang berani membeli keperawananmu dengan harga yang lebih mahal. Aku terpaksa melepasmu saat itu, menurutku, tak masalah aku tak mendapatkan keperawananmu, bukankah setelah itu aku bisa membokingmu dengan harga yang lebih murah?" Astaga, aku sungguh merasa rendah saat ini. Keputusan bodohku waktu itu sungguh membuatku menjadi wanita hina.
"Aku rasa akan tetap menyenangkan menidurimu walau kau sudah tak perawan. Kau selalu menjadi objek fantasiku sejak aku melihat fotomu waktu itu. Dan saat aku melihatmu secara langsung, aku bahkan tak bisa tidur karena membayangkan adegan panas bersamamu."
Firman menghentikan bicaranya lalu berjalan mengitariku. Sorot matanya seperti singa yang akan memangsa buruannya, sangat mengerikan. Feelingku mengatakan jika posisiku terancam saat ini. Ya, aku harus segera keluar, dan inilah saatnya.
Bruk
Ah sial, Firman menyadari jika aku ingin lari. Dia menarikku hingga jatuh kepelukannya saat aku ingin kabur. Dia memelukku dari belakang dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Mau kemana cantik, urusan kita belum selesai." Ucapannya mendayu dayu ditelingaku hingga membuat bulu kuduku merinding.
Aku berusaha berontak untuk melepaskan diri dari pelukannya. Tapi usahaku sia sia karena tenaga Firman sungguh besar.
"Aku sudah berusaha membokingmu melalui Maya. Tapi sialnya Maya malah selalu memberi alasan jika kau sudah berhenti dari pekerjaan itu. Aku tahu itu cuma alasan Maya. Maya mencintaiku, dia tak ingin aku tidur dengan perempuan lain. Cih, sangat menyebalkan." Firman mencium basah leher dan belakang telingaku. Sumpah demi apapun, ini sangat menjijikkan. Perutku mual, kepalaku tiba tiba pusing.
Oh Tuhan aku mohon jangan biarkan aku pingsan. Dia benar benar akan meniduriku jika aku pingsan.
"Lepaskan aku Firman, aku mohon." Pintaku sambil terus meronta ronta dan mulai menangis.
"Aku akan melepasmu setelah kita bercinta cantik. Aku berjanji tidak akan memberitahu Om Zaenal dan tante Vivi tentang siapa dirimu jika kau mau menurut padaku Rain. Aku sangat menginginkanmu, puaskan aku Rain." Ucap Firman ditelingaku. Suaranya terdengar parau, sepertinya dia sudah tak bisa menahan hasratnya.
Aku bisa merasakan nafasnya panas dan memburu. Bulu kuduku merinding, aku sangat takut.
"Sean tolong aku, aku sangat takut Sean. Aku mohon, cepatlah pulang, aku takut." Gumamku dalam hati dengan air mata yang terus mengalir.
Aku berusaha berontak saat Firman ingin menciumku. Rasanya jijik sekali saat bibir laknat itu menyentuh bagian dari wajahku. Aku makin mual, aku ingin sekali muntah.
"Tolong tolong." Aku berteriak dengan semampuku. Aku merasa lemas karena sejak tadi meronta ronta. Kepalaku juga makin pusing, mual. Oh tidak, kenapa tubuhku seakan tak mau bersahabat begini. Ini bukan saatnya untuk lemah, aku harus kuat.
"Percuma kamu teriak Rain, tak akan ada yang mendengarmu. Ini apartemen elit, buka rumah rumah kumuh yang hanya berdinding triplek dimana semua orang mampu mendengar teriakanmu. Jadi berhentilah membuang tenagamu."
Firman mendorongku hingga menempel kedinding. Dia kembali berusaha untuk menciumku. Satu tangannya memegang tengkukku dan satu lainnya berusaha melepaskan gaunku.
Sial, lagi-lagi situasi tak berpihak padaku. Aku hanya memakai gaun rumahan yang tipis diatas lutut. Dan itu memudahkan Firman untuk mengoyak pakaianku.
Aku sangat takut, otakku terus berfikir keras bagaimana caranya untuk lepas dari cengkeraman Firman.
Bugh.
__ADS_1
"Aww." Firman mengerang kesakitan saat aku menendang Juniornya yang nampak sudah on. Aku pikir dia akan limbung dan melepaskanku. Ternyata aku salah, tubuhku yang lemas membuatku tak mampu menendang dengan kuat. Dia justru murka dan menamparku berkali kali.
Wajahku terasa kebas dan panas. Aku bisa merasakan darah segar mengalir dari sudut bibirku. Aku merasakan pandanganku kabur. Kepalaku terasa mau pecah. Tapi aku harus kuat, aku harus tetap sadar, aku tak boleh pingsan.
"Menurutlah, atau kalau tidak, aku akan mengatakan tentangmu yang seorang pelacur pada orang tua Sean dan keluarga besar lainnya. Aku jamin mereka akan langsung menendangmu dari hidup Sean. Mereka tak akan mau mempunyai menantu seorang pelacur." Ancam Firman dengan mata merah menahan emosi.
"Jangan mimpi, sampai matipun aku tak mau melayanimu berengsek," lirihku. Ya, aku memang sudah tak sanggup lagi untuk berteriak.
Firman sepertinya menyadari jika tubuhku mulai melemah. Dia makin menggila hingga gaunku hancur dan akhirnya jatuh kelantai. Hingga yang tersisa ditubuhku hanyalah 2 potong pakaian dalam.
Sumpah, aku sangat malu ditelanjangi seperti ini. Aku bisa melihat Firman menelan ludahnya saat melihat dadaku. Aku berusaha menutupi dadaku dengan tangan.
"Jika kau benar benar saudara suamiku, aku mohon jangan lakukan ini padaku." Aku mengiba padanya, berharap dia akan mengasihaniku. Tapi seorang iblis seperti dia tak memiliki belas kasihan. Dia justru merasa menang, dia menganggap jika dunia perpihak padanya karena aku sudah sangat tak berdaya.
"Jangan salah Rain, aku tak pernah menganggap si sombong Sean itu sebagai saudaraku. Asal kau tahu, aku sangat membencinya. Aku iri padanya, dia punya semua yang tak bisa aku miliki. Aku iri melihatnya terlahir dengan wajah tampan. Aku iri melihatnya terlahir dari orang tua yang kaya raya. Aku iri dengan otak cerdasnya. Dan sekarang aku iri, kenapa dia bisa menikah denganmu. Dengan wanita yang selalu menjadi objek fantasi sex ku."
Firman membawa tubuhku ke sofa. Aku masih setengah sadar saat dia meremas dadaku.
Mati, ya aku lebih baik mati daripada diperlakukan seperti ini. Ini lebih menyedihkan daripada saat aku menjual diri.
Kenapa nasibku seperti ini. Terhitung untuk yang ke tiga kalinya aku hampir dilecehkan. Dua kali mungkin hampir, tapi yang ketiga ini. Entahlah, aku tak yakin akan selamat.
"Ayah, tolong Rain ayah, Rain takut. Sean, tolong aku Sean. Aku membutuhkanmu saat ini. Alan.... " Aku hanya mampu meminta tolong dengan suara hatiku. Berharap jika orang orang yang aku sayangi itu bisa menolongku.
Apa mereka bisa mendengar jeritan hatiku? Rasanya mustahil. Tuhan, hanya kuasa Tuhan yang mampu menolongku saat ini. Tapi, apakah doa wanita penuh dosa sepertiku masih didengar Tuhan?
Sean, aku makin terisak saat mengingatnya. Apa aku mampu menatapnya jika kali ini Firman benar benar memperkosaku.
Tidak, aku lebih baik mati daripada harus menatap Sean dengan keadaan tubuhku yang sudah dinodai pria lain. Ya, aku mati saja. MATI, MATI, MATI.
__ADS_1