
Setelah menyelesaikan urusannya di kantor Sean, Arya buru buru pulang. Jujur saja dia malu karena menggoda seorang istri didepan suaminya.
Sedangkan Sean, dia masih kesal pada Rain yang memberikan makanannya pada Arya.
"Kamu sengajakan dateng jam 1 biar bareng dengan Arya? Kamu juga sengaja gak bilang ke aku kalau bawa makan siang biar aku makan duluan dan kamu ada alasan ngasih ke Arya? Udah ketebak."
"Udah selesai narik kesimpulanya? Kayaknya pelajaran bahasa Indonesia kamu dapet nilai sempurna terus ya Sean. Secara pinter banget ngarang cerita."
"Siapa yang ngarang, kenyataannya emang gitukan?"
"Huft." Rain berdecak kesal. Udah dimasakin dan disempetin nganter ke kantor malah dituduh yang enggak enggak. Rain yang kesal segera beranjak meninggalkan Sean.
"Mau kemana kamu?"
Rain malas mau menjawab, dia melanjutkan langkahnya keluar dari Ruangan Sean.
Sean yang dicuekin segera mengikuti Rain keluar. Dia pikir Rain mau pulang, nyatanya wanita itu malah duduk santai dimeja kerjanya sambil bermain ponsel.
"Ngapain kamu disini? kamu kan cuti hari ini. Ayo masuk ke ruanganku," ajak Sean.
"Males." Jawan Rain dengan tetap menatap layar ponselnya.
"Ayo." Sean menarik lengan Rain agar wanita itu mengikutinya. "Nanti kalau ada yang lihat jadi gosip loh kalau kita berantem."
Rain mendengus kesal lalu mengikuti Sean kedalam ruangannya.
"Duduk manis disini." Sean menuntun Rain hingga duduk disofa. "Tungguin bentar aku selesaiin kerjaan, habis itu kita pulang."
"Kamu gak minta maaf sama aku?"
"Ngapain?" Sean tak merasa bersalah sama sekali.
"Masih nanya ngapain? Kamu itu udah nuduh aku yang enggak enggak. Aku tuh udah capek capek masak buat kamu lalu nganter kesini malah difitnah."
"Jadi beneran kamu tadi masak buat aku bukan buat Arya?"
"Ya buat kamulah, ngapain aku masak buat Arya, kayak kurang kerjaan aja." Rain mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.
Senyum Sean langsung mengembang mendengar Rain sengaja masak buat dirinya. Hatinya berbunga bunga karena merasa diperhatikan.
"Sorry." Sean duduk disamping Rain dan melingkarkan lengannya dileher Rain. "Aku pikir kamu masak buat Arya."
"Aku tuh gak tahu kalau Pak Arya mau kesini. Aku sudah 3 hari gak kerja. Aku gak dapat jadwal kamu. Semua diurus Danu."
"Iya, iya sorry. Udah jangan ngambek lagi. Kamu kalau ngambek ngegemesin, bikin aku pengen nyium." Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Rain.
__ADS_1
"Ih apaan sih." Rain mendorong dada Sean agar gak makin mendekat padanya. "Ingat ini dikantor, jangan kumat mesumnya."
"Jadi gak boleh nyium karena lagi dikantor. Berarti kalau dirumah boleh dong?" Sean senyum senyum sambil mengerlingkan matanya.
"Idih, ngarep banget."
Tiba tiba ponsel Rain berbunyi. Ada pesan dari Alan.
"Aku pergi dulu ya." Rain mengambil tasnya dan merapikan rambut serta bajunya.
"Mau kemana?"
"Ngemall sama Alan. Minggu depan dia mulai kuliah, aku mau belanjain dia keperluan buat kuliah. Oh iya, makasih ya Sean, udah mau ngebiayain kuliahnya Alan." Alan akhirnya menerima tawaran bea siswa dari Sean atas banyak pertimbangan. Salah satunya dia tak ingin mempermalukan kakak iparnya kalau dia minta bea siswa pada orang lain.
"Biasa aja kali."
Cup
Mata Sean langsung membelalak saat mendapat kecupan singkat dibibirnya.
"Aku pergi dulu."
Sean memegangi dadanya. Jantungnya seakan mau copot hanya gara gara kecupan singkat dari Rain. Sejak menikah, belum pernah Rain berinisiatif menciumya seperti tadi. Selalunya dia yang nyosor duluan.
"Astaga, kenapa dicium gitu aja rasanya seseneng ini. Kayaknya tingkat kebucinanku makin akut nih." Gumam Sean sambil senyum senyum sendiri.
Hari ini Rain benar benar memanjakan adik kesayangannya itu. Dia menyuruh Alan membeli apapun yang dia ingin. Bahkan saat Alan tak inginpun, Rain tetap memaksa. Rain membelikan tas, sepatu, baju dan kebutuhan lainnya untuk Alan.
"Apa gak papa belanja sebanyak ini mbak?" tanya Alan sambil mengangkat beberapa paperbag yang ada dikedua tangannya "Kamu udah habis banyak uang loh. Aku gak mau kamu dimarahin suami kamu gara gara aku." Alan merasa tak enak hati.
"Udah lah gak papa, kan gak setiap hari Al. Lagian aku masih kesel karena namanya Sean minta tas 90juta. Anggap aja kali ini kita balas dendam."
"Tapi aku gak enak mbak." Harga diri Alan memang tinggi. Dia tak suka mengambil keuntungan dari orang lain.
"Gak papa Al, Sean tak bakal marah. Lebih baik hari ini kita seneng seneng sambil ngabisin uangnya Sean. Ayo kesana." Rain mengajak Al masuk ke toko baju. Walaupun tadi sudah membeli baju, tapi Rain masih mau membelikan baju lagi untuk Alan. Alan mau kuliah dikampus elit, dia tak mau adiknya merasa minder.
"Kamu kenapa sih gak mau nerima mobil dari Sean?" Tanya Rain sambil memilihkan Alan baju.
"Nggak mau lah Mbak. Aku gak mau aja nanti keluarga kita dicap jelek sama keluarganya suami kamu. Nanti dikiranya kita matre. Kamu dikira nikah sama Sean karena mau uangnya doang. Aku gak mau keluaga kita direndahin mbak. Lagian Alan suka kok pakai motor. Alan gak butuh mobil."
"Mbak bangga sama kamu Lan." Rain menyunggingkan senyum lalu memeluk Alan.
"Mbak dilihat orang, jangan peluk peluk ah. Ntar dikira kita pacaran."
"Ish, mulai kumat deh kamu gak mau dipeluk mbak."
__ADS_1
"Udah gede mbak, emangnya bayi dipeluk peluk."
"Ya udah terserah kamu." sahut Rain sambil cemberut.
"Jangan ngambek gitu dong. Alan itu sayang banget sama mbak. Cuma kurang suka aja kalau dipeluk ditempat umum gini. Alan bangga sama kamu mbak. Kamu udah berjuang sendirian buat aku dan ayah. Kamu gak pernah nyerah buat pengobatan aku walau butuh biaya banyak. Aku janji akan buat kamu bahagia. Kamu dan ayah adalah prioritas utamaku."
"Ish, jangan melow gitu ah. Gak usah terlalu mikirin mbak, mbak udah ada suami. Tugas suami mbak buat ngebahagiain mbak. Kamu cukup mikirin kebahagiaan kamu dan ayah saja."
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu? Setiap hari aku kepikiran kamu, aku takut kamu gak bahagia mbak?"
Rain tersenyum sambil memegang kedua pundak Alan. "Mbak bahagia Al, jadi mulai sekarang, berhenti mengkhawatirkan mbak." Rain berusaha meyakinkan Alan walau sebenarnya dia sendiri belum yakin akan bahagia dengan pernikahannya.
Rain sampai diapartemen jam 10 malam. Dia tak hanya belanja, tapi juga nonton dengan Alan sampai lupa waktu. Saat masuk apartemen, semua lampu suda padam. Dia pikir Sean sudah tidur.
"Kenapa baru pulang?"
"Astaga!" Jantung Rain rasanya mau copot karena kaget. Dia tak tahu kalau Sean duduk disofa karena gelap.
"Gak usah kaget gitu, gue bukan hantu." Sean segera menyalakan lampu.
"Ish, kamu buat aku jantungan aja," omel Rain sambil memegangi dadanya yang masih deg degan.
"Udah lupa ya kalau punya suami? Keluar sampai lupa waktu. Jam segini kamu baru pulang."
"Iya maaf, tadi habis belanja aku nonton dulu, jadi lupa waktu deh." Rain mengatupkan kedua telapak tangannya didada. Kali ini dia memang merasa bersalah.
"Maaf doang?"
"Terus kamu mau apa?"
"Ya apa gitu kek, yang bikin aku seneng. Biar aku bisa maafin kamu."
Ish, modus kayaknya nih, batin Rain.
"Ya udah sini mendekat, aku kasih yang bikin kamu seneng."
Tanpa pikir panjang, Sean langsung mendekat.
"Tutup matanya," titah Rain.
Sean menurut dan langsung menutup matanya. Jantungnya udah deg degan mau menerima sessuatu yang menyenangkan dari Rain.
"Buka mulutnya dikit." Bisik Rain dengan nada menggoda ditelinga Sean hingga pria itu bergidik.
Hap, Rain memasukkan permen sour + yang asamnya setelah mati itu kedalam mulut Sean lalu ketawa terbahak bahak.
__ADS_1
"Huwek." Sean langsung memuntahkan permen tersebut dan mengejar Rain yang berlari ke dalam kamar.
"Awas kamu Rain!"