Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
SENSITIF


__ADS_3

POV RAIN


Siang ini aku kerumah mama untuk menjemput Delmar. Aku kangen sekali sama dia. Pengen denger celotehannya yang kadang bikin aku geleng geleng.


"Hai sayang." Aku langsung memeluk dan menciumi wajah kesayanganku itu. Bocah kecil menggemaskan yang sekarang berusia 3,5th dan akan segera masuk PAUD. "Mama kangen banget sama Del." Ujarku sambil menggesek gesekkan hidungku pada hidung mancungnya.


"Del juga kangen sama mama dan papa." Ucapnya sambil tak mau lepas dari pelukanku.


Tapi tunggu, dia bilang kangen papa. Apa itu artinya papanya gak kesini kemarin?


Sejak pergi kemarin pagi Sean belum pulang. Berkali kali aku meneleponnya tapi gak diangkat. Pesan juga gak dibales. Aku pikir semalam dia menginap dirumah mama, tapi sepertinya tidak.


Aku mengajak Del naik kekamarnya untuk mengemasi barang. Del memang punya kamar sendiri disini. Bukan hanya kamar, papa juga membuatkan Del play ground serta kolam renang dirumah ini. Maka dari itu, dia sangat betah dan tak pernah minta pulang.


Kadang aku kurang setuju dengan pola asuh mama dan papa yang menjadikan Del layaknya raja. Dia menjadi anak yang suka seenaknya dan suka main perintah. Dan apa yang dia mau, detik itu juga harus dituruti. Bahkan aku sudah melihat bibit bibit arrogant dalam dirinya.


"Kemarin papa gak kesini?" tanyaku pelan agar tak ada yang mendengar. Aku tak mau mama sampai tahu kalau Sean gak pulang kerumah. Bisa bisa dia kepo masalah kami kalau sampai tahu.


"Enggak ma, papa gak kesini."


Kemana kamu Sean, tidur dimana semalam? Aku makin gelisah memikirkan Sean. Takut tabiat lamanya kumat lagi. Apakah semua istri yang suaminya punya track record buruk dimasa lalu, akan selalu ketakutan sepertiku? Atau mungkin hanya aku saja yang terlalu parno.


Setelah berpamitan pada mama dan papa, aku langsung membawa Delmar pulang. Dalam perjalanan pulang, Del minta mampir di minimarket untuk jajan.


"Jangan banyak banyak Del." Tegurku saat Del terus saja memasukkan makanan kedalam keranjang. Aku tidak suka jika sejak kecil dia sudah konsumtif. Dan kebiasaan seperti ini, siapa lagi kalau bukan neneknya yang mengajari.


"Nongklong sini dulu ma." Del menarikku ke kursi didepan minimarket. Entahlah dari mana dia tahu bahasa nongkrong. Padahal ngomong nongkrong aja masih cedal.


Aku membukakan keripik kentang serta susu kotak untuk Delmar. Sedangkan aku, memilih mengecek ig. Aku mencari tahu keberadaan Sean, tapi sepertinya dia sedang tidak aktif.


Apa dia sedang dikantor sekarang? terbesit ide untuk menghubungi Danu, tapi belum sempat aku menghubunginya, terdengar suara yang tak asing memanggilku.


"Kamu disini Rain?"


Aku mengalihkan pandanganku dari ponsel dan melihat siapa yang menyapaku.


"Gaza."


Kenapa sih harus ketemu dia. Masalah belum selesai udah ketemu dia lagi. Serasa dunia selebar daun kelor.


"Dia anak kamu?" Tanyanya sambil memperhatikan Del.


"Iya. Sayang , salim dulu sama Om Gaza."


Del meletakkan makanannya lalu mengangkat tangannya. "High 5 Om."


Gaza yang paham langsung menepuk tangan Del.


"Siapa nama kamu ganteng?"


"Delmal Om." Jawabnya dengan pelat. Dia memang belum bisa menyebut R.


"Delmar." Aku memperjelas.

__ADS_1


"Pasti Sean yang memberi nama. Mentang mentang namanya Ocean, lalu dia memberi nama anaknya Delmar. Biar sama gitu artinya?" Gaza geleng geleng.


Tapi memang benar, Sean yang memberi nama. Dan alasannya juga benar, dia pengen anaknya punya nama yang artinya sama. Bahkan katanya, kalau punya anak lagi mau dikasih nama Dylan, biar sama juga artinya lautan. Ngomongin anak, aku jadi inget kalau udah telat lama.


"Mau beli apa Ga?" tanyaku basa basi.


"Mau beli cemilan. Lama diluar negeri jadi kangen cemilan indonesia."


"Kamu udah lama pulang?" Aku berusaha untuk bersikap biasa padanya.


"Baru semingguan Rain. Aku cuma dapet cuti 2 minggu, jadi minggu depan balik lagi ke London."


"Oh." Aku sebenarnya agak canggung ngobrol dengan Gaza. Perasaan bersalah padanya masih ada dalam diriku.


"Om gak ngelokok?" Tanya Del tiba tiba. Dia sudah terbiasa melihat papanya beli rokok dan ngerokok didepan minimarket.


"Enggak sayang, Om gak ngerokok."


"Ih gak kelen. Kata papa, cowok gak kelen kalau gak ngelokok." Ejek Del.


"Ngerokok itu gak baik buat kesehatan. Jadi lebih keren gak merokok dong." Jawab Gaza.


"Lebih kelen ngelokok Om. Del aja kalau udah gede mau ngelokok kayak papa. Biak kelen, bial dibilang maco gak banci." Astaga, bisa bisanya Del ngomong gitu, pasti Sean yang ngajarin. Sungguh bapak yang cerdas sekali, kesalku dalam hati.


"Belajar dulu ngucapin R, baru bisa keren. Kalau gak bisa bilang R mah mana bisa keren, yang ada kelen." Goda Gaza sambil tersenyum.


"Del, gak boleh ngomong gitu ah." Aku merasa sedikit malu dengan sikapnya Del.


"Anak kamu masih kecil, tapi bibit damage nya udah keliatan banget sih Rain?" Gaza geleng geleng kepala. "Kayaknya gak mukanya aja yang mirip Sean, kelakuannya gak beda jauh."


Ya, akupun juga ngerasa begitu. Apalagi kalau dia makin sering sama mama. Udah pasti, mama ngedidik dia persis kayak Sean.


"Aku minta maaf ya Rain gara gara yang kemarin. Aku gak nyangka bakal seheboh itu. Aku gak ada niat macem macem, aku cuma mau nolongin kamu aja waktu itu."


"Iya Ga, aku ngerti kok. Aku juga gak nyalahin kamu. Gak usah terlalu dipikirin."


"Tapi Sean gak marahkan sama kamu? Aku takut dia bakal ngasarin kamu."


"Sean gak gitu, dia sayang banget sama aku. Dia ngerti kok dan gak marah sama aku."


Bohong banget, padahal udah jelas kemarin dia marah marah terus gak pulang sampai sekarang. Tapi gak perlu jugakan masalah rumah tanggaku aku umbar.


...*******...


Siang ini, Rain mengajak Del untuk kekantor Sean karena lagi lagi tadi malam Sean tak pulang.


Karena tak ingin masalahnya makin berlarut larut, Rain memilih untuk mencari Sean dikantor.


"Papa." Delmar langsung berlari dan memeluk papanya saat baru sampai diruangan Sean.


"Gantengnya papa tumben kesini?" Tanya Sean sambil menggendong lalu mencium pipi gembul Delmar.


Tatapan mata Rain tertuju pada seorang wanita cantik yang ada diruangan Sean. Wanita itu terlihat salah tingkat saat Rain menatapnya tajam. Dia segera meminta ijin untuk keluar.

__ADS_1


Sean manatap Rain absurd. Dia bisa melihat tatapan tak suka dari Rain.


"Siapa wanita tadi?"


"Sekretaris baruku." Jawab Sean sambil menurunkan Delmar dari gendongannnya.


Dada Rain seketika terasa sakit. Sean bahkan tak pernah cerita padanya jika mempunyai sekretaris baru. Padahal sejak dulu Rain tak pernah mengijinkan Sean memiliki sekretaris perempuan. Rain tak ingin Sean kembali jatuh cinta pada sekretarisnya seperti dulu saat Sean jatuh cinta padanya.


"Del, main disana dulu ya." Rain menunjuk la arah sofa. "sama makan jajan kamu. Mama ada kerjaan yang harus diselesaikan sama papa." Del menurut dan segera berlari menuju sofa.


"Tidur dimana kamu dua hari ini?"


"Aku lagi sibuk Rain. Kita selesaikan dirumah aja masalah pribadi." Ucap Sean sambil duduk kembali dan menghadap laptopnya.


"Gimana mau nyelesaiin kalau kamu aja gak pulang? Kayaknya kamu lebih betah dikantor ya Sean daripada pulang kerumah. Ada yang bening sih." Sindir Rain sambil menarik ujung bibirnya. Dia yang awalnya ingin datang untuk minta maaf, jadi terbakar cemburu.


"Apaan sih ngomong gitu?"


"Kamu tidur dimana? di club malam? sama *****?"


"Rain." Teriak Sean tertahan karena tak ingin sampai terdengar Del. "Kalau ngomong dipikir dulu. Jangan asal nuduh kamu."


"Jadi gak Bener? Terus dimana dong? Dihotel, sama sekretarismu tadi?"


"Cukup Rain." Sean makin emosi mendengar semua tuduhan Rain yang dinilainya sangat berlebihan itu. "Aku gak kayak gitu."


"Lalu kayak apa? kasih tahu aku?" Rain berusaha menahan air matanya agar tak sampai jatuh.


"Jangan mikir yang aneh aneh. Aku pikir kamu kesini karena mau minta maaf. Nyatanya malah nuduh aku yang enggak enggak. Aku banyak kerjaan lebih baik kamu pulang."


"Kamu ngusir aku?" Rain makin naik pitam. "Udah gak sabar pengen berduaan sama sekretaris kamu?"


"Aku gak kayak gitu." Berkali kali Sean menegaskan.


"Nanti suruh Danu mengambil pakaian kamu dirumah. Kamu bisa membawanya ketempat kamu menginap."


"Jangan mikir yang aneh aneh, nanti aku pulang. Sekarang gak bisa pulang karena mau ada meeting."


"Del ayo kita pulang." Rain segera menarik Del untuk pulang. Bocah kecil itu tampak bingung, padahal baru nyampai, tapi udah diajak pulang.


Sean hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Rain. Dia tak menyangka aksi ngambeknya dengan dua hari gak pulang, malah berakhir salah paham.


Beberapa saat kemudian, sekretaris Sean masuk dan memberikan amplop padanya.


"Apa ini?" Tanya Sean yang tak paham.


"Titipan dari istri anda. Sebelum pergi, beliau menitipkan ini pada saya." Setelah menyampaikan amanah dari Rain, sekretaris itu segera keluar.


Kenapa Rain menitipkan ini pada Laras, kenapa gak dikasih langsung ke aku?


Tak mau mati penasaran, Sean segera membuka amplop tersebut. Mata Sean membulat sempurna melihat isi amplop itu. Ternyata isinya test pack dengan 2 garis merah.


"Kamu hamil Rain." Gumam Sean sambil tersenyum sendiri. "Kenapa gak bilang tadi? Astaga, dia pasti marah marah karena hormon kehamilan." Sean bermonolog dan segera membereskan pekerjaannya. Dia menelepon Danu untuk menggantikan saat meeting. Dia tak sabar untuk segera pulang kerumah.

__ADS_1


__ADS_2