
Dunia sungguh sempit, begitulah yang ada dipikiran Sean saat ini. Dia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Delia alias Lia setelah 6 tahun tak bertemu. Kalau boleh jujur, rasa bencinya pada Delia sudah memudar, hanya saja perasaannya tak tenang saat ini. Dia takut Delia melakukan hal yang bisa membuat hubungannya dengan Rain menjadi buruk.
Lia terus mencuri pandang ke arah Sean saat mereka makan. Dan hal itu sungguh membuat Sean muak. Ingin rasanya dia mengusir Lia saat itu juga.
"Rain, gue boleh numpang ke toilet?" Tanya Lia.
"Barengan ama aku aja yuk. Aku Juga mau pipis." Ajak Zalfa.
Zalfa dan Delia beranjak ke toilet. Sedangkan Rain dia ikut masuk karena mau mencharger ponselnya yang udah low bat.
Sean baru bisa bernafas lega saat Delia pergi dari hadapannya. Sejak tadi dia serasa sesak. Jantungnya dipaksa berdetak begitu cepat hingga rasanya seperti habis lomba lari maraton.
"Gue gak lagi mimpikan? itu tadi Delia kan?" Tanya Dino sambil menatap satu per satu temannya.
"Kok dia bisa ada disini sih? yang gue denger setelah putus dari lo, dia jadi model di Paris." Ucap Leo.
Sean masih diam saja, dia bingung harus bagaimana.
"Sean kok lo diem aja sih? Gimana nih, kita kasih tahu Rain gak kalau Lia itu mantan lo?" Tanya Brian gedek melihat Sean yang hanya diam saja. Padahal dibalik diamnya Sean. Otak briliantnya tengah berfikir keras.
"Sean, kerasukan lo dari tadi diem aja?" Dino memukul pelan kepala Sean. Berharap temannya itu bangun dari lamunannya.
"Gue lagi mikir bloon." Ucap Sean dengan mata melotot dan suara tertahan karena takut terdengar Rain.
"Udah deh jujur aja, daripada senam jantung terus. Jujur aja gue gak tenang sejak tadi. Kayak berdosa gitu sama Rain." Saran Leo sambil celingukan memastikan jika Rain belum kembali.
"Tapi gue takut Delia ngomong macem macem. Terus Rain pasti ngebanding bandingin dirinya sama Delia. Sejak dulu Rain sangat penasaran sama Delia. Gue takut Rain jadi insecure. Tahu sendiri kan kondisi Rain. Gue takut dia kembali depresi." Sean bingung harus mengambil sikap.
"Ngapain insecure? Rain lebih cantik kok. Dia lebih segalanya dibanding si Delia itu." Dino menimpali.
"Tapi Delia lebih seksi oon. Rain lebih segalanya kan dimata lo. Belum tentu Rain sepimikiran ama lo. Lo kayak gak tahu cewek aja. Mereka tuh makhluk yang paling mikirin masalah body." Timpal Brian. "Tapi sumpah, Delia makin cantik, terus bodynya itu... " Brian geleng geleng kepala sambil menghela nafas. "Body goals."
"Lo udah beneran move on dari dia kan Sean?" Tanya Dino Kepo.
"Udah dari dulu begok."
"Ya kali aja ngeliat Delia makin aduhai lo jadi pengen clbk."
"Bacot lo."
"Terus kita gimana nih?" Tanya Leo yang butuh kepastian.
"Selama Delia diem, kita pura pura gak kenal aja. Semoga aja dia cepet pulang. Dan kayaknya, gue harus segera pulang ke Jakarta bareng kalian. Gue gak mau ketemu dia lagi." Jawab Sean.
Mereka berempat langsung terdiam saat melihat Rain berjalan kearah mereka. Dan dibelakangnya tampak Delia dan Zalfa.
Sean menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha untuk terlihat biasa walau hatinya sedang gundah gulana.
__ADS_1
"Main truth or dare sekarang aja yuk." Ajak Rain sambil bergelayut manja dilengan Sean.
"Aku ngantuk beb, mending kita tidur. Kapan kapan aja mainnya." Sean mencari cara agar Delia cepat pulang.
"Takkan jam segini ngantuk Yank. Gak usah alasan deh, Yuk buruan main."
"Kayaknya seru tuh, dulu gue juga sering main itu sama cowok gue dan teman temannya." Sahut Lia dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sean serta tiga pria lainnya.
Sean tak bisa berkelit lagi. Dengan terpaksa dia ikut bermain. Dino mengambil botol lalu meletakkannya dimeja. Mungkin ini permainan truth or dare yang paling menegangkan bagi Sean.
Perlahan tapi pasti, Dino mulai memutar botol itu. Sean terus berdoa supaya dia tak dapat giliran kali ini. Dan sepertinya doanya terkabul. Tutup botol itu mengarah pada Leo.
"Truth or dare?" tanya Dino.
"Truth aja lah, malas gue kalau dikasih tantangan ama kalian. Sering gak masuk akal tantangannya."
"Aku aja yang nanya." Ucap Zalfa dengan sangat antusias dan langsung diangguki oleh yang lainnya.
"Kamu masih sering mabok dibelakang aku atau gak?"
Pertanyaan Zalfa sontak mengundang tawa teman temannya terutama Dino dan Brian. Mereka tahu jika ini pertanyaan yang sulit bagi Leo.
"Mampus Lo." Lirih Dino.
"Cepetan jawab Le." Seru Brian sambil manahan tawanya. Dia tak sabar ingin melihat temannya itu dimarahi istrinya.
"Eng, enggak sering yank." Leo geleng geleng kepala. "Cuma pernah doang." Jawab Leo sedikit takut. Zalfa langsung melengos, menandakan ketidak sukaannya akan perilaku Leo. Melihat istrinya marah, Leo langsung menarik dagu Zalfa menghadap ke arahnya.
Setelah itu Dino kembali memutar botol. Dan kali ini, berhenti pada Sean. Sean langsung melotot pada Dino. Padahal semua itu diluar kendali Dino. Dia hanya memutar doang.
"Truth or dare?" Tanya Rain antusias.
Sial, kenapa harus gue sih, batin Sean.
"Truth." Jawab Sean dengan malas.
"Gue yang nanya?" Lia lebih dulu bicara sebelum Dino dan Brian serta Rain ingin bicara.
"Apa Rain cinta pertama lo? Kalau bukan, siapa cinta pertama Lo?"
Shitt, kenapa harus dia sih yang nanya? Pengen banget namanya gue sebut gitu, gerutu Sean dalam hati.
"Kok diem aja sih Yank, jawab dong." Rain penasaran. Dia ingin tahu siapa cinta pertama Sean. Karena memang wanita itu bukanlah dirinya.
"Cinta pertama gue bukan Rain, namanya Delia. Tapi cinta terakhir gue dan selamanya adalah Rain." Sean meraih tangan Rain lalu menciumnya. "I love you Beb. I love u more." Ucap Sean sambil mencium sekilas bibir Rain.
"I love you too Sean. So sweet banget sih." Jawab Rain sambil balas mencium pipi Sean.
__ADS_1
Setelah giliran Sean, Dino kembali memutar botolnya. Dan kali ini berhenti pada Delia. Semua orang diam, tak ada yang berniat memberi pertanyaan pada Delia. Hingga akhirnya Rain yang bertanya.
"Truth or dare?"
"Truth."
"Gak seru ah, semuanya truth." Dino memutar kedua bola matanya malas.
"Diantara mereka ini, ada gak yang bikin kamu jatuh hati?"
"Ya, ada." Jawab Delia sambil manatap Sean. Dan tatapannya itu membuat Sean tak nyaman.
"Cie... siapa tuh?" Goda Rain sambil tersenyum ke arah Brian. Sebenarnya dia ingin menjodohkan Brian dengan Lia.
"Gue masuk bentar beb, ponsel aku low Bat. Mau aku charge." Pamit Sean lalu beranjak dari duduknya.
Melihat Sean masuk, Delia segera ikut ikutan masuk. Dia beralasan jika ada masalah dengan perutnya hingga harus bolak balik ke kamar kecil.
Leo menatap Dino, begitu juga dengan Brian. Mendapat tatapan dari teman temannya, Dino paham apa yang harus dia lakukan. Dia langsung mengirim pesan pada Sean jika Delia mengikutinya masuk. Tapi sial, ponsel Sean sudah terlanjur mati.
"Hai Sean."
Sean yang sedang memasang charge pada ponselnya langsung menoleh.
"Ngapain lo masuk ke kamar gue? Keluar!" Usir Sean sambil menunjuk arah pintu.
"Lo gak kangen sama gue?" Tanya Delia sambil berjalan mendekati Sean.
"Nggak sama sekali. Cepet keluar sebelum kesabaran gue habis."
"Kalau gue gak mau."
"Shitt, buruan keluar." Sean mendorong tubuh Delia agar keluar. Tapi Delia justru memeluknya lalu mencium bibir Sean. Sean terdiam, dia tak menyangka jika Delia senekat ini.
"Sean." Teriak Rain yang berdiri diambang pintu kamar. Tubuh Rain bergetar melihat suaminya berciuman dengan Lia didalam kamar.
"Jangan salah paham beb. Dia yang tiba tiba nyium aku." Sean membela diri.
"Bohong Rain, suamimu yang menarikku ke dalam kamar lalu menciumku." Ucap Delia sambil memasang wajah melasnya.
Rain berjalan mendekati mereka berdua lalu
PLAKK
.
**Kira kira siapa yang ditampar Rain? Sean atau Delia???
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya
Terimakasih**