Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
CAPEK


__ADS_3

POV SEAN


Setelah sesi curhat ples nangis nangis, Rain terlihat mulai lelah dan ngantuk. Aku menyuruhnya tidur lalu memeluknya dari belakang. Semoga kali ini gak ada adegan jatuh lagi kayak waktu itu. Sakit banget soalnya, udah hati gue sakit, masak mau ditambah badan sakit juga.


Gimana gak sakit hati cobak. Dada gue rasanya sesak banget, pengen banget neriaki Rain biar dia sadar.


Rain sejak tadi terus ngerasa kehilangan orang orang yang dia sayang. Dia gak inget gue sama sekali. Dia gak inget kalau masih punya gue. Padahal gue yang meluk dia dari tadi, yang denger dia yang segalanya deh buat dia.


Dia bilang minta obat amnesia? Tanpa obat itupun lo kayaknya udah lupa sama gue Rain.


Tapi gue berusaha maklum, mungkin dia terlalu tertekan atau karena terlalu sedih kehilangan baby kita. Ya, yang harus gue lakuin cuma nyetok sabar sebanyak banyaknya.


Setelah Rain tertidur, gue pindah ke sofa. Gak nyaman kalau harus tidur diranjang sempit berdua, gak bisa gerak.


Gue gak langsung tidur sih. Buka ponsel dan telepon SiAlan sampai berkali kali tapi sayang ponselnya gak aktif. Karena butuh palampiasan kekesalan, akhirnya gue telepon Dino buat nanya perkembangan soal Maya. Pengennya sih marahin dia kalau belum ketemu Maya. Tapi gagal karena Dino udah ketemu Maya. Tuh anak memang pinter banget kalau urusan nyari jalang.


...******...


Pagi ini, setelah nyuapin Rain sarapan, Sean minta ijin keluar. Ijinnya sih mau ngantor bentar padahal dia mau ke rumah mamanya. Dia butuh banget penjelasan dari mamanya.


Sean langsung masuk tanpa permisi karena masih nganggep kalau rumah itu rumahnya sendiri.


"Mama mana bik?" Tanya Sean pada salah satu asisten rumah tangga.


"Di halaman belakang den."


Tanpa mengucap terimakasih atau apapun, Sean bergegas menemui mamanya di halaman belakang.


"Tumben kamu pagi pagi kesini Sean?" Sapa Vivi yang sedang merawat tanaman hiasnya.


"Gak perlu basa basi ma, Sean butuh penjelasan dari mama." Sahut Sean dengan tegas.


"Penjelasan apa?" Vivi pura pura gak paham Walaupun sebenarnya dia paham betul alasan Sean mencarinya.


"Mamakan yang bilang ke Om Teguh tentang Rain?"


"Kalau iya emangnya kenapa? Dia berhak tahu bagaiman kelakuan putrinya itu," sinis Vivi.


"Tapi mama tahu gak dampak dari perbuatan mama itu? Rain keguguran mah. Anak Sean meninggal gara gara ulah mama." Sean sedikit membentak karena terlalu kesal pada mamanya.

__ADS_1


"Bagus dong Sean, jadi kamu gak perlu capek capek ngerawat anak orang." Vivi menarik ujung bibirya, tak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Mama." Teriak Sean "Anak itu anak Sean ma, cucu mama. Gimana lagi sih Sean harus ngejelasin ke mama kalau anak itu anak Sean, darah daging Sean." Sean menekankan kata katanya agar mamanya bisa lebih mengerti. Kalau saja tak ingat kalau Vivi itu mama kandungnya, Sean pasti sudah mengumpatnya habis habisan.


"Ada apa sih pagi pagi udah berantem? Suara kamu kedengaran sampai ke kamar papa Sean. Bisa gak sih kalau ngomong sama orang tua itu yang sopan," tegur Zainal yang baru datang.


"Papa tanya saja sama mama. Sean udah capek Pah, capek. Kurangnya Rain itu apa sih ma? Dia pengen banget jadi mantu yang baik buat mama dan papa. Kenapa sih mama gak mau nerima dia dengan tangan terbuka?" Nafas Sean sampai naik turun karena emosi.


"Kamu mau tahu kurangnya Rain? Kurangnya dia itu kurang TERHORMAT." Vivi menekankan kata terhormat hingga membuat dada Sean terasa sesak.


"Ya Tuhan.... " Sean menghembuskan nafas kasar. "Gimana caranya Sean ngejelasin sama sama. Yang Firman katakan itu fitnah ma, fitnah. Rain itu wanita baik baik, dia wanita terhormat. Kenapa sih mama lebih percaya ke Firman dari pada ke Sean? Sebenarnya yang anaknya mama itu Sean apa Firman?"


"Gak ada wanita terhormat yang jual diri Sean." Zainal ikut menimpali. Ternyata sedikit banyak, Zainal juga termakan omongan Firman.


"Asal mama dan papa tahu. Rain emang pernah menjual diri, tapi hanya sekali. Dan apa kalian tahu siapa yang membelinya?"


"Ya pasti pria hidung belang lah." Jawab Vivi asal jeplak.


"Dan pria hidung belang yang mama maksud itu adalah Sean, anak mama."


Vivi dan Zainal nampak terkejut sampai melongo. Mereka tak mengira jika Sean tahu sejak awal jika Rain bekas pelacur. Bahkan Sean sudah pernah memakai jasanya Rain.


"Please ma, jangan sebut istri aku kayak gitu." Sean merasa sebutan itu terlalu kasar untuk Rain. Dia saja sakit hati mendengar Rain disebut pelacur, apalagi Rain. Rain pasti jauh dan jauh lebih sakit hati.


"Kamu bodoh apa tolol Sean?" Maki Vivi sambil berteriak. "Kamu punya segalanya. Kamu tampan, kaya tapi kenapa kamu malah nikah sama perempuan seperti itu?"


"Karena Sean cinta sama Rain mah."


"Cinta? Hahaha... Walaupun cinta, logika juga harus dipakai." Vivi menekan nekankan jari telunjukknya di dahinya sendiri. "Cintailah wanita yang layak untuk dicintai. Bukan wanita murahan seperti itu, pelacur."


Sean memejamkan matanya untuk meredam emosinya karena lagi lagi mamanya menyebut Rain pelacur.


"Rain ngelakuin itu karena terpaksa. Dia butuh uang untuk pengobatan adiknya. Dan Rain hanya sekali menjual diri, tepatnya menjual keperawanannya. Setelah itu dia gak jual diri lagi," terang Sean.


"Dan kamu percaya begitu saja?" Vivi memutar kedua bola matanya.


"Sean percaya ma, dan Sean sangat yakin. Mama tahukan kalau Sean bukan pria baik baik. Seperti kata mama tadi, Sean pria hidung belang. Sean udah tidur dengan banyak wanita. Sean bahkan sampai lupa berapa banyak perempuan yang udah one night stand sama Sean. Sedangkan Rain, dia hanya ngelakuin itu sama Sean. Dia lebih terhormat dari Sean."


"Dia ngomong gitu buat nyari simpati kamu. Nyatanya Maya sendiri yang bilang udah ngejual istrimu ke banyak pria."

__ADS_1


Sean menghela nafas, dia sangat lelah berdebat seperti ini dengan mamanya.


"Maya sedang dalam perjalanan kesini ma. Mama bisa tanya langsung sama dia kebenarannya. Sean udah gak tahu lagi gimana caranya ngejelasin sama mama dan papa. Sean udah capek mah, pah, capek." Sean menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Tolong jangan buat Sean menyerah sama kalian. Sean ingin jadi anak yang baik, Sean ingin jadi anak yang berbakti. Please, bantu Sean biar gak jadi anak durhaka." Sean memohon dengan nada putus putus asa.


"Oh iya ma, besok ulang tahun Sean. Makasih ya ma udah ngasih kado yang gak terlupakan. Mama udah berhasil membuat Sean gagal menjadi seorang papa. Mama puaskan sekarang?" Saking sakitnya, Sean sampai meneteskan air mata.


Zainal dan Vivi sampai Spechless, karena apa? karena Sean bukan tipe pria yang mudah menangis.


...*******...


POV RAIN


Kamu kok ninggalin aku sih Sean? Kamu gak lupakan kalau baru kemarin aku keguguran? Kemarin Sean, baru kemarin. Dan pagi ini kamu udah minta ijin untuk kerja.


Segitu pentingnya ya kerjaan kamu hingga kamu gak mau sehari aja bolos buat nemenin aku. Aku sedih Sean, aku terpuruk, dan aku butuh kamu.


Kamu pasti kecewa bangetkan sama aku? Ya, aku bisa lihat jelas dimata kamu. Dan perlakuan kamu ke aku pagi ini juga b aja. Bahkan kamu gak nyium aku sebelum ngantor.


Aku memang bodoh, aku udah ceroboh hingga anak kita meninggal. Harusnya aku gak ngejar Alan, harusnya aku stay dikamar dan gak kemana mana.


Gak ada lagi yang sayang sama aku. Ayah, dia pasti kecewa banget karena putri kebanggaannya gak lebih dari seorang pelacur. Alan, dia juga kecewa sama pengorbananku yang bikin dia merasa bersalah seumur hidup.


Mertua? Jelaslah mereka gak mau nerima aku. Siapa sih yang mau punya menantu mantan pelacur?


Dan Maya, sahabat terbaik sekaligus orang yang paling ikut andil dalam keputusanku untuk menjual diri, dia malah tega memfitnahku. Salahku apa sih sama kamu May?


Mungkin orang ornag itu kecewa padaku. Tapi anakku, apa dia juga kecewa sama aku hingga ninggalin aku juga?


"Kamu kok tega sih nak ninggalin mama?" Aku bermonolog sambil mengelus perutku. Entah kenapa, pagi ini aku gak bisa nangis. Apa air mataku udah kering? Padahal pengen sekali Nangis biar plong.


"Mama udah gak punya siapa siapa lagi. Mama udah ngecewain semua orang termasuk kamu. Mama capek nak, capek banget. Pengen istirahat sama kamu. Pengen meluk kamu."


"Jangan marah sama mama ya nak, maafin mama. Mama pengen nyusul kamu terus meluk kamu yang erat biar kamu gak ngerasa sendirian."


"Bunda.. Rain kangen baget sama bunda. Rain yakin cuma bunda yang bisa ngertiin posisi Rain saat itu. Apa bunda disana juga kecewa sama Rain? Enggakkan bun? Bunda gak marahkan sama aku?"


.

__ADS_1


Jangan lupa sempetin like dan komen, biar author mau rajin up


__ADS_2