Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TELEPON DARI GAZA


__ADS_3

Rain yang kesal segera pulang untuk bikin perhitungan dengan Sean. Sepanjang perjalanan dia terus mengomel. Bisa bisanya Sean menipunya mentah mentah. Dia yang awalnya pengen shopping dengan uang 2M. Nyatanya dia harus kecewa dengan melihat angka 20 juta dilayar atm.


"Sean, Sean." Rain teriak teriak begitu masuk apartemen. Sean sebenarnya dengar, tapi dia para pura tidur. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi saat Rain bilang ingin shopping di mall. Rain pasti mengecek saldo debitnya.


"Bangun." bentak Rain saat melihat Sean tidur sambil menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut. "Cepetan bangun, aku tahu kamu cuma pura pura tidur." Rain menarik selimut Sean dan menggoyangkan goyangkan tubuhnya agar bangun.


Sean berusaha menahan tawa melihat tingkah Rain. Menurutnya Rain teerlihat lucu saat marah seperti ini.


"Sean." Rain berteriak tepat ditelinga Sean.


"Astaga, kamu mau bikin aku tuli." Sean langung bangun karena telinganya berdengung gara gara teriakan Rain.


"Apa maksud kamu nipu aku?" Rain mengeluarkan kartu debit dari dompetnya dan menunjukkannya pada Sean.


"Nipu apaan sih?" Sean pura pura tak paham, walau sebenarnya dia paham.


"Kamu bilang isinya 2M, nyatanya cuma 20juta."


"Hahaha.. " Sean buru buru menutup mulutnya saat tawa yang ditahannya terlepas. Rain makin kesal dibuatnya.


"Jadi kamu sengaja nipu aku?"


"Ish, jahat banget sih bilang aku nipu. Bukan nipu, cuma sedikit ngerjain aja. Ngeprank gitu bahasa gaulnya." Rain hanya bisa mengepalkan kedua tangannya sambil melotot menahan geram.


"Lagian 20 juta cukuplah buat nafkah sebulan."


"Tapi kan uang aku yang dipakai mama kamu 90 juta."


"Dih, belagak amnesia." Sean menyebikkan bibirnya.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Gak usah sok hilang ingatan. Kamu sendirikan yang bilang jika ikhlas ngasih mama aku. Kamu bilang sedekah. Jadi aku gak perlu gantikan?"


"Tapi kan kamu sendiri yang bilang mau ganti. Kamu tuh yang belagak amnesia." Rain membalikkan ucapan Sean.


"Enggak kok, emang kapan aku bilang gitu?"


"Sumpah kamu ngeselin banget ya Sean." Rain memukuli Sean menggunakan bantal saking kesalnya.


"Ampun.. ampun."


Bukannya menghentikan pukulannya, Rain malah menghajar Sean makin membabi buta.


Sean yang kewalahan menangkis pukulan Rain segera menangkap tangan wanita itu agar berhenti memukulinya.


"Lepas," teriak Rain.


Sean yang jahil malah menarik tangan Rain hingga wanita itu terjatuh menimpanya.


Beberapa detik mata mereka saling menatap. Sean merasakan jantungnya berdetak begitu cepat. Jaraknya dengan Rain sangat dekat hingga membuatnya tak mampu menahan diri.


Rain yang sempat terhipnotis dengan pesona Sean, langsung tersadar. Dia buru buru bangun dari tubuh Sean.


Sial, siapa sih yang nelpon, ganggu aja. Gak tahu apa orang lagi dapet momen langka, batin Sean.


Rain mengambil ponsel di tasnya dan diluar dugaanya, ternyata Gaza yang menelepon. Dia seketika menjadi gugup. Rain buru buru keluar kamar untuk mengangkat telepon itu.


Sean senyum senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Entah kenapa hanya seperti itu saja, mampu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Sean yang tadinya ngantuk jadi tak bisa tidur. Dia kedapur untuk mengambil minum. Dia melihat Rain sedang duduk melamun dimeja makan sambil memegangi ponselnya.


"Rain." Sean memanggil Rain tapi wanita itu tak meresponnya sama sekali.

__ADS_1


"Rain." Sean menepuk bahu Rain hingga wanita itu terkejut.


"Iya Ga." Secara reflek, Rain justru menyebut nama Gaza.


Sean memejamkan matanya menahan kesal mendengar Rain salah memanggilnya. Apa yang kita pikirkan, itulah yang biasanya keluar dari mulut kita. Sean jadi berfikir jika yang baru saja menelepon Rain adalah Gaza.


"Kamu lagi mikirin Gaza?"


"Eng, enggak kok Sean." Rain sampai tergagap.


"Gak usah boong kamu. Siapa yang barusan nelpon, Gaza?" Tanya Sean dengan nada super tegas.


"Bu, bukan." Rain makin gugup. "Kamu ngapain kedapur, lapar ya? mau aku ambilin makan?" Rain berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah ngalihin pembicaraan." Sean menyambar ponsel yang ada tangan Rain.


"Apa apaan sih Sean, kembaliin ponsel aku." Rain berusaha merebut ponselnya.


"Ada yang kamu sembunyiin dari aku?"


"Aku gak pernah ngurusin masalah pribadi kamu sampai ngecek ngecek ponsel kamu Sean. Jadi tolong kembalikan ponsel aku. Itu privasi aku." Sean sama sekali tak menggubris omongan Rain.


"Sial." Dia mengumpat kerena tak bisa membuka ponsel Rain yang ada kata sandinya. "Cepetan buka." Sean menyodorkan ponsel itu agar Rain membuka kuncinya.


Rain diam saja tak mau membuka. Dia tak sempat menghapus panggilan terakhir. Kalau saja Sean tahu Gaza yang meneleponnya, dia pasti marah besar. Rain tahu hubungan Sean dan Gaza sepeerti kucing dan anjing.


"Cepetan buka, atau aku banting." Sean sudah ambil ancang ancang mau membanting tapi Rain segera menggeleng. Dia pasrah dan membuka kunci ponselnya. Setelah kuncinya terbuka, Sean segara melihat panggilan terakhir. Dugaanya benar, ternyata Gaza yang barusan menelepon.


"Ngapain dia telepon kamu? Bukankah aku sudah peringatin kamu supaya gak berhubungan lagi dengannya," bentak Sean.


"Dia cuma nanya kabarku aja kok."

__ADS_1


"Dan kamu masih aja nanggepin dia ya Rain?" Sean yang kesal langsung memblokir nomor telepon Gaza di ponsel Rain.


"Ini peringatan terakhir dariku ya Rain. Jangan berhubungan lagi dengan Gaza. Aku bakal ngasih kamu pelajaran jika kamu gak ngedengerin larangan aku," Sean meletakkan kembali ponsel Rain ke atas meja dan langsung pergi.


__ADS_2